Wanita Kesayangan Sang Presdir

Wanita Kesayangan Sang Presdir
Sikap Yang Manis


__ADS_3

Sejak Lu dan Briana datang ke café, Julia tak henti-hentinya memperhatikan mereka. Ada yang aneh. Jika biasanya Lu dan Briana selalu terlibat gencatan senjata, hari ini Julia tak mendapati kegaduhan tersebut. Malah Lu dan Briana terlihat begitu akrab seolah tidak pernah terjadi permusuhan di antara mereka. Em, bukan mereka sih, tapi lebih tepatnya Briana yang memusuhi Lu.


Ini Briana tidak salah minum obat ‘kan? Kenapa sikapnya kepada Lu jadi begitu manis ya? Aneh sekali. Apa jangan-jangan mereka sedang saling jatuh cinta? Tapi masa iya sih Briana bisa jatuh cinta pada pria yang dia anggap sebagai beban? Tidak bisa di biarkan. Aku harus segera mencaritahu kenapa Lu dan Briana bersikap seperti orang yang sedang dimabuk asmara. Ya, aku harus segera menyelidiki hal ini.


Ekor mata Julia terus mengawasi interaksi Briana saat Lu berkata ingin membantunya. Jika di hari biasanya Briana akan langsung mengomel dan meminta Lu agar jangan mengganggunya, kali ini reaksinya sangatlah berbeda. Alih-alih mengusir Lu pergi, Briana malah dengan senang hati membiarkan Lu membantunya menata sayuran di atas meja dapur. Hal ini tentu saja membuat Julia kian merasa curiga. Tak tahan melihat sikap manis mereka, Julia pun memutuskan untuk menginterogasi keduanya. Dia tidak boleh sampai ketinggalan informasi, terlebih lagi ini berhubungan dengan satu-satunya sahabat yang Julia punya. Sudah pasti Julia harus segera mengetahui apa yang sebenarnya sedang terjadi. Benar tidak?


“Ekhmm Briana, Lu. Bisakah aku bicara sebentar dengan kalian?” tanya Julia dengan mimik wajah yang begitu penasaran.


Lu diam saja. Sedangkan Briana, dia terlihat mengangguk mempersilahkan Julia untuk bertanya.


“Kalian … baik-baik saja ‘kan?”


Kedua alis Lu saling bertaut saat merasa ada yang aneh dengan jenis pertanyaan yang dilontarkan oleh Julia. Sambil memasukkan sayuran ke dalam wajah, Lu pun memberikan jawaban. “Kami tentu baik-baik saja, Julia. Kenapa memangnya?”


“Iya benar. Aku dan Lu baik-baik saja kok. Memangnya kami terlihat seperti orang yang sedang sakit ya?” sahut Briana agak bingung mendengar Julia yang tiba-tiba menanyakan keadaannya dan Lu. Mengganjal sekali.


“Bukan, bukan begitu maksud pertanyaanku. Aku merasa heran saja melihat kalian akur begini. Jadi aku berpikir mungkin kalian sedang tidak sehat karena interaksi yang kalian tunjukkan hari ini sangat berbeda dari hari biasanya. Makanya aku menanyakan apakah kalian baik-baik saja atau tidak. Begitu!” sahut Julia sambil menatap bergantian ke arah Briana dan juga Lu.


Pletaakkkk


“Awwww. Yak, Briana. Kenapa kau suka sekali sih menyentil keningku. Sakit tahu!” protes Julia sambil mengelus-elus keningnya yang kembali menjadi korban keganasan tangan Briana. Dia lalu mengerucutkan bibir saat keningnya mulai berdenyut.

__ADS_1


“Masih untung aku hanya menyentil keningmu, bukan menyentil ginjalmu. Lagipula pertanyaanmu itu aneh-aneh saja. Memang apa salahnya kalau aku dan Lu terlihat akur? Bukankah itu artinya aku sudah bisa berdamai dengan keadaan ya?” sahut Briana cetus.


Setelah mengomeli Julia beranjak dari duduknya. Dia berniat mencuci sayuran yang sudah selesai dia pilih bersama Lu. Namun naas, Briana tak sengaja menginjak tali sepatunya yang terlepas. Alhasil tubuhnya langsung terjurung ke depan. Sambil menjerit kaget, Briana memejamkan kedua matanya dengan erat. Dia tak bisa membayangkan betapa sakitnya nanti ketika wajahnya mencium lantai dapur.


Eh, kenapa aku tidak merasakan apa-apa ya? Aku tidak mungkin berpindah dimensi hanya karena tak sengaja tersandung bukan?


Penasaran mengapa Briana tidak merasa sakit, dia memberanikan diri untuk membuka sebelah matanya. Dan dia langsung diam mematung begitu tahu penyebab mengapa tubuhnya tidak merasakan apa-apa.


“Kau baik-baik saja?” tanya Lu sambil tersenyum manis. Sangat luar biasa manis hingga mampu mengalahkan manisnya air tebu. Sungguh.


“Haihhh, tidak kusangka aku akan melihat adegan romantis seperti yang ada di drama-drama korea tepat di depan mata. Ternyata menggelikan sekali ya,” ejek Julia sambil bergidik geli melihat sahabatnya yang begitu menikmati berada di pelukan Lu.


