
Drrttt drrtttt
Getaran ponsel yang tergeletak di atas meja menyadarkan Lu yang sedang melamun. Segera diraihnya ponsel tersebut untuk melihat siapa yang menelpon.
“Julia?” gumam Lu lirih. Dia lalu mengangkat panggilan tersebut. “Halo, Julia. Ada apa? Tumben sekali kau menelpon. Apa Briana sedang ada bersamamu?”
“Ck, bisa tidak sih kau jangan langsung membahas tentang Briana dulu, Lu. Aku meluangkan waktu untuk menelpon karena aku ingin membahas hal penting denganmu. Bagaimana sih!” omel Julia tak terima. Setelahnya dia berdehem. “Ekhmm, begini Lu. Tentang uang transferanmu yang kelewat banyak itu aku ingin mengingatkanmu agar tidak memberitahu Briana soal ini. Kalau masalah video berisi aib itu Briana sudah tahu, dia bahkan sudah menghukumku juga. Akan tetapi kalau tentang tiga digit itu kita harus benar-benar merahasiakannya. Kau tahukan kalau wanita itu sangat amat mengerikan? Aku bisa mati muda kalau rahasia ini sampai bocor ke telinganya. Kau mengerti maksudku, bukan?”
Seulas senyum nampak menghiasi bibir Lu saat Julia membahas tentang video yang berisi sisi manis seorang Briana. Demi mendapatkan video itu, Lu sampai harus berhutang banyak pada Wildan. Tapi karena Julia adalah teman yang pengertian, Lu sama sekali tidak merasa menyesal karena sudah memberinya uang yang sangat banyak hanya untuk satu video saja. Dan sekarang Julia tiba-tiba menelpon lalu memintanya agar merahasiakan hal ini dari Briana. Menurut kalian mungkinkah Lu akan menyetujuinya? Hohoho, tentu saja tidak. Lu sangat menyukai Briana, sudah pasti yang membuat Briana tidak senang akan membuat Lu merasa tidak senang juga. Jadilah dia berniat membalas kejahilan Julia dengan meminta beberapa syarat kepadanya.
“Begini, Julia. Kau tahu bukan kalau di dunia ini tidak ada yang gratis? Nah, aku ingin melakukan tawar menawar denganmu. Kalau kau setuju, aku bersedia untuk tidak memberitahu Briana tentang tiga digit itu. Tapi kalau kau menolak, mungkin besok pagi kau akan di jadikan samsak tinju olehnya. Bagaimana?” tanya Lu seraya tersenyum penuh maksud. Dalam hati dia membatin tengah memberitahu Briana kalau dia telah membalaskan dendamnya pada Julia, gurunya yang mesum ini. Haha.
“Oh, jadi kau sedang mengancamku ya? Baiklah, aku setuju. Katakan saja syarat apa yang kau inginkan dariku. Selagi masuk akal dan tidak menyentuh masalah keuangan, semuanya pasti kulakukan. Sekarang bicaralah. Jangan terlalu lama membuang waktuku karena aku harus segera membersihkan wajah menggunakan produk perawatan yang baru saja kubeli semalam,” jawab Julia dengan entengnya setuju.
__ADS_1
“Aku ingin setiap hari kau mengirimiku satu video tentang Briana. Sekarang aku sedang dalam masa pengobatan, dan nama Briana selalu menjadi penguat saat aku merasa kesakitan. Jadi aku minta kerjasamamu dengan selalu membagi semua kegiatan yang Briana lakukan di café. Aku terlalu merindukannya sampai terkadang aku seperti akan gila. Kau maukan menolongku?”
Lu menoleh ke arah pintu kamar yang terbuka. Dia lalu menganggukkan kepala saat Wildan menyapa pelan. Seolah menjadi rutinitas Wildan, dia selalu datang berkunjung setiap kali pulang dari perusahaan. Terkadang Lu sampai berpikir keras mengapa bisa ada orang yang begitu setia seperti Wildan. Sungguh beruntung sekali orang yang menjadi atasannya.
“Deal. Itu syarat yang sangat mudah, Lu. Kau tenang saja. Fokus sembuhkan dirimu agar bisa secepatnya menemui Briana. Aku sudah tidak tahan melihatnya terus-terusan menggalau. Satu-satunya sahabat yang kumiliki sebentar lagi bisa masuk ke rumah sakit jiwa kalau kau terlalu lama berteman dengan amnesiamu itu. Dahh!”
Panggilan terputus sepihak setelah Julia menyanggupi persyaratan yang Lu minta. Setelah itu Lu menatap Wildan yang sedang berdiri di sisi ranjang.
