Wanita Kesayangan Sang Presdir

Wanita Kesayangan Sang Presdir
Petani Miskin


__ADS_3

Tumben sekali Julia menelponku. Ada apa ya?


Erzan yang sedang kesal karena banyaknya pekerjaan yang menumpuk, dengan setengah malas-malasan menjawab panggilan dari wanita gila itu. Dia lalu menyenderkan tubuh ke kursi kerja sebelum memulai pembicaraan.


"Kalau kau menelpon hanya untuk membuang waktuku, lebih baik kau urungkan saja niatmu itu. Aku sedang malas!" ucap Erzan sarkas.


Hening. Tak ada suara apapun dari dalam telepon. Erzan yang merasa heran segera memeriksa apakah panggilan masih tersambung atau tidak.


"Panggilan ini jelas masih tersambung, tapi kenapa Julia hanya diam saja. Dia tidak sedang sekarat, kan?" gumam Erzan terheran-heran sendiri.


"Cihhh, berani sekali kau ya mengatai aku sekarat. Kau pikir kau itu siapa, Erzan!" omel Julia tiba-tiba bicara.


Erzan kaget sekali saat Julia tiba-tiba mengeluarkan suara. Namun karena tak mau di olok-olok, Erzan menjauhkan ponsel kemudian berdehem pelan. Dia baru bicara setelah kekagetan di dirinya hilang.


"Mau apa kau menghubungiku di waktu sibuk begini. Minta sumbangan atau bagaimana?"


"Cihhh, dasar petani miskin. Kau pikir aku semenderita itu apa sampai harus meminta uangmu yang tak seberapa darimu? Asal kau tahu saja ya, Er. Kekayaanku sekarang bahkan jauh melebihi apa kau kau miliki. Karena apa? Karena sahabatku telah resmi menjadi anaknya Tuan Hendar dan Nyonya Jenny. Ups, salah. Maksudku Paman Hendar dan Bibi Jenny. Kau pasti tahu bukan apa maksud semua itu?" sahut Julia dengan angkuhnya pamer akan status baru yang dipunyainya.


"Halah, jangan sok kaya dulu kau wanita mata duitan. Sekarang kan hasil tesnya belum keluar, jadi jangan congkak dulu dengan menghinaku sebagai petani miskin. Jatuh cinta baru tahu rasa kau!" tukas Erzan kurang terima disebut sebagai petani miskin. Julia tidak tahu saja kalau hasil dari pertaniannya bisa menghasilkan gelombang uang yang sangat luar biasa besar. Hanya waktunya saja yang sedikit kurang, jadi hasilnya tidak sesuai harapan.


"Terserah kau ingin bicara apa. Pokoknya aku hanya ingin mengabarkan kalau Briana adalah anak kandungnya Paman Hendar dan Bibi Jenny. Bay!"


Klik. Panggilan terputus. Erzan kemudian terdiam, mencerna perkataan Julia yang menyebut kalau Briana adalah anak kandungnya Tuan Hendar dan Nyonya Jenny.


"Kak Gavriel bilang hasil tesnya masih harus menunggu beberapa hari lagi. Tapi kenapa barusan Julia bilang kalau Briana adalah anak kandung mereka? Apa jangan-jangan hasilnya sudah keluar ya?" bertanya-tanya Erzan dibuatnya. "Lebih baik aku tanya Wildan saja. Siapa tahu dia sudah lebih dulu mengetahuinya daripada aku."


Erzan bergegas pergi ke ruangan Wildan untuk memastikan tentang kabar yang di sampaikan oleh Julia.


Tok tok tok


"Masuk!"

__ADS_1


Wildan menoleh ke arah pintu yang terbuka. Segera dia berdiri kemudian membungkukkan tubuh begitu melihat siapa yang datang.


"Tuan Erzan, ada apa?"


"Wil, barusan Julia menghubungiku. Dia pamer," ucap Erzan sambil berjalan masuk ke dalam ruangan. Dia kemudian duduk bersilang kaki sembari mengusap dagu. "Wanita itu memang paling pandai membuat tensi darah orang lain naik sampai ke ubun-ubun. Dengan songongnya Julia bilang kalau aku adalah petani miskin yang kekayaannya tidak seberapa. Menjengkelkan sekali, bukan?"


"Saya setuju dengan anggapan Julia, Tuan. Karena sejatinya Anda memang hanya seorang petani yang tidak punya apa-apa. Kecuali jika Anda bersedia untuk bergabung dengan Under Group. Saya rasa pandangan Julia terhadap Anda baru akan berubah," sahut Wildan dengan santainya membenarkan ucapan Julia. Memang benar kok kalau pria ini adalah petani miskin. Itu fakta. 😁


"Ck, kenapa sih kau tidak pernah berpihak padaku. Padahal selama beberapa bulan terakhir waktumu lebih sering kau habiskan bersamaku ketimbang dengan Julia. Heran!"