Ya. Tadi saat Briana akan jatuh karena kakinya tersandung, Lu dengan gentelnya langsung menangkap tubuh Briana dan membiarkan tubuhnya yang menghantam lantai. Dia mengorbankan keselamatannya sendiri untuk menyelamatkan wanita yang kini masih diam terpaku di atas tubuhnya. Julia sebagai satu-satunya saksi mata tentu saja merasa sangat kaget melihat adegan dramatis yang terjadi tepat di hadapannya. Dan dalam sekejab Julia langsung menyadari kalau di antara kedua manusia ini sedang terjadi detik-detik munculnya ilmu sihir yang di sebut cinta. Catat baik-bai ya. Cinta. C-I-N-T-A.


“Hah?”


Briana membeo. Dia lalu mengerjap-ngerjapkan kedua matanya sebelum kemudian dia menunduk. Terkejut melihat posisinya yang tengah menindih tubuhnya Lu, dengan cepat Briana berusaha untuk berdiri. Namun karena posisinya yang tidak benar, malah membuat tubuh Briana kembali oleng. Lu yang melihat Briana akan kembali terjatuh segera menarik tangannya dengan kuat. Lalu yang terjadi selanjutnya membuat wajah Lu dan Briana menjadi merah padam. Bahkan Julia sampai menjerit sambil menutup kedua matanya ketika bibir Lu dan bibirnya Briana saling bertemu.


“Whatt! Whatt! Whaatt! Ya Tuhan, apa yang baru saja aku lihat? Oh my God, Briana. Kau dan Lu … kalian berciuman. Live!” teriak Julia heboh sendiri sambil menepuk-nepuk wajahnya. Dia syok, tentu saja. Tapi jujur, Julia seperti sedang menonton adegan romantis yang selama ini hanya dilihatnya di layar televise. Dia sungguh tidak menyangka akan menjadi saksi hidup dari kejadian paling penting di hidup sahabatnya. Luar biasa. Luar biasa.


“Maaf,” bisik Lu. Dia kemudian membantu Briana untuk berdiri, lalu beralih menatap Julia dengan sikap yang canggung.

__ADS_1


“Ekhmmm, a-aku ke kamar dulu,”


Briana langsung lari terbirit-birit sambil memegangi bibirnya. Wajahnya? Jangan di tanya lagi. Bahkan merahnya buah tomat masih kalah jauh jika di bandingkan dengan warna merah di wajah Briana sekarang. Dan sesampainya Briana di dalam kamar mandi, dia langsung melihat pantulan wajahnya di depan cermin.


“Fisrt kissku di ambil oleh Lu. Aaaaa, bibirku sudah tidak suci lagi sekarang. Bagaimana ini? Ayah, Ibu, apa yang harus aku lakukan?” ucap Briana denga suara gemetar.


Sungguh, tak sedikitpun Briana menyangka kalau dia akan kehilangan fisrt kiss-nya dengan cara seperti ini. Namun saat dia terbayang tatapan matanya Lu ketika bibir mereka bertemu, tiba-tiba saja Briana tersipu malu. Dia lalu memilin bibir bawahnya sambil tersenyum-senyum tidak jelas.


Bibirnya Lu ternyata sangat lembut. Seperti jelli, xixixi.


Sementara itu di dapur, Lu terlihat salah tingkah saat Julia tak henti menatapnya sambil tersenyum aneh. Untuk menghilangkan kegugupannya, Lu menyibukkan diri dengan memunguti sayuran yang bertebaran di lantai. Dan dia terperanjat kaget saat sebuah elusan tangan mendarat di punggungnya.


“Lu, tahu tidak kalau kau barusaja mencuri ciuman pertamanya Briana,hem?” goda Julia dengan sengaja memberitahu Lu tentang rahasia Briana. Dia lalu menyeringai licik ketika Lu menatapnya dengan ekpresi terkejut. “Kaget ya?”


“Benarkah tadi adalah first kiss-nya Briana?” tanya Lu memastikan.


“Tentu saja. Aku inikan sahabatnya, sudah pasti aku yang paling tahu apakah Briana sudah pernah berciuman atau belum selama ini. Asal kau tahu saja ya, Briana juga masih … perawan,” jawab Julia sambil berbisik di samping telinga Lu ketika menyebutkan kata perawan.


Hehehe, sepertinya akan semakin menarik kalau aku memasukkan bumbu-bumbu erotis ke dalam hubungan mereka yang baru mulai tumbuh. Dan untukmu sahabatku, terimalah serangan maut dariku. Semoga kata kunci ini bisa membantu hubunganmu menjadi semakin hangat dengan Lu. Maaf ya, hahhahaha.


Wajah Lu terlihat memerah setelah Julia memberitahunya kalau Briana masih perawan. Dan jujur, jauh di dalam lubuk hatinya Lu dia merasa sangat bahagia karena telah menjadi yang pertama untuk Briana. Lu kemudian bertekad untuk kembali menjadi yang pertama bagi Briana ketika waktunya tiba untuk mereka berhubungan lebih. Dia sangat berharap untuk itu.

__ADS_1


***


__ADS_2