
Tok tok tok
“Siapa?”
“Ini aku, sayang. Lu.”
Briana yang sedang bermalas-malasan di atas ranjang sontak terbangun begitu mengetahui siapa orang yang baru saja mengetuk pintu rumhanya. Segera dia turun dari ranjang kemudian bergegas pergi membuka pintu.
Ceklek
“Lu, apa yang sedang kau lakukan di sini? Dengan siapa kau datang?” cecar Briana sambil melongok ke belakang tubuhnya Lu. Pria idiot ini lupa ingatan, mustahil bisa datang seorang diri. Tapi kenapa tidak ada siapapun yang menemani? Aneh.
“Wildan meminta seorang penjaga mengantarkan aku kemari. Jangan khawatir, aku tidak datang sendirian kok,” sahut Gavriel berbohong. Padahal dia itu mengemudi sendiri tanpa ada penjaga yang menemani. Gavriel lalu meninggalkan mobilnya sedikit jauh dari rumah Briana agar tidak ketahuan. Hehe.
“Lalu sekarang penjaganya di mana? Kenapa tidak mengantarmu?”
Alih-alih menjawab, Gavriel malah menarik tubuh Briana dan memeluknya dengan erat. Selain untuk melindungi diri, juga karena dia sudah sangat merindukannya.
“Lu, hei. Ada apa? Kenapa kau memelukku seperti ini?” tanya Briana sambil mengelus punggung Lu yang kekar. Dia kemudian tersenyum saat merasakan embusan nafas Lu di dekat lehernya. Iseng, Briana menggodanya. “Kenapa? Kau salah meminum obat perangsang ya? Makanya sekarang nafasmu terdengar begitu berat. Apa aku benar?”
“Sayang, tolong jangan berpikir yang macam-macam tentangku. Aku nekad datang kemari karena aku sangat merindukanmu, juga karena aku begitu mengkhawatirkanmu. Sejak kau pulang dari rumah sakit kau sama sekali tak membalas pesan dariku. Aku taku kau melakukan tindakan yang salah karena terkejut akan apa yang terjadi,” sahut Gavriel sudah tak heran di jahili oleh Briana. Dia lalu mengecup kulit lehernya yang putih bersih sebelum menarik diri dari pelukannya. Gavriel takut lepas kendali.
“Kenapa dilepas?” Briana protes saat Lu melepas pelukan mereka. Padahal dia tengah menikmati kehangatan yang muncul. Haih.
“Sekarang kita sedang berada di depan pintu, sayang. Kalau para tetangga sampai melihatku, mereka pasti akan ….
Sreeettt
Hampir saja Gavriel jatuh terjungkal saat Briana tiba-tiba menariknya masuk ke dalam rumah. Dia yang tidak menyangka akan ditarik seperti ini langsung sesak nafas saat Briana mengajaknya untuk berbaring di ranjang. Ayolah, Gavriel pria normal. Jelas pikirannya langsung pergi kemana-mana ketika melihat kekasihnya menggerakkan tangan meminta agar dirinya segera menyusul.
__ADS_1
Ini undangan apa Bagai? Kenapa gerakan Briana begitu menggoda? Ya Tuhan, ini cobaan.
“Lu, wajahamu memerah. Kau tidak sedang memikirkan hal mesum hanya karena aku memintamu naik ke atas ranjang, kan?” tanya Briana sambil menyeringai lebar. Dia lelah, jadi ingin berbaring sambil memeluk kekasihnya. Tapi sepertinya tindakannya itu membuat pria ini jadi salah paham. Lucu.
“Ekhmmm, maaf sayang. Aku pikir kau sedang menggodaku,” jawab Gavriel jujur. Sambil tersenyum canggung, dia membuka sepatu yang belum sempat di buka kemudian segera naik ke ranjang. Mencoba untuk tidak berpikiran mesum, Gavriel menarik selimut lalu menutupkannya ke tubuh mereka berdua. Setelah itu Gavriel memeluknya. “Aku tidak tahu sampai kapan aku mampu menahan diri saat sedang bersamamu. Jadi mari kita menikah saja. Bagaimana?”
“Menikah itu bukan hanya soal n*fsu, Lu. Ada beberapa hal yang musti kita pertimbangkan terlebih dahulu. Terutama tentang kesehatanmu. Fokuslah dulu untuk memulihkan ingatanmu. Tahu?” sahut Briana menanggapi ajakan Lu dengan perasaan yang biasa saja. Dia sedang resah, jadi tak terlalu menganggap serius perkataannya.
