Wanita Kesayangan Sang Presdir

Wanita Kesayangan Sang Presdir
Dibagi Dua


__ADS_3

Sesampainya di cafe, Briana dibuat syok melihat perubahan yang terjadi di sana. Sedangkan Julia, wanita mata duitan itu terlihat begitu semringah mengatur para penjaga yang sedang sibuk menata kedai pindahan milik Nyonya Jenny. Sungguh, ingin rasanya Briana membotaki kepala wanita satu itu. Kali ini entah apalagi yang di perjual-belikan olehnya. Hmmm.


"Yow Briana, akhirnya kau datang juga. Apa kabar?" tanya Julia dengan sombong. Tangannya tampak mengetuk pinggiran kedai, ingin menyombongkan diri atas apa yang dimilikinya sekarang.


"Kali ini kau menjual aibnya siapa lagi, Julia?" sahut Briana balik bertanya. Dia menarik nafas dalam-dalam seraya berkacak pinggang. "Aku yakin kedai ini di dapatkan hasil dari kau menjual rahasia lagi pada Nyonya Jenny. Iya, kan?"


"Hei, enak saja kau ya. Jangan sembarangan menuduh!"


"Kalau tidak mau dituduh ya sudah cepat jelaskan. Jangan sampai ya aku mencongkel kedai ini lalu membakarnya sekalian denganmu juga. Mau?!"


Julia menggeleng dengan cepat. Sikap angkuh yang tadi dia tunjukkan seketika musnah, berganti dengan reaksi takut begitu Briana mengancam akan membakarnya bersamaan dengan kedai ini juga.


Dasar anak mafia. Suka sekali sih membully anak orang.


"Kenapa diam? Sedang bingung memikirkan alasan untuk mengelak? Iya?" sindir Briana sambil menyipitkan mata. Terlalu bosan untuknya bisa menebak rencana busuk wanita ini. Hih.


"Ck, kau ini kenapa sih, Bri. Sekalinya datang langsung marah-marah. Ada setan yang menempel kepadamu atau bagaimana?" protes Julia jengah di omeli terus. "Asal kau tahu saja ya. Aku sama sekali tak melakukan apapun untuk mendapatkan kedai milik Nyonya Jenny. Dia memberikannya dengan sukarela untukku. Kalau kau tidak percaya, pergi tanyakan saja padanya. Aku tidak takut kok."


"Aku baru saja pulang dari rumahnya."


"Oh, baguslah."


Sedetik kemudian ....


"APA? KAU BARU SAJA PULANG DARI RUMAHNYA NYONYA JENNY?"


Briana memutar bola matanya jengah mendengar suara teriakan Julia yang begitu kuat. Sudah dia duga kalau wanita ini pasti akan bereaksi berlebihan begitu mengetahui kalau dia baru saja dari rumah Nyonya Jenny dan Tuan Hendar.


"Yakkk Briana, kenapa kau pergi ke sana tanpa mengajakku? Jangan bilang kau ingin menusukku dari belakang ya!" amuk Julia sambil mendorong bahu Briana. Mulutnya kemudian mengerucut. "Padahal aku sudah sangat menantikan kapan hari itu tiba. Tapi kau dengan teganya malah pergi seorang diri ke sana. Aku benci kau, Briana. Kau kejam!"


"Merengeklah sepuasmu. Lalu setelah itu bersiaplah kusiram mulutmu dengan air keras!" ancam Briana mual melihat ulah Julia yang merajuk seperti bayi. Tangannya jadi gatal.


"Bisa tidak kau jangan selalu menindasku?"


"Kalau begitu bersikaplah layaknya manis normal. Aku jijik melihatmu sok manja seperti ini. Rasanya aku ingin sekali muntah di wajahmu. Tahu!"

__ADS_1


"Bilang saja kalau kau gengsi ingin menyebutku imut. Iya, kan?"


"Najis!"


