Wanita Kesayangan Sang Presdir

Wanita Kesayangan Sang Presdir
Berbagi Selimut


__ADS_3

Lu terus menggenggam tangan Briana tanpa ada niat untuk melepaskan. Sungguh, Lu sama sekali tak menyangka begitu bangun wanita yang begitu dia rindukan kini ada di sebelahnya. Saking senangnya, dia sampai tidak mempedulikan lagi rasa sakit yang menghantam bagian kepala saat potongan ingatan tentang wanita asing itu muncul di dalam ingatan.


"Lu, sudah satu jam lebih kau menggenggam tanganku. Kapan kau berencana melepaskannya?" tanya Briana sambil menatap jengah ke arah Lu. Tangannya sudah kram dari tadi.


"Apa kau kemari karena mengkhawatirkan aku?" Lu bertanya penuh harap. Ditatapnya lekat manik mata Briana yang terlihat sangat indah. "Kau mengkhawatirkan aku, bukan?"


"Tentu saja aku mengkhawatirkanmu, bodoh!" jawab Briana tak ragu mengumpat. Heran. Siapalah yang tidak akan khawatir ketika diberitahu kalau pria idiot ini hilang tak tahu kemana. Bahkan saking khawatirnya, Briana sampai menyeret paksa Julia untuk datang kemari dan membiarkan cafe berada dalam kondisi berantakan. Dan barusan apa yang dia dengar? Lu bertanya apakah dia mengkhawatirkannya atau tidak? Hahaha, lawak sekali. Briana mendadak jadi ingin makan orang.


Sabar Briana, sabar. Jangan keluarkan emosimu dulu karena kau masih belum tahu siapa wanita yang menjawab panggilanmu. Fokus. Cecar Lu agar mengakui ada hubungan apa di antara mereka.


Teringat dengan suara wanita yang terkesan dingin dan juga angkuh, membuat mood Briana memburuk seketika. Dia dengan cepat menarik tangan kemudian melipatnya di depan dada. Cemburu, ya, dia cemburu.


"Bri, ada apa?" tanya Lu cemas. Dia lalu menarik nafas panjang saat Briana menolak untuk di sentuh. "Apa aku melakukan kesalahan?"


"Ya. Dan itu bukan hanya kesalahan biasa, tapi dosa besar!" jawab Briana cetus. "Lu, sekarang aku minta kau jawab jujur pertanyaanku. Tadi saat aku meneleponmu mengapa ada suara wanita yang menjawab. Kau hilang bukan karena sedang asik bermashuk ria di tempat prostitusi bersama wanita-wanita seksi yang ada di sana 'kan?"


"A-apaaa? P-prostitusi?"


Wildan dan Julia sama-sama menggaruk pinggiran kepala melihat Lu yang syok karena di tuduh melakukan hal yang tidak-tidak. Kasihan sekali, padahal Lu baru saja bangun. Akan tetapi dia sudah harus menghadapi tuduhan tidak manusiawi yang dilontarkan oleh Briana. Ingin menolong, tapi mereka takut di semprot oleh wanita yang kini terlihat sangat marah dengan empat tanduk merah menghiasi kepalanya. Briana sedang kerasukan.


"Wil, kau punya ide tidak untuk menyelamatkan Lu? Dia bisa mati gegar otak kalau sampai salah menjawab," tanya Julia berbisik-bisik. Sekalian dia menggunakan kesempatan ini untuk berdekatan dengan pria yang di sukainya. Hehehe.


"Kalaupun ada aku juga tidak akan mau melakukannya, Julia. Kaukan lihat sendiri seperti apa emosi Nona Briana. Jadi aku pikir sebaiknya masalah ini di selesaikan saja oleh mereka. Kita jangan ikut campur daripada nanti kena getahnya," jawab Wildan.


"Kita?"


Julia langsung meng*lum senyum begitu Wildan menyebut kata kita. Di dalam perutnya kini muncul ribuan kupu-kupu yang sedang menari sambil mengepakkan sayap mereka. Ah, indahnya jatuh cinta. Serasa sedang berada di taman bunga saat musim semi. Ahai.


Wildan yang melihat gelagat aneh di diri Julia hanya bisa terdiam pasrah. Dia yakin wanita ini pasti sudah salah memahami perkataannya. Tapi ya sudahlah, tak mau dia menjelaskan. Karena ujung-ujungnya Julia malah akan tambah berpikir yang tidak karu-karuan lagi. Kalian tahu sendirilah seperti apa kelakuannya. Haihh.

__ADS_1


Kembali lagi pada Lu dan Briana.


"Briana, tolong kau jangan salah paham padaku dulu. Aku pergi dari rumah karena mengikuti suara bisikan yang ingin agar aku pergi ke sana. Dan mengenai wanita yang menjawab panggilanmu, sepertinya wanita itu adalah orang yang aku jumpai ketika sedang kebingungandl di pinggir jalan. Saat keluar dari taxi, aku tidak tahu harus pergi ke arah mana. Jadi aku sembarang berjalan sebelum akhirnya bertemu dengan mereka!" ucap Lu menjelaskan tentang wanita yang kemungkinan adalah orang yang di maksud oleh Briana. "Tolong percaya padaku, Bri. Aku sama sekali tidak pernah mendatangi tempat-tempat seperti itu. Sungguh!"


"Benar kau bukan pelanggan yang biasa menyewa jasa mereka?" tanya Briana memastikan.


"Kau boleh membunuhku jika sampai menemukan bukti kalau aku pernah terlibat dengan mereka!" jawab Lu dengan pasti.