“Iya aku tahu, tapi aku benar-benar ingin segera meresmikan hubungan kita. Aku sedih harus berpisah rumah seperti ini, sayang.”
“Sabar saja. Nanti jika waktunya tiba kita pasti menikah. Jangan terburu-buru. Oke?”
Gavriel menghela nafas. Posisinya yang memeluk Briana dari belakang membuatnya bisa dengan mudah menyembunyikan wajah di tengkuk wanita cantik ini. Harum, sangat memabukkan. Gavriel suka jika berlama-lama dengan posisi ini.
Lama tidak ada pembicaraan yang terjadi antara Gavriel dengan Briana. Masing-masing dari mereka sibuk dengan pemikiran sendiri. Jika Gavriel sibuk memikirkan tentang perasaan dan rasa cinta yang begitu membuncah pada kekasihnya, lain halnya dengan yang sedang di pikirkan oleh Briana. Dia terus saja terbayang dengan hasil tes yang baru akan keluar dua hari lagi. Entah hasilnya akan positif atau negative, tidak ada yang tahu. Mungkin jika hasilnya positif sedikit banyak itu akan membuat Briana merasa bahagia karena ternyata orangtuanya masih hidup. Akan tetapi jika hasilnya negative, Briana pasti akan sangat sedih sekali. Kenapa sedih? Karena dia akan kembali terluka teringat dengan kepahitan hidup yang dia jalani tanpa ada kasih sayang dan dukungan dari orangtua. Memang sih masih ada Lu dan Julia. Akan tetapi kehadiran mereka tetap tidak bisa menggantikan kepedihan yang sudah lebih dulu Briana rasa. Itulah kenapa hati dan pikiran Briana terus dilanda gelisah. Dia takut, tapi tidak tahu bagaimana cara mengungkapkannya.
“Sayang, apa kau sedang memikirkan tentang hasil tes DNA itu?” tanya Gavriel tanggap akan sikap bungkam yang tidak biasa muncul di diri Briana.
Briana kaget sekali saat Lu tiba-tiba berpindah ke atas tubuhnya. Dia sampai menelan ludah berulang kali saat wajah pria ini berada sangat dekat dengan wajahnya. Saking dekatnya, Briana bahkan bisa merasakan embusan nafas yang keluar dari hidung mancung pria ini. Sesuatu di dalam tubuhnya sampai bergetar kuat.
“K-k-kau, apa yang sedang kau lakukan di atas tubuhku? Cepat turun!” ucap Briana tergagap.
“Aku sedang mencoba menghiburmu,” sahut Gavriel sambil tersenyum evil. Jari telunjuknya bergerak mengusap bibir Briana yang terlihat begitu menggoda. “Sayang, ada aku di sini. Meskipun nanti hasil tes akan menunjukkan kalau di antara kalian tidak ada hubungan darah, aku tidak akan pernah membiarkan fakta itu menyakiti perasaaanmu. Memangnya kenapa kalau mereka bukan orangtuamu? Kau masih punya Ayah dan Ibuku yang sudah menganggapmu seperti anak kandung mereka sendiri. Jadi kau jangan kahwatir ya. Kau tidak sendirian.”
“Bagaimana mereka tidak menganggapku sebagai anak kandung sendiri kalau putra mereka saja sebegini mesumnya. Paman Dary dan Bibi Helena pasti kaget jika mengetahui kelakuanmu, Lu,” sahut Briana sembari menyunggingkan senyum di bibir yang masih di sentuh oleh Lu. Iseng, Briana menjilatnya. Setelah itu Briana tertawa, lucu melihat reaksi kaget yang muncul di wajah pria idiot ini. “Makanya jangan macam-macam denganku. Kena gigitkan kau sekarang?”
“Mau coba menggigit yang lain tidak?”
“Apa itu?”
__ADS_1
Gavriel memajukan bibirnya. Dia lalu tertawa terbahak-bahak melihat wajah Briana yang langsung memerah seperti kepiting rebus. Siapa suruh jahil, ya dia jahilin baliklah.
“Lu, apa benar dulu kita pernah bertemu saat usiaku masih lima tahun?” tanya Briana tiba-tiba merasa penasaran dengan kejadian penculikan yang sama sekali tak di ingatnya.
