Wanita Kesayangan Sang Presdir

Wanita Kesayangan Sang Presdir
Wanita Dalam Pelukan


__ADS_3

Lu tersenyum tipis melihat Briana yang terkesan menghindar saat mereka hendak beristirahat. Dia lalu memutuskan untuk duduk di tepi ranjang, tak ingin membiarkan Briana sampai salah paham kepadanya.


“Bri, kau marah ya?” tanya Lu dengan lembut.


“Marah kenapa?” sahut Briana malah balik bertanya. Posisinya yang tengah berbaring membelakangi Lu membuat Briana tak bisa melihat kalau pria idiot ini sedang menahan tawa.


“Marah karena aku menggodamu tadi. Benar tidak?”


Briana menggerutu tidak jelas saat Lu mengungkit kejadian dimana Lu melepaskan sepatu untuknya. Sebagai wanita tulen yang belum pernah sekalipun berhubungan dengan pria, sudah pasti sikap manis yang Lu tunjukkan membuat Briana merasa sangat malu dan juga grogi. Akan tetapi, dengan bodohnya Lu malah bertanya apakah Briana malu atau tidak. Ya jelas malulah. Coba saja Briana memiliki sayap, dia pasti sudah terbang ke langit mendapat perlakuan semanis itu dari Lu. Benar tidak teman-teman?


Heran, masih saja dia membahas tentang hal ini. Apa matanya sudah buta sampai tidak bisa membedakan mana orang yang sedang malu dan mana orang yang sedang marah? Membuat kesal saja sih. Huh.


Di detik selanjutnya, tubuh Briana dibuat menegang kaku saat Lu tiba-tiba berbaring di sebelahnya. Syok, itu sudah pasti. Briana bahkan sampai menahan nafasnya saat tangan Lu melingkar di pinggang. Tak tahu harus berbuat apa, Briana hanya bisa diam membiarkan Lu yang semakin mengeratkan pelukannya. Dan jujur, rasanya sedikit aneh. Aneh, tapi hangat. Hehehe.


“Terima kasih,” bisik Lu. “Terima kasih karena sudah mengizinkan aku tinggal di sini. Dan maaf jika keberadaanku di sini membuat bebanmu semakin bertambah. Tapi Briana, aku berjanji aku pasti membalas semua kebaikan yang pernah kau berikan padaku. Meski itu hanya sebutir nasi, aku tetap tidak akan pernah melupakannya. Di mataku saat ini kau adalah orang paling baik yang pernah aku kenal. Kau bersedia menolongku di saat aku tidak bisa mengenali diriku sendiri. Kau dewi penyelamatku, Briana. Sungguh.”


Hati wanita mana yang tidak akan meleleh mendengar kata yang begitu manis dari mulut seorang pria. Dan tidak di pungkiri rasa tersebut juga muncul di dalam benak Briana. Awalnya dia pikir Lu ingin melakukan sesuatu hal yang tak senonoh terhadapnya. Namun siapa sangka kalau pria idiot ini malah mengatakan terima kasih atas apa yang telah dia lakukan selama sebulan terakhir.


“Lu, kau kenapa tiba-tiba bicara seperti ini? Kau baik-baik saja ‘kan?” tanya Briana yang agak merasa aneh. Hatinya memang berbunga, tapi bukan berarti Briana tak bisa merasakan kalau ada yang aneh dengan sikapnya Lu sekarang.


“Kau merawatku dengan begitu baik, Briana. Jadi mana mungkin aku tidak baik-baik saja? Aku sangat baik malah,” jawab Lu jujur.


“Benarkah?”


Lu mengangguk. Dia lalu melesakkan wajahnya ke tengkuk Briana, mencoba memberanikan diri untuk menghirup aroma wangi di tubuh wanita yang sukainya ini. Untuk beberapa saat pikiran Lu seperti melayang pada satu ingatan dimana dia tengah memeluk seorang wanita. Terkejut dengan apa yang muncul di pikirannya, Lu tanpa sadar mendesis kesakitan. Dan ternyata hal ini membuat Briana bereaksi. Wanita ini dengan cepat berbalik menghadapnya.

__ADS_1


“Lu, kau kenapa?” tanya Briana cemas. Cepat-cepat dia menangkup pipinya Lu saat mendapati kalau wajahnya sudah memucat. “Lu, ada apa? Wajahmu kenapa bisa pucat begini. Kau kenapa?”


“T-tidak apa-apa. A-aku hanya terkejut saja,” jawab Lu sambil berusaha untuk tersenyum meski kini butiran keringat mulai mengalir membasahi wajahnya. Kepalanya serasa ditusuk dengan ribuan jarum runcing. Sakit sekali.


“Terkejut?"


Briana mengernyitkan keningnya bingung mendengar jawaban Lu. Dia mencoba menebak-nebak hal apakah yang telah membuat Lu terkejut sampai seperti ini. Dan begitu dia teringat kalau Lu memiliki masalah dengan ingatannya, Briana langsung tanggap. Di usapnya kening Lu dengan penuh perhatian sambil Briana tersenyum manis. “Tidak apa-apa. Kau tidak perlu memaksakan diri untuk mengingat masalalumu. Pelan-pelan saja. Ya?”


