Wanita Kesayangan Sang Presdir

Wanita Kesayangan Sang Presdir
Transaksi Rahasia


__ADS_3

Pagi harinya, Jenny dengan penuh semangat sudah duduk menunggu di kedai. Dia terus saja melihat ke arah jalan yang biasa dilewati oleh Briana. Menanti dengan tidak sabar kapan putrinya akan muncul.


"Kenapa Briana belum datang juga ya? Apa mungkin dia masuk sift siang?" gumam Jenny khawatir.


Pukul lima dini hari tadi Jenny sudah bersiap diri untuk pergi berjualan. Sikapnya itu bahkan sampai membuat Hendar tercengang heran. Tapi karena rasa rindu yang begitu besar, Jenny tetap memaksa Hendar agar mengantarkannya kemari. Biar saja orang-orang menganggapnya gila, Jenny tak peduli. Selama bisa bertemu dengan putrinya, maka dia tidak akan mempedulikan apa kata orang.


Dan di sinilah Jenny sekarang. Duduk termangu tanpa mempedulikan para pengunjung yang sedang antre membeli minuman di kedainya. Seperti yang Hendar janjikan kemarin kalau pagi ini kedainya akan menjadi sangat ramai. Tapi karena Jenny belum melihat penyemangatnya, dia tak berselera untuk berjualan. Tunggu setelah nanti Briana datang saja, baru dia akan membantu pelayan menangani pengunjung yang semakin membludak meski hari masih pagi.


Dari kejauhan, terlihat ada dua orang wanita yang berjalan sambil saling dorong. Keduanya terlihat sangat bahagia sekali, seolah tidak ada beban yang melilit hidup. Dan ketika mereka semakin dekat dengan kedai yang begitu ramai pengunjung, langkah keduanya langsung terhenti. Julia dan Briana, mereka saling lirik sambil menggerakkan dagu.


"Kau lihat itu, Julia? Bagaimana kalau kita memulai penyelidikannya sekarang juga. Kau setuju?" tanya Briana dengan di barengi maksud tersirat.


"Umm boleh juga. Ayo!" jawab Julia dengan penuh semangat. Jelas semangatlah. Kan dia memiliki niat lain terhadap kedai Nyonya Jenny.


Hehehehe, semoga saja aku bisa membawa pulang sesuatu yang berharga dari sana. Dan semoga juga Briana tidak memancungku hidup-hidup jika tahu kalau aku telah mencuri di kedai milik wanita simpanannya Lu. Ahay.


Jenny yang melihat kedatangan Julia dan Briana pun lantas berdiri kemudian berjalan cepat menghampiri mereka. Lupa kalau Briana pernah salah paham kepadanya, dia langsung memeluknya dengan sangat erat begitu mereka dekat. Dan hal ini rupanya membuat Briana merasa tak nyaman.


"Nyonya Jenny, apa-apaan kau. Ingat ya, aku ini masih normal. Aku doyan pria berterong, bukan wanita berdonat bolong. Jadi tolong jaga jarak ya?" tegur Briana sambil mengangkat kedua tangannya ke atas. Dia bukan jijik, tapi geli. Dia khawatir birahi wanita ini akan semakin meninggi jika dia sampai balik menyentuhnya. Kan tidak lucu.


Julia terdiam cengo. Mirip sekali dengan orang-orang idiot ketika sedang terpaku karena sesuatu hal. Sementara Nyonya Jenny sendiri, dia terlihat biasa-biasa saja meski di anggap sebagai penyuka sesama jenis oleh Briana. Wajarlah, kan dia ibunya. Jadi mana mungkin Jenny merasa tersinggung karena alasan yang tidak berdasar itu. Hehehe.


"Hello, Nyonya Jenny. Apa kau mendengarku?" panggil Briana saat pelukan di tubuhnya tak kunjung dilepas.

__ADS_1


"Walaupun sudah tua tapi telingaku masih berfungsi dengan sangat baik, Briana. Jangan takut," sahut Jenny sambil menahan tawa. Dia kemudian mengurai pelukan, setelah itu balik memeluk Julia. "Hai, Julia. Bagaimana kabarmu hari ini? Apa tidurmu nyenyak?"


"Umm, k-kabarku sangat baik, Nyonya. Dan, dan tidurku semalam juga nyenyak sekali," jawab Julia agak terbata. Dia lalu menyeringai tipis saat menyadari ada kesempatan untuk mengejek Briana. "Nyonya Jenny, kau mau tahu tidak alasan apa yang telah membuatku tidur dengan begitu nyenyak?"


"Apa itu?"


Briana memutar bola matanya jengah. Tanpa harus bertanya pun dia sudah tahu kalau Julia sedang mencoba memprovokasi kemarahannya. Mengabaikan percakapan antara Julia dengan Nyonya Jenny, Briana memutuskan untuk duduk saja sembari menonton antrian panjang di depan kedai.


