Wanita Kesayangan Sang Presdir

Wanita Kesayangan Sang Presdir
Berpura-Pura Kuat


__ADS_3

“Langsung tutup pintunya begitu aku keluar. Mengerti?” ucap Briana sambil menatap datar ke arah Julia yang tengah berdiri menyender ke dinding. Dia kemudian melepas sarung tangan yang masih dipakainya lalu berbalik mengambil tas. Briana hendak pulang karena semua pekerjaan telah terselesaikan.


“Iya-iya. Bawel sekali,” sahut Julia setengah menggerutu. Satu tangannya bergerak mengusap benjolan yang ada di keningnya.


Akibat mulutnya yang terlalu jujur, siang tadi Julia tak sengaja terbentur meja saat kakinya terpeleset lantai yang sedikit licin. Karena takut di hajar Briana menggunakan teflon, Julia mencoba melarikan diri dengan berlari keluar dari dalam café. Akan tetapi naas. Julia memang terhindar dari pukulan teflon yang di bawa oleh Briana, tapi dia harus rela tertimpa kemalangan lain dimana itu membuat keningnya benjol dan lebam. Menjengkelkan sekali bukan?


“Itu akibatnya kalau mulut tidak dijaga. Belum juga aku memberimu hukuman, tapi Tuhan sudah lebih dulu turun tangan untuk menegurmu. Lain kali jangan begitu lagi ya?” olok Briana seraya menyunggingkan senyum penuh ejek. Dia kemudian terkekeh melihat Julia yang langsung mengerucutkan bibir mendengar ejekannya. “Tidak perlu mengerucutkan bibir seperti itu karena itu tidak akan membuatku berhenti menertawakanmu. Tahu kau!"


“Cihhh, bisa tidak sih kau jangan mengolok-olokku, Bri. Sudah tahu aku sedang terluka, masih saja kau memojokkan aku. Sahabat macam apa kau itu ha!” sahut Julia jengkel melihat Briana yang tak berhenti menertawakannya.


“Sebelum kau bertanya seperti itu alangkah baiknya kalau kau bertanya pada dirimu sendiri, Julia. Kalau kau memang menganggapku sebagai sahabat, kenapa kau tega mengajari Lu cara-cara agar bisa meniduriku? Bukankah sebagai seorang sahabat kau harusnya melindungiku ya, tapi kenapa kau malah mengumpankan aku pada seorang pria? Menurutmu pantaskah seorang sahabat melakukan hal seperti itu?”


Julia keki. Dia sampai salah tingkah mendengar teguran Briana yang langsung mengena di jantungnya. Tak mau ada perdebatan, dengan cepat Julia mendekati Briana kemudian menggaet lengannya seraya menampilkan senyum tanpa dosa. Biasalah. Hehehe.


“Bri, tolong kau jangan salah paham dulu padaku. Itu semua tidak akan terjadi jika seandainya kau dan Lu bisa sedikit lebih agresif lagi. Kalian itukan saling sayang, tapi sama-sama sok jual mahal. Akukan jadi gemas melihatnya. Jadi ya sudah, aku ajarkan saja ilmu 21++ yang kukuasai pada Lu. Siapa tahu itu bisa membuat hubungan kalian menjadi selangkah lebih maju. Iya ‘kan?” ucap Julia melakukan pembelaan diri agar sahabatnya tidak marah. Jujur, dia takut Briana akan menyerangnya. Dia itukan sensitive sekali dengan hal-hal yang berbau erotis.


“Tapikan tidak harus dengan cara seperti itu juga, Julia. Astaga!” sahut Briana jengkel mendengar alasan tidak masuk akal yang dilontarkan oleh Julia. “Sekarang coba kau bayangkan jika seandainya Lu sampai terhasut perkataanmu. Kira-kira apa yang akan terjadi padaku hah? Mau kau melihatku dihamili oleh laki—laki yang bahkan tidak bisa mengingat namanya sendiri? Iya?”

__ADS_1


“Heissshhhh, kau jangan pura-pura lupa, Briana. Dua bulan lalu Lu memang kita kenal sebagai pria yang lupa ingatan. Akan tetapi setelah Erzan dan Wildan datang, kita jadi sama-sama tahu kalau Lu itu bernama lengkap Gavriel Anderson. Dan yang lebih mengejutkannya lagi dia itu adalah bos di salah satu perusahaan besar yang ada di negara kita. Jadi aku rasa kalaupun kemarin kalian telah melakukan mantap-mantap, nasibmu tidak akan berakhir buruk. Justru kau akan langsung menjadi istri seorang milyader yang kekayaannya tidak akan habis tujuh turunan. Kau akan menjadi Nyonya Anderson, Briana!”


Pletaakkkk


Lubang hidung Briana kembang kempis dengan cepat mendengar ucapan Julia yang melantur kemana-mana. Saking tak kuat menahan emosinya, Briana kembali menjitak kening Julia hingga membuat keningnya berubah warna menjadi merah. Rasakan.


“Woaaahhhhh, Julia. Aku benar-benar tidak bisa menebak isi kepalamu. Bagaimana bisa kau terpikir sampai sejauh itu hah? Menjadi Nyonya Anderson? Ya Tuhaaaaannnnn!” teriak Briana frustasi. Dia lalu memelototkan mata lebar-lebar saat melihat Julia hendak menyahuti teriakannya. “Coba saja kau berani membela diri di hadapanku sekarang. Aku bersumpah akan langsung menggiling tubuhmu seperti daging ayam. Mau kau?!”


Julia menggeleng.


