Wanita Kesayangan Sang Presdir

Wanita Kesayangan Sang Presdir
Ulat Bulu


__ADS_3

Nyonya Helena sama sekali tak memiliki keberanian untuk sekedar menatap ke arah depan. Takut dan juga gugup. Tentu saja. Bagaimana mungkin dia tak merasa gugup dan takut kalau di hadapannya sekarang ada seorang gadis yang terus menatapnya tak berkedip? Briana, ya, gadis inilah yang tengah menatap tajam sambil bersedekap tangan.


Haduuhh, kenapa cepat sekali sih ketahuannya. Seharusnya kan tidak seperti ini jalan cerita rencanaku. Kenapa singkat sekali? Ah Tuhan, ini tidak seru.


"Ekhmm-ekhmm!" Julia berdehem untuk memecah suasana canggung dan juga sunyi yang tengah tercipta di ruang tamu istana megah ini. Dia lalu berinisiatif membuka percakapan. "Begini Tuan dan Nyonya Anderson. Kami ....


"Sepatah saja kau masih berani berucap, jangan salahkan aku kalau aku nekad mematahkan tulang di tenggorokanmu, Julia!" ancam Briana tak membiarkan Julia menjadi penjilat. Enak saja. Dia yang baru saja menangkap basah seorang maling mana mungkin tinggal diam membiarkan sahabatnya yang tak berotak ini mencari perhatian dari keluarganya Lu. Jangan harap.


"Ck, kau ini sebenarnya kerasukan setan apa sih, Bri. Punya keberanian dari mana kau sehingga ingin mematahkan tenggorokanku?" sewot Julia tak terima. Dia lalu tersenyum manis saat teringat kalau di hadapannya ada keluarga beraroma uang yang tengah mendengarkan perkataannya. "Hehe, Tuan Dary dan Nyonya Helena. Maaf jika kata-kataku barusan membuat telinga kalian merasa tidak nyaman. Ini sudah biasa kami lakukan dalam kehidupan sehari-hari. Jadi mohon kalian jangan berpikiran buruk terhadapku ya? Aku adalah wanita baik-baik. Kalian harus percaya itu!"


"Cihhh, terus saja kau jadi penjilat. Dasar ular kepala dua!" hardik Briana kian kesal mendengar perkataan Julia yang terkesan tak mau terlihat buruk di hadapan keluarga Lu. Padahal, hah! Tak mau Briana menjelaskan.


"Mana ada ular kepala dua, Bri. Yang ada ular kembar siam. Tahu?"


Mulut Julia langsung tertutup rapat saat Briana membunyikan tulang-tulang di jari tangan. Takut di hajar, segera dia bergeser menjauh hingga sedikit merapat ke tubuh Erzan.


"Menjauh dariku kau!" usir Erzan merasa keberatan.


"Kau laki-laki. Biarkan aku berlindung padamu atau aku akan menyebutmu sebagai pengecut!" sahut Julia tak tanggung-tanggung.


"Yakkk!"


"Erzan, jangan bersikap kasar pada wanita. Ibu tidak suka!" tegur Nyonya Helena seraya memasang wajah sedikit galak pada putranya.


"Tapi aku juga tidak suka ada ulat bulu yang menempel di tubuhku, Bu!" sahut Erzan enggan mengalah.

__ADS_1


"Apa? Ulat bulu?"


Kali ini bukan hanya Julia saja yang memekik jengkel saat Erzan menyebutnya sebagai ulat bulu, tapi Briana juga. Walaupun sedang kesal, dia tetap tak terima ada orang yang berani berkata buruk tentang sahabatnya. Karena di kamus Briana hanya dia seorang yang boleh membully Julia, tidak dengan orang lain. Jadi apa yang Erzan lontarkan barusan sangatlah menyinggung hak asasi yang selama ini di anut olehnya. Huh.