Bibir Erzan mengerucut, jengkel karena Wildan malah berpihak pada Julia. Sepertinya dia sudah salah tempat.


"Lupakan dulu masalah ini. Sekarang bisakah Anda memberitahu saya apa yang dipamerkan oleh Julia?" tanya Wildan tertarik dengan tujuan awal pria ini datang ke ruangannya. Dia lalu ikut duduk di sofa.


"Julia bilang Briana telah resmi menjadi anak kandungnya Tuan Hendar dan Nyonya Jenny," jawab Erzan setengah tidak ikhlas saat memberitahu Wildan tentang apa yang Julia katakan. Dia masih kesal.


"Bukankah sejak awal memang sudah seperti itu ya?"


"Mana aku tahu. Kan aku bukan mereka,"


"Mana aku tahu. Tanyakan saja pada orangnya."


"Begitu saja langsung merajuk!" olok Wildan seraya terkekeh lucu.


"Jangan menertawakan aku. Di sini aku masih atasanmu!"


"Baiklah-baiklah, saya minta maaf."


Untuk memastikan, Wildan memutuskan untuk menghubungi atasannya saja. Dia perlu tahu apakah hasil tes itu sudah keluar atau belum.


Tut tut

__ADS_1


"Halo Wil, ada apa?"


"Halo Tuan, Julia barusan menghubungi Tuan Erzan. Dia bilang Nona Briana telah resmi menjadi anak kandungnya Tuan Hendar dan Nyonya Jenny. Kalau boleh tahu apakah hasil tes DNA mereka sudah keluar?" tanya Wildan setelah panggilan tersambung.


"Aku belum tahu soal ini, Wil. Tapi terima kasih sudah memberitahuku. Sekarang aku akan pergi menemui Briana dulu. Aku perlu memastikan apakah informasi yang disampaikan Julia akurat atau tidak."


"Baik, Tuan. Hati-hati."


Setelah itu panggilan terputus. Erzan yang tadinya sedang kesal segera menatap Wildan penuh rasa penasaran. Dia ingin tahu apa yang di sampaikan oleh kakaknya barusan.


"Bagaimana? Apa kata Kak Gavriel?"


"Tuan Gavriel bilang ingin menemui Nona Briana dulu untuk memastikan apakah hasil tesnya sudah keluar atau belum," jawab Wildan seraya menghela nafas. "Tapi Tuan Erzan, feeling saya kuat mengatakan kalau hasil tesnya pasti positif. Nona Briana adalah Tuan Muda Kellen yang selama ini di cari oleh mereka. Benar tidak?"


"Kita tunggu saja kabar dari Kak Gavriel, Wil. Aku juga sama yakinnya sepertimu."


"Hmmmm,"....


"Oya Wil, istrimu belum melahirkan juga?"


"Belum ada tanda-tanda kontraksi, Tuan. Masih ada beberapa hari lagi untuk saya membawanya pergi ke rumah sakit,"


"Begitu ya. Ya sudahlah, apapun itu aku do'akan semoga istri dan anakmu sama-sama sehat sebelum dan sesudah persalinan nanti. Huuftt, aku jadi tidak sabar di panggil Paman," ucap Erzan sambil menggosok-gosokkan kedua tangan. Dia gemas sendiri membayangkan bagaimana nanti ada makhluk kecil yang memanggilnya dengan sebutan Paman Erzan. Pasti manis sekali.


"Kenapa Anda tidak langsung menikah saja, Tuan? Alih-alih di panggil Paman, bukankah jauh lebih baik di panggil Ayah oleh anak sendiri?" tanya Wildan sambil menahan tawa.


"Menikah itu merepotkan, Wil. Iya kalau menemukan wanita yang tidak rese seperti istrimu. Apa kabar dengan nyawaku kalau sampai menikahi wanita seperti Julia? Aku yakin hidupku pasti tidak akan lama," jawab Erzan tanpa sadar berandai menikah dengan Julia.


"Kenapa harus Julia? Kan yang bisa menjadi patokan bukan hanya dia saja, Tuan. Apa mungkin nama Julia sudah terpatri di dalam hati Anda secara diam-diam?"


Wildan tak kuasa menahan tawa saat Erzan melemparkan majalah ke depan wajahnya. Dia lalu tertawa terbahak-bahak saat petani miskin itu keluar dari ruangannya sambil bersungut-sungut karena emosi.

__ADS_1


"Apa-apa selalu di hubungkan dengan Julia. Memang apa sih istimewanya wanita itu? Tidak ada. Sama sekali tak ada bagian yang menarik di diri wanita itu. Heran!" gerutu Erzan kian jengkel. "Sudahlah, lebih baik sekarang aku bereskan dulu semua pekerjaan yang ada lalu pulang dan istirahat. Kepalaku sudah hampir mengeluarkan asap karena terlalu over berpikir. Benar-benar sialan sekali hidup ini. Huh!"


***


__ADS_2