
Seharian ini bibir Julia terus mengerucut. Dia bahkan tak mau bicara dengan Briana. Julia kesal, merasa di bodohi setelah koper pemberian Tuan Hendar dan Nyonya Jenny di sandra oleh anak mafia itu.
Flashback
"U-uang?"
Begitu koper dibuka, kepala Julia dibuat pening oleh aroma wangi yang berasal dari tumpukan uang yang sangat luar biasa banyak. Pemikiran-pemikiran buruk yang membuatnya resah musnah seketika begitu tangannya menyentuh benda berharga ini.
"Briana, kau bilang isi koper ini adalah tengkorak kepala manusia. Lalu kenapa isinya bisa berubah menjadi uang semua? Apa kau mempunyai ilmu sihir?" tanya Julia tanpa mengalihkan pandangannya dari kilau cahaya dollar. Dollar kawan. Mafia itu tidak main-main memberikan hadiah untuknya. Astaga. Ini sangat menakjubkan.
"Kapan aku bicara seperti itu?" sahut Briana balik bertanya. Sudah dia tebak uang di dalam koper ini pasti sangat luar biasa banyak. Untung Julia merupakan klan manusia yang mudah di bodohi, jadi dia tidak harus kehilangan bagiannya. Hehehe.
"Tadi saat kita akan masuk ke dalam cafe kau bilang isi di dalam koper ini adalah sesuatu yang mengerikan," jawab Julia dengan sangat polos. Dia kemudian menoleh sambil mengerutkan kening, sadar ada yang tidak beres dengan perkataan sahabatnya. "Bri, jangan bilang kau ikut amnesia juga seperti Lu ya. Baru beberapa menit yang lalu kau bilang padaku kalau di dalam koper ini berisi tengkorak kepala manusia, kenapa sekarang kau tiba-tiba tidak mengakuinya. Jangan pura-pura lupa kau!"
"Oh."
Sesingkat itu Briana menjawab. Dia lalu menyingkirkan tangan Julia yang sedang berada di atas tumpukan uang. Setelah itu dengan gerakan yang sangat cepat Briana kembali menutup koper kemudian menekan asal sandi yang terpasang di sana.
"A-apaan ini? Kenapa kau menguncinya, Bri?" protes Julia syok melihat apa yang baru saja terjadi. Dia berusaha untuk kembali membuka koper, tapi gagal karena sandinya sudah dirubah. "Kau gila, Briana. Apa maksudmu melakukan semua ini hah?"
"Terserah aku ingin melakukan apa pada koper ini. Aku hanya ingin mengamankan bagianku saja dari orang-orang serakah sepertimu," sahut Briana acuh. Dia tak peduli meski sekarang Julia tengah menatapnya seperti harimau yang sedang kelaparan.
"Bagian darimananya? Jelas-jelas pengawal tadi mengatakan kalau koper ini diberikan untukku dari Tuan Hendar. Kau jangan mengada-ada ya!"
"Ck, biasa saja sih. Asal kau tahu saja, Julia. Saat mereka berniat ingin memberikanmu hadiah ini, aku sedang berada di rumah mereka. Tuan Hendar berkata kalau hadiah ini diberikan untuk membalas kebaikan yang telah kau lakukan padaku sejak kecil. Di karenakan aku tak merasa kalau kau memiliki andil besar dalam masa kecilku, aku berniat meminta jatah atas nama mendiang kakekku. Beliaulah yang telah bersusah payah memberi makan dan merawatku sampai dewasa. Jadi wajar kalau aku meminta sebagian dari hadiah yang Tuan Hendar berikan. Benar tidak?"
Mulut Julia terkatup rapat. Yang di katakan oleh Briana sama sekali tidak salah. Akan tetapi haruskah seterus-terang ini? Julia merasa terkhianati. Padahal dia sudah girang setengah mati begitu melihat isi dalam koper ini.
"Tidak perlu memasang ekpresi menjijikkan seperti itu, Julia. Kan aku tidak meminta habis semua hadiah ini. Kita bagi dua. Kau setengah dan aku setengah. Adil, kan?" ucap Briana dengan santainya menyebut masing-masing bagian.
__ADS_1
"Briana, kau kenapa kejam sekali sih. Jika nanti hasil tes DNA-mu dan Tuan Hendar di nyatakan positif, itu artinya kau akan mewarisi seluruh harta kekayaan keluarga Origan. Belum lagi dengan status calon suamimu yang adalah bos di sebuah perusahaan besar. Tidakkah kau terlalu serakah dengan mengambil hartaku yang tidak seberapa ini? Bermurah hatilah, Briana. Aku ini sahabatmu, bukan musuhmu," rengek Julia berusaha membujuk Briana supaya tidak merampok bagiannya. Dia tak rela lahir batin. Sungguh.
"Aku tidak peduli. Pokoknya setengah untukmu dan setengahnya lagi untukku. Titik!"
Flashback Now
Julia mengembuskan nafas kasar saat mengenang perdebatannya dengan Briana tadi. Moodnya benar-benar rusak parah. Saking rusaknya Julia sampai tidak mempedulikan para tamu yang berteriak meminta buku menu. Dia tidak bersemangat hari ini.
