Wanita Kesayangan Sang Presdir

Wanita Kesayangan Sang Presdir
Tak Kasat Mata


__ADS_3

Gara-gara perkataan Erzan semalam, pagi ini Julia bangun dengan lingkaran hitam di bawah matanya. Dia tidak bisa tidur, terus memikirkan kemungkinan apakah benar Wildan telah menikah atau belum. Jika sudah, Julia berniat menjadi orang ketiga, atau anggaplah dia sebagai calon pelakor. Akan tetapi jika belum, maka Julia akan menggencarkan niatnya mengejar pria tampan itu. Dia benar-benar sudah tidak kuat menahannya lagi. Julia ingin segera memiliki pasangan bucin seperti Briana dan Lu. Hehehe.


"Hoaamss,,"


Sambil menguap, Julia berjalan menuruni anak tangga. Dia lalu tersenyum saat seorang pelayan menyapa.


"Selamat pagi, Nona Julia,"


"Selamat pagi kembali, Bibi," sahut Julia sopan. "Umm ngomong-ngomong Briana sudah bangun atau belum ya?"


"Sudah, Nona. Sekarang Nona Briana sedang ada di dapur bersama Nyonya Helena. Mereka sedang memasak bersama,"


"A-apa?"


Biji mata Julia bagai terbang keluar begitu pelayan memberitahu kalau Briana sudah bangun dan tengah memasak bersama ibunya Gavriel. Kurang ajar. Bisa-bisanya ya wanita itu bangun lebih dulu darinya. Tidak bisa di biarkan. Julia harus segera menyusul mereka.


Tak mempedulikan raut keheranan di wajah pelayan, dengan langkah lebar Julia berjalan menuju dapur. Dia lalu memicingkan mata saat mendapati Briana yang sedang terkikik lucu bersama ibunya Gavriel.


Mencurigakan sekali mereka. Jangan-jangan mereka sedang menggosip tentang aku. Harus segera di hentikan. Huh.


"Ekhmm-ekhmm!"


Briana menoleh. Begitu juga dengan ibunya Gavriel. Mereka lalu melengos acuh begitu tahu siapa yang baru saja terdehem.


"Wahh wahh wahh, asik sekali ya yang pagi-pagi sudah bergosip," sindir Julia agak kesal saat kedatangannya tak di anggap oleh kedua wanita ini. Segera dia berjalan mendekat sambil bersedekap tangan. "Apa yang sedang kalian gosipkan, hem?"


"Kata orang, manusia yang suka ikut campur urusan orang lain mereka akan mati lebih cepat. Dan kau baru saja melakukannya, Julia," sahut Briana sembari menyeringai lebar. Puas sekali dia pagi-pagi sudah bisa mengerjai makhluk astral satu ini.


"Ck, ancam teroooss!"


Briana terkekeh. Sedangkan Helena, dia tampak terkikik lucu melihat raut kesal di wajah Julia. Sambil terus membersihkan sayuran, Helena diam mendengarkan percakapan aneh antara kedua wanita ini.


"Oya, Bri. Nyonya Jenny sudah menghubungimu atau belum?" tanya Julia yang baru teringat dengan istri mafia itu. Dia penasaran apakah Nyonya Jenny benar-benar menemui si wanita berdada mercon atau tidak.


"Belum sih. Sampai sekarang dia masih belum menghubungiku," jawab Briana. "Coba kau telpon dia saja, Julia. Aku khawatir Nyonya Jenny babak belur di hajar oleh wanita itu!"


"Mustahil dia yang babak belur, Bri. Yang ada wanita itulah yang habis di tangan suaminya Nyonya Jenny. Kau lupa ya kalau suaminya itu gengster? Anak buahnya saja sangat banyak. Tidak mungkin mereka diam membiarkan Nyonya Jenny terluka!"

__ADS_1


"Benar juga. Ya sudah sana kau telpon Nyonya Jenny dan tanyakan apa yang dilakukannya semalam!"


"Ogeehh,"


Karena ponselnya tertinggal di kamar, Julia akhirnya beranjak pergi dari dapur. Dia bersenandung kecil, hingga tak menyadari seseorang tengah memperhatikannya sambil tersenyum evil.


Oh, jadi wanita ini masih belum terpengaruh juga ya? Aneh sekali. Padahal aku dengan gamblang sudah memberitahunya kalau Wildan sudah menikah. Tebal sekali muka wanita ini. Hemmm.


Merasa heran akan sikap santai Julia, Erzan memutuskan untuk mengganggunya lagi. Tepat ketika Julia hendak menaiki anak tangga, dia berdehem kuat untuk menarik perhatiannya.


"Kenapa kau? Tersedak batu nisan?" tanya Julia sambil menatap aneh ke arah Erzan. Langkahnya sampai terhenti saking kagetnya mendengar suara deheman pria tersebut.


"Aku perhatikan kau bahagia sekali, Julia. Kenapa?" sahut Erzan balik bertanya. Dia lalu berjalan mendekat.


"Bukan urusanmu."


"Memang bukan urusanku, tapi mataku sakit melihat gayamu yang sok kuat seperti ini. Kalau sakit hati ya bilang saja sakit hati, tidak perlu berpura-pura bahagia seperti tadi. Tahu?"


Kedua alis Julia saling bertaut. Dia tidak paham akan ucapan Erzan barusan. Memangnya sebab apa dia harus merasa sakit hati. Aneh sekali.


