
📢📢📢 BESTIE, JANGAN LUPA DUKUNGANNYA YA SUPAYA JOVAN DAN NANIA BISA MENANG DI LOMBA DI YOU ARE A WRITER SEASON 8. OKE 💜💜💜
***
Wildan dan Julia yang baru saja kembali setelah membeli makanan di kantin rumah sakit nampak terkaget-kaget melihat Briana yang sedang menjambak rambutnya Erzan dengan begitu brutal. Entah apa yang terjadi, mereka kurang tahu. Khawatir kulit kepala Erzan akan terkelupas, Wildan segera memberikan semua makanan yang di bawanya kepada Julia kemudian berlari melerai. Dan wajahnya hampir saja terkena pukulan Briana jika dia tidak cepat menghindar.
“Kurang ajar kau ya. Apa yang sudah kau lakukan pada Lu sampai dia kesakitan seperti itu hah?” amuk Briana sambil menatap sengit ke arah Erzan yang sedang meringis kesakitan. Briana tak peduli. Dia yakin betul kalau Erzan pasti sudah melakukan sesuatu pada Lu sehingga membuat tangannya berdarah. Ya, dia yakin akal hal itu.
“Yakk Briana, singkirkan dulu tanganmu. Kepalaku bisa copot kalau kau terus menjambakku!” sahut Erzan tak berdaya.
“Masa bodo, aku tidak peduli. Ini salahmu karena sudah berani menyakiti Lu. Cepat beritahu apa yang sudah kau lakukan kepadanya. Kalau tidak, sampai copotpun aku tidak akan melepaskan jambakan tanganku. Cepat bicara!”
“Nona Briana, ini sebenarnya ada apa. Kenapa anda dan Tuan Erzan bisa bertengkar seperti ini?” tanya Wildan sambil terus berusaha membuka jari tangan Briana yang mencengkeram rambut Tuan Erzan dengan sangat kuat. Dia kemudian cepat-cepat menundukkan kepala saat Briana hendak menjambak rambutnya juga.
Astaga, sebenarnya wanita macam apa yang telah merawat anda selama ini, Tuan Gavriel? Tenaga Nona Briana kuat sekali. Apa jangan-jangan dia masih keturunan kingkong?
“Kenapa kau bertanya padaku. Tanya saja pada si brengsek ini. Dia penyebab kenapa Lu bisa kembali kesakitan seperti siang tadi!” ucap Briana jengkel. Dia kemudian menoleh saat ada yang menyentuh bahunya. “Apa kau, ha? Dasar sahabat yang tidak punya hati. Apa yang ….
Ceklek
“Nona Briana?”
Briana yang baru akan mengomeli Julia langsung melesat ke hadapan dokter begitu namanya di sebut. Dengan tatapan yang begitu cemas dia mencecar dokter agar segera memberitahunya tentang keadaan Lu.
“Dokter, apa yang terjadi pada Lu? Dia baik-baik saja ‘kan? Tangannya berdarah, dia pasti kesakitan sekali. Dia tidak mati ‘kan?” cecar Briana dalam satu kali tarikan nafas.
Dokter, Julia, Erzan dan juga Wildan sama-sama mengangakan mulut mereka mendengar pertanyaan beruntun yang dilontarkan oleh Briana. Tersadar lebih dulu, dokter yang tadi memeriksa keadaan Lu tampak berdehem pelan sambil membenarkan letak kaca matanya. Dia kemudian menyampaikan kondisi pasien pada semua orang yang ada di sana. Terutama wanita yang tengah menatapnya dengan pandangan khawatir.
“Pasien sekarang sudah dalam kondisi baik-baik saja. Tangannya bisa terluka karena infusnya terlepas. Itulah kenapa bisa ada darah di mana-mana.”
“Fyuhhh, syukurlah. Kalau begitu apa aku boleh masuk ke dalam, dok?” tanya Briana sambil mengelus dada. Lega rasanya.
“Silahkan, Nona.”
