
Sesampainya di cafe, Jenny turun tangan langsung dengan membantu Briana dan Julia beberes di sana. Julia yang melihat hal itupun hanya acuh saja. Masa bodo, kan bukan dia yang memaksa. Lagipula adalah suatu keberuntungan besar karena cafenya di bersihkan oleh wanita yang sangat kaya raya. Siapa tahu itu bisa membawa hoki. Benar tidak? Hehehe. Sedangkan Briana, wanita itu sesekali nampak mengerutkan kening saat memperhatikan wanita gila yang memaksa ikut datang ke cafe. Ada perasaan aneh, desiran hatinya berkata agar mengusir wanita itu pergi dari sana.
Apa aku panggil security saja ya agar membawa Nyonya Jenny pergi dari sini? Lama-lama aku jadi takut padanya. Benarkah dia hanya terobsesi dengan menganggapku sebagai anaknya?
Pukkk
"Wanita yang belum menikah itu sebaiknya jangan terlalu sering melamun. Karena apa? Karena itu bisa menarik perhatian jin dari alam gaib. Mau kau di sukai oleh setan berambut gondrong?" olok Julia sembari menampilkan cengiran khas di bibirnya. Dia lalu berkilah ke samping saat Briana hendak menggeplak tangannya. "Hehehe, tidak kena ya."
"Untuk apa aku harus merasa takut di sukai oleh setan kalau setiap harinya aku selalu bersama dengan titisan lelembut sepertimu?" sahut Briana balas mengolok. Setelah itu Briana bersedekap tangan sambil menyeringai tipis. Ingin mengejeknya? Haha, mimpi. "Kalaupun benar ada setan yang menyukaiku, aku akan memintanya untuk muncul kemudian memakannya sampai habis tak bersisa. Coba saja kalau tidak percaya!"
"Haihhhh, ternyata aku sudah salah menakuti orang," keluh Julia yang baru ingat kalau Briana adalah ketua perhantuan.
"Makanya kalau mau bicara itu di pikir dulu. Tuhan memberimu otak jangan hanya di gunakan untuk memikirkan hal-hal negatif. Tahu?"
"Iya-iya,"
Setelah itu pandangan Julia dan Briana beralih pada Nyonya Jenny yang terlihat begitu semangat saat mengelap meja. Heran. Wanita itu sudah mempunyai kedai sendiri, tapi kenapa malah asik bebersih di tempat orang? Tidakkah menurut kalian sikap wanita itu sangat mengganjal? Tentu saja. Seumur-umur Briana dan Julia hidup, baru kali ini mereka bertemu dengan orang yang tidak peduli dengan usahanya sendiri. Ya meskipun Nyonya Jenny kaya, tapi kan tidak seharusnya dia bersikap demikian? Membuat orang bingung saja.
"Bri, menurutmu halal tidak kalau kita meminta Nyonya Jenny untuk memberikan kedainya pada kita berdua? Kalau di pikir-pikir, sayang sekali kedai mewah itu di anggurkan begitu saja oleh pemiliknya. Benar tidak?" tanya Julia yang langsung menelan ludah membayangkan jika seandainya kedai milik Nyonya Jenny di alih fungsikan menjadi miliknya. Wildan pasti akan semakin terpesona padanya. Hehe.
"Halal kepalamu. Itu sama artinya kau memanipulasi kebaikan Nyonya Jenny untuk kepentinganmu sendiri, Julia. Hak-hak dia mau di apakan kedai itu. Di anggurkan kek, di bakar kek, bahkan di tinggal hingga membusuk kek, itu sama sekali bukan urusan kita. Tahu?" jawab Briana sambil memelototkan mata pada Julia. Memang sangat luar biasa sekali pemikiran sahabatnya ini. Heran.
"Kenapa kau marah sih. Akukan hanya berpendapat saja. Dasar galak!"
__ADS_1
"Coba bicara lebih keras lagi. Kebetulan tanganku sedang gatal dan sangat ingin menjambak rambut seseorang!"
Tak mau menjadi korban, Julia langsung mengambil langkah seribu dengan tidak mengganggu Briana lagi. Dia kemudian berjalan menghampiri Nyonya Jenny, memperhatikan dengan seksama bagaimana wanita ini terlihat begitu gembira dengan apa yang sedang dilakukannya.
Um kenapa dari samping mata Nyonya Jenny terlihat mirip dengan mata Briana ya? Apa ini sebabnya dia begitu ingin menganggap Briana sebagai anaknya?
"Oh, Julia. Kau di sini?" Jenny tersenyum. Dia kemudian melongok ke dalam, mencari tahu dimana putrinya berada. "Briana mana?"
