
Jika di cafe Gavriel baru saja menyelesaikan kesalah-pahaman yang terjadi antara dia dengan Briana, di kediaman keluarga Anderson terlihat Dary yang tak henti menghela nafas menghadapi cecaran istrinya yang sedang cemburu buta. Entah apa yang dipikirkan oleh wanita ini. Bisa-bisanya Dary dituduh main gila dengan daun muda di luaran sana hanya karena dia pergi ke perusahaan. Hm.
"Mengaku sajalah. Kau pasti main mata kan dengan para karyawan yang ada di Under Group?" tuduh Helena dengan sengitnya. Dia bersedekap tangan sembari menatap tajam suaminya.
"Helena, harus berapa kali aku katakan kalau aku ini sudah tua. Mustahil untukku kuat bermain gila dengan mereka. Astaga!" sahut Dary mulai frustasi.
"Tidak mungkin!"
Entah sudah ke berapa kali Helena menepis perkataan Dary. Dia menolak untuk percaya. Feelingnya sebagai wanita terlalu kuat, yang mana membuatnya terus di dera rasa curiga.
"Di televisi banyak orang yang menyebut kalau semakin tua usia seorang laki-laki, maka hasratnya untuk bercinta akan semakin besar. Jadi mengaku sajalah!"
"Kalaupun benar aku mabuk bercinta, sekarang aku pasti sudah menidurimu di sofa ini. Mau coba?"
Blusshhh
Pipi Helena langsung memerah saat Dary malah berbalik menggodanya. Dia lalu melemparkan bantal pada pria yang kini sedang terkekeh-kekeh menertawakannya.
"Malu kan sekarang?" ejek Dary.
Fyuhh, akhirnya diam juga burung murai satu ini. Lega-lega.
"Aku wanita normal. Jelas aku malu mendengar omonganmu yang frontal itu," sahut Helena.
Dary menarik nafas.
"Sayang, dengarkan aku baik-baik. Pria sejati adalah dia yang tidak akan pernah menduakan wanitanya sekalipun kesempatan bagus banyak berdatangan. Dan aku dengan bangga mengaku sebagai salah satu dari pria sejati tersebut. Karena apa? Karena selamanya aku hanya akan mencintaimu seorang. Kau yang menemaniku dalam susah dan duka memajukan perusahaan, jadi sampai matipun hanya kau yang mendapat pengakuan sebagai wanitaku. Jadi tolong jangan pernah menuduhku melakukan yang bukan-bukan lagi ya? Sungguh, aku hanya mencintaimu seorang!"
"Ekhmmm, akan aku pertimbangkan!" sahut Helena seraya menoleh ke arah lain. Bukan jengkel, tapi malu. Pengakuan Dary membuat dadanya jadi berdebar-debar.
"Kenapa harus di pertimbangkan segala sih. Tidak bisa mendapat sambutan sekarang apa!"
"Cerewet sekali. Yang pentingkan aku sudah memberikan respon. Harusnya kau berbesar hati menerima."
"Baiklah kalau memang seperti itu maumu. Aku bisa apa."
Begitu Dary berhasil menjinakkan Helena, seorang pelayan datang menghadap. Pelayan ini melaporkan kalau putra sulung mereka sudah pulang dengan mengajak Briana juga.
__ADS_1
"Wahh, calon mantu datang. Cepat rapihkan penampilanmu!" perintah Helena langsung semringah begitu tahu kalau Briana datang berkunjung.
"Sesenang ini?"
"Tentu saja. Menantu kita adalah anak mafia. Ini jauh lebih menantang dari sekedar kedatangan menantu anak bangsawan."
Dary tampak menggelengkan kepala mendengar perkataan Helena. Setelah itu dia tersenyum lebar ketika Gavriel dan Briana masuk ke rumah.
"Halo Paman, Halo Bibi. Apa kabar?" sapa Briana dengan sopan.
"Kabar baik, Briana. Kau sendiri apa kabar?" sahut Dary ramah.
"Seperti yang Paman lihat. Kabarku sangat luar biasa baik."
"Tentu saja sangat baik. Kan baru saja menemukan orangtua kandungmu. Iya, kan?" ledek Helena sembari menyunggingkan senyum tengilnya.
Briana mengangguk. Dia kemudian duduk bersebelahan dengan Gavriel.
"Ekhemm, sepertinya ada tangan yang terkena lem di sini. Lengket sekali," sindir Helena sambil melirik sepasang tangan yang sedang saling menggenggam.
"Bibi Helena, ternyata kau suka sekali ikut campur urusan orang lain ya. Memangnya kenapa kalau aku dan Gavriel bergandengan tangan? Itu membuatmu sakit mata atau bagaimana?" sahut Briana dengan santainya.
Dasar anak mafia. Omongannya cetus sekali. Untung aku sudah siap mental, jadi tak kaget lagi mendengar cara bicaranya yang frontal itu. Briana-Briana, aku jadi tidak sabar ingin segera berbagi keseruan denganmu setelah menjadi bagian dari keluarga Anderson nanti. Hehehe.