“Dari ingatan yang muncul saat itu kita memang sama-sama menjadi korban penculikan, sayang. Akan tetapi dulu namamu bukan Briana, melainkan Kellen. Dulu saat penjahat itu membawamu ke gedung kosong, di mataku kau terlihat seperti anak laki-laki yang manis dan juga cantik. Lalu di sana kita menjadi teman. Kau bahkan tidak bisa tidur jika tidak memelukku. Kenangan kita manis sekali, bukan?” jawab Gavriel tanpa ada niat beranjak dari atas tubuh Briana. Terlalu enggan untuk dia melepas kebersamaan ini meski pada kenyataannya mereka tidak melakukan apa-apa. Bukan tidak, tapi belum. Hahaha.
“Memang terdengar manis, tapi sayangnya aku tidak bisa mengingat apapun tentang kejadian itu. Dan hal ini juga yang sejak siang tadi sangat menganggu pikiranku. Aku heran kenapa aku bisa sama sekali tak mengingat apapun. Tidak tentangmu, tidak juga tentang penculikan itu!”
“Hmm, saat itu terjadi usiamu baru lima tahun, sayang. Kemungkinan besar hal inilah yang menyebabkan kau tidak bisa mengingat kejadian pada waktu itu. Tapi ya sudahlah, tidak usah di pikirkan lagi. Karena siapapun dirimu, perasaanku tidak akan pernah berubah. Aku mencintaimu, dan selamanya akan terus seperti itu!”
Kedua sudut bibir Briana tertarik membentuk satu senyuman yang sangat manis sekali. Gavriel yang melihat hal itupun sampai terpana karenanya. Dia lalu mendekatkan wajahnya ke depan wajah Briana, membiarkan bibir mereka saling menempel sebelum akhirnya mereka saling balas *******. Andai saja mereka sudah menikah, Gavriel pasti tidak hanya akan menyentuh Briana di batas ini saja. Dia ingin lebih. Tapi untunglah akal sehat Gavriel masih bisa berpikir jernih dengan langsung turun dari atas tubuh Briana ketika gejolak n*fsu mulai mengontrol pikirannya.
“Aku bisa gila!” umpat Gavriel dengan mata terpejam. Nafanya menderu, antara tersiksa birahi dan juga menyesal hampir melakukan tindakan yang salah.
“Tumben sekali kau lepas kendali begini, Lu. Kenapa? Apa saat dalam perjalanan kemari kau sempat menonton film biru?” tanya Briana sambil berbaring menyamping. Dia lalu menjadikan sebelah tangannya untuk menopang kepala, memperhatikan bagaimana pria ini tak henti merutuki perbuatannya sendiri.
“Bukan karena aku menonton film biru, sayang. Tapi karena kau yang memang terlalu menggoda. Padahal tadi aku sudah berusaha menahan diri seperti biasa, tapi tetap saja gagal,” jawab Gavriel mengeluhkan kegagalan dirinya. Dia lalu membuang nafas kasar berulang kali. "Sudah seperti ini apa kau masih belum mau menikah denganku, sayang? Kau tidak kasihan melihatku tersiksa seperti ini?"
"Tentu saja aku kasihan, tapi mau bagaimana lagi. Kau masih sakit, tidak mungkin kita menikah dengan kondisimu yang seperti itu. Bisa gawat nanti kalau kau sampai kumat mendadak di malam pertama kita. Iya, kan?"
Segera Gavriel berbalik menyamping begitu mendengar perkataan Briana. Dia menemukan celah agar bisa secepatnya mempersunting wanita ini.
"Jadi kalau aku sudah sehat kau akan bersedia menikah denganku?"
"Maybe yes, maybe no."
Jawaban Briana sukses membuat Gavriel menjadi gemas. Segera dia menggelitik perut wanita ini hingga membuatnya berteriak kegelian. Ruangan kamar yang sudah sebulan ini terasa sepi mendadak jadi ramai kembali saat Gavriel dan Briana mulai bertingkah gila dengan saling memukulkan bantal. Para tetangga yang kebetulan belum tidur sampai keluar dan melihat ke arah rumah gadis galak itu untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi.
"Haih, sayang sekali. Sepertinya Briana sudah gila. Itulah kenapa pria itu membuangnya di lingkungan ini. Nasib-nasib. Gagal sudah menemukan tuan putri yang terbuang. Hmmm!"
__ADS_1
***