Wanita Kesayangan Sang Presdir

Wanita Kesayangan Sang Presdir
Kasmaran


__ADS_3

Wildan berdiri lama di dekat mobil sambil menatap rumah megah milik keluarga Anderson. Hatinya gundah memikirkan informasi yang dia temukan di keluarga Tuan Hendar. Padahal besar harapan Wildan kalau Nona Briana adalah putri orang itu. Akan tetapi setelah mengetahui fakta kalau Tuan Hendar dan istrinya hanya memiliki seorang putra, harapan Wildan menjadi pupus. Dia bingung harus menyampaikan apa pada atasannya nanti.


Ck, apa yang harus aku lakukan sekarang? Tuan Gavriel merasa sangat yakin kalau anak laki-laki itu bernama Briana. Aku takut hal ini akan mempengaruhi pengobatannya jika beliau tahu kalau fakta yang terjadi tidak seperti yang beliau bayangkan. Ya Tuhan, aku harus bagaimana?


“Wildan, apa yang sedang kau lakukan di sana?”


Karena bosan melihat Lu dan Briana yang terus bermesraan, Julia memutuskan untuk pergi keluar. Dan betapa senangnya dia saat mendapati kalau pria yang di sukainya sudah pulang. Sebenarnya Julia sudah mengetahui hal ini sejak mobil Wildan baru memasuki pekarangan rumah. Akan tetapi dia memutuskan untuk mengintip saja supaya bisa bebas menikmati ketampanannya. Hehehe, biasalah. Julia butuh beberapa fantasi liar untuk menjaga kesuburan cintanya terhadap pria ini. 😎


“Hei, kenapa diam saja. Kau terpesona ya melihat kecantikanku?” tanya Julia seraya menyenggol lengan Wildan yang hanya diam saja. Setelah itu bibir Julia mengerucut ke depan melihat Wildan yang langsung menjaga jarak dengan bergeser menjauh. “Ck, kau ini kenapa sih, Wil. Akukan bukan penyakit menular, kenapa musti berjauhan.”


“Julia, tolong jangan seperti ini. Aku tidak mau orang-orang sampai salah mengartikan kedekatan kita. Jadi aku minta bersikaplah secara wajar. Bisa?” ucap Wildan menegur pelan. Wanita satu ini memang benar-benar ya. Sama sekali tidak merasa ragu untuk menunjukkan keagresifannya.


“Kalau mereka sampai salah menebak ya sudah biarkan saja. Toh kita juga tidak mungkin bisa menghentikan pandangan mereka. Iya, kan?”


“Memang benar, tapi apa salahnya kalau kita bisa menjaga sikap untuk menghindari sesuatu yang tidak-tidak. Kau itukan wanita, setidaknya jual mahallah sedikit.”


“Memangnya kalau aku memasang harga mahal kau mau mendekatiku lebih dulu? Tidak, kan?” Julia kekeh dengan sikapnya. “Dengar ya, Wildan. Sekarang ini kita itu hidup di zaman yang sudah sangat modern di mana wanita juga memiliki hak yang sama seperti para pria. Jadi jangan hanya karena kami wanita kami tidak boleh menunjukkan perasaan lebih dulu. Dan jika Briana sampai melihatmu bersikap rasis kepada wanita lemah sepertiku, percaya tidak kalau Briana pasti akan langsung merontokkan semua bulu yang ada di tubuhmu. Mau?”


Wildan hampir tertawa terbahak-bahak mendengar celotehan Julia jika seandainya sang atasan tidak muncul bersama dengan Nona Briana. Berusaha untuk tidak tawa, segera Wildan datang mendekat. Dia kemudian menunduk sopan, lalu melirik ke arah tangan sang atasan yang tengah menggenggam tangan si wanita halilintar. Sepertinya ada kemajuan di dalam hubungan mereka. Manisnya.


“Bi, boleh berikan aku waktu untuk berbicara sebentar dengan Wildan tidak?” tanya Lu meminta izin pada Briana. Dia kemudian mendekatkan bibir ke samping telinganya. “Ini tentang kita. Jadi jangan berpikir yang macam-macam. Oke?”


Blussshhhh

__ADS_1


Pipi Briana bersemu merah. Antara malu dan tersipu, dia segera menyeret Julia untuk pergi dari sana. Briana bahkan tak sempat mengomel meski tadi Julia kedapatan sedang menggatal dengan cara berusaha menggenggam tangan Wildan. Masa bodo. Dia sedang sibuk dengan hatinya yang berbunga-bunga, hingga tak sadar menyeret Julia ke garasi mobil.


“Kau ini apa-apaan sih, Bri. Kenapa membawaku kemari?” protes Julia bersungut-sungut. Dia lalu menepis tangan Briana yang masih menarik kerah baju belakangnya. “Dasar kejam kau. Memangnya aku ini anak anjing apa diseret-seret seperti itu. Heran!”


“Julia, kau mendengar sesuatu tidak?” tanya Briana sambil menggigit bibir bawahnya.


“Sesuatu?” Julia berubah menjadi mode patung. Dia lalu menoleh saat tak mendengar apa-apa. “Aku tidak mendengar suara apapun, Bri. Sungguh.”


