
📢📢📢 BESTIE, JANGAN LUPA DUKUNGANNYA YA SUPAYA JOVAN DAN NANIA BISA MENANG DI LOMBA DI YOU ARE A WRITER SEASON 8. OKE 💜💜💜
***
Briana memandangi Lu yang tengah terlelap di atas ranjang. Sejak semua orang pergi dari rumahnya, Briana sama sekali tidak bisa memejamkan mata. Dia ingin menghabiskan malam dengan terus menatap wajah Lu yang entah kapan baru bisa dilihatnya lagi. Karena dari yang Briana tahu, seorang penderita amnesia biasanya akan melupakan kenangan terakhir saat ingatannya kembali pulih. Jadi untuk mengenang saat-saat kebersamaanya dengan Lu, Briana telah memutuskan akan begadang sampai pagi. Dia akan merekam sebanyak mungkin setiap ekpresi yang muncul di wajahnya Lu sebelum mereka benar-benar berpisah besok.
“Lu, kau tahu tidak kalau sekarang aku benar-benar sangat ingin menangis. Kau sungguh kurang ajar sekali. Siapa kau sampai membuatku jadi seperti ini, ha? Kau itu hanya orang asing. Orang asing yang tak sengaja meninggalkan kesan mendalam di hatiku. Lancang,” gumam Briana sambil terisak lirih. Sebisa mungkin dia menahan suara tangisnya agar tidak bocor keluar. Briana tak mau mengganggu istirahatnya Lu. “Hiksss, kau jahat sekali. Setelah aku berdamai untuk tetap merawatmu lalu kau tiba-tiba ingin pergi meninggalkanku begitu saja. Aku sedih, Lu. Setelah ini aku tidak akan memiliki tempat lagi untuk bersandar. Aku akan kehilangan seorang teman yang belakangan ini selalu mengajari agar aku lebih mencintai diriku sendiri. Aku sedih sekali,”
“Kalau sedih maka jangan biarkan aku pergi. Tahan aku sebisamu agar kita tidak terpisah. Oke?”
Lu perlahan-lahan membuka mata. Dia kemudian tersenyum melihat ekpresi syok di wajah Briana. Ya, Lu sebenarnya sama sekali tidak tidur sejak Briana memutuskan keluar untuk menemui Erzan dan Wildan. Lu bahkan ikut mendengar juga apa yang di bicarakan oleh mereka bertiga. Walaupun sedih, Lu mencoba menghargai keputusan Briana yang memilih untuk membiarkan Erzan membawanya pergi. Lu paham mengapa Briana memilih mengambil keputusan tersebut.
“Jangan menangis. Kau lebih cantik saat sedang tersenyum,” ucap Lu sembari menyeka air mata yang membasahi wajah cantik Briana. “Tersenyumlah. Jangan beri aku kesan sedih sebelum pergi dari sini. Bisa?”
“Lu, apa kau mendengar semua perkataanku barusan?” tanya Briana lirih.
“Ya, aku mendengar semuanya. Bahkan percakapanmu dengan Erzan juga, aku mendengar semua yang kalian bicarakan,” jawab Lu jujur.
“Apa … kau marah?”
__ADS_1
Briana menggigit bibir bawahnya. Dia takut sekali Lu akan marah kepadanya karena lebih memilih untuk membiarkan Erzan membawanya pergi alih-alih menahannya agar tetap tinggal.
“Sedikit.” Lu kembali tersenyum. Setelah itu Lu bangun dan menumpuk beberapa bantal di belakang punggungnya. Lu kemudian menggunakannya untuk menyender. “Bri, mendekatlah. Aku ingin memelukmu,”
“Memelukku?”
“Ya, memelukmu. Apa boleh?”
Briana mengangguk. Segera dia mendekat ke arah Lu kemudian menyender ke dadanya. Di sana, di dada itu Briana kembali meneteskan air mata. Dadanya terasa sesak saat membayangkan kalau malam ini adalah malam terakhirnya bisa dipeluk oleh Lu. Andai Briana memiliki hak, dia pasti akan menjerit meminta agar Lu jangan pergi. Namun, Briana tak memiliki hak tersebut. Dia hanyalah orang asing yang tidak sengaja menyelamatkan Lu dari rasa lapar. Tak etis jika Briana sampai memohon dan menghiba agar Lu tetap tinggal. Benar tidak?
“Ada apa, hem? Apa yang sedang mengganggu pikiranmu sekarang, keluarkan saja. Malam ini mari kita saling bicara sampai matahari muncul di langit pagi. Oke?” tanya Lu sambil membelai-belai rambut panjang Briana yang tergerai bebas. Rasanya perih sekali membayangkan kalau malam ini adalah malam terakhir Lu bisa memeluknya.
“Lu, apa kita masih bisa bertemu?” tanya Briana lirih. “Aku pernah mendengar kalau orang yang menderita lupa ingatan biasanya akan melupakan kenangan terakhirnya saat ingatan lamanya kembali pulih. Mungkin ini terdengar memalukan, tapi jujur aku takut sekali memikirkanmu yang tidak bisa lagi mengenali aku. Walaupun awalnya kita hanyalah orang asing, setelah dua bulan mengenalmu aku jadi memiliki kesan tersendiri terhadapmu. Jadi masih bisakah kita menjadi teman?”
