Wanita Kesayangan Sang Presdir

Wanita Kesayangan Sang Presdir
Tersiksa Rindu


__ADS_3

Tak terasa sudah satu minggu terlewat sejak Lu dibawa pulang oleh keluarganya. Dan sejak saat itu pula hari-hari Briana terasa begitu sepi. Walaupun hatinya terus mendesak untuk menghubungi Erzan guna menanyakan kabar Lu, hal tersebut tetap tidak dilakukan oleh Briana. Alasannya simpel, Briana tak mau hatinya robek dan berdarah-darah. Jadi dia memilih untuk tersiksa rindu hingga terkadang hampir gila. Untungnya masih ada Julia yang acap kali memberikan penghiburan meski terkadang hiburan tersebut membuat tensi darah Briana naik setinggi-tingginya. Kalian pasti tahulah seperti apa kelakuan wanita penggila hal erotis itu? 😝


Dan pagi ini seperti biasa Briana berangkat ke café dengan berjalan kaki. Setelah semalam dia dan Julia mabuk-mabukkan, Briana merasa perlu untuk sedikit berolahraga agar otaknya bisa berpikir jernih. Sambil menendangi kerikil kecil yang ditemuinya di jalanan, pikiran Briana kembali teringat akan kenangannya bersama Lu. Dia kemudian tersenyum saat teringat dengan penampilan Lu ketika pertama kali datang ke café. Menggunakan celana olahraga miliknya dan juga dengan baju yang menggantung, membuat Lu terlihat seperti penari India. Namun beruntunglah Lu karena dia memiliki wajah yang sangat luar biasa tampan. Jadi orang-orang tidak terlalu fokus pada penampilannya yang aneh itu. Membayangkan kejadian ini membuat Briana lama-lama tak bisa menahan tawanya. Saking lucunya, dia sampai berhenti berjalan kemudian berpegangan pada batang pohon di sebelahnya.


“Hahahahahha!” Briana tertawa kencang. Dia benar-benar tak mempedulikan tatapan heran dari orang-orang yang sedang hilir mudik di jalanan. Masa bodo. Briana terlalu bahagia sampai dia tidak sadar kalau dirinya sedang tertawa dengan kondisi mata berkaca-kaca. “Hahahaha. Hiksss,” ….


Bohonglah kalau Briana tidak merindukan pria idiot itu. Dia sangat amat merindukannya malah. Namun apa daya, Briana bukan siapa-siapa. Dia tidak memiliki keberanian melangkah maju untuk memperjuangkan perasaannya. Perbedaan antara dia dengan Lu terlalu tinggi, dan Briana sangat amat sadar kalau dia tidak akan pernah mampu untuk merobohkan perbedaan di antara mereka. Biarlah dia menangis seperti orang gila. Dengan begitu setidaknya rasa rindu yang Briana rasakan bisa tersalurkan.


“Nona, kenapa menangis? Apakah ada sesuatu yang membuatmu merasa tak nyaman?” tanya seorang wanita setengah baya sambil menatap tak tega pada seorang gadis yang sedang menangis sambil berpegangan pada batang pohon.


Briana menoleh. Tanpa sadar dia menganggukkan kepala. Sambil menangis sesenggukan, Briana kemudian bertanya pada wanita tersebut. “Hiksss, Nyonya. Ke-kenapa dadaku terasa begitu sakit saat mengingat kenangan tentang seorang pria yang telah berhasil mengusik hatiku? Dan-dan juga … dan juga kenapa perasaan rindu ini begitu menyiksa? Apa yang harus aku lakukan agar rasa sakit ini bisa segera pergi da-dari hidupku? Apa?”


Setelah bertanya seperti itu Briana berjongkok sambil menutup wajahnya. Entahlah, untuk pertama kalinya Briana berharap ada seseorang yang bersedia untuk mengasihaninya. Hatinya benar-benar sangat sakit sekarang. Dia butuh orang lain untuk bersandar.