"Yang membuatku tidur dengan sangat nyenyak adalah karena aku menyaksikan secara langsung bagaimana Briana menggatal pada kekasihnya," ucap Julia dengan suara setengah berbisik. "Tahu tidak. Saat di hadapan kita, wanita galak itu akan menunjukkan sikap brutal dan juga garang. Akan tetapi jika sudah berbicara dengan pawangnya, Briana akan berubah seperti kuda poni yang sangat manis. Saking manisnya terkadang aku sampai ingin muntah. Sungguh!"


"Jadi Briana sudah punya pacar? Siapa? Orang apa dan dari keluarga mana? Tampan tidak? Lalu kekayaannya bagaimana? Apa mereka saling cinta? Pria itu baik tidak?"


Kriiik kriikk krikkk


Setelah di pikir-pikir rasanya jauh lebih masuk akal kalau Nyonya Jenny terobsesi menganggap Briana seperti anaknya sendiri. Karena jika tidak, Nyonya Jenny tidak mungkin akan bersikap seantusias ini saat aku memberitahunya kalau Briana sudah punya pacar. Hmmm, sepertinya aku bisa memanfaatkan keadaan ini. Apa sekalian saja ya aku dekatkan mereka supaya lebih akur. Dengan begitukan aku bisa mengumpulkan puing-puing kesempatan untuk memperkaya diri. Hehehehe.


Untunglah Briana tak bisa membaca pikiran orang. Jika bisa, hidup Julia pasti akan berakhir hari ini juga. Pasti itu.


"Julia, kenapa kau diam saja. Ayo cepat jawab pertanyaanku!" desak Jenny sambil mengguncang kuat lengan Julia. Sebagai seorang ibu, jelas Jenny sangat khawatir putrinya akan salah memilih pasangan. Jadi dia perlu memastikan pria seperti apa yang sedang menjalin hubungan dengan putrinya itu.


"Ekhmmm Nyonya Jenny, maaf sebelumnya. Selama ini aku tak pernah menjual secara cuma-cuma setiap informasi yang berhubungan dengan Briana. Bahkan laki-laki yang menjadi kekasihnya pun wajib membayar jika ingin mendapatkan info ter-up to date tentang wanita itu. Jadi ... kau pasti tahu sendirilah apa maksudku. Iya, kan?" ucap Julia sambil menggesekkan jari jempol dan jari telunjuknya. Dia sedang memberi kode pada Nyonya Jenny kalau di dunia ini tidak ada yang gratis. Bahkan informasi tentang sahabatnya sekalipun.


"Kau mau uang?" tanya Jenny. "Berapa? Sebutkan berapa saja yang kau inginkan asal aku bisa mengetahui tentang siapa laki-laki yang sedang dekat dengan put ... em maksudku Briana!"

__ADS_1


"Sungguh?" Mata Julia langsung bersinar terang sekali. Hahai, bisnis memperjual-belikan informasi sahabatnya ternyata cukup menggiurkan juga. Wkwkwkw. "Ekhmmm, baiklah jika kau memaksa. Waktu itu pacarnya Briana memberiku tiga dijit untuk satu buah video aib. Ya kau kira-kira sajalah berapa bayaran yang cocok untuk informasi penting ini!"


"PENJAGA!"


Jantung Julia seperti berhenti berdetak saat Nyonya Jenny tiba-tiba berteriak memanggil penjaga. Setelah itu kedua mata Julia langsung membelalak lebar melihat ada tiga orang pria berbadan besar berlari menghampiri mereka.


"Astaga, apa-apaan ini. Apa Nyonya Jenny berniat mengadukanku pada mereka?" gumam Julia panik.


"Nyonya, ada apa? Kenapa anda berteriak seperti itu?" tanya salah satu penjaga.


"Kalian cepat kirimkan uang ke rekening Julia. Ada rahasia besar yang harus segera ku ketahui!" jawab Jenny sambil melirik ke arah Briana. Untunglah wanita itu sedang memperhatikan ke arah lain, jadi bisnisnya dengan Julia bisa di anggap aman.


"Uang?"


Para penjaga saling lirik. Mereka kemudian menatap seksama ke arah wanita cantik yang sedang berpura-pura memainkan ponsel. Padahal ponsel yang dia pegang terbalik. Modusnya jelek sekali. Sungguh.


"Kalian kenapa diam saja? Cepat transfer uangnya sekarang juga. Bagaimana sih!" omel Jenny sambil memelototi para penjaga yang malah sibuk memperhatikan Julia.


"B-berapa yang harus kami kirimkan, Nyonya?"


Jenny diam berpikir. Dia lalu menyebutkan nominal angka yang membuat para penjaga dan juga Julia melongo syok. Sungguh, Julia sama sekali tak menyangka kalau wanita di hadapannya ternyata sangat luar biasa kaya. Kalau tahu begini sudah sejak kemarin Julia memerasnya. Dengan begitukan dia akan lebih cepat mendapatkan uang untuk melamar Wildan. Hadeehhhhh.


***

__ADS_1


__ADS_2