Braaaakkkk
Hampir saja Julia jatuh terjungkal saat sebuah pisau tiba-tiba melayang dan tertancap di atas meja tempat dia berada. Seketika suasana cafe berubah menjadi sangat hening. Pandangan semua orang kini tertuju ke arah samping Julia di mana ada seseorang yang tengah berdiri sambil berkacak pinggang.
"Jelasnya saja Julia kalau kau sudah tidak menginginkan cafe ini lagi. Dengan senang hati aku akan membakarnya detik ini juga!" ancam Briana yang sudah sangat jengkel menghadapi rajukan wanita ini. Nafas dan kakinya sudah hampir putus karena berjalan kesana kemari melayani pengunjung dan juga menyiapkan pesanan. Wajar kalau sekarang dia kerasukan.
"Kembalikan dulu semua uang itu baru aku akan membantumu mengurus para pengunjung," sahut Julia tanpa berani menoleh ke samping. Dia takut Briana akan mencongkel biji matanya kemudian merebusnya di air mendidih.
"Oke aku akan kembalikan. Tapi dengan syarat cafe ini menjadi milikku seutuhnya dan kita tidak lagi menjadi sahabat. Bagaimana? Apa kau setuju?"
Tak menghiraukan rasa takut yang menyelimuti hati, Julia dengan beraninya berdiri berhadap-hadapan dengan Briana. Biarlah jika hari ini dia harus mati, Julia pasrah. Yang penting dia harus memperjuangkan hak miliknya.
"Apa, hm? Sudah berani menantang sekarang? Iya?"
"T-tentu saja aku berani. Kau dan aku sama-sama makan nasi, kau kentut dan akupun kentut. Apa yang perlu aku takutkan?" sahut Julia sambil terus menelan ludah. Jujur saat ini kakinya sudah gemetaran. Dia benar-benar takut melihat cara Briana menatapnya. Sungguh.
"Owh, benarkah?"
Briana menyeringai. Segera dia mencabut pisau yang masih tertancap di atas meja lalu membuat gerakan seperti sedang mengasahnya. Sambil terus menyeringai, dia maju mendekat ke depan wajah Julia. Dia ingin lihat apakah sahabatnya ini benar-benar mempunyai nyali untuk gulat dengannya atau tidak.
"Yang kau bawa itu benda tajam, Briana. Jangan macam-macam kau ya!" ucap Julia panik melihat apa yang sedang Briana lakukan. Kenekatan yang tadi muncul entah hilang kemana. Langsung pergi begitu saja ketika Briana mulai menunjukkan sikap brutalnya.
__ADS_1
Bagaimana ini. Kalau aku tidak segera menyelamatkan diri aku bisa jadi daging cincang di tangan Briana. Apa yang harus aku lakukan ya?
"Kenapa? Takut? Atau sedang memikirkan cara untuk melarikan diri? Iya?" ejek Briana yang sudah sangat paham dengan tabiat Julia. Wanita ini pasti sedang berpikir keras agar bisa lari darinya.
"Permisi, Nona-Nona. Bisakah aku memesan makanan?"
Seorang pria berhasil mengalihkan perhatian Julia dan Briana. Dengan cepat keduanya langsung menatap pria tersebut. Satu menyiratkan permohonan bantuan, sedang yang satunya lagi menyiratkan untuk segera pergi jika masih ingin hidup. Sayangnya pria itu tidak memahami kode yang ditujukan padanya. Dia berdiri dengan polosnya sambil menatap bergantian pada kedua wanita yang katanya adalah pemilik dan pekerja cafe.
"Tuan?"
"Ya, Nona,"
"Apa kau suka sop yang terbuat dari otak manusia?" tanya Briana berusaha sabar.
"Hiii, makanan macam itu. Tolong jangan mengada-ada, sekarang aku sedang lapar. Ingin makanan yang bisa dimakan oleh manusia. Bisakah?" jawab si pria sambil bergidik jijik. Dia masih belum paham kalau pertanyaan itu merupakan simbol kematian.
Tak tahan melihatnya, Briana berniat menakut-nakuti pria tersebut. Di ayunkannya pisau yang dia pegang, yang mana membuat seisi cafe berteriak histeris.
"AAAAAA!!!"
"Hei-hei, ada apa ini? Kenapa kalian semua berteriak?"
Hendar dan Jenny yang baru saja masuk ke dalam cafe kaget setengah mati saat mendengar teriakan semua orang. Segera mereka mendatangi salah satu meja dan menanyakan apa yang sedang terjadi.
"Nyonya, ada apa? Kenapa kalian semua berteriak kencang sekali?"
"Tuan, coba lihatlah ke sana. Nona Briana ingin menebas kepala pengunjung cafe. Cepat hentikan dia sebelum cafe ini berubah menjadi cafe berdarah!" jawab si wanita ketakutan sambil terus memejamkan mata. Dia tak berani untuk menyaksikan kengerian yang ditayangkan secara live. Bayangkan, live bestie. Live.
Kening Hendar mengerut. Segera dia dan Jenny melihat ke arah yang di maksud oleh wanita ini.
__ADS_1
"Briana ....
***