
📢📢📢 BESTIE, JANGAN LUPA DUKUNGANNYA YA SUPAYA JOVAN DAN NANIA BISA MENANG DI LOMBA DI YOU ARE A WRITER SEASON 8. OKE 💜💜💜
***
“Awas, hati-hati!” ucap Briana sambil membantu Lu keluar dari dalam mobil.
“Iya,” sahut Lu lemah.
Setelah mendapat izin pulang dari dokter, Briana bersikeras membawa Lu pulang dengan menaiki taksi. Mendadak dia jadi khawatir kalau Erzan dan Wildan akan membawa Lu pergi tanpa seizinnya jika Lu pulang dengan menumpang pada mobil mereka. Walaupun Julia sempat membujuk dengan mengatakan kalau mobilnya Wildan sangat nyaman, Briana sama sekali tidak tergiur untuk mencobanya. Dan di dalam taksi tadi sedetikpun Briana sama sekali tidak melepaskan pegangannya di lengan Lu. Dia benar-benar sangat takut Lu akan di bawa pergi darinya.
“Briana, aku ….
“Erzan, untuk apa kau mengikuti kami sampai kemari?” tanya Lu menyela perkataan Erzan. Dia lalu meminta Briana untuk membantunya duduk di dekat pintu. Setelah itu Lu menatap datar ke arah Erzan yang berdiri di samping Julia dan Wildan. “Aku tidak tahu apakah benar kau adalah adikku atau bukan. Tapi yang jelas aku sangat tidak suka melihatmu terus berada di sekitar kami. Jadi tolong jangan usik kenyamananku bersama Briana di sini. Kita orang asing, setidaknya itu yang ada di dalam pikiranku sekarang!”
“Tapi Kak, kita ini benar-benar adalah saudara. Aku sama sekali tidak sedang membohongimu,” sahut Erzan resah mendapat penolakan dari kakaknya.
“Aku tidak tahu apa kau sedang membohongiku atau tidak. Untuk sekarang aku hanya tahu kalau Julia dan Briana adalah orang terdekatku. Mereka sudah kuanggap seperti keluargaku sendiri. Jadi tolong kau jangan memaksaku untuk mengingat hubungan yang mungkin memang terjalin di antara kita. Karena apapun yang terjadi aku tidak akan pernah meninggalkan Briana. Tidak akan!”
Briana terdiam bisu mendengar perkataan Lu yang berucap tidak akan pernah meninggalkannya. Jauh di dalam lubuk hati terdalamnya, Briana tentu merasa sangat bahagia sekali. Tapi ketika dia tak sengaja melihat ke arah Erzan, hati Briana bergetar. Dia tiba-tiba saja merasa iba melihatnya yang terdiam dengan ekpresi wajah memelas.
Bagaimana ini ya? Aku memang tidak rela jika Lu sampai pergi meninggalkan aku di sini, tapi aku juga tidak mungkin egois dengan tidak mengizinkan Lu kembali ke keluarganya lagi. Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan sekarang? Tolong beri petunjuk agar aku tidak terjebak dalam dilema ini.
“Ekhmmmm, Nona Briana. Bisakah kita bicara sebentar?” tanya Wildan mencoba memecah suasana tak nyaman yang tercipta antara kakak beradik ini.
__ADS_1
“Bri, aku lelah. Bisakah kau mengantarkan aku istirahat di dalam?” ucap Lu sambil menggengam erat tangan Briana. Dia sangat takut Wildan akan meminta Briana agar membujuknya. Lu benar-benar tidak mau pergi dari sini, dia ingin tetap bersama Briana di rumah yang menyimpan banyak kenangan ini.
Teringat kalau Lu sedang tidak sehat, Briana pun bergegas membawanya masuk ke dalam rumah. Namun sebelum itu Briana memberitahu Wildan untuk tetap menunggunya. Dia berjanji akan bicara dengannya setelah membantu Lu untuk istirahat.
“Bri, tolong jangan menemui mereka lagi ya. Aku benar-benar tidak mengenal siapa Erzan dan Wildan. Aku tidak tahu mereka siapa,” ucap Lu sambil menatap lekat ke arah Briana yang sedang menyelimuti tubuhnya. Dia lalu menarik tangannya kuat, tak mengizinkan Briana pergi dari sisinya. “Tolong, ya?”
“Lu, saat kau datang kemari kau sedang dalam keadaan lupa ingatan. Entah itu benar atau tidak kalau Erzan adalah anggota keluargamu, sikapmu tetap tidak bisa kubenarkan jika menolak kembali pada keluargamu. Kasihan mereka. Dua bulan kau pergi tanpa mengabari keluargamu, mereka pasti cemas sekali. Jadi tolong biarkan aku berbicara sebentar dengan mereka ya? Aku janji tidak akan lama,” sahut Briana pelan. Berat memang, tapi harus tetap Briana lakukan karena dia tidak mau di anggap egois karena menahan Lu agar tidak kembali ke keluarganya.
“Apa kau tidak takut berpisah denganku? Aku … aku bahkan lebih memilih mati jika harus pergi meninggalkanmu sendirian di sini, Bri. Aku tidak mau kita berpisah,” tanya Lu dengan mata memerah menahan sedih. Dia lalu menundukkan kepala, hatinya perih.
Briana memaksakan diri untuk tersenyum saat Lu bertanya seperti itu kepadanya. Setelah itu dia menangkup wajah Lu kemudian mengarahkan agar menatapnya. Di belainya pelan alis mata Lu yang cukup tebal. Briana kemudian berbisik. “Sekalipun kau dibawa kembali ke keluargamu, rumah ini akan selalu terbuka untukmu, Lu. Kau bebas untuk datang kapanpun kau mau. Mengerti?”