"Dengar ya, Erzan. Di dalam hidup ini satu-satunya manusia yang boleh berkata buruk tentang Julia hanyalah aku seorang. Tapi baru saja kau dengan lancangnya menyebut Julia sebagai ulat bulu hanya karena dia meminta perlindungan darimu. Jujur padaku, kau sudah bosan hidup atau sedang mencari jalan pintas agar bisa secepatnya menghadap Tuhan hah?" amuk Briana tanpa mempedulikan kalau dia sedang mengancam Erzan di hadapan keluarganya. Masa bodo. Status keluarga ini sama sekali tidak membuatnya merasa gentar. Dia Briana, dan akan tetap menjadi Briana yang tidak takut pada apapun. Kecuali Tuhan tentunya.


"Kau ... kau sedang mengancamku?" tanya Erzan syok. Dia bicara sambil menunjuk lubang hidungnya sendiri.


"Iya. Kenapa memangnya?" jawab Briana sambil mendelikkan mata.


"Woaaahhh, benar-benar wanita keturunan ninja warior kau ini ya. Kau sadar tidak kalau sekarang kebar-kebaranmu sedang disaksikan langsung oleh Ayah dan Ibuku? Apa kau tidak merasa malu jika orangtuaku sampai mencapmu sebagai gadis yang buruk?"


"Kami tidak pernah berpikiran seperti itu tentang Briana. Tolong jangan sembarangan menjual nama orang ya!" sahut Nyonya Helena dengan cepat. Dia lalu menyikut lengan suaminya yang hanya diam saja. Helena kemudian berbisik. "Awas saja kalau kau lebih membela Erzan daripada Briana. Setelah Gavriel pulang nanti aku akan langsung membawanya pergi ke rumah Briana. Kami akan meninggalkan kalian berdua di rumah ini. Tahu?"


"Ekhmm, Erzan. Ayah dan Ibu sama sekali tidak berpikiran seperti itu tentang sikap Briana. Kami ... kami malah senang melihat sikapnya karena itu membuat suasana rumah menjadi lebih ramai!" ucap Dary tanpa pikir panjang langsung merespon ancaman sang istri dengan mengibarkan diri bahwa dia tidak membela Erzan. Bisa mati kering dia jika istri dan putra sulungnya sampai pergi dari rumah.


Erzan, Briana dan juga Julia sama-sama ternganga tak percaya mendengar pengakuan pasangan suami istri di hadapan mereka. Aneh. Bukankah seharusnya Tuan Dary dan Nyonya Helena lebih memihak pada Erzan ya? Tapi kenapa kedua orang ini malah berpihak pada Briana yang jelas-jelas sedang mengancam anak mereka? Tidak masuk akal.


Ini kabar buruk. Belum juga menjadi menantu di rumah ini tapi Ayah dan Ibu sudah menganak-tirikan aku demi Briana. Lalu apa kabar dengan warisanku nanti kalau Briana benar-benar menikah dengan Kak Gavriel? Mana dia galak sekali lagi. Aku mana mungkin berani melakukan pemberontakan. Aihh, sedih sekali rasanya saat tidak ada yang mendukung.


"Syuutt-syuuttt," ....


"Ck, apa sih!" kesal Briana sambil menatap dongkol ke arah Julia yang baru saja berbisik sambil menoel pinggangnya.


"Sepertinya kau sudah mendapat lampu hijau dari mereka, Bri. Kau lihat sendiri kan tadi bagaimana Ayah dan Ibunya Erzan lebih memihak kepadamu alih-alih memihak pada anak kandung mereka sendiri?" ucap Julia dengan seringai mengembang lebar menghiasi bibir. Waktunya untuk menjadi bibi dari seorang pewaris sudah semakin dekat. Dan kesempatan baik ini tidak boleh sampai terlewat. Jadi Julia berencana membuat jalan tikus agar tujuannya bisa tercapai dengan aman sentausa.

__ADS_1


"Bicara apa kau!"


Briana memalingkan muka. Mendadak tenggorokannya jadi terasa kering saat setan di sebelahnya tidak berhenti menggoda. Sialan sekali Julia. Kenapa juga ilmu 21++nya harus keluar di saat terjepit seperti ini. Sudah tahu Briana sedang marah karena menangkap basah ibunya Lu, eh dia malah dengan santainya berkata untuk mendekatinya saja dengan tujuan agar bisa secepatnya membuat adonan cendol dengan Lu. Luar biasa mesum sekali wanita ini. Haihhh.


