Wanita Kesayangan Sang Presdir

Wanita Kesayangan Sang Presdir
Tali Simpul


__ADS_3

📢📢📢 BESTIE, JANGAN LUPA DUKUNGANNYA YA SUPAYA JOVAN DAN NANIA BISA MENANG DI LOMBA DI YOU ARE A WRITER SEASON 8. OKE 💜💜💜



***


“Selamat datang. Silahkan duduk,” ucap Lu dengan sopan menyambut kedatangan pengunjung café. Dia lalu meletakkan daftar menu makanan di atas meja. “Silahkan dipilih menunya, Nona. Saya akan mencatatnya.”


Lu dengan sabar menunggu tamu memilih menu makanan yang akan di pesan. Dari arah kasir, terlihat Julia yang terus saja memperhatikannya. Sejak kedatangan dua orang pria yang Julia kira adalah penjahat, pikirannya terus saja memunculkan terkaan-terkaan aneh dimana dia menduga kalau Lu merupakan salah satu anak dari orang kaya yang ada di negara mereka. Itu bisa saja terjadi bukan mengingat postur tubuh dan juga ketampanan Lu yang bagaikan spek dewa. Lu sangat luar biasa tampan, karismatik, attitudenya pun baik meski kini otaknya sudah tercemar dengan hal-hal 21++ dimana Julia yang menjadi gurunya. 😂😂😂. Juga dengan kepintaran Lu dalam membantu menarik pelanggan café ini, membuat Julia semakin yakin kalau Lu itu sebenarnya bukan berasal dari keluarga sembarangan. Ya, Julia yakin sekali dengan hal ini.


Kalau dugaanku benar, itu artinya Briana sudah jatuh cinta pada orang yang tepat. Dia itukan selalu berkoar-koar hanya akan menyukai pria berterong besar, dan aku sangat yakin Lu pasti terongnya besar karena dia terlahir dari keluarga kaya raya. Biasanya kan orang kaya selalu memperhatikan hal-hal semacam ini. Hehe, aku jadi penasaran apa Briana sudah mencoba terongnya Lu atau belum. Secara, mereka itukan tinggal dalam satu atap. Aku tidak yakin pertahanan Briana tidak goyah tinggal bersama pria setampan Lu. Hmmmm


Tooongggg


“Yakkkk!” Julia memekik kencang saat kepalanya tiba-tiba di hantam dengan baskom yang terbuat dari alumunium. Tahu siapa pelakunya, Julia segera menoleh ke samping sambil melayangkan tatapan yang sangat bengis. “Kau ini kenapa suka sekali melakukan kekerasan padaku sih, Bri. Kalau tadi aku sampai gegar otak bagaimana hah?”


“Halah, gegar otak apa. Berlebihan kau!” ejek Briana tanpa merasa bersalah sama sekali setelah menggembleng kepala Julia menggunakan baskom besar yang barusaja dia cuci. Setelah itu pandangan Briana beralih menatap Lu yang sedang berjalan ke arahnya sambil membawa catatan menu makanan.


Astaga, kenapa jantungku berdebar-debar begini ya? Lu juga. Kenapa dia harus menatapku sambil tersenyum seperti itu. Pikirankukan jadi trevelling kemana-mana. Haisshhh.


“Bri, ada pesanan!” ucap Lu sambil menyodorkan catatan pesanan yang dia bawa. “Perlu aku bantu memasak tidak?”


“T-tidak usah. Aku bisa sendiri,” jawab Briana setengah tergagap. Dia lalu memicingkan mata saat mendengar suara cekikikan dari arah samping.


“Bri-Bri, mau sampai kau mau jual mahal begini, hem? Tinggal bilang iya apa susahnya sih?” ledek Julia sambil tersenyum evil. Yap, kalian benar. Dia tidak akan melewatkan kesempatan untuk menjadi makcomblang bagi kedua anak manusia ini. Hehe. “Sudahlah Lu. Aku sarankan kau sebaiknya bantu Briana menyiapkan pesanan di dapur. Biar aku yang menangani urusan disini. Oke?"


Saat Briana ingin kembali memukulkan baskom ke kepala Julia, tiba-tiba saja ada dua orang wanita datang menghampiri mereka. Dan Briana langsung merasa jengkel sekali begitu tahu siapa kedua wanita tersebut.

__ADS_1


“Permisi, maaf mengganggu. Bisakah kami bicara dengan Lu?”


“Kalian lagi kalian lagi. Mau kalian itu apasih sebenarnya? Harus berapa kali aku katakan kalau Lu itu tidak mau menerima ponsel pemberian kalian. Tuli sekali. Apa aku perlu mengebor lubang telinga kalian supaya kalian bisa mendengar perkataanku dengan jelas? Iya?” amuk Briana sambil memelototkan mata.


“Nona, kami hanya ingin ….


“Arkhhhhggg!!”


Lu tiba-tiba saja menjerit kesakitan sambil memegangi kepalanya. Dan tatapan matanya terus tertuju ke arah tas yang di pakai oleh salah satu wanita yang barusaja datang. Entah apa yang terjadi. Kepala Lu serasa dihantam palu besar begitu dia melihat tali simpul yang menjadi hiasan tas wanita itu. Tak kuat menahan rasa sakitnya, tubuh Lu akhirnya luruh ke lantai. Dia terus berteriak kesakitan hingga membuat wajahnya pucat seperti mayat.


