Wanita Kesayangan Sang Presdir

Wanita Kesayangan Sang Presdir
Curiga


__ADS_3

"Apa yang sedang kau lakukan sekarang?" Briana bertanya sambil menatap lekat wajah Lu di layar ponsel. Saat ini mereka sedang melakukan panggilan video. Dan posisi Briana sekarang sedang berbaring menyamping di ranjang dengan menjadikan boneka kaki sebagai senderan ponsel.


"Menatap wajah cantik kekasihku," jawab Lu kemudian mengedipkan sebelah mata. "Aku merindukanmu. Kapan kau akan datang kemari, sayang?"


Tanpa sepengetahuan Lu, saat ini tangan Briana sedang mer*mas ujung baju piyamanya setelah Lu berkata sedang menatap wajah cantik kekasihnya. Jujur, perasaan Briana seperti terbang ke awang-awang. Dia merasa tersanjung sekali mendengar kalimat tersebut. Namun karena khawatir Lu akan menggodanya, sebisa mungkin Briana menyembunyikan perasaan berbunga tersebut. Hehe.


"Kita baru saja berpisah, Lu. Paman Dary dan Bibi Helena bisa menganggapku wanita tak tahu malu kalau aku kembali datang ke rumahmu. Kapan-kapan saja ya?" ucap Briana mencoba membujuk Lu. Nalar warasnya masih bisa berfungsi dengan baik sekarang. Meski tak di pungkiri kalau Briana sebenarnya juga sangat ingin bertemu dengan pria idiot itu.


Terdengar dengusan nafas kasar dari dalam telepon setelah Briana berkata seperti itu. Sepertinya Lu kurang senang mendengarnya. Melihat hal itupun Briana tak kuasa untuk tidak tertawa. Dia lalu teringat pertemuannya dengan Nyonya Jenny.


"Oya Lu, kau tahu tidak. Kemarin ada seorang wanita aneh yang tiba-tiba datang menggangguku. Awalnya sih kami tak sengaja bertabrakan kemudian dia bercerita kalau tengah mencari anaknya yang hilang di culik. Karena kasihan, aku jadi bersimpati pada wanita itu lalu membiarkannya untuk memelukku. Akan tetapi pagi tadi dia kembali menemuiku di tempat kemarin kita bertemu lalu menyatakan kalau dia menyukaiku. Aku panik, lalu kabur melarikan diri. Dan di saat aku ingin pulang ke rumah, wanita ini ternyata telah menungguku seharian penuh di tempat itu. Bahkan dia tak ragu membuka kedai minuman demi agar bisa berbicara lagi denganku. Nama wanita itu Nyonya Jenny. Dia seorang wanita malang yang mengidap depresi gara-gara kehilangan anaknya," ucap Briana agak merasa aneh saat menceritakan kisah Nyonya Jenny kepada Lu. Dadanya berdesir. "Karena tadi aku pulang bersama Julia, aku mau-mau saja saat Nyonya Jenny mengajak kami singgah di kedainya. Dia lalu banyak menceritakan tentang anaknya yang bernama Kellen Origan. Dia bilang anaknya hilang di culik saat masih berusia lima tahun. Kasihan sekali ya?"


Entah ini hanya perasaan Briana saja atau bagaimana. Ada ekpresi aneh yang muncul di wajah Lu setelah dia menceritakan tentang Nyonya Jenny. Raut terkejut, syok, juga bingung. Ada apa ya? Kenapa Lu harus bereaksi seperti ini hanya karena nama seorang wanita? Kekasihnya tidak mungkin menjalin hubungan dengan Nyonya Jenny, kan? Briana jadi curiga.


"Lu, aku kok jadi merasa penasaran ya melihat reaksimu begitu aku menyebut tentang Nyonya Jenny. Apa jangan-jangan kalian itu sebenarnya sudah saling kenal dan menjalin hubungan rahasia di belakangku? Iya?" tuduh Briana penuh selidik. Dia sampai tak mengedipkan mata saking takutnya melewatkan ekpresi lain di wajah pria idiot ini.


"Astaga, sayang. Kau ini sedang berpikir apa sih. Sudah gila apa aku menjalin hubungan gelap dengan wanita lain. Yang menjadi kekasihku itu kau, jadi apa hubungannya dengan Nyonya Jenny? Ada-ada saja," jawab Lu terkejut saat di tuduh menjalin hubungan gelap dengan Nyonya Jenny. "Sayang, tolong jangan berpikir yang macam-macamlah. Di dunia ini hanya kau seorang yang ku cintai. Mustahil ada wanita lain yang bisa membuatku berpaling darimu. Tahu?"

__ADS_1


"Apa kau begitu mencintaiku?"


Briana tersenyum malu-malu. Dia sampai lupa sendiri dengan kecurigaan yang tadi dia rasa. Murahan sekali, bukan?


"Sekarang kau beritahu aku bagaimana cara agar bisa membuktikan rasa cintaku padamu. Ayolah, jangan bercanda. Ingatanku boleh saja hilang, tapi sekalipun aku merasa pernah jatuh cinta pada wanita selain dirimu. Hanya kau, sayang. Hanya kau seorang yang berhasil membuatku jadi segila sekarang. Jadi tolong jangan pernah berpikiran seperti itu lagi ya. Aku jadi sedih!" ucap Lu seraya menampilkan mimik wajah yang terluka.


