Wanita Kesayangan Sang Presdir

Wanita Kesayangan Sang Presdir
Mercon Raksasa


__ADS_3

"Briana, ponselmu bergetar!" seru Jenny sambil menunjuk ponsel yang berada di laci meja. Kebetulan dia sedang duduk di sana, jadi bisa tahu ada seseorang mengirim pesan untuk putrinya.


Tak langsung pergi, Briana malah sibuk menata piring yang sudah bersih. Julia yang melihat sahabatnya sedang sibuk pun berinisiatif untuk membantu memeriksa ponselnya. Namun tujuan Julia di hadang oleh Nyonya Jenny, yang mana membuatnya mengerungkan alis karena heran.


"What happen, Nyonya?" Gaya Julia bertanya menggunakan bahasa Inggris. Padahal dia hanya tahu beberapa kosakata saja. Biasalah, Julia ingin terlihat cool di hadapan wanita kaya raya ini. 😎


"Jangan suka membuka ponsel orang lain. Itu tidak sopan namanya!" jawab Julia langsung memberikan teguran. Anggaplah dia posesif.


"Ck, tidak sopan apa. Di antara aku dan Briana itu tidak ada hal yang bisa membatasi kalau Nyonya mau tahu. Entah itu kesopanan, usia, status, atau apapun itu lah. Kami sudah saling mengetahui rahasia masing-masing, jadi kalau hanya sekedar membuka ponsel itu bukanlah suatu hal yang perlu dipermasalahkan. Paham?" sahut Julia memberitahu wanita ini tentang keterbukaan dalam persahabatannya dengan Briana. Nyonya Jenny tidak tahu saja kalau ukuran pakaian dalam Briana pun Julia juga tahu. Haihhh.


"Tapi kalau yang mengirim pesan adalah Gavriel bagaimana? Kalian tidak mungkin berbagi kekasih, kan?"


Astaga, apa-apaan sih Nyonya Jenny ini. Walaupun aku mau, tapi Briana tidak akan mungkin bersedia berbagi kekasih denganku. Dia itukan serakah.


"Nyonya, aku sih sebenarnya mau-mau saja kalau Briana memintaku untuk menikmati Gavriel bersama-sama. Akan tetapi itu mustahil terjadi. Karena apa? Karena Briana ingin menguasai Gavriel seorang diri. Jadi tolong kau jangan berpikir yang macam-macam. Oke?"


"Itu karena Briana mencintai kekasihnya, bukan karena serakah!" Jenny membela Briana. Dia tak terima putrinya di anggap buruk.


Julia memicingkan mata. Dia heran mengapa kalimat Nyonya Jenny terdengar seperti seseorang yang sedang marah. Padahal tidak ada kata aneh yang Julia lontarkan, tapi kenapa reaksinya bisa seperti itu?


"Apa yang sedang kalian lakukan?"


Hampir saja Julia terjengkang ke belakang saat Briana tiba-tiba bertanya di samping telinganya. Entah kapan-kapan wanita ini muncul, membuat orang kaget saja. Huh.


"Kenapa diam? Apa yang sedang kalian debatkan?" ucap Briana kembali mengulang pertanyaan. Di tatapnya bergantian kedua wanita yang terlihat kikuk di hadapannya. Curiga, Briana segera melayangkan tatapan menusuk pada Julia. Sahabatnya ini pasti sedang membicarakan hal mesum kepada Nyonya Jenny. Ya, dia yakin sekali. "Jangan bilang kau sedang mengajari Nyonya Jenny hal yang berbau erotis ya, Julia. Ingat. Kalau suaminya marah kemudian menuntutmu, aku akan pura-pura tidak mengenalmu. Tahu kau!"

__ADS_1


"Ck, kau ini apa-apaan sih, Bri. Jangan menuduh orang sembarangan lah!" kilah Julia berdecak kesal. Heran, selalu saja dia di tuduh melakukan hal buruk. Padahal kan belum. Hehe.


"Aku tidak menuduh sembarangan ya. Itu fakta, dan aku sudah berulang kali menyaksikannya. Masih ingin mengelak, hem?"


Ternyata Briana benar-benar menuruni gen Hendar. Biarpun dia wanita, sikapnya selalu bisa mengintimidasi orang lain. Hmmm, putriku.


Tak mau melihat Briana dan Julia terus berdebat, Jenny memutuskan untuk melerai. Dia meraih tangan Briana kemudian menggelengkan kepalanya.


"Sudah, jangan bertengkar lagi. Aku dan Julia bukan sedang membicarakan hal-hal yang buruk kok. Kami hanya berdebat mengenai ponselmu yang bergetar. Ada pesan masuk!" ucap Jenny memberitahu.


"Oh, aku kira apa," sahut Briana sambil melirik sinis pada Julia. Dia lalu meminta tolong pada Nyonya Jenny agar mengambilkan ponselnya. Tak lupa juga dia memberitahu kalau Julia sudah biasa membuka ponselnya sesuka hati. Dia juga memberitahu Nyonya Jenny kalau sahabatnya itu sangat suka mencampuri hidup orang, makanya sampai sekarang tidak punya kekasih.


Tak terima di hina seperti itu, Julia pun berniat melakukan protes. Tapi baru juga dia akan membuka mulutnya, Briana sudah lebih dulu membuatnya terperanjat kaget. Entah apa yang dilihat wanita ini di ponselnya. Yang jelas Julia dan Nyonya Jenny langsung saling berpegangan tangan karena merasa takut.