"Alah, mengaku saja. Kau sebenarnya sukakan melihatmu bermanja-manja seperti ini? Kau merasa terhibur kan mempunyai sahabat yang begitu menggemaskan?"


Tak pantang menyerah. Julia terus menggoda Briana hingga membuat wajah wanita ini memerah. Sadar kalau jiwa brutal Briana mulai keluar, cepat-cepat Julia mengambil langkah seribu. Dia berpindah ke sisi lain sembari menjulurkan lidah. Hehehe, biasalah. Hidup tak terasa indah jika tidak ada peperangan di antara mereka. Ya meski sebenarnya Julia sedikit takut.


"Permisi, Nona Briana. Nyonya Jenny dan Tuan Hendar memerintahkan saya untuk mengantarkan hadiah ini untuk Nona Julia. Mohon di terima."


Kalau benar mereka adalah orangtuaku, aku pasti akan membuat perhitungan dengan Julia. Enak sekali dia menerima uang yang begitu banyak dari mereka. Padahal kan yang membesarkan aku adalah mendiang kakek, tapi kenapa malah dia yang mendapat hadiah. Tidak bisa di biarkan. Nanti begitu kopernya dibuka aku harus segera menghitungnya. Wajib di bagi dua. Titik.


"Hadiah?" Julia maju mendekat. Air liurnya seperti akan menetes keluar saat mencium aroma familiar dari dalam koper yang dibawa oleh penjaga. "Hadiah apa ini?"


"Silahkan Nona membukanya sendiri di dalam. Di sana juga ada kartu ucapan dari Nyonya Jenny," jawab si penjaga sembari menyerahkan koper yang di bawanya. Setelah itu dia membungkuk ke hadapan wanita yang adalah anak majikannya. "Nona Briana, saya permisi."


"Ya." Singkat Briana menjawab. Tatapannya fokus memperhatikan Julia yang sedang tersenyum sendiri seperti orang gila. "Ayo masuk. Kita harus menghitung ada berapa banyak hadiah di dalam koper tersebut."


"Umm maaf ya, Briana. Sepertinya hari ini aku tidak bisa membantu di cafe. Semua pekerjaan aku serahkan padamu saja ya. Aku sibuk!" sahut Julia langsung tanggap akan apa yang ingin dilakukan oleh sahabatnya. Segera dia memeluk koper tersebut dengan erat.


"Tentu saja aku tidak berani. Akan tetapi karena Nyonya Jenny dan Tuan Hendar mengatakan kalau hadiah ini ditujukan untukku, maka aku berhak-berhak saja memutuskan dengan siapa ingin membukanya. Iya, kan?"


Briana menyeringai. Dengan tatapan bak kucing liar, dia berjalan mendekati Julia. Para penjaga yang kebetulan masih ada di sana tampak saling lempar lirikan. Mereka bingung harus melakukan apa terhadap kedua wanita ini. Para penjaga itu akhirnya memutuskan untuk menonton saja sembari menentukan siapa yang akan menjadi pemenang.


"M-mau apa kau?" tanya Julia gugup. Dia takut sekali jika Briana sudah memasang ekpresi seperti ini. Rasanya seperti dia sudah akan di masukkan ke dalam lubang neraka. Sungguh.


"Menurutmu?" Briana lagi-lagi menyeringai. Dan seringai kali ini dia barengi dengan membunyikan tulang-tulang di tangannya. "Come on, Julia. Kau mau ku banting menggunakan gaya apa, hm? Gaya helikopter? Gaya katak berenang? Atau dengan gaya terjun payung? Bilang saja. Dengan senang hati aku akan melakukannya untukmu."


"J-jangan gila kau, Briana. Kau pikir aku ini pemain gulat apa. Mundur kau. Jangan dekat-dekat dengan aku!" teriak Julia sambil beringsut ke belakang.


Sialan. Kalau saja dulu Ayah dan Ibu membiarkan aku belajar ilmu bela diri, sekarang aku pasti bisa menghadapi wanita brutal ini. Sayang sekali semuanya sudah terlambat untuk di sesali. Kini aku hanya bisa berjuang antara hidup dan mati demi mempertahankan koper ini. Semangat Julia! 😭


"Takut ya?" ejek Briana.