“Lu, kau kenapa?” tanya Briana syok melihat Lu yang sedang kesakitan. Segera dia membuang asal baskom yang sedang dipegangnya kemudian buru-buru berjongkok untuk memangku kepala Lu. Tanpa di sadari oleh Briana, matanya sudah berkaca-kaca menyaksikan Lu yang tak henti berteriak kesakitan. “Lu, kau kenapa Lu? Jangan menakutiku. Kau kenapa?”


“Sak-kiit, Bri,” sahut Lu terbata. “T-tas itu, ta situ ….


“Tas?” beo Julia dan Briana berbarengan. Mereka kemudian memperhatikan satu-persatu orang yang mulai berkerumun mengelilingi Lu. Pandangan mereka kemudian terhenti pada wanita yang tadi sempat diamuk oleh Briana.


“Nona, apa yang sedang kau bicarakan? Aku bukan wanita penyihir dan aku tidak menaruh apa-apa pada tasku. Kau sudah gila ya?”


“Woaahhh, berani sekali kau mengataiku gila. Dengar. Lu baik-baik saja sebelum kalian datang. Dan begitu kalian muncul, dia langsung kesakitan seperti ini. Itu artinya ada yang tidak beres dengan tasmu. Iyakan? Mengaku sajalah!”


“Enak saja. Tas ini hanya ….


“DIAM KALIAN SEMUAAAA!”


Suara teriakan Briana begitu menggelegar hingga mampu membungkam mulut Julia yang sedang bertengkar dengan si wanita itu. Sambil terus mengelus kepalanya Lu, Briana menatap tajam semua orang yang ada di sana. Dia lalu mengamuk. “Dasar bodoh ya kalian semua. Sudah tahu Lu sedang sekarat, kenapa tidak ada satupun dari kalian yang memiliki inisiatif membantuku membawa Lu ke rumah sakit? Kalau Lu sampai mati disini bagaiman? Mau kalian di hantui arwahnya yang penasaran? Hah?!”


“Tidak mau,” sahut semua orang dengan kompak.

__ADS_1


“Kalau begitu ayo cepat bantu aku. Tidak lihat ya wajahnya Lu sudah sangat pucat seperti mayat?”


Tanpa banyak kata lagi Julia mengajak semua orang untuk membantu mengangkat tubuhnya Lu. Dia lalu dengan cepat berkomat-kamit mengucap mantra kejam ketika dua orang wanita yang menjadi penyebab Lu seperti ini berniat ingin memberikan bantuan. Julia tak rela. Dia takut kedua wanita ini akan kembali menebar sihir mereka untuk menyakiti Lu.


“Sakittttt,” gumam Lu dengan pandangan mata yang mulai memburam. Dia kemudian menoleh ke samping, menatap sekilas ke mata Briana yang terlihat berkaca-kaca. Meski kesakitan, Lu seperti mendapat kekuatan untuk menggoda gadis galak ini. “Bri, matamu berair. Apa kau menangis karena mengkhawatirkanku?”


“Jangan berisik kau. Mataku berair bukan karena ingin menangis, tapi karena disebuh angin. Dan kekhawatiranku bukan karena tak tega melihatmu kesakitan, tapi karena aku tidak mau kau mati di cafenya Julia. Nanti aku bisa kehilangan pekerjaan jika Julia sampai menutup cafenya. Tahu kau?” sahut Briana dengan cetus. Dusta lagi dusta lagi. Haihhh.


“Benarkah?”


“Yaa, lebih baik kau diam saja sebelum aku memasukkan pasir ke dalam mulutmu. Sudah tahu sedang kesakitan, masih saja mengoceh tidak jelas. Mau kulempar ke dalam got apa bagaimana?”


Julia dan orang-orang hanya bisa menarik nafas mereka mendengar perkataan Briana yang sangat amat cetus. Mereka juga heran sekali kepada Lu. Sempat-sempatnya dia menggoda Briana di saat dirinya sedang berjuang agar tidak bertemu dengan malaikat maut. Dasar aneh.


“Kepalaku sakit sekali, Bri,” ucap Lu kembali mengeluh ketika dia teringat dengan tali sampul yang tadi dilihatnya.


“Aku tahu. Makanya kau diam. Paham?” sahut Briana berpura-pura tegar meski sebenarnya dia sudah sangat ingin menangis sekarang.


“Bri, aku pusing.”


“Iya aku tahu.”


“Bri, aku ….


“Julia, apa kau punya linggis? Tolong ambilkan untukku. Aku perlu menumbuk tenggorokan pria menjengkelkan ini supaya dia bisa cepat bertemu dengan malaikat maut!”


Lu terkekeh pelan. Dan didetik selanjutnya Lu kehilangan kesadarannya. Dia sudah tidak mampu lagi menahan tekanan rasa sakit di kepalanya akibat melihat tali simpul yang terpasang di salah satu tas pengunjung café.

__ADS_1


***


__ADS_2