Wanita Kesayangan Sang Presdir

Wanita Kesayangan Sang Presdir
Dua Kemungkinan


__ADS_3

“Namaku Bri ….


Kedua mata Lu dengan cepat terbuka lebar saat anak laki-laki yang muncul di dalam mimpi hampir menyebutkan siapa nama lengkapnya. Para dokter yang melihat Lu terbangun dalam kondisi kepanikan segera datang mendekat kemudian membantu memberinya air minum. Gagal lagi. Terapi kali ini hasilnya sama seperti kemarin. Sungguh sangat aneh. Selama mereka menangani penyakit amnesia yang di idap oleh Presdir Under Group, baru sekali ini mereka kepayahan membantu memulihkan ingatannya. Padahal di kejadian yang sebelumnya mereka hanya butuh waktu satu bulan untuk bisa membuatnya kembali normal. Entah apa yang sebenarnya terjadi, mereka sampai kehabisan cara untuk mencari penyebab masalah ini.


“Tuan Gavriel, bagaimana keadaan anda? Apakah tadi anda melihat sesuatu yang aneh saat sedang di hipnotis?” tanya salah satu dokter setelah keadaan sedikit tenang. Di tatapnya lekat pria tampan yang tengah diam melamun. Seperti orang bingung.


“Mimpi yang aku lihat masih sama seperti yang kulihat di hari-hari sebelumnya. Dan lagi-lagi kepalaku serasa di hantam benda tumpul saat anak laki-laki itu hampir menyebutkan siapa namanya. Aku heran sekali, dokter. Sebenarnya apa yang telah terjadi di tempat itu sampai aku tidak bisa mengingatnya dengan jelas? Apakah mungkin aku menerima perlakuan kejam karena meminta anak laki-laki itu untuk melarikan diri dari sana?” jawab Lu penuh kebingungan. Meski awalnya dia tidak tahu kalau yang dia lihat di alam mimpi adalah dirinya sendiri, seiring berjalannya terapi ini Lu mulai paham kalau sosok tampan itu adalah jelmaan dirinya saat berusia sepuluh tahun. Namun anehnya, yang benar-benar membuat Lu merasa bingung adalah sikap anak laki-laki itu yang seperti tidak asing di pikirannya. Caranya bicara, sentuhan tangannya, juga dengan cara anak itu menyipitkan mata. Semuanya terlihat familiar sekali seolah Lu mengenal dekat anak itu.


Para dokter terlihat saling melempar lirikan mendengar penuturan si pasien yang kembali membahas tentang sosok anak laki-laki yang di klaim ikut menjadi korban penculikan waktu itu. Jelas pengakuan ini membuat semua orang merasa aneh sekaligus bingung karena di dalam laporan polisi sama sekali tidak tercatat ada korban selamat selain putra sulung dari pasangan Tuan Dary dan Nyonya Helena. Akan tetapi karena tak mau membebankan ingatan yang berat itu terus mengganggu kondisi kejiwaan si pasien, para dokter sepakat untuk mengiyakan pengakuan tersebut sembari menunggu pemeriksaan yang sedang dilakukan oleh Tuan Wildan.


“Dokter, aku lelah sekali. Bisakah aku istirahat sebentar?” tanya Lu seraya mengelap keringat di keningnya. Dan dia segera merebahkan tubuh ke kasur begitu dokter menganggukkan kepala.

__ADS_1


Antara sadar dan tidak sadar, tiba-tiba saja bayangan Briana yang sedang memeluknya melintas di pikiran Lu. Dan hal itu langsung membuatnya tersentak kaget. Pelukan itu … kenapa seperti tidak asing? Kenapa pelukan Briana terasa seperti pelukan anak laki-laki yang muncul di dalam mimpinya? Ada apa ini? Ada hubungan apa antara Briana dengan anak laki-laki itu?


Tak mau mati penasaran, Lu segera bangun kemudian mencari ponsel milik Wildan yang sudah dia kuasai sepenuhnya. Sadar kalau para dokter masih berada di ruangan itu, diapun segera meminta mereka untuk keluar terlebih dahulu. Lu berniat menelpon Briana guna menanyakan apakah dulu dia sempat menjadi korban penculikan atau tidak.


“Cepat angkat teleponku, Briana. Ada hal penting yang ingin ku tanyakan padamu,” gumam Lu tak sabaran saat Briana tak kunjung menjawab panggilan.


