
Lu mengerutkan kening saat merasa seperti ada seseorang yang sedang mengelus pipinya. Tanpa membuka mata, dia langsung menangkap tangan tersebut kemudian menciumnya penuh perasaan. Bahagia, itu yang Lu rasakan saat sebelah tangan orang ini kembali membelai pipinya dengan lembut.
“Briana, tumben sekali kau begitu lembut padaku. Aku suka,” ujar Lu sambil terus menciumi punggung tangan yang sedang di pegangnya.
“Gavriel, ini Ibu, Nak. Bukan Briana,” sahut Helena merasa lucu karena Gavriel salah menduga kalau dia adalah Briana. Helena kemudian tersenyum saat Gavriel perlahan-lahan membuka mata. “Halo sayang. Maaf ya kalau keberadaan Ibu mengganggu istirahatmu.”
“Siapa kau?”
Lu bingung. Buru-buru dia melepaskan tangan wanita itu kemudian duduk menjauh. “Nyonya, kau siapa? Dan … di mana Erzan dan Wildan? Kenapa mereka membiarkan orang asing masuk dan duduk bersamaku? Apa mereka menjualku padamu?”
Dada Helena serasa dir*mas melihat reaksi Gavriel yang tak bisa mengingatnya. Sambil menahan rasa sesak, Helena berusaha menjelaskan tentang siapa dia. “Gavriel, aku ini adalah Ibumu. Namanya Helena Anderson. Apa kau ingat?”
“Helena Anderson?” Lu membeo. Dia diam memikirkan apakah pernah mengenal wanita yang bernama Helena Anderson atau tidak. Sekuat mungkin Lu berusaha mengingat, tapi nihil. Lu sama sekali tak menemukan ingatan apapun tentang wanita ini. Dan karena Lu terlalu memforsir pikirannya, rasa sakit dan sesak itu kembali datang menyapa. Lu sontak berteriak kesakitan sambil memegangi kepalanya yang berdenyut dengan sangat kuat.
“Arggghhhhhh, sakitt!!” pekik Lu dengan wajah yang mulai memucat. Butiran keringat mulai membasahi sekujur tubuhnya, menandakan betapa Lu sedang sangat menderita sekarang.
“Penjaga, tolong aku. Tolooonngggg!” teriak Helena panik melihat Gavriel tiba-tiba menjerit kesakitan. Dia kemudian keluar dari dalam mobil saat beberapa penjaga datang menghampiri. Sambil menahan tangis, Helena meminta agar mereka membawa Gavriel masuk ke dalam rumah. Setelah itu Helena berdiri di samping mobil sambil mengatupkan kedua tangan. Berdoa agar putranya baik-baik saja.
Gavriel, tolong maafkan Ibu ya. Seharusnya tadi Ibu tidak memaksamu untuk mengingat sesuatu dulu. Ibu ceroboh, Ibu lupa kalau kau sedang sakit. Tolong maafkan Ibu ya, Nak. Ibu tidak sengaja melakukannya.
__ADS_1
Dary, Erzan dan juga Wildan yang sedang berbincang dengan dokter sama-sama terperanjat kaget melihat Gavriel yang sedang berteriak kesakitan sambil di papah oleh beberapa penjaga. Segera mereka berlari menghampiri dan menanyakan apa yang terjadi.
“Ada apa ini? Kenapa kakakku berteriak kesakitan?” tanya Erzan panik.
“Kami tidak tahu apa yang terjadi di dalam mobil, Tuan Erzan. Tadi Nyonya Helena tiba-tiba berteriak dan meminta agar kami segera membawa Tuan Gavriel masuk ke dalam rumah,” jawab salah satu penjaga.
Dary langsung berlari menghampiri Helena yang sedang menangis tersedu-sedu sambil dipapah oleh palayan. Sadar akan apa yang terjadi, Dary pun segera memeluknya.
“Hiksssss, Gavriel jadi kesakitan begitu karena a-aku, Dary. A-aku merasa sedih saat dia tak bisa mengenali ibunya sendiri. A-aku tidak sengaja melakukannya,” ucap Helena dengan suara tersendat-sendat. Tubuhnya sampai gemetar saking takutnya terjadi hal buruk pada Gavriel gara-gara kecerobohan yang dia lakukan.
“Sssttt, sudah tidak apa-apa. Jangan menyalahkan dirimu lagi. Gavriel seperti itu karena memang dia sedang sakit. Jangan khawatir, tim dokter akan segera menanganinya dan membuatnya pulih seperti semula. Oke?” hibur Dary sambil menciumi kening Helena yang sudah basah keringat. Mungkin karena terlalu panik, begitu pikirnya.
“Tentu dia akan baik-baik saja, sayang. Gavriel adalah pria yang kuat, dia tidak mungkin tumbang hanya karena penyakit sialan itu. Lagipula di sini ada banyak dokter berpengalaman yang sedang menanganinya. Aku yakin dia pasti akan segera sembuh kembali.”
Setelah berkata seperti itu Dary membimbing Helena untuk duduk terlebih dahulu. Dia lalu meminta pelayan agar mengambilkan minum untuk istrinya yang sedang syok. “Nah, sekarang kau tenangkan dulu perasaanmu. Nanti kita baru pergi melihat kondisi Gavriel di kamar. Oke?”