"Nyonya Jenny, aku curiga padamu. Bisakah kau menjawab satu pertanyaan dariku?" tanya Julia sambil menyipitkan mata. "Matamu dan mata Briana terlihat sama persis. Apa kalian adalah ibu dan anak?"
Deg deg deg
Jantung Jenny berdebar dengan sangat kuat begitu mendengar pertanyaan Julia. Rasanya ingin sekali Jenny pergi dari sana. Dia takut wanita ini akan membongkar rahasianya jika memang benar menyadari kalau Briana adalah putrinya.
"Julia, yang membuatku begitu ingin dekat dengan Briana adalah karena matanya yang sangat mirip dengan anakku. Tapi, tapi kami bukanlah pasangan ibu dan anak. Ha-hanya kebetulan mirip saja, kan anakku sudah tidak ada," sahut Jenny dengan suara terbata. Rasanya sangat menyakitkan karena tak bisa mengklaim Briana sebagai putrinya di hadapan orang lain. Namun, Jenny bisa apa. Hanya ini cara yang bisa dia lakukan untuk melindungi putrinya dari kekejaman Hendar.
"Benar juga. Ya sudahlah, kita lupakan saja masalah ini. Anggap aku tidak pernah bertanya. Oke?"
Briana adalah putri kandungku, Julia. Dia anakku.
Melihat raut sedih yang muncul di wajah Nyonya Jenny seketika membuat Julia merasa bersalah. Dia lalu memutuskan untuk mengajak wanita ini duduk dan berbincang kecil. Kasihan. Pertanyaannya tadi pasti telah mengingatkan Nyonya Jenny pada putranya yang telah hilang.
"Apa Briana tidak akan marah kalau kita bersantai seperti ini, Julia?" tanya Jenny. Gen keras kepala dan juga kasar milik Hendar sedikit melekat di diri putrinya itu. Dia khawatir Briana akan membanting Julia sampai penyot.
__ADS_1
"Sudah menjadi rutinitas Briana untuk marah-marah setiap hari, Nyonya. Jadi kau tidak perlu cemas," jawab Julia dengan santainya.
"Benarkah?"
Julia mengangguk. "Orang-orang yang berada di sekitar cafe ini sudah sangat hafal dengan kelakuannya. Bahkan tak jarang para pengunjung yang datang kemari menyaksikan langsung bagaimana aku di bully olehnya. Tapi tetap saja, aku sangat menyayangi Briana. Dia baik, hanya sering ketempelan setan saja. Makanya mudah marah!"
Setelah berkata seperti itu Julia mendekatkan wajahnya ke arah Nyonya Jenny. Ada hal penting yang ingin dia sampaikan padanya.
"Nyonya, bagaimana kalau kedaimu di pindahkan saja ke depan cafe ini. Kan sayang kalau harus di tinggal seperti tadi. Nanti untungnya bisa kita bagi rata. Tenang, untuk masalah sewa aku tidak akan menaruh harga tinggi padamu. Bagaimana?"
Sudut bibir Jenny berkedut. Wanita ini benar-benar mata duitan sekali ya. Belum juga habis uang yang tadi di transfer oleh penjaga, tapi sekarang Julia sudah kembali membuat kesepakatan untuk mendapatkan uang. Lucu sekali.
"Kalau Briana yang memintaku untuk melakukannya, dengan senang hati aku akan langsung memindahkan kedaiku ke depan cafe ini. Sungguh!" ucap Jenny membalas kelicikan Julia. Hatinya bahagia sekali karena wanita ini secara tidak langsung ingin mendekatkannya dengan Briana.
"Tunggu sebentar. Aku akan membujuknya dulu."
Secepat kilat Julia berlari masuk menuju dapur guna menemui Briana. Dan harapannya sangatlah besar sekali kalau wanita brutal itu akan menyetujui keinginan Nyonya Jenny.
Ini jacpot. Jadi apapun yang terjadi Briana harus mau memanfaatkan Nyonya Jenny.
Namun, begitu Julia memberitahu Briana, bukan persetujuan yang dia dapat, melainkan satu pukulan kuat di bagian bokong. Misi gagal total. Niat baik Julia di sambut oleh gaharnya teplon hitam yang di ayunkan oleh Briana. Alhasil, sambil bersungut-sungut, Julia kembali menghampiri Nyonya Jenny yang terlihat sedang menahan tawa karena mendengar suara amukan Briana dari arah dapur.
"Benar-benar kau ya, Julia. Sekali lagi kau berani membuat ulah, bukan hanya teplon yang akan ku pukulkan ke bokongmu. Tapi panci panas juga. Coba saja jika tidak percaya!" teriak Briana dengan suara menggelegar.
__ADS_1
***