“Saya sudah terbiasa bolak-balik rumah perusahaan, Tuan Gavriel. Lagipula tugas saya adalah memastikan semua kebutuhan anda tercukupi dengan baik. Jadi saya sama sekali tidak merasa lelah,” jawab Wildan sopan. Yang ini bukan sikap atasannya. Mungkin ini adalah sisi lain dari atasannya saat sedang dalam keadaan hilang ingatan. Teringat akan terapi hari ini, Wildan pun segera menanyakan bagaimana perkembangannya. “Oya, Tuan Gavriel. Bagaimana dengan terapi anda hari ini? Apakah anda berhasil mengingat sesuatu?”
“Yang aku lihat masih sama seperti yang waktu itu kulihat, Wil. Anak itu benar-benar ada dan aku yakin dia masih hidup. Walaupun hanya bayangan samar tapi aku jelas melihatnya pergi keluar dari bangunan itu. Semuanya nyata. Aku tidak bohong!” jawab Lu dengan mimik wajah yang begitu serius. Dia lalu kembali meyakinkan kalau apa yang dilihatnya itu adalah benar saat menyadari ada gurat keraguan di mata Wildan. “Wil, kali ini kau harus percaya padaku. Entah apa yang sebenarnya terjadi, tapi aku berani bertaruh kalau anak itu selamat. Apapun yang terjadi kau harus bisa mencaritahu keberadaannya. Aku ingin bertemu dengan anak laki-laki itu!”
“Tuan Gavriel, selain tentang keberadaan anak laki-laki itu apakah anda masih menyimpan ingatan lain tentang apa yang pernah kalian lakukan saat sedang di sekap? Maaf bukannya saya memaksakan anda untuk mengingat kejadian buruk itu. Saya hanya merasa aneh saja mengapa anak itu bisa muncul di dalam pikiran anda setelah dua puluh tahun terlewat. Dan seharusnya penyebab ingatan itu muncul adalah karena ada sesuatu hal penting yang terjadi di antara kalian. Jika bisa cobalah untuk mengingatnya, Tuan. Siapa tahu itu bisa menjadi petunjuk jalan untuk menemukan keberadaannya!” tanya Wildan mencoba mencari celah agar ingatan atasannya tidak terus-terusan terbelenggu oleh trauma masa lalu. Ini dia lakukan atas saran dokter karena menurut mereka atasannya ini pasti mneyimpan satu kenangan saat sedang berada dalam penyekapan. Namun karena trauma itu terlalu dalam mengenai kejiwaannya, ingatan tentang anak laki-laki itu baru muncul sekarang. Menurut kalian ini cukup masuk akal tidak?
__ADS_1
“Aku tidak tahu, Wil. Saat sedang di terapi aku sudah berusaha keras untuk menembus kabut gelap yang menutupi pandangan mataku. Namun yang muncul lagi-lagi tentang anak itu dan juga seorang pria gila pembunuh anak-anak. Dan saat aku memaksa untuk lebih dalam lagi masuk ke dalam kabut gelap itu, tiba-tiba saja kepalaku berdenyut seperti di hantam benda tumpul dengan sangat kuat. Lalu setelahnya aku tak tahu lagi apa yang terjadi sampai akhirnya aku sadar dan sudah berada di dalam kamar ini. Begitu!”
Aneh. Kenapa Tuan Gavriel terlihat biasa saja ya saat menceritakan masalah ini? Apa jangan-jangan memang benar kalau di antara beliau dengan anak laki-laki itu telah terjadi sesuatu yang membekas di hati? Ah, tapi itu tidak mungkin. Mereka masih anak-anak, mustahil mereka menyukai satu sama lain. Astaga, kenapa jadi membingungkan begini sih.
Tak mau membuat atasannya merasa bingung, Wildan memutuskan untuk menyemangatinya saja. Dengan begitu akan memudahkan Wildan mencaritahu siapa anak itu sebenarnya.
“Tuan Gavriel, apapun yang anda lihat di mimpi itu saya berharap anda bisa sesegera mungkin pulih dan sehat kembali seperti dulu. Selain karena Under Group sangat membutuhkan kehadiran anda, juga karena ada seseorang yang sedang menunggu kesembuhan anda. Kasihan Nona Briana jika harus menunggu anda terlalu lama. Walaupun dia galak dan bar-bar, tapi kecantikan Nona Briana cukup menarik perhatian. Saya takut Nona Briana di dekati pria lain jika anda terlalu lama membiarkannya. Jadi lekaslah pulih agar kalian bisa secepatnya bersama!”
Deg
Bagai tertohok duri, jantung Lu tiba-tiba saja berdenyut kuat saat membayangkan Briana yang sedang bersama pria lain. Tak mau itu terjadi, Lu segera meminta Wildan mencarikan cara bagaimana agar dia bisa pulih dengan cepat. Lu akan berusaha sekeras mungkin agar bisa segera menemui Briana dan mengenalkan pada semua orang kalau Briana adalah miliknya. Apapun yang terjadi Lu tidak akan membiarkan Briana jatuh ke pelukan pria lain. Tidak akan. Titik.
***
__ADS_1