__ADS_1
Sebelum masuk ke dalam ruangan, Briana melayangkan tatapan sengitnya kepada Erzan dan Julia lebih dulu. Dia benar-benar merasa kesal sekali pada kedua orang ini. Yang satu membuat Lu kesakitan, sedang yang satunya lagi meninggalkannya tanpa beban. Huh.
Sementara itu di dalam kamar, Lu yang sedang berbaring di ranjang nampak menyunggingkan senyum di bibir pucatnya begitu melihat Briana datang. Dia kemudian berusaha untuk bangun, tapi tidak jadi dia lakukan karena Briana sudah lebih dulu melayangkan ancaman.
“Coba kalau kau berani bergerak sedikit saja. Aku akan langsung menghantam kepalamu menggunakan palu milik tukang bangunan!” ancam Briana. Setengah berlari dia mendekat ke arah ranjang kemudian membantu Lu untuk kembali berbaring.“Pelan-pelan.”
“Terima kasih,” sahut Lu.
Briana mengangguk. Dia kemudian duduk di sisi ranjang. “Lu, kenapa tadi infus di tanganmu bisa sampai copot, hem? Jangan ceroboh. Aku panik sekali kalau kau mau tahu,” ucap Briana sambil menelisik wajah tampannya Lu yang terlihat begitu pucat. Tanpa sadar tangan Briana bergerak mengusap wajahnya perlahan. “Jangan pingsan lagi ya. Kalau kau melihat sesuatu yang membuatmu merasa tidak nyaman, segeralah pergi menjauh atau cari saja aku. Mengerti?”
“Maaf sudah membuatmu khawatir, Bri. Aku juga tidak tahu kenapa kepalaku bisa sangat sakit melihat tali simpul yang ada di tas wanita itu. Rasanya aku seperti tercekik. Sungguh,” ucap Lu menceritakan apa yang dirasakannya ketika melihat tali simpul di tas salah satu pengunjung café.
“Ya sudah tidak apa-apa. Kita tidak perlu membahasnya lagi. Yang penting sekarang kau sudah sadar,” sambung Briana seraya menghela nafas panjang.
“Bri?”
Lu menangkap tangan Briana yang sedang mengelus wajahnya. Dia lalu menatapnya dengan ekpresi yang sangat serius. “Tadi saat aku sadar ada seorang pria di dalam ruangan ini. Pria itu bernama Erzan dan dia mengaku sebagai adikku. Dia juga memberitahuku kalau namaku adalah Gavriel, Gavriel Anderson. Apa itu benar?” tanya Lu ingin tahu.
Glukkkkk
“Bri, tolong jawab pertanyaanku. Apa benar Erzan adalah adikku?” desak Lu sambil mengguncang pelan tangan Briana yang sedang di genggamnya.
“Ekhmmm, Lu. Sekarang bukan waktunya untuk kau membahas sesuatu yang bisa membuatmu kesakitan lagi. Terlepas apakah Erzan adalah benar adikmu atau bukan, kita fokus pada kesembuhanmu dulu. Oke?” jawab Briana tak membiarkan Lu semakin jauh mengingat tentang siapa keluarganya. Jujur, Briana benar-benar merasa sangat takut di tinggal. Dia seakan tak rela Lu pergi dari hidupnya. “Lu, malam ini kau ikut aku pulang ke rumah ‘kan?”
“Tentu saja aku akan pulang ke rumah kita, Briana. Memangnya aku bisa pulang kemana lagi kalau pulang ke rumahmu?”
“Oh benar juga ya. Kenapa aku bisa lupa,”
Lu tersenyum. Dia lalu mendekatkan wajahnya ke samping telinga Briana. “Saat pingsan tadi apakah kau mengkhawatirkan aku, Bri? Kau takut tidak jika seandainya aku sampai kenapa-napa dan tidak bisa membuka mata lagi?”
Plaaakkkk
“Auwwwwhhhh!” Lu memekik kaget saat Briana tiba-tiba menggeplak pahanya. Dia kemudian tertawa mendapati wajah Briana yang memerah seperti kepiting rebus. “Hmmmm, rona merah di wajahmu cukup memberiku jawaban kalau tadi kau sangatlah mengkhawatirkanku. Iya ‘kan?”