“Nona, apa kau dan kekasihmu barusaja berpisah?” tanya si wanita seraya ikut berjongkok. Dia lalu mengusap pelan rambut Briana yang sedang menangis. “Jika benar begitu, hubungilah kekasihmu itu. Selesaikan perasaan yang belum terselesaikan dalam hidupmu. Patah hati bukanlah masalah besar sehingga mampu merenggut kebahagiaanmu. Kalau kau merasa hatimu sangat sakit setiap kali mengingat kenangan bersama kekasihmu, maka jangan ragu untuk mengatakan kalau kau merindukannya. Cinta bukan dosa, tapi cinta adalah anugerah yang harus kita perjuangkan. Selama pernikahan belum terjadi, kau memiliki hak untuk memperjuangkan perasaan itu. Jadi jangan sedih ya? Sekarang hapus air matamu kemudian hubungilah kekasihmu itu. Katakan padanya kalau kau masih mencintainya!”

__ADS_1


“T-tapi Nyonya, perbedaan di antara kami terlalu tinggi. Dia anak orang kaya, sedangkan aku hanya gadis biasa yang tidak mempunyai apa-apa. Aku menangis bukan karena hubungan kami berakhir, tapi aku menangis karena sedang berjuang agar perasaanku tidak berkembang terlalu jauh. Aku sadar siapa aku, tapi aku tersiksa oleh perasaan ini. Aku bingung,” sahut Briana lirih. “Di antara kami belum terjalin hubungan apa-apa, Nyonya. Itulah kenapa aku tidak bisa berbuat banyak dan hanya bisa menangis seperti ini saat merindukannya. Sebenarnya aku bisa saja menghubunginya, tapi aku takut hatiku akan semakin terluka. Aku harus bagaimana, Nyonya?”


“Tuhan menciptakan manusia untuk saling berpasangan. Entah itu si kaya dan si miskin, yang namanya cinta tetap saja cinta. Kau begitu cantik dan mandiri, apa yang perlu kau ragukan dari dirimu, hem? Di dunia mungkin harta bisa menjadi pembatas. Akan tetapi ketahuilah satu hal, Nona. Di mata Tuhan semua manusia itu sama. Jadi aku rasa tidak ada alasan untukmu merasa berbeda hanya karena kau tidak kaya,” ucap wanita itu menyampaikan nasehat dengan begitu bijak. Setelah itu di tariknya wajah Briana agar menghadapnya. Sambil tersenyum hangat, si wanita kembali memberikan nasehat dan juga semangat. “Kalau kau merasa sangat tersiksa akan rasa rindu itu, maka dengarkanlah suara hatimu. Jika hatimu berkata maju, maka lakukanlah semua hal yang bisa mempersatukanmu dengan pria itu. Namun jika hatimu meminta agar kau melepaskannya, saranku pergilah ke tepi laut kemudian berteriaklah sekuat mungkin di sana. Dengan begitu segala kegundahan yang yang kau rasakan bisa langsung mereda. Jangan sedih. Cantikmu akan hilang kalau kau terluka hanya karena perbedaan kasta. Semua orang berhak mencintai dan di cintai. Kau tahu itu, bukan?”


Seperti ada angin sejuk yang datang berhembus hingga mengenai hati Briana begitu dia mendengar nasehat dari wanita yang tak di kenalnya itu. Mungkin inilah yang di maksud oleh Lu kalau terkadang manusia itu butuh orang lain untuk mengerti kita. Dan yang sedang terjadi sekarang adalah salah satu contohnya. Untuk pertama kalinya Briana tak ragu menunjukkan sisi rapuhnya di hadapan orang lain selain Julia. Dan dia bahkan tidak berpikir dua kali saat ingin menyampaikan kegundahan hatinya. Ajaib memang. Ternyata cinta mampu membuat seseorang melanggar batasan yang sudah dia buat sendiri. Amazing.