Tak tega, Briana akhirnya luluh. Dia dan Lu masih lanjut mengobrol sampai pria idiot itu berpamitan ingin tidur saat kepalanya terasa sedikit tidak nyaman. Khawatir terjadi sesuatu, Briana pun langsung memintanya untuk segera beristirahat. Dan dia baru mematikan panggilan setelah Lu memberikan kecupan manis dari jarak jauh.


"Ekhmmm-ekhmmmm! Jadi seperti ini ya rasanya menjadi obat nyamuk. Menjengkelkan sekali!"


Sejak Lu mulai menelpon, sejak itu pula Julia di anggap bak makhluk tak kasat mata oleh Briana. Bahkan dengan kejamnya tubuh Julia dililit menggunakan kedua kaki Briana yang mana membuatnya jadi tidak bisa bergerak. Tapi meskipun kesal, Julia memilih untuk diam saja. Dia rela mengalah demi agar wanita brutal ini tak lagi memusuhinya setelah Julia kelepasan bicara mengenai uang tiga dijit pemberian Lu.


"Ck, singkirkan dulu kakimu dari tubuhku. Baru aku akan menjawab!" sahut Julia sambil menepak betis Briana. Untung betis sahabatnya ini lumayan bagus. Kalau tidak, Julia pasti sudah menggigitnya sampai koyak. Huh.


"Oh, maaf aku lupa."


Tanpa merasa bersalah sedikitpun Briana segera mengangkat kedua kaki yang tadi membelit tubuh Julia. Setelah itu dia duduk sambil bertopang dagu, menunggu dengan sabar kapan Julia akan mulai berbicara.

__ADS_1


"Fyuuhhh, kalau aku tahu akan menjadi kambing congek, lebih baik tadi aku langsung pulang saja ke rumah. Enak sekali kau bermesraan dengan menjadikan aku sebagai korban!" keluh Julia sambil menepuki kaki. Dia lalu menatap seksama ke arah Briana. "Kau bilang apa tadi? Ekpresi Lu terlihat aneh setelah kau membahas tentang Nyonya Jenny?"


Briana mengangguk.


"Fiksss, mereka punya hubungan!"


"Memangnya kau punya bukti?" tanya Briana santai. Dia tak mau percaya begitu saja pada Julia. Bisa sajakan sahabatnya ini hanya asal bicara. Julia itukan kelewat jahil, jadi Briana tak bisa menelan mentah-mentah perkataannya. Takut salah paham. Kan repot.


"Ck, kau ini bagaimana sih, Bri. Tadi meminta pendapatku. Sekarang malah menanyakan bukti. Kau pikir aku detektif apa?"


Terdengar helaan nafas panjang dari mulut Briana setelah dia mendengar gerutuan Julia. "Kalau memang benar Lu mempunyai hubungan spesial dengan Nyonya Jenny, bukankah itu artinya mereka sudah saling kenal sebelum Lu bertemu denganku? Dan juga apa alasan Nyonya Jenny muncul di hadapanku? Ingin melabrakku kah? Tapi tidak mungkin. Nyonya Jenny begitu lemah, dia juga bilang sudah punya suami. Masa iya sih Lu adalah simpanannya?"


"Kau jangan salah, Briana. Bagi beberapa pria, menjalin hubungan dengan wanita yang jauh lebih tua darinya merupakan tantangan tersendiri bagi mereka. Bisa sajakan Nyonya Jenny tidak mendapat kepuasan dari suaminya lalu pergi mencari daun muda di luar? Dan kebetulan Lu itu kan idiot, siapa tahu dia terbujuk rayuan Nyonya Jenny lalu bersedia menjadi kekasihnya. Benar tidak?"


"Tidak salah sih, tapi kapan mereka bertemunya? Sedang saat Lu tinggal bersamaku, dia tak pernah pergi kemana-mana. Mustahil mereka bertemu di alam mimpi!" sanggah Briana kurang setuju. Dia lalu mendengus kasar. "Pokoknya aku tidak mau tahu. Kalau benar Nyonya Jenny ingin merebut Lu dariku, aku bersumpah akan langsung membakar kedai minuman miliknya. Aku juga akan mencari tahu tentang siapa suaminya lalu mengadukan kelakuannya yang menggatal pada kekasih wanita lain. Lihat saja!"


Julia termenung. Sayang sekali kalau kedainya Nyonya Jenny sampai harus di bakar. Walau tidak terlalu besar, tapi Julia tahu kalau kedai itu di buat dan di isi dengan barang-barang mahal. Masa iya sih mau di bakar begitu saja.

__ADS_1


Apa aku rampok isinya dulu ya sebelum Briana membakarnya? Iya, begini saja. Besok aku tinggal mencari celahnya saja. Begitu Nyonya Jenny lengah, aku akan mencuri barang berharga yang ada di kedainya. Kan lumayan untuk isi-isi cafe. Hehehe.


***


__ADS_2