Wanita Kesayangan Sang Presdir

Wanita Kesayangan Sang Presdir
Hukuman Dari Briana


__ADS_3

📢📢📢 MINTA DUKUNGANNYA YA BESTIE UNTUK NOVEL INI YANG SEDANG MENGIKUTI LOMBA #100%KEKASIH IDEAL 💜


***


Rasanya Briana sungguh begitu ingin kabur ke tempat yang sangat jauh di mana tidak ada seorangpun yang mengenalnya. Gara-gara insiden Lu yang pamer abs di perutnya, hidup Briana menjadi semakin tidak tenang. Karena kemanapun kakinya melangkah, selalu saja ada wanita yang menyatakan perasaannya kepada Lu. Termasuk juga dengan tim suami yang selalu siap melakukan protes setiap saat.


“Briana, tolong sampaikan pada sepupumu kalau besok pagi keponakanku akan datang dari jauh. Orangnya cantik dan sangat pandai memasak. Aku yakin Lu akan akan sangat beruntung sekali jika bisa menikah dengan keponakanku itu. Tolong minta dia untuk berdandan serapi mungkin ya? Oh, tidak-tidak. Bahkan tidak mandipun Lu tetap menjadi yang paling tampan di sini. Katakan saja agar dia tetap hidup supaya bisa bertemu dengan keponakanku. Oke?”


“Bri, ini terimalah. Tadi pagi aku membuat kari khusus untuk Lu. Tolong berikan padanya. Bilang pada Lu kalau Bibi yang paling cantiklah yang telah memasakkan kari untuknya. Oke?”


“Bri, tolong kau jangan serakah ya. Biarkan Lu beraktivitas di luar rumah seperti biasanya. Walaupun kami sudah tua, kami juga butuh asupan segar agar kami tidak cepat mati. Tolong beritahu Lu agar berolahraga lagi seperti waktu itu ya?”


“ARRGGHHHHH, AKU SUDAH TIDAK TAHAN LAGI!”


Briana berteriak dengan kuat saat omongan para tetangga terus terngiang-ngiang di kepalanya. Sesuai permintaan dari tim suami yang merasa terlantar gara-gara istri mereka yang terpesona pada ketampanan Lu, Briana tak pernah mengizinkan Lu keluyuran tanpa ada dia bersamanya. Bahkan saking tak inginnya Briana mencari masalah dia sampai meminta Lu agar mengenakan topi dan masker penutup wajah saat keluar rumah. Tujuannya satu, demi kenyamanan bersama. Namun hal itu masih belum bisa mendatangkan ketenangan di hidup Briana. Para tetangga begitu gigih menginginkan Lu menjadi menantu hingga rela menjadi jasa pengantar makanan gratis. Sebenarnya ada untungnya juga sih, tapi kepala Briana serasa akan pecah mendengar timbal balik yang harus dia lakukan untuk mereka. Memusingkan sekali bukan?


Ceklek


“Bri, kau kenapa berteriak? Tidak kerasukan jin bukan?” tanya Lu sambil melongokkan kepalanya yang masih di penuhi busa sampo. Dia sedang mandi.


“Jin kepalamu,” jawab Briana dongkol. Dia lalu memicingkan mata melihat Lu yang sudah mandi di pagi-pagi buta begini. “Lu, jangan bilang kau mau tebar pesona di hadapan ibu-ibu itu lagi ya. Lihat saja. Berani kau melakukannya, aku bersumpah akan langsung merantai kedua kakimu supaya kau tidak bisa pergi kemana-mana. Paham?”

__ADS_1


“Aku bukan anjing. Kenapa kakiku harus dirantai?”


Setelah berkata seperti itu Lu menutup pintu kamar mandi. Briana yang melihatnya pun hanya bisa menghela nafas pan jang. Ternyata selain idiot dan lupa ingatan, Lu juga adalah jenis pria yang masuk dalam kategori bodoh. Kenapa bodoh? Karena Lu tidak bisa menyikapi maksud perkataan Briana dengan baik. Dan inti pokoknya adalah menjengkelkan. Itu saja.


Apa yang harus aku lakukan ya supaya para wanita genit itu berhenti mengganggu Lu? Rasanya aku seperti sedang mengasuh bayi besar karena kelakuan mereka. Haihhh.


Kesal sendiri, Briana berguling-guling di atas kasur sambil sesekali mengumpat pelan. Sekarang masih pukul setengah enam pagi. Jika biasanya di jam seperti ini Briana masih terlelap, hari ini adalah pengecualian. Saking stresnya Briana memikirkan Lu dia sampai tidak bisa tidur dengan nyenyak. Kedatangan Lu benar-benar sangat mengganggu kehidupan Briana yang tadinya sangatlah tenang dan nyaman. Setiap pagi sibuk membereskan rumah kemudian pergi bekerja sampai malam. Keadaan ini sangatlah membuat Briana kelelahan karena pekerjaan di rumah jadi bertambah karena Lu tidak ada inisiatif untuk membantunya. Mengeluhpun rasanya akan percuma saja karena Briana tidak mempunyai tempat untuk melakukannya. Alhasil dia hanya bisa pasrah saja menerima keadaan ini meski dia sangat ingin kehidupannya bisa kembali normal seperti dulu.