“Yakin kau tidak mendengar suara itu?”


“Iya,” Julia mengangguk serius.


Briana meng*lum senyum. “Tentu saja kau tidak bisa mendengarnya, Julia. Karena yang bisa mendengar suara debaran jantungku hanya aku seorang. Hehehe,”


Sementara itu, raut wajah Lu terlihat tegang saat sedang berbincang serius dengan Wildan. Dia seperti tak percaya mendengar laporan yang di bawa oleh bawahannya ini.


“Tuan Gavriel, sepertinya anda sudah salah mengira kalau anak laki-laki itu adalah Nona Briana. Karena dari foto keluarga yang ada di rumah itu, Tuan Hendar dan istrinya hanya memiliki seorang putra,” ucap Wildan bicara sambil terus memperhatikan ekpresi di wajah sang atasan. Dia takut pria ini akan kesakitan setelah mendengar laporan darinya.


“Tidak, Wildan. Anak laki-laki itu benar menyebutkan namanya sebagai Briana, dan besar kemungkinan dia adalah benar Briana yang berpenampilan seperti laki-laki. Penglihatan dan pendengaranku tidak mungkin salah, Wil. Itu pasti dia!” sahut Lu kekeh akan apa yang dia yakini. Setelah itu Lu menarik nafas dalam-dalam kemudian mengusap wajahnya dengan kasar. “Sebenarnya ada rahasia apa di balik semua ini. Mustahil pertemuanku dengan Briana hanya karena kebetulah saja. Aku yakin pasti ada sesuatu yang mendasari. Aku yakin sekali!”


“Lalu apa yang harus saya lakukan jika anda sangat meyakini anak laki-laki itu sebagai Nona Briana, Tuan?” tanya Wildan bingung.


“Entahlah, aku juga belum tahu harus melakukan apa sekarang. Puzzle ini sangat membingungkan. Aku ingat sekali kalau wajah wanita itu sepintas mirip dengan Briana, sedang mata mereka bagai pinang di belah dua. Jadi tidak mungkin tidak ada hubungan di antara mereka, Wil,” jawab Lu resah.

__ADS_1


Wildan terdiam. Dia kemudian teringat dengan sikap aneh istrinya Tuan Hendar yang langsung jatuh pingsan setelah mendengar percakapan mereka.


“Tuan Gavriel, saat saya dan Tuan Hendar sedang membahas tentang kejadian penculikan itu, tiba-tiba saja istrinya Tuan Hendar menjatuhkan barang hingga mengejutkan kami semua. Setelah itu dia jatuh pingsan, kemudian Tuan Hendar meminta penjaga untuk mengantarkan saya pergi. Tidakkah menurut anda sikap wanita itu sangat aneh sekali, Tuan? Jika tidak ada rahasia apa-apa, mengapa dia sampai bereaksi seperti itu? Mungkinkah ada sesuatu yang di tutupinya dari Tuan Hendar?” ucap Wildan menerka-nerka.


“Siapa nama istri Tuan Hendar?” tanya Lu dengan mimik yang begitu serius. “Sekecil apapun celah yang ada, kita tidak boleh sampai melewatkannya. Jika benar wanita itu mengetahui sesuatu, aku yakin dia pasti bisa mengingatnya jika bertemu langsung dengan Briana!”


“Namanya Nyonya Jenny, Tuan,” jawab Wildan. “Tuan Gavriel, apa anda berniat mempertemukan mereka?”


“Ya. Jika hal ini bisa mengungkap semuanya, maka aku akan mempertemukan mereka secepat mungkin. Aku tidak bisa hidup tenang jika masalah ini tidak segera menemui titik terang, Wil. Kau tahu itukan?”


“Saya tahu itu, Tuan. Tapi alangkah baiknya jika anda fokus pada kesehatan anda dulu. Dan juga bukanlah hal yang mudah untuk bisa masuk ke rumah mereka, apalagi setelah kejadian ini. Saya yakin Tuan Hendar pasti akan lebih waspada lagi terhadap kita. Jadi saya sarankan lebih baik anda fokus ke pengobatan dan biarkan saya yang mencari jalan keluar untuk masalah ini!”


Bukannya lancang, Wildan hanya mengkhawatirkan keadaan atasannya saja. Termasuk mengkhawatirkan keadaan Tuan Erzan yang sudah hampir mati kering karena terus berurusan dengan berkas dan meeting dengan klien. Wildan iba.


“Tuan Gavriel, anda mau pergi ke mana?” tanya Wildan kaget melihat atasannya yang tiba-tiba ingin pergi dari sana.


“Jangan mengikutiku. Di sana ada Julia. Kau mau di gatali lagi oleh gadis itu?” jawab Lu sambil menahan senyum.


“Oh, kalau begitu saya akan menunggu di sini saja,” sahut Wildan langsung down begitu nama Julia di sebut. Tengkuknya meremang.


Ya Tuhan, baru kali ini aku di buat takut oleh seorang wanita. Hmmmm.


***

__ADS_1


__ADS_2