"Ayolah Briana, jangan malu-malu. Jangan lupa kalau orang malu itu akan mudah tersesat di jalan!" ucap Julia terus mengompori Briana agar berhenti merajuk pada ibunya Lu.


"Malu kepalamu. Kebodohan itu tolong jangan terus kau budidayakan, Julia. Di mana-mana pepatah itu mengatakan malu bertanya sesat di jalan. Tahu kau!" omel Briana meralat kata-kata Julia yang kurang tepat.


"Alah pokoknya itu. Selagi bisa membuatmu dan Lu mencetak adonan cendol, memelihara kebodohanpun aku rela. Karenanya pepet saja hati Nyonya Helena dan Tuan Dary, Briana. Buat agar mereka semakin menyukaimu kemudian menikahkanmu dengan Lu. Itukan yang kau harapkan?"


"Diam kau!"


"Sudah jangan malu-malu," paksa Julia pantang menyerah.


"Diam!"


"Eih kau ini?"


Mungkin, mungkin ya mungkin. Mungkin jika Julia berkata dengan suara lirih orang-orang yang ada di sana tidak akan mungkin tercengang heran sekaligus takjub mendengar ilmu-ilmu sesat yang terlontar keluar dari dalam mulutnya. Namun sayangnya Julia mengatakan itu semua dengan suara yang cukup kuat sehingga bisa di dengar dengan sangat jelas oleh Erzan dan kedua orangtuanya. Kalian bayangkan sendiri saja betapa kagetnya mereka mendengar peribahasa yang menyebutkan tentang adonan cendol berkepala hitam.


"Sayang, kalau di rumah ini kita mempunyai dua menantu seperti Julia dan Briana, aku yakin kita berdua bisa meninggal karena kelelahan tertawa. Benar tidak?" bisik Dary sambil terus memperhatikan Julia yang tak henti menggoda Briana. Bukan menggoda sih, tapi lebih tepatnya mengolok-olok lewat jurus tingkat dewa karena sekarang kulit wajah Briana terus berubah dari warna putih menjadi merah, kemudian berganti warna menjadi merah jambu dan yang terakhir pucat pasi. Lucu dan juga mengerikan.


"Bukan hanya bisa meninggal karena kelelahan tertawa, Dary. Tapi kedua sudut bibir kita bisa tertarik ke belakang telinga sampai kita dimasukkan ke dalam peti mati. Tapi jujur, aku sangat suka dengan kepribadian dua gadis ini. Mereka tidak ada jaim-jaimnya seperti kebanyakan sikap para gadis yang pernah kujumpai," sahut Helena sambil tersenyum kecil. Sedetik kemudian terlintas satu pemikiran di dalam kepala. Dia lalu menatap seksama ke arah Erzan yang sedang memijit tulang hidungnya. "Dary, bagaimana kalau kita jodohkan saja Erzan dengan Julia. Dengan begitu kita bisa memiliki kedua gadis ini secara bersamaan. Kau setuju tidak?"


Tak langsung menjawab, Dary malah menelan ludah mendengar keinginan sang istri tercinta. Menjodohkan Erzan dengan Julia? Astaga, bukankah ini akan menjadi cikal bakal petaka besar mengingat tentang pemuda itu yang seperti tidak tertarik pada wanita. Namun karena Dary tak berani melawan keinginan Helena, mau tak mau dia pura-pura setuju saja demi untuk menghindari masalah lain. Ibarat kata, mengalah itu jauh lebih baik daripada harus berdebat dengan ras terkuat di muka bumi di mana ketika salah tidak mau dipersalahkan, dan ketika memiliki keinginan harus di jawab iya detik itu juga. Hehehe.

__ADS_1


Kenapa Ibu menatapku sambil tersenyum aneh begitu ya? Membuat tengkuk meremang saja. Hii.


***


__ADS_2