“Lu mungkin berasal dari keluarga kaya, tapi aku sama sekali tidak terpikir untuk melakukan kecurangan demi agar bisa menjadi istrinya. Aku memang sangat ingin hidup enak, tapi bukan berarti aku akan menggadaikan kehormatanku dengan menjadikan tubuhku sebagai alat untuk meraih semuanya. Jadi tolong berhentilah berpikir kalau aku akan seserakah itu berambisi untuk memiliki Lu. Oke, jujur aku akui kalau aku memang merasa sangat kesepian setelah Lu kembali pulang ke keluarganya. Aku merindukannya, bahkan hampir di setiap tarikan nafasku. Tapi Julia, ketahuilah. Aku tetap tidak akan mengharap lebih darinya, terkecuali jika Lu sendiri yang datang menemuiku. Mengerti?” ucap Briana menegaskan kalau dia tidak akan mengorbankan apapun di hidupnya hanya demi seorang laki-laki yang tidak memiliki hubungan apapun dengannya. Tidak akan. Hidup Briana terlalu berharga jika harus dibuang percuma. Benar tidak man-teman?


Deg deg deg


Jantung Briana tiba-tiba saja berdegub kuat saat Julia mempertanyakan tentang perasaannya terhadap Lu. Benarkah kerinduan dan ketidakterbiasaan ini berasal dari rasa suka? Tapi ….


“Ayolah, Briana. Kau itukan bukan anak kecil lagi, jadi jangan membohongimu hatimulah. Lagipula tidak ada salahnya kok kalau kau jatuh cinta kepada Lu. Itu sah-sah saja karena kalian sama-sama tidak memiliki pasangan. Ayo cepat akui kalau kau memang menyukai Gavriel. Ayo!” desak Julia puas melihat Briana yang tak bisa menyangkal perkataannya. Iseng-iseng, Julia menyikut pelan lengan Briana yang masih enggan untuk menjawab. “Jawablah, Bri. Kau tidak akan mati hanya karena mengakui kalau kau menyukai Gavriel. Percayalah padaku!”

__ADS_1


“ini bukan tentang percaya atau tidak percaya, Julia. Jujur, sebulan terakhir ini jantungku memang terasa sedikit aneh ketika Lu bersikap manis kepadaku. Ada perasaan membuncah dan juga bergelenyar di dadaku. Walaupun aku masih belum sepenuhnya memahami apakah benar aku menyukai Lu atau hanya sekedar terbawa perasaan saja, aku tetap tidak akan berharap lebih kepadanya. Malam sebelum Lu kembali ke rumahnya dia telah berjanji kalau dia akan kembali lagi untuk menemuiku. Namun aku menganggap janji itu sebagai penghiburan semata karena aku sadar aku tidak akan pernah sebanding dengan statusnya Lu yang adalah seorang pewaris keluarga kaya. Siapalah aku ini, Julia. Hanya gadis yatim piatu yang bekerja di café milik sahabatnya. Dan aku berani menjamin kalau keluarganya Lu pasti sudah menyiapkan jodoh yang sepadan dengannya. Kau bisa mengerti maksud perkataanku, bukan?” ucap Briana seraya tersenyum kecut.


Lu, maafkan aku. Bukan aku bermaksud mengkhianati janji kita, tapi aku hanya tidak mau terluka jika sampai berharap terlalu banyak kepadamu. Statusmu terlalu tinggi untuk seorang gadis biasa sepertiku. Ya walaupun aku merasa sedih saat memikirkan fakta ini, setidaknya itu jauh lebih baik karena aku menyadarinya lebih awal. Untukmu yang kini jauh di sana, aku hanya bisa mendoakan semoga kau lekas sembuh dan bisa menjalani hari-harimu seperti dulu. Hatiku biar aku saja yang menjaganya sendiri. Aku merindukanmu, dan mungkin juga aku menyukaimu. Tapi maaf Lu, aku tidak akan membiarkan hatiku terluka terlalu jauh. Cukup rasa rindu ini saja yang menyiksaku, tidak dengan cintamu. Maaf ….


Julia diam mencerna perkataan Briana dengan baik. Dia paham, sangat amat paham kalau Briana hanya ingin menjaga hatinya agar tak terluka. Sebagai sahabat baiknya, Julia jelas sangat memahami seperti apa watak sahabatnya ini. Briana anti dengan yang namanya terluka dan belas kasih dari orang lain. Jadi meskipun benar Briana menyukai Lu, Julia yakin Briana tidak akan membiarkan perasaan terus berkembang meski matanya tak bisa berbohong kalau Briana teramat sangat merindukan kehadiran Lu di hidupnya.


Tak mau sahabatnya berlarut-larut merasa sedih, dengan penuh kelembutan Julia memeluknya. Briana ini sebenarnya rapuh, tapi dengan bodohnya berpura-pura kuat agar orang lain tidak menganggapnya lemah. Dan karena suasana sedang tidak mendukung, Julia memutuskan untuk mengesampingkan dulu jiwa tengilnya dengan tidak meledek Briana. Kasihan.


“Jangan memperlakukan aku seolah aku ini butuh belas kasihan darimu, Julia. Cepat lepaskan pelukanmu!” omel Briana sambil menahan diri agar tidak meneteskan air mata. Ternyata berpura-pura kuat sangatlah tidak enak. Terlebih lagi ini adalah kali pertama Briana dekat dengan seorang pria. Sudah pasti hatinya sangat terluka karena di tinggal saat sedang berbunga-bunga.


“Mau minum?” tanya Julia abai.


“Uang tabunganku bisa habis kalau aku terlalu boros,” jawab Briana sambil menganggukkan kepala.


“Cihhh, bilang saja kalau kau ingin aku yang mentraktirmu. Dasar wanita licik kau!”


“Hehehe,” …

__ADS_1


***


__ADS_2