“Um,” Briana menganggukkan kepala. Dia kemudian menengadah. “Lu, kenapa kata-katamu terdengar sangat manis? Dan kenapa juga kau menjanjikan akan kembali datang untuk menemuiku? Siapa aku di hidupmu?”
Sebelum menjawab pertanyaan Briana, Lu dengan lembut membaringkannya ke kasur. Setelah itu Lu berbaring menyamping sehingga kini dia dan Briana saling berhadap-hadapan. Sambil mengelus tulang hidung Briana, Lu memberitahu alasan kenapa dia bisa menjanjikan ketiga hal tersebut. “Pertama alasan kenapa kata-kata yang kuucapkan sangat manis adalah karena aku memang akan melakukannya. Sebisaku aku akan berusaha untuk tidak melupakanmu. Lalu yang kedua kenapa aku menjanjikan akan datang untuk menemuimu adalah karena kau sangat berharga di hidupku. Di saat orang lain mengusirku agar jangan mengganggu dan meminta tolong pada mereka, kau dengan segala kebaikan hatimu mengizinkan aku untuk tetap tinggal. Kau sudah menjadi rumahku, Briana. Kau adalah tempat untukku pulang. Kemudian yang ketiga siapa kau di hidupku,” ...
Lu menjeda perkataannya. Dia memangkas jarak antara wajahnya dengan wajah Briana sehingga kini hanya tinggal satu senti jarak yang memisahkan mereka. “Di hidupku kau seperti cahaya. Kau cantik, indah, dan selalu memancarkan sinar yang terang. You are my sunshine, Briana.”
Mata Briana langsung terpejam erat saat Lu menempelkan bibir ke bibirnya. Awalnya Briana merasa canggung, tapi lama-kelamaan Briana mulai bisa membalasnya. Di bawah sinar lampu yang tidak terlalu terang, Lu dan Briana saling menyesap bibir. Itu mereka lakukan tanpa ada luapan na*su, hanya sebatas ingin menyampaikan kalau di dalam hati mereka ada perasaan yang sama -sama special.
__ADS_1
“Bibirmu manis. Sama seperti senyummu yang selalu membuatku merasa bersemangat,” bisik Lu sembari menyeka bibir bawah Briana yang terlihat sedikit membengkak. “Terima kasih sudah mengizinkan aku untuk menciummu. Aku tahu ini lancang, tapi aku tulus melakukannya tanpa ada niat yang salah. Kau tidak keberatan bukan jika aku menganggapnya sebagai kenangan yang manis?”
“Bagaimana bisa kau bertanya seperti itu pada wanita yang baru pertama kali ini berciuman dengan laki-laki? Tolong jangan membuatku merasa malu, Lu,” sahut Briana tersipu. Dia dan Lu kini sama-sama saling menatap.
“Jika kata-kataku barusan membuatmu merasa malu, lalu apa yang kau rasakan saat aku berkata kalau kau adalah cahaya di hidupku? Apa kau juga merasa malu seperti ini?”
“Tidak,”
“Lalu?”
“Aku bahagia. Aku senang saat kau berkata you are my sunshine kepadaku. Itu terdengar sangat manis, sama seperti sikapmu akhir-akhir ini,” jawan Briana seraya menampilkan senyum terbaiknya. Bukan untuk menggoda Lu, tapi untuk menunjukkan kalau Briana ….
“Briana, apakah ada kemungkinan untuk kau menyukaiku?”
Lu sedikit menarik tubuh Briana agar masuk ke dalam pelukannya. Setelah itu dia menciumnya lama, menunggu dengan sangat sabar jawaban seperti apa yang akan keluar dari mulut gadis galak ini.
“Lu, kau fokuslah dulu pada pengobatanmu. Jika memang takdir menginginkan untuk kita bertemu kembali, saat itulah aku baru akan memberikan jawabanku. Aku ini wanita yang belum pernah menjalin hubungan dengan pria manapun, dan jujur aku tidak siap kalau harus terpisah jarak jika seandainya sekarang aku menjawab iya. Kau bisa mengerti maksud ucapanku bukan?” sahut Briana enggan mengakui kalau sebenarnya dia menyimpan perasaan berbeda terhadap Lu. Briana tak mau sakit hati jika nanti Lu sampai melupakannya di saat dia telah mengungkapkan perasaan yang sebenarnya. Briana tidak sekuat itu.
“Hmmmm, baiklah. Aku bisa memahami maksud ucapanmu.”
Malam itu Lu dan Briana benar-benar menghabiskan waktu hanya untuk bercengkerama sampai pagi. Mereka sama sekali tidak merasakan rasa kantuk sedikitpun. Hanya ada rasa bahagia saja meski sebenarnya di dalam hati masing-masing tersimpan keresahan akan perpisahan yang sebentar lagi terjadi.
__ADS_1
***