"Briana, dengan resmi aku mengibarkan bendera putih padamu. Aku menyerah!"

__ADS_1


Toengg


Para penjaga dibuat melongo seperti orang bodoh saat Julia dengan lantang mengakui kekalahannya. Padahal tadi mereka sudah menyiapkan uang taruhan demi menjagokan pemenangnya. Sedangkan Briana, dia nampak tersenyum puas. Briana sudah sangat yakin kalau Julia tidak akan berani berhadapan dengannya. Hahaha.


"Tumben sekali hari ini kau langsung menyerah. Ada apa?" tanya Briana sembari mengambil koper dari tangan Julia. Dia melakukannya dengan gerakan yang sangat santai, seolah koper tersebut adalah miliknya.


"Briana, hadiahku!" rengek Julia sambil memasang ekpresi menyedihkan. Tangannya melambai, ingin menggapai benda berharga yang sudah berpindah tangan.


"Ck, jangan memasang ekpresi seperti itu. Lebih baik sekarang kita masuk dan melihat apa isi di dalam koper ini. Kau jangan lupa ya kalau Tuan Hendar adalah seorang mafia. Bisa saja hadiah yang dia berikan untukmu berisi tengkorak kepala manusia!"


Glukkk


Secepat kilat Julia berpindah memeluk lengan Briana begitu mendengar kata tengkorak. Bulu kuduknya sampai berdiri semua saking takut akan hal tersebut.


"Memangnya Tuan Hendar sekejam itu ya, Bri?" bisik Julia sambil menelan ludah.


"Seharusnya sih iya. Dia itukan mafia. Hidupnya selalu terhubung dengan kekejaman dan juga pembunuhan. Begitukan yang sering kita tonton di televisi?" sahut Briana dengan tengilnya menakut-nakuti Julia. Kapan lagi coba. Hahaha.


"Benar juga ya. Hiiii, aku jadi takut melihat isi koper itu. Ayo-ayo kita buka bersama saja!" ucap Julia sama sekali tak sadar kalau dirinya sedang dipermainkan.


"Baiklah. Ayo!"


Para penjaga langsung berbisik-bisik setelah mendengar fitnah yang dilayangkan untuk bos mereka. Briana yang mendengar bisik-bisik tersebut segera menoleh ke belakang. Dia kemudian menunjukkan smirk tipis yang langsung membuat para penjaga membeku seketika.


"Orang bilang anaknya king kobra bisanya jauh lebih mematikan. Itu artinya Nona Briana seribu kali lebih mengerikan dari Tuan Hendar. Kita harus berhati-hati mulai dari sekarang. Jangan sampai kita lengah dan menyinggung perasaan wanita itu. Bisa mati konyol kita!"


"Ya, kau benar sekali. Sudah, lebih baik sekarang kita bereskan semua pekerjaan ini kemudian pulang dan melapor pada Tuan Hendar kalau tadi Nona Briana telah memfitnahnya."


"Kau yakin ingin melaporkan hal ini pada Tuan Hendar?"


"Memangnya kenapa?"


"Tidak takut kau akan di banting dengan gaya-gaya aneh oleh Nona Briana? Lupa ya kalau dia adalah anaknya Tuan Hendar dan Nyonya Jenny? Cari penyakit saja kau. Huh!"


Setelah mengomeli salah satu rekannya, para penjaga itu kembali melanjutkan pekerjaan. Mereka saling berbisik, mengingatkan supaya jangan besar mulut di hadapan Tuan Hendar. Ibarat kata, mata pura-pura buta, telinga pura-pura tuli, dan mulut pura-pura bisu. Ini adalah tiga serangkai yang paling ampuh untuk bisa memiliki hidup yang tenang. Coba saja kalau tidak percaya.

__ADS_1


***


__ADS_2