“Saat aku memelukmu barusan, di dalam pikiranku tiba-tiba saja muncul bayanganku yang sedang memeluk seorang wanita. Bayangan itu muncul begitu saja, dan mungkin wanita yang aku lihat itu adalah orang yang memiliki hubungan dekat denganku. Karena jika tidak, rasa hangat itu pasti tidak akan melekat sekuat ini di dalam hatiku. Benar tidak?” ucap Lu memberitahu Briana tentang apa yang dia rasakan ketika bayangan itu muncul.


Ada apa ini? Kenapa dadaku terasa sesak sekali mendengar Lu yang sedang memeluk wanita lain? Ini aku tidak mungkin cemburu bukan? Mustahil, aku tidak mungkin cemburu pada Lu. Tidak mungkin.


Hati memang menolak untuk mengakui, tapi ekpresi wajah Briana mengatakan kalau dia tidak baik-baik saja saat Lu menceritakan tentang wanita lain. Namun karena Briana tak ingin Lu berprasangka yang tidak-tidak, sebisa mungkin dia menunjukkan sikap biasa saja sambil terus mengusap keningnya. Agak munafik memang, tapi masa bodolah. Lagipula Briana juga bingung sendiri dengan perasaannya.


“Maksudmu apa bertanya seperti ini?” sahut Briana.


“Tidak ada maksud apa-apa. Aku hanya ingin tahu saja sikap seperti apa yang akan kau lakukan jika seandainya semua itu benar terjadi,” jawab Lu dengan tatapan penuh harap. Ya, Lu sangat amat berharap kaau Briana akan menjawab tidak akan membiarkannya pergi. Lu ingin tetap berada di sini dan tinggal bersama Briana dalam kurun waktu yang sangat lama. Dia bahagia dengan keadaan ini.


Sebelum memberi jawaban, Briana tampak menghela nafasnya dalam-dalam. Jauh di dalam lubuk hatinya, Briana merasakan satu perasaan tak rela jika Lu harus pergi dari rumahnya. Akan tetapi di sisi lain Briana juga tidak mungkin egois dengan melarangnya agar tidak kembali ke keluarganya lagi. Biar bagaimanapun Lu pasti memiliki keluarga sendiri sebelum kehilangan ingatannya. Benar tidak?


“Bri, ayo jawab,” desak Lu tak sabar.


“Lu, kuberitahu kau satu hal ya. Semenjak kau datang kemari beban yang aku rasakan memang bertambah, tapi bukan berarti aku tidak ikhlas menolongmu. Aku sangat ikhlas meski kadang-kadang kau membuat emosiku memuncak. Dan jika suatu hari nanti keluargamu datang dan ingin membawamu kembali, maka aku tidak memiliki hak untuk melarangmu pergi. Mereka keluargamu, dan mereka jauh lebih berhak pada dirimu. Sedangkan aku? Aku hanya orang asing yang tidak sengaja di pertemukan denganmu oleh takdir. Jadi … aku pasti akan menendang bokongmu kalau kau sampai terpikir untuk tidak pulang bersama mereka. Paham?” ucap Briana meyakinkan Lu kalau dia tidak akan membiarkannya tetap tinggal di rumah ini. Ya meskipun perasaannya sekarang terasa sangat campur aduk sekali.


“Hmmmm, aku pikir kau akan memintaku untuk tetap tinggal, Bri,” ucap Lu mengeluhkan sikap galak Briana yang mengancam akan menendang bokongnya jika Lu menolak untuk pulang bersama keluarganya. Bar-bar sekali bukan?

__ADS_1


“Hih, enak saja. Biaya hidup itu mahal, Lu. Dan di dunia ini tidak ada yang gratis. Aku mana mungkin sanggup terus-terusan menampung penderita amnesia sepertimu dengan kondisiku yang serba pas-pasan. Benar tidak?”


Wajah Lu langsung berubah masam mendengar perkataan Briana yang terlalu terus terang. Briana yang melihat Lu merajuk hanya tertawa-tawa saja. Setelahnya tanpa sadar Briana menarik Lu ke dalam pelukannya, membiarkan pria idiot ini menyembunyikan wajahnya di ceruk leher.


“Sudah, kau jangan berpikiran yang macam-macam. Aku tidak mau ya mengeluarkan uang untuk membayar biaya rumah sakit jika kepalamu sampai kenapa-napa.”


“Apa kau sedang menghiburku?”


“Untuk apa aku menghiburmu,” cetus Briana.


“Lalu yang tadi itu apa?” sahut Lu pelan.


“Aku hanya sedang mengingatkanmu kalau aku ini bukan orang kaya. Paham?”


Lu mendongak. “Jika seandainya aku adalah orang kaya apa kau akan mengizinkan aku untuk tetap tinggal?”


Briana sedikit menundukkan kepalanya. Dia lalu menelan ludah karena wajahnya ternyata sangat dekat dengan wajahnya Lu. “Ekhmmmm, kalau memang benar kau adalah orang kaya, mungkin hal ini bisa kita bicarakan lagi.”


“Benarkah?”


“Ya,”


Ya Tuhan, tolong jadikan kenyataan kalau aku adalah anak orang kaya. Dengan begitu aku bisa terus berada di sisinya Briana. Tolong kabulkan keinginanku ini, Tuhan. Aku mohon ….


***

__ADS_1


__ADS_2