“Tapi Bri, aku ….
“Tidak ada tapi-tapian!” tegas Briana. “Sekarang kau lebih baik tidur saja supaya besok tenagamu sudah pulih kembali. Aku akan menyusulmu tidur setelah berbicara dengan mereka sebentar. Oke?”
Julia yang sedang sibuk memperhatikan Wildan langsung bergegas menghampiri Briana begitu melihatnya keluar. Hal serupa juga dilakukan oleh Erzan dan Wildan. Mereka ingin segera mendengar hal apa yang akan di sampaikan oleh gadis halilintar ini.
“Erzan, bisakah aku melihat bukti bahwa memang benar kalau Lu adalah kakakmu? Di dunia ini ada banyak sekali orang yang suka memanfaatkan keadaan, jadi aku tidak mau kalau Lu sampai jatuh ke tangan orang yang salah. Kau mengerti bukan apa maksud perkataanku?” tanya Briana seraya menampilkan mimik wajah yang sangat serius.
“Tentu saja aku sangat bisa memperlihatkan bukti kalau kami adalah benar saudara. Tunggu sebentar,” jawab Erzan dengan cepat. Dia kemudian mengambil ponsel di saku celananya lalu membuka bagian galeri. Setelah itu Erzan menunjukkan sebuah foto pada Briana. “Ini adalah fotoku bersama Kak Gavriel dan kedua orangtua kami. Foto ini di ambil tepat satu bulan sebelum Kak Gavriel menghilang saat sedang dirawat di rumah sakit. Lihatlah!”
Deg deg deg
Jantung Briana bertalu-talu saat dia melihat foto yang ada di ponselnya Erzan. Tanpa sadar matanya berkaca-kaca, tidak menyangka bahwa benar kalau Lu yang dia kenal ternyata bernama Gavriel. Erzan tidak berbohong. “Wahhhh, di dalam foto ini Lu tampan sekali ya. Sama sekali tidak terlihat kalau dia adalah seorang pria idiot yang tidak bisa mengingat namanya sendiri. Lihat Julia, Lu kita sangat tampan di sini. Kau pasti pangling melihatnya.”
__ADS_1
“Briana,"....
Julia langsung memeluk Briana erat saat melihatnya menangis sambil menatap fotonya Lu. Sedih sekali rasanya. Dan ini adalah kali kedua Julia melihat sahabatnya menangis. Hatinya jadi ikut merasa sakit.
“Jangan sedih ya, Bri. Mungkin memang sudah waktunya untuk Lu kembali ke keluarganya. Jangan takut, kan masih ada aku. Iya ‘kan?”
“Cihhh, siapa juga yang takut. Aku justru malah senang karena akhirnya bebanku hilang. Hidupku akan kembali normal seperti dulu lagi setelah Lu dibawa kembali ke keluarganya. Aku bebas,” sahut Briana sambil menyeka air mata yang mengalir deras membasahi wajahnya. Dia kemudian tertawa, mencoba menunjukkan kalau dia baik-baik saja sekarang.
Erzan dan Wildan hanya bisa menghela nafas pelan sambil terus memperhatikan Briana yang tertawa sambil menangis. Setelah mereka menyaksikan kemesraan Briana dan Gavriel saat di rumah sakit, mereka sudah bisa melihat kalau di antara keduanya telah tumbuh benih-benih cinta. Akan tetapi Erzan juga tidak mungkin membiarkan kakaknya tetap berada di tempat ini karena di rumah mereka ada keluarga yang sudah menunggu. Jadi sesedih apapun Briana sekarang Erzan akan tetap membawa kakaknya pulang ke rumah. Juga karena kakaknya perlu dirawat langsung oleh dokter pribadi yang selama ini menangani penyakitnya.
“Bri, maaf. Aku tahu kau sedih, tapi di rumah ada Ayah dan Ibuku yang sedang menantikan kepulangan Kak Gavriel. Kau bisa mengerti bukan?” tanya Erzan hati-hati.
“Ya aku tahu. Silahkan saja kalau kau ingin membawa Lu pergi bersamamu, aku tidak berhak melarang,” jawab Briana sambil terisak sesenggukan.
“Apa kau akan baik-baik saja?”
“Em.”
Erzan maju mendekat. Dia lalu memegang kedua bahu Briana dengan lembut. “Kau telah menjadi teman dekat kakakku selama dua bulan terakhir ini. Jangan khawatir, aku dan keluargaku tidak akan memisahkan kalian. Kau dan Kak Gavriel hanya akan terpisah sebentar karena dia butuh perawatan untuk penyakitnya. Tolong jangan terlalu sedih ya saat aku membawa Kak Gavriel pergi dari sini? Jangan buat aku merasa seperti seorang pencuri yang mengambil makanan milik nenek tua. Oke?”
“Brengsek!” umpat Briana sambil menyedot ingusnya.
“Hehehe,”
Karena hari sudah sedikit malam dan Lu butuh istirahat, akhirnya di putuskan kalau Erzan baru akan membawa pulang kakaknya besok pagi. Dia dan Wildan kemudian pamit mencari tempat penginapan yang tak jauh dari sana. Sedangkan Julia, Erzan secara khusus telah memesankan taxi untuknya. Dia juga tidak mungkin membiarkan Julia berkeliaran sendirian di malam-malam begini. Bahaya.
__ADS_1
***