“Nyonya, terima kasih banyak atas saranmu. Nanti setelah aku merasa tenang aku akan memikirkan apakah aku harus menghubungi pria itu atau tidak,” ucap Briana dengan tulus mengucapkan terima kasih. Dia kemudian tersenyum ketika wanita itu menganggukkan kepalanya.


“Sama-sama, Nona. Sebagai sesama wanita aku jelas sangat mengerti bagaimana perasaanmu saat ini. Bersemangatlah. Jangan ragu untuk memperjuangkan cintamu karena cinta adalah kebahagiaan. Anggaplah perbedaan di antara kalian sebagai ujian pertama dari Tuhan. Oke?”


Perkataan Briana terjeda. Dia tiba-tiba saja merasa ragu akan niatnya sendiri. Waktu itu Briana dengan yakin berkata pada Julia kalau dia tidak akan membiarkan perasaannya berkembang terlalu jauh kepada Lu. Kalau sekarang dia merubah keputusannya bukankah nantinya Julia akan menyebutnya sebagai sahabat yang plin-plan? Namun jika perasaan ini tidak segera disalurkan pada Lu, Briana jelas akan menderita. Memikirkan hal ini membuat Briana jadi dilema hati. Kira-kira keputusan mana ya yang harus dipilihnya? Membingungkan sekali.


“Nona, bukankah tadi sudah aku katakan agar mengikuti suara hatimu untuk menentukan keputusan? Dengarkanlah baik-baik. Baru setelahnya kau putuskan apakah kau akan melanjutkan perasaanmu atau kau harus berhenti sampai di sini. Jangan dengarkan siapapun, termasuk aku juga. Karena yang tahu kebahagiaanmu adalah dirimu sendiri. Hanya kau seorang yang memahami apa yang hatimu inginkan!” ucap si wanita tanggap akan kebingungan Briana.


“Haruskah aku menghubunginya lebih dulu?” tanya Briana meragu.

__ADS_1


“Jika menurutmu itu bisa membuat hati merasa tenang maka lakukan saja. Dan jika pria itu memiliki perasaan yang sama denganmu, aku yakin dia pasti akan merasa bahagia sekali saat kau menghubunginya. Tapi jika nanti sikapnya terdengar acuh, mungkin itu saatnya untuk hatimu berkata tidak,” jawab si wanita.


Briana diam sejenak. Dia merenungkan jawaban wanita ini. Cukup lama Briana terdiam hingga akhirnya dia mantap menentukan keputusan.


“Nyonya, sekali lagi terima kasih banyak atas saranmu. Apapun resikonya nanti, aku pasti akan menghubungi Lu. Akan aku katakan pada Lu kalau aku sangat merindukannya,” ucap Briana yang mendadak jadi semangat empat lima. Jiwa mudanya berkobar dengan sangat kuat. Haha.


“Oh, jadi namanya Lu?” ledek si wanita sambil meng*lum senyum. “Sepertinya Lu ini pria yang sangat tampan. Apa aku benar?”


“Iya, Nyonya. Lu tampan sekali,” jawab Briana malu-malu. Sembura merah langsung muncul menghiasi wajahnya saat Briana mengakui ketampanan Lu.


“Hmmm, pantas saja kau sampai menangis tersedu-sedu seperti tadi. Tahu saja kau ya mana barang yang bagus. Dasar,”


“Hehehe,” Briana terkekeh. Dia kemudian menunduk guna melihat jam. Seketika Briana terperanjat kaget. “Ya ampun, Nyonya. Aku sudah terlambat datang ke tempat kerjaku. Aku pamit dulu ya?”


Buru-buru Briana berdiri kemudian membantu wanita itu berdiri juga. Setelah itu Briana langsung berlari pergi dari sana sambil berteriak mengucapkan kata terima kasih pada wanita yang sedang tersenyum sambil melambaikan tangannya. Akhirnya Briana menemukan jalan untuk menyelamatkan diri dari deraan rasa rindu yang membuatnya merana selama berhari-hari. Yeyyyyy!

__ADS_1


***


__ADS_2