“S-siapa yang bilang? Jangan s-sok tahu kau!” elak Briana enggan mengakui.
__ADS_1
“Benar tidak khawatir?”
“Omong kosong.”
“Benar?”
Briana memalingkan muka. Malu sekali rasanya digoda seperti ini oleh Lu. Jantung Briana seperti akan terbang keluar sekarang.
“Terima kasih karena sudah bersedia mengkhawatirkan aku, Briana. Aku senang sekali,” ucap Lu dengan tulus bertutur kata.
“Cihhh, siapa juga yang mengkhawatirkanmu, Lu. Jangan kepedean kaulah. Kalaupun benar aku sampai mengkhawatirkanmu, itu bukan karena aku takut kau kenapa-napa. Tapi karena aku takut kau tidak bisa membayar hutang-hutangmu padaku. Lupa ya kalau selama ini akulah yang telah bersusah payah memberimu makan dan juga tempat tinggal? Setidaknya sebelum mati kau balaslah dulu kebaikanku. Jadi jangan salah paham. Tahu kau?” kesal Briana masih enggan untuk mengakui kalau dia sebenarnya sangat luar biasa khawatir.
“Baiklah-baiklah. Aku tidak akan menggodamu lagi,” sahut Lu mengalah. Dia kemudian menarik pelan tubuh Briana agar semakin mendekat padanya. Setelah itu Lu meletakkan dagunya di atas pundak Briana, meresapi betapa dia sangat bahagia karena di khawatirkan oleh gadis galak ini. “Apapun alasanmu aku tetap ingin berterima kasih padamu, Bri. Terima kasih karena sudah peduli padaku. Terima kasih juga karena kau telah memberiku makan dan juga tempat tinggal. Aku janji setelah keluar dari rumah sakit aku akan mencari pekerjaan sendiri agar bisa membayar semua hutangku padamu. Ya?”
“Tidak, aku tidak mengizinkanmu bekerja di tempat lain. Kau cukup membantuku bekerja di café Julia saja. Nanti biar aku yang melobi gajimu dengan Julia. Oke?” ucap Briana langsung menolak keinginan Lu yang ingin mencari pekerjaan. Dia tidak rela Lu menjadi rebutan wanita di sana sini. Briana tak mau repot.
“Kenapa aku tidak boleh bekerja di tempat lain?” tanya Lu iseng. Dia lalu meng*lum senyum.
“Ya, ya t-tidak apa-apa. Pokoknya kau hanya boleh bekerja di cafenya Julia saja. Titik,” jawab Briana terbata.
Lu tersenyum kecil. Dia lalu mencium pinggiran kepala Briana sebelum akhirnya mengeratkan pelukannya. “Baiklah. Apapun yang kau katakan aku akan menurutinya. Apa sekarang sudah senang?”
Dengan malu-malu Briana menganggukkan kepala. Dia sungguh tidak ingat kalau sebentar lagi Lu akan dibawa pergi oleh Wildan dan Erzan.
Sementara itu dari celah pintu ada tiga pasang mata yang tengah mengintip kemesraan Lu dan Briana. Ketiga pasang mata tersebut kadang membesar kadang juga mengecil sesuai dengan tempo perkataan Briana yang naik turun.
“Apa mereka pacaran?” bisik Wildan penasaran.
“Sepertinya iya. Kau lihat sendirikan bagaimana Kak Gavriel memperlakukan Briana dengan penuh cinta?” sahut Erzan ikut berbisik.
“Iya. Tuan Gavriel bahkan tak ragu untuk mencium dan memeluk gadis halilintar itu.”
Julia mendongak. Dia kemudian membisikkan kata yang membuat mulut Erzan dan Wildan langsung terkatup rapat. “Kalau kalian tidak mau mati gosong karena tersambar amukan gadis halilintar itu lebih baik kalian diam saja. Cukup tonton adegan mesra yang sedang kalian lihat sekarang. Paham?”
“Paham,” sahut Erzan dan Wildan berbarengan.
__ADS_1
***