Briana bertopang dagu. Kenapa dadanya tiba-tiba bergetar aneh ya saat Lu menceritakan tentang wanita itu? Ada apa ini. Aneh sekali.


Haihh, berpikiran apa aku ini. Masa iya aku cemburu pada orang yang telah menolong Lu. Sudah gila apa. Sadar, Briana!.


"Awwwhhhhhhh!"


Lu tiba-tiba memekik sambil memegangi kepalanya. Briana yang terkejut pun langsung berpindah duduk di sebelahnya. Dia lalu membantu memijit kepala Lu, berharap kalau tindakannya bisa mengurangi rasa sakit yang muncul.


"Ck, sudah tahu Lu sedang kesakitan. Bagaimana bisa kau bertanya seperti itu padanya, Wil. Aneh!" tegur Briana sewot sambil menatap sinis pada Wildan. Pertanyaannya sangat tidak ramah sekali. Huh.


Julia yang tidak terima prianya di tegur sinis oleh Briana, segera pasang badan untuk membela. Dia meminta Wildan berdiri di belakangnya kemudian melayangkan tatapan perang pada sahabatnya yang sedang sibuk memberi perhatian pada Lu.


"Ekhmm, Briana. Mohon untuk tidak sembarangan memarahi orang ya. Tadi itu Wildan sedang mencemaskan keadaan Lu, kenapa kau malah memarahinya. Jangan begitulah. Setidaknya hargai keberadaanku di sini!"


"Siapa kau?"


Briana bertanya sarkas. Dan hal itu sukses membuat Julia kicep. Wildan yang melihat hal itupun tak kuasa untuk tidak tertawa. Namun karena tak ingin di anggap tidak sopan, cepat-cepat dia memfokuskan diri dengan memperhatikan sang atasan yang sedang tersenyum samar. Ah, pria ini sedang berpura-pura kesakitan ternyata. Untunglah Nona Briana tidak menyadari hal tersebut. Urusannya bisa panjang nanti jika sang atasan sampai ketahuan sedang berbohong.


"Lu, aku sudah bosan berada di rumah ini. Lagipula kau itukan tidak mati, jadi tidak ada gunanya lagi aku tetap berada di sini. Kau minumlah obat kemudian pergi tidur. Aku mau pulang!" ucap Briana berpamitan. Dia sudah mencium aroma-aroma pemberontakan dan kegatalan di diri sahabatnya. Tidak baik jika terus dibiarkan berada dekat dengan Wildan. Briana takut Julia akan memperkosa asistennya Lu. Kan kasihan.


"Bisakah kau menginap saja?" Lu memohon penuh harap. Dia menarik tangan Briana kemudian menciumnya lembut tanpa mempedulikan keberadaan Wildan dan Julia. "Aku butuh kau, Briana. Sekali saja. Temani aku melakukan terapi. Oke?"

__ADS_1


Blussshhh


Sialan sekali pria idiot ini. Apa dia tidak tahu kalau sikapnya membuat jantungku berlarian kesana kemari? Ya Tuhan, tolong jangan biarkan hatiku meleleh. Julia ada di sini, dia bisa membully-ku nanti.


"Uhuukk-uhuukkk, Wildan. Bisakah kau menunjukkan arah menuju dapur? Tiba-tiba aku tersedak biji kedongdong gaib. Aku perlu minum air sekarang juga!" sindir Julia sambil memaksakan diri agar terus terbatuk.


"Akan aku tunjukkan. Ayo!" sahut Wildan tanggap akan kode aneh yang coba Julia tunjukkan. Tanpa banyak basa-basi dia langsung menyeret wanita ini keluar dari kamar tersebut. Meninggalkan dua biji manusia yang sedang sibuk dengan gelora cinta masing-masing.


Sepeninggal Wildan dan Julia, Briana masih membeku di tempat. Dia tidak berani bergerak, bahkan membuang nafas pun dia lakukan secara perlahan. Entah apa maunya Lu. Pria idiot ini seperti sengaja mengumbar kemesraan. Membuat tulang di tubuhnya jadi meleleh seperti jeli.


"Menginap ya?" bujuk Lu. Kali ini dia lakukan sambil memainkan kuku tangan Briana yang lentik.


"T-tapi besok a-aku harus bekerja, Lu. Kau tahukan kalau aku ini miskin?" sahut Briana dengan suara terbata. Astaga, dia seperti cabe-cabean yang sedang di goda oleh bapak-bapak. Gemetaran 🤣


"Aku akan membayarnya,"


"Sialan. Kau pikir aku wanita macam apa hah?"


Lu terkekeh. Ditariknya tubuh Briana hingga masuk ke dalam dekapan. Tanpa banyak bicara, dia membawa Briana untuk berbaring. Setelah itu Lu menarik selimut menggunakan kaki kemudian menutupkannya ke tubuh mereka.


"Tidurlah. Jangan pikirkan apapun selain aku. Oke?"


"Ini pemaksaan namanya," protes Briana sambil mencari posisi nyaman di pelukan Lu. Dia lalu memejamkan mata. "Pemaksaan yang menyenangkan. Oke, aku akan tidur. Besok baru kita menghitung total bayaran. Good night, Lu," ....


"Good night, Briana," ....


Dan malam pun dimulai. Kedua insan tanpa ikatan itu tampak saling nyaman berbagi selimut dan pelukan. Saking nyamannya, mereka sampai tidak sadar ada empat kepala manusia yang sedang mengintip dari celah pintu yang terbuka. Tebaklah sendiri, kalian pasti tahu siapa mereka. 😁


***

__ADS_1


__ADS_2