"Apa kau bilang? Nyawaku belum terkumpul dan aku bicara melantur? Yaakkk!"


Kesal, Erzan dengan kuat meneriaki Julia. Sungguh, dia benar-benar tidak mengerti kenapa Julia bisa berpikir seperti itu di saat penampilan Erzan sendiri sudah sangat rapi.


"Memang benarkan kalau nyawamu belum terkumpul semua? Buktinya sekarang kau berteriak seperti orang gila. Dasar aneh!"


Setelah mengomeli Erzan, Julia kembali melanjutkan langkah menuju kamar. Dia malas jika harus berurusan dengan pria tak berguna itu. Sungguh.


"Berani sekali dia mengabaikan aku seperti ini. Awas saja kau, Julia. Nanti saat kau tahu kalau Wildan sudah menikah, saat itulah aku akan menjadi orang yang paling kencang suara tertawanya. Kau pasti akan menangis tersedu-sedu karena hal ini nanti. Tunggu saja. Heh!"


Sambil terus menggerutu, Erzan berjalan menuju dapur. Dia kemudian duduk di samping ibunya yang sedang sibuk membersihkan sayuran bersama Briana dan para pelayan.


"Kau kenapa, Er? Wajahmu terlihat jelek sekali. Baru bertemu hantu ya?" tanya Briana asal. Dia acuh saja meski pria ini langsung memberikan reaksi galak setelah mendengar pertanyaannya.


"Apa-apaan sih, Bu. Kenapa memukul mataku dengan sayuran itu!" protes Erzan saat matanya tiba-tiba di pukul oleh ibunya. Heran.


"Kau itu yang kenapa. Briana itu calon kakak iparmu, berani sekali kau memelototinya. Itu tidak sopan namanya kalau kau mau tahu!" sahut Helena menegur Erzan dengan sinis. Benar-benar ya anak satu ini. Kalau Briana merajuk kemudian meminta untuk pulang bagaimana? Rugi besarlah sandiwara yang semalam dia lakukan.

__ADS_1


"Kakak ipar apanya. Briana dan Kak Gavriel kan baru saja berpacaran. Itu tandanya dia masih belum menjadi calon kakak iparku. Bagaimana sih!"


Helena meradang. Di ambilnya sebuah mentimun lalu ingin dia jejalkan ke dalam mulut Erzan. Helena takut sekali Briana akan tersinggung gara-gara mendengar omongannya barusan. Bisa gawat jika wanita ini gagal menjadi bagian dari keluarga Anderson.


"Bibi, harusnya yang Bibi jejalkan ke dalam mulutnya Erzan itu bukan timun, tapi ini!" ucap Briana sambil mengacungkan pisau ke hadapan Erzan dan ibunya. Dia lalu tersenyum. "Sekali benda ini masuk, aku jamin akan langsung tembus ke kerongkongan Erzan. Mau mencobanya tidak?"


Kicep. Erzan dan ibunya terdiam seribu bahasa begitu mendengar omongan Briana. Sangat luar biasa sekali. Tidakkah menurut kalian Briana itu sangat kejam? Astaga.


"Kenapa diam saja? Apa perlu aku yang menjejalkannya ke mulut Erzan?" tanya Briana sambil menatap kedua orang di hadapannya secara bergantian.


"Emmm Bu, aku lupa mematikan sumbu kompor di kamarku. Aku kembali ke kamar dulu ya,"


"Tap ....


Belum juga Helena selesai bicara, Erzan sudah lebih dulu lenyap dari pandangan. Setelah itu Helena menatap Briana, dan sedetik kemudian mereka tertawa terbahak-bahak.


"Erzan kenapa ya, Bri. Padahal kan kau tidak sungguh-sungguh dengan ucapanmu. Kenapa dia sampai panik begitu," ucap Helena merasa lucu akan ketakutan di diri putranya.


"Itulah akibatnya jika suka bicara sembarangan. Baru juga di gertak sedikit, sudah langsung kocar kacir dia. Erzan-Erzan, kalau kau menjadi kekasihnya Julia, aku jamin jantungmu tidak akan aman setiap harinya. Haihhh," sahut Briana sambil menggelengkan kepala.


Tawa Helena terhenti. Dia lalu mendekatkan diri ke sebelah Briana ketika ingin mengatakan sesuatu.


"Briana, kau setuju tidak kalau Erzan kita jodohkan dengan Briana?"


"Wanita itu menyukai Wildan, Bibi. Erzan pasti hanya akan di anggap sebagai makhluk tak kasat mata olehnya,"


"Tapikan Wildan sudah menikah, Bri. Dan sebentar lagi istrinya akan melahirkan anak pertama mereka."


Mata Briana langsung melotot begitu mengetahui kalau Wildan ternyata sudah menikah. Dia syok. Tapi hanya sebentar. Sedetik setelah itu Briana tersenyum. Lega karena kegatalan Julia tidak akan berlangsung lama.


"Bibi Helena, aku setuju dengan idemu. Mari kita pikirkan cara untuk menjodohkan Julia dan Erzan. Oke?"


"Oke," sahut Helena sambil mengacungkan jempol. Dia lega karena Briana berada di pihaknya sekarang.


Hehehe, Julia. Rasakan. Tidak lama lagi aku akan melihatmu patah hati berat setelah tahu kalau Wildan sudah menikah dan istrinya akan segera melahirkan. Aku yakin kau pasti akan menangis bombai nanti. Hahhahaa.


***

__ADS_1


__ADS_2