“Halo, Lu. Ada apa menelponku? Kau baik-baik saja ‘kan? Kalau di rumah itu ada yang memperlakukanmu dengan tidak baik, beritahu aku saja. Aku dan Julia akan langsung datang menjemputmu. Mengerti?” cecar Briana begitu panggilan tersambung.


“Maaf. Tadi kepalaku sedikit sakit. Makanya aku tidak langsung menjawab pertanyaanmu, Bri,” ucap Lu beralasan. “Kau jangan khawatir. Di sini semua orang memperlakukanku dengan sangat baik, jadi kau dan Julia tidak perlu datang untuk menjemputku.”


Jeda sejenak. Lu memasang mimik wajah yang sangat serius saat akan mulai membahas tentang tujuannya menghubungi Briana. “Bri, kalau boleh tahu dulu apa kau pernah menjadi korban penculikan seseorang? Begini. Sejak aku menjalani terapi, di dalam mimpiku aku selalu melihat ada seorang anak laki-laki yang cara bicaranya sangat mirip denganmu. Dan aku merasa sangat penasaran sekali apakah mungkin anak laki-laki itu adalah dirimu atau bukan. Bisakah kau menceritakan masa kecilmu padaku?”

__ADS_1


“Oh, jadi kau pikir aku ini adalah transgender, begitu?” sahut Briana yang malah jengkel mendengar perkataan Lu. “Dengarkan baik-baik perkataanku ini ya, Lu. Aku wanita tulen, dan aku tidak pernah menjadi korban penculikan. Kau salah besar jika berpikir kalau anak laki-laki yang muncul di dalam mimpimu adalah aku. Karena apa? Karena aku terlahir sebagai perempuan yang kuat. Mustahil aku bisa dengan mudah diculik oleh orang lain kalau aku saja pandai menghajar orang. Tahu kau? Sudah dulu ya, café sedang ramai. Aku tidak bisa membiarkan Julia menangani pekerjaan ini sendirian. Nanti malam setelah aku selesai bekerja aku akan menghubungimu lagi dan mari kita bahas masalah ini. Oke? I miss you,” ….


Kedua lubang hidung Lu kembang kempis dengan cepat saat mendengar Briana mengucap kata I miss you kepadanya. Ah, jantung ini. Kenapa debarannya kuat sekali? Bukankah tadi tujuannya menelpon Briana adalah untuk mencaritahu tentang sesuatu, tapi kenapa malah malah jadi seperti ini? Ya ampun, Lu jadi semakin merindukan gadis galak itu.


“Briana-Briana, kau memang paling pandai membuat perasaanku jadi tidak karu-karuan. Hmmmm, menggemaskan,” gumam Lu sambil beranjak dari atas ranjang.


Sorot mata Lu berubah dalam saat dia terngiang dengan nama Bri yang hampir selesai di ucapkan oleh anak laki-laki itu. Bri … Bri … dan Bri. Sebenarnya apa kepanjangan dari nama Bri ini? Mungkinkah Briana? Tapi anak itu berjenis kelamin laki-laki, sedang Briana sendiri sudah menegaskan kalau dia adalah wanita tulen. Aneh sekali. Fakta ini benar-benar membuat Lu merasa kebingungan.


“Hanya ada dua kemungkinan di sini. Antara anak itu yang berpenampilan seperti laki-laki atau Briana yang sudah lupa dengan kejadian tersebut. Aku yakin mereka pasti saling berhubungan. Karena jika tidak mustahil aku bisa merasakan rasa yang sama pada pelukan mereka. Juga karena ingatan tentang anak itu muncul setelah aku bertemu dengan Briana. Ya, pasti ada sesuatu di antara mereka yang belum terkuak!” gumam Lu menimang dua kemungkinan yang bisa saja menjadi sebab kemunculan anak laki-laki di dalam mimpinya. “Tapi … apa jangan-jangan Briana dan anak itu sebenarnya adalah sepasang anak kembar yang di culik salah satunya? Briana dan Bryan, mungkinkah ini nama mereka? Ah ya ampun, kenapa harus ada hal serumit ini sih di pikiranku. Apa yang harus aku lakukan supaya masalahnya cepat terselesaikan?”


Lama Lu termenung di dekat jendela sambil terus memikirkan masalah yang membuat kepalanya menjadi semakin bertambah pusing. Khawatir dia pingsan tanda ada pengawasan, Lu memutuskan untuk kembali berbaring. Tunggu Wildan saja. Nanti dia baru akan memberitahukan tentang kemungkinan yang baru saja dia pikirkan.

__ADS_1


***


__ADS_2