"Oya Briana, di mana Julia? Tumben sekali dia tidak mengekorimu?" tanya Dary saat baru menyadari kalau Julia tidak ikut datang ke rumahnya. Berasa ada yang kurang.
"Julia sedang pergi menemani Ibuku berbelanja, Paman. Jadi dia tidak bisa ikut kemari," jawab Briana.
"Lalu kenapa kau malah datang ke sini? Kenapa tidak ikut berbelanja sekalian dengan mereka?"
"Karena aku ingin menghabiskan waktu bersama Gavriel."
Setelah berkata demikian Briana langsung menoleh. Dia lalu tersenyum, merasa bahagia saat Gavriel menciumi jari-jari tangannya di hadapan Paman Dary dan juga Bibi Helena.
"Terima kasih sudah mau menghabiskan waktu bersamaku, sayang. Aku senang sekali," ucap Gavriel penuh bangga.
"Bersamamu jauh lebih berfaedah ketimbang pergi berbelanja bersama Ibu dan Julia."
__ADS_1
"Kenapa memangnya?"
"Ya tidak kenapa-napa juga sih. Akukan belum terbiasa dengan kehidupan orang kaya. Darah irit dan juga perhitungan masih melekat kuat di hatiku!"
Gavriel tertawa. Hampir saja dia lupa kalau kekasihnya adalah tipe wanita yang sangat amat hati-hati dengan yang namanya pengeluaran. Dia jadi ingat dengan perdebatan mereka saat ingin memainkan game capit boneka. Sangat manis.
"Briana, rencananya nanti kau akan langsung pindah ke rumah orangtuamu atau tidak?" tanya Helena penuh rasa penasaran.
"Aku belum memikirkan masalah ini, Bibi. Jika aku merasa nyaman, aku mungkin akan pindah. Tapi jika tidak aku akan memilih untuk tetap tinggal di rumah sewaku yang sekarang. Sayang sekali jika harus di tinggal begitu saja. Jatah sewanya masih cukup lama," jawab Briana seraya mend*sah panjang. Membayangkan dirinya yang akan pindah membuat perasaan mendadak jadi tidak nyaman. Briana sudah terlanjur dekat dengan para tetangga, dia jadi merasa berat jika harus meninggalkan mereka.
"Tinggal di sini saja, Bri. Nanti kita bisa lomba memasak setiap hari!"
"Maaf, Bibi. Aku wanita sibuk, tidak sepertimu yang bebas melakukan apapun di rumah tanpa ada kontribusi dalam pekerjaan!"
Helena tergelak. Sedangkan Gavriel dan ayahnya, mereka tampak menahan tawa. Ucapan Briana masih saja menusuk hati meskipun sedang bicara dengan ibu dari kekasihnya.
"Sayang, jangan cetus-cetuslah. Kasihan Ibu," bisik Gavriel mencoba menegur dengan pelan. Tidak mudah untuk menjinakkan seorang Brianandita Origan, semua-muanya harus dilakukan secara lembut dan penuh perasaan. Baru wanita ini akan bersikap patuh dan melunak.
"Ini sudah yang paling lembut, Gav. Harus bagaimana lagi," sahut Briana tanpa merasa bersalah sama sekali. Perangainya memang seperti ini. Bukan salahnya, kan?
"Ya sudah tidak apa-apa. Tapi usahakan jangan sampai membuat Ibu sedih ya. Nanti kalau Ibu berubah pikiran dan menolak untuk merestui hubungan kita bagaimana?"
"Aku tinggal meminta anak buah Ayah untuk menculik Ibumu dan mengancamnya agar merestui hubungan kita. Beres, kan?"
Gavriel menarik nafas panjang. Sama sekali tak menyangka kalau Briana akan menjawab seperti ini. Untung saja mereka hanya berbisik-bisik. Jika tidak, ayah dan ibunya pasti jantungan mendengar niatan anak mafia ini. Astaga.
"Em kalian sudah makan belum?" tanya Helena setelah keterkejutannya mereda. Walau bukan yang pertama kali bicara dengan Briana, tetap saja dia terkena syok terapi. Sepertinya Helena perlu sering-sering pergi ke dokter spesialis jantung untuk memeriksakan diri mulai dari sekarang.
"Kami belum makan, Bu. Apa di rumah ada makanan?" jawab Gavriel.
"Ibu masakkan yang baru saja ya?"
"Setuju." Briana berdiri. Dia berjalan menghampiri ibunya Gavriel kemudian membantunya untuk bangun. "Ayo kita memasak bersama, Bi. Sekalian memperat hubungan antara menantu dan mertua. Oke?"
"Ide bagus. Ayo!"
Dengan penuh semangat Helena menggandeng tangan Briana dan mengajaknya pergi ke dapur. Namun sebelum bayangan tubuhnya lenyap dari ruang tamu, Briana masih sempat menoleh ke belakang lalu mengedipkan sebelah mata ke arah Gavriel.
__ADS_1
"Dasar wanita genit," gumam Gavriel seraya menggelengkan kepala. Dia lalu membuat gerakan mengirim ciuman saat kekasihnya menatap penuh goda. "Menggemaskan."
***