“Aku sudah selesai mandi,” ucap Lu sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.


Briana menoleh. Dia lalu menyeringai jengkel mendengar perkataan Lu barusan. “Lalu kenapa kalau kau sudah mandi? Ingin aku memakaikan baju untukmu. Iya?”


“Aku bukan bayi. Aku bisa memakai baju sendiri,” jawab Lu agak ngeri mendengar ucapan Briana.


Briana duduk. Dia menatap lama ke arah Lu kemudian menepuk kasur, meminta agar Lu duduk di sebelahnya. “Kemari kau. Kita perlu bicara.”


Dengan patuh Lu menuruti perintah Briana. Masih sambil mengeringkan rambutnya, Lu duduk kemudian menatap seksama ke arah Briana yang tengah berpikir dengan begitu serius.


“Lu, mulai hari ini kau yang akan mengambil alih semua pekerjaan di rumah. Anggaplah ini sebagai hukuman karena kau telah mengganggu kenyamanan hidupku. Gara-gara kedatanganmu, hari-hariku jadi terasa seperti di neraka. Semua yang kau lakukan membuatku merasa sangat menderita. Hidupku terbebani. Tahu kau!” ucap Briana tanpa ragu mengutarakan penderitaannya di hadapan Lu. Mau bagaimana lagi, dia bukan orang suci yang akan memperlakukan orang lain secara gratis. Jadi tidak masalah bukan kalau dia jujur seperti ini?


“Jika aku membersihkan rumah ini apa bebanmu akan berkurang?” tanya Lu sangat memahami kesulitan yang dihadapi Briana semenjak dia datang ke rumah ini.

__ADS_1


“Tentu saja. Aku jadi bisa menghemat sedikit tenagaku untuk bekerja di café. Kau kan tahu sendiri kalau kebutuhan kita itu banyak, belum lagi uang makan tambahan untuk kita berdua. Jadi aku minta kau mau bekerjasama denganku dalam hal ini agar bebanku tidak terlalu menumpuk. Oke?”


Lu hanya diam saja saat Briana melenggang masuk ke dalam kamar mandi setelah mengatur hukuman untuknya. Lu sebenarnya bukan tidak tahu diri dengan membiarkan Briana yang menanggung semua kebutuhan mereka. Dia ingin membantu, tapi terkadang kepalanya tidak bisa di ajak bekerjasama. Apalagi jika Lu sedang berusaha mengingat tentang identitasnya, dia sampai linglung sendiri karenanya. Sungguh.


Sepertinya hukuman yang Briana berikan padaku bisa sedikit meringankan beban di hidupnya. Hmmm, ya sudahlah lebih baik aku tidak banyak memprotes. Kasihan dia. Lagipula bukan hal yang sulit juga jika hanya membersihkan rumah ini. Ayo semangat Lu.


Tanpa membuang waktu lagi Lu pun bergegas membereskan kamar. Pertama-tama hal yang dia lakukan adalah merapihkan tempat tidur kemudian beralih mengelap debu. Lu melaksanakan hukuman ini dengan penuh suka cita tanpa ada perasaan terbebani.


“Oh, kau cukup cepat dalam merespon perkataanku ternyata. Baguslah,” ucap Briana ketika mendapati Lu yang sudah mulai membersihkan rumah mereka. Dia dengan santainya bersiap diri, membiarkan Lu sibuk dengan pekerjaannya.


Sambil bermake-up sederhana, Briana memperhatikan Lu yang dengan cekatan mengelap debu-debu yang ada di dinding kamar. Rajin, itu kesan yang dilihatnya. Setelah siap, Briana segera menghampiri Lu yang tengah memunguti pakaian kotor di lantai. “Lu, mulai sekarang kau tidak perlu lagi datang ke café. Masalah makanan kau tidak perlu khawatir karena nanti ada kurir pengantar makanan yang akan datang kemari. Pesanku, tolong kau jangan sembarangan keluar dari rumah. Tetap tinggal di dalam sampai aku pulang malam nanti. Aku tidak mau mendengar aduan dari para tetangga seperti waktu itu. Paham?”


“Kenapa aku tidak boleh datang ke café?” tanya Lu keberatan di tinggal pergi oleh Briana.


“Ck, bagaimana caranya kau pergi kalau pekerjaan di rumah masih belum beres. Pakaian belum di cuci dan lantaipun belum di pel. Kau itukan sedang di hukum, jadi patuhlah. Lagipula kau juga tidak ingat bukan jalan menuju cafe? Jadi menurutlah. Oke?”


“Tapi aku ….


“Tidak ada tapi-tapian. Aku berangkat. Bay!”


Sambil tersenyum lebar Briana berangkat ke café. Meski masih cukup pagi untuk Briana pergi bekerja, tapi itu sama sekali bukan masalah untuknya. Briana merasa lega sekali setelah memberikan hukuman pada Lu dengan memintanya membersihkan rumah mereka. Dengan begini beban yang Briana tanggung bisa berkurang. Benar tidak? Hahaha.

__ADS_1


***


__ADS_2