"B-Briana, kau kenapa?" tanya Julia terbata. "Kau tidak sedang kerasukan, kan?"


Julia dan Nyonya Jenny kompak mendekatkan wajah ke depan layar ponsel. Jika reaksi Nyonya Jenny terlihat sangat syok, berbeda dengan reaksi yang muncul di wajah Julia. Alih-alih merasa jijik ataupun marah, otak mesum Julia malah melanglang buana. Dia berpikir keras apakah sepasang mercon raksasa yang menempel di dada wanita itu asli atau bukan.


Pantas kalau Lu sampai enak-enak dengan wanita itu, la wong dadanya saja sebesar itu. Aku yakin jika ada semut yang naik ke sana, di jamin semut itu tidak akan bisa keluar lagi. Dia pasti tersesat, atau malah meninggal karena kehabisan nafas. Hmmm, kira-kira apa ya rahasia wanita itu sehingga bisa mempunyai aset yang begitu besar? Jadi penasaran.


"Bri, ini tidak bisa di biarkan. Orang yang mengirim gambar menuliskan kalau itu bukanlah foto asli. Itu fitnah, dan harus segera diluruskan!" ucap Jenny tak terima kekasih putrinya jadi bahan pelecehan. Dia bertekad akan meminta anak buahnya Hendar untuk menangkap wanita itu kemudian memasukkannya ke dalam karung lalu membuangnya ke tempat penangkaran ikan hiu. Kesal sekali rasanya. Huh.


"Aku juga tahu kalau ini fitnah, Nyonya. Kekasihku adalah pria yang sangat alim. Walaupun kami sering tidur bersama, tidak sekalipun dia mau menyentuhku lebih dari sekedar memeluk dan mencium. Dia selalu bilang padaku kalau pria sejati tidak akan merusak mahkota wanitanya sampai tiba waktu untuk mereka melakukan!" sahut Briana dengan bangga memberitahu Nyonya Jenny tentang sikap gentel Lu. Dan setelah berkata seperti itu pipinya tiba-tiba merona merah. Briana jadi ingat dengan ciuman Lu yang selalu saja membuatnya sesak nafas. Pria itu sangat handal dalam urusan l*mat-mel*mat. Sungguh.


"Haihhh, mulai lagi virus bucinnya!" gumam Julia sambil memutarkan bola matanya. Jengah.

__ADS_1


"Stttt, jangan mengganggu. Biarkan saja Briana mau melakukan apa. Lagipula yang sedang dia lamunkan bukan Ayahmu, jadi jangan sewot!" tegur Jenny dengan suara kecil.


"Ayahku masih waras, Nyonya. Dia tahu dirinya bisa menjadi gila jika sampai menjalin hubungan dengan wanita seperti Briana."


"Kenapa bisa begitu? Briana cantik dan juga baik hati. Apa yang kurang darinya?"


"Apa? Cantik dan baik hati?" Julia tertawa sumbang. Dia tak percaya Nyonya Jenny bisa beranggapan seperti itu tentang Briana. "Nyonya, kau itu baru kemarin kenal dengan Briana. Asal kau tahu saja. Satu-satunya manusia yang mampu bertahan di sisi Briana hanyalah aku seorang. Dan jika tidak berubah, Gavriel akan menjadi yang nomor dua. Hanya manusia berhati baja yang mampu bertahan dengannya. Karena apa? Ya karena Briana gila. Sudah, ini fakta. Kau jangan coba-coba untuk membantahnya. Oke?"


"Benarkah?"


Julia mengangguk. Dia lalu menceritakan kegilaan apa saja yang pernah dilakukan oleh sahabatnya itu. Sedangkan Briana, dia masih sibuk dengan kebucinannya. Untung cafe sudah sedikit sepi. Kalau tidak, di jamin para pengunjung akan terkena omelan Briana karena sudah menganggu dia yang sedang asik melamun.


"Sekarang sudah paham, kan?" ucap Julia.


"Sudah," sahut Jenny sambil menelan ludah. Kaget sekali dia setelah mendengar betapa brutal putrinya selama ini. Tapi wajar sih, Briana kan anaknya Hendar.


"Kalau kau masih tak percaya, aku bisa menunjukkan sebuah bukti kepadamu. Mau melihatnya tidak?"


"Mana mana?" ucap Jenny tak sabar.


Sebuah seringai jahat tiba-tiba muncul di bibir Julia. Dia lalu beralih menatap Briana. "Bri, apa kau akan diam saja melihat wanita itu mengedit foto Lu hingga sedemikian rupa? Kalau aku jadi kau, aku pasti akan merontokkan semua giginya kemudian meledakkan mercon raksasa yang menempel di dadanya. Dia lancang ingin merebut Lu darimu!"


Dan ya, seperti yang kalian bayangkan kalau Briana langsung tersadar begitu mendengar perkataan Briana. Dia dengan marah segera menghubungi Wildan dan memaksanya untuk memberitahu di mana wanita itu tinggal. Julia yang melihat hal tersebut pun merasa senang sekali. Dia kemudian menatap Nyonya Jenny.


"Sudah lihat buktinya, kan? Apa Nyonya masih akan menyebut Briana sebagai wanita yang baik hati, hem?"

__ADS_1


Aku jadi bingung. Sebenarnya di sini yang brutal itu siapa? Julia atau Briana? Ya ampun, apa jangan-jangan mereka ini adalah saudara kembar? Tapi kan dulu aku hanya melahirkan satu anak perempuan. Aduhhh, kenapa jadi memusingkan begini sih!


***


__ADS_2