Masih sambil menangis sesenggukan, Helena menganggukkan kepalanya. Dia kemudian menyender ke dada Dary, tempat paling nyaman dikala Helena sedang dilanda gelisah. Helena lalu memejamkan mata saat ucapan Gavriel kembali terngiang di telinganya. “Dary, tadi saat aku sedang membelai pipinya Gavriel, dia tiba-tiba menangkap tanganku lalu menciumnya. Awalnya aku pikir itu karena dia merasa nyaman, tapi ternyata aku salah. Gavariel mengira kalau aku adalah Briana. Dan dia bilang dia suka dengan belaian itu. Mungkinkah ada rasa lain yang tumbuh di dalam hatinya setelah dua bulan menghabiskan waktu bersama gadis yang telah menolongnya?”
“Hah? Benarkah?” kaget Dary. “Jadi Gavriel kesakitan begitu karena salah mengira kalau kau adalah Briana?”
__ADS_1
“Bukan, bukan itu penyebabnya,” jawab Helena. “Saat aku berkata kalau aku bukan Briana, Gavriel langsung membuka mata. Dia lalu bertanya aku siapa. Gavriel juga menanyakan kenapa Erzan dan Wildan membiarkan orang asing masuk ke dalam mobil dan duduk bersamanya. Dia bahkan mengira kalau dirinya telah di jual. Karena merasa sedih, aku memberitahu Gavriel kalau aku adalah ibunya dan namaku adalah Helena Anderson. Setelah itu dia ….
“Jangan di teruskan lagi. Aku sangat memahami perasaanmu, sayang. Kau tidak salah, hanya terlalu sedih karena Gavriel tidak bisa mengingatmu,” ucap Dary menyela perkataan Helena saat mendengar suaranya yang mulai terbata.
Helena mendongak. Dia menatap lekat ke manik mata Dary. “Apa mungkin ini alasan kenapa tadi Erzan menolak keinginan kita yang ingin mengangkat Briana sebagai anak?”
“Hmmmm, aku tidak tahu, sayang. Baik Erzan maupun Wildan, mereka berdua belum membahas apapun tentang Briana. Mungkin karena mereka tahu ini bukan waktu yang tepat untuk menceritakannya pada kita. Tunggu nanti saja ya?” jawab Dary sambil menghela nafas panjang. “Tapi sayang, jika seandainya di antara Gavriel dan Briana telah terjadi sesuatu yang diluar kehendak kita, apa kau akan mengizinkan mereka untuk bersama? Gavriel adalah pria yang sangat sukses, sedangkan Briana hanyalah seorang pekerja café. Apa status mereka tidak akan menjadi masalah untukmu?”
“Dary, Tuhan mempercayakan Gavriel kepada kita adalah untuk merawat dan membesarkannya. Jadi kita tidak punya hak untuk ikut campur keputusan Gavriel dalam menentukan dengan siapa dia ingin menikah. Kalaupun benar antara Gavriel dan Briana telah terjadi sesuatu, maka kita sebagai orangtua wajib mengingatkan Gavriel agar bertanggung jawab. Tidak apa-apa hanya seorang pekerja café, itu bukan pekerjaan yang hina. Bahkan jauh lebih mulia dari pekerjaan mereka-mereka yang bisanya hanya merongrong kesenangan dari orang lain. Jadi aku sama sekali tidak keberatan jika seandainya nanti Gavriel akan memperkenalkan Briana sebagai calon istrinya. Selagi bisa membuatnya bahagia, aku pasti merestui hubungan mereka,” jawab Helena seraya tersenyum tulus.
“Hmmm, aku sungguh beruntung memiliki istri sebaik dirimu, sayang. Selain cantik di wajah, kau juga sangat cantik hatinya. Aku jadi penasaran apa jangan-jangan saat Tuhan membagi kebaikan dan juga kecantikan kau pasti tidak pernah absen untuk datang. Makanya kau bisa terlahir sesempurna ini di mataku,” goda Dary yang kagum akan kebesaran hati istrinya yang tidak mau pilih-pilih calon menantu. Padahal dengan statusnya sebagai Nyonya Anderson, istrinya ini bisa saja melakukan seleksi untuk calon istri kedua putra mereka. Tapi Helena tidak melakukannya. Dary suami yang sangat beruntung sekali bukan? Tentu saja.
“Aku sempurna karena memilikimu, Dary. Juga karena Tuhan telah memberiku dua orang putra yang sangat luar biasa hebat. Jadi selain melihat kebahagiaanmu dan juga putra-putra kita, apalagi yang harus aku kejar? Tidak ada. Aku malah berharap kalau sekarang Briana sedang mengandung buah cintanya dengan Gavriel. Dengan begitu kita tidak perlu menunggu lama untuk mendapatkan seorang cucu. Aku yakin keluarga kita pasti akan ramai sekali nantinya. Benar tidak?” ucap Helena yang malah berandai-andai kalau sekarang Briana sedang hamil.
“Kau benar, sayang. Dan nanti kita akan dipanggil Kakek dan Nenek oleh anaknya Gavriel dan Briana. Ah, aku jadi tidak sabar,” sahut Dary ikut terhanyut dalam angan-angan istrinya.
Wahai Tuan dan Nyonya Anderson yang terhormat, tidakkah kalian tahu di bandingkan dengan kalian, ada seseorang yang sangat berharap kalau Gavriel dan Briana memiliki malam yang panas di atas ranjang? Karena jika Briana sampai mengandung pewaris keluarga Anderson, seseorang ini yang akan mendapat berkah paling banyak. Dan itu orang itu adalah Julia, maha guru sesat yang gencar memberikan ilmu 21++ pada putra kalian. 😎
***
__ADS_1