Wanita Kesayangan Sang Presdir

Wanita Kesayangan Sang Presdir
Gunung Himalaya


__ADS_3

Hendar terus menatap Jenny yang terlihat sangat marah setelah gagal melabrak seseorang di tempat prostitusi. Tadi saat wanita ini meminta izin ingin mengajak lima puluh orang pengawal untuk menemaninya pergi ke tempat itu, rasanya jantung Hendar seperti berpindah ke belakang. Wanita yang selama ini dia kenal lemah lembut dan tidak menyukai kekerasan, tiba-tiba saja bertingkah seperti preman. Tentu saja hal ini membuat Hendar syok setengah mati. Kalian bayangkan saja. Wanita yang baru tersadar dari belenggu kejiwaan selama dua puluh tahun lamanya mendadak berubah menjadi sangat brutal semenjak berteman dengan dua wanita yang bernama Briana dan Julia. Tadinya Hendar tak mengizinkan Jenny untuk pergi. Tapi begitu melihat sorot matanya yang penuh aura permusuhan, dia akhirnya mengalah. Namun belum juga anak buahnya bekerja, Jenny mengabarkan kalau pelabrakan itu gagal dilakukan gara-gara kekasihnya Briana jatuh sakit. Aneh sekali, bukan? Astaga.


"Sayang, Briana itu sebenarnya siapa?" tanya Hendar memberanikan diri membuka percakapan.


"Putriku." Singkat Jenny menjawab. Dia lalu menoleh ke samping. "Dia unik, jadi aku menganggapnya sebagai anak. Kau keberatan?"


"T-tidak, tentu saja tidak. Kenapa juga aku harus keberatan kau menganggap Briana sebagai putrimu," sahut Hendar gelagapan mendengar gaya bicara Jenny yang begitu dingin. Astaga, istrinya kenapa jadi mengerikan begini sih. Hendar jadi takut.


"Kekasihnya Briana bernama Gavriel Anderson. Tadi siang dia di fitnah sedang bermain ranjang dengan seorang wanita berdada mercon. Kami bertiga lalu berencana menuntut tanggung jawab dari wanita itu, makanya aku menyewa lima puluh anak buahmu. Tapi sayang, Gavriel tiba-tiba jatuh sakit. Rencana kami jadi batal!" ucap Jenny penuh nada kekecewaan. "Padahal tadi aku sudah siap tempur. Aku bahkan sudah membagi tugas dengan Julia dan Briana. Huh, menyebalkan!"


Jadi Gavriel adalah pacar Briana? Kenapa bisa kebetulan begini ya. Aneh.


"Ekhmmm, kau punya foto wanita itu tidak?" tanya Hendar tak rela melihat istri kesayangannya gagal meraih kesenangan. Sebagai suami yang bertanggung jawab, Hendar rasa tidak ada salahnya kalau dia sedikit memberi bantuan.


"Aku tidak punya, tapi Briana punya!" jawab Jenny. Dia lalu mengerungkan kedua alisnya, merasa aneh mengapa Hendar tiba-tiba bertanya tentang foto wanita itu. Karena penasaran, Jenny memutuskan untuk bertanya. "Hendar, untuk apa kau menanyakan foto wanita itu? Jangan bilang kau ingin menggatal dengannya ya. Akan ku ajak Julia dan Briana untuk menghajarmu kalau kau berani macam-macam. Tahu!"


Biji mata Hendar hampir melompat keluar mendengar tuduhan Jenny. Yang benar saja. Tujuan dia menanyakan foto wanita itu adalah untuk membantu Jenny memelampiaskan kekesalannya yang gagal menyerang, tapi kenapa sekarang malah dia yang di ancam. Ini alur ceritanya bagaimana sih. Heran.


"Sayang, sampai mati hanya kau satu-satunya wanita yang ku cintai. Jadi tolong jangan pernah menuduhku ingin menggatal pada wanita lain ya? Itu sama sekali tidak benar!" ucap Hendar menyanggah tuduhan yang dilayangkan kepadanya.


"Lalu untuk apa kau menanyakan foto wanita itu?"


"Karena aku ingin melihatmu melaksanakan rencana yang tertunda. Bukankah tadi kau bilang kalian bertiga sudah berbagi tugas? Sekarang coba beritahu aku tugas apa yang Briana berikan untukmu. Aku janji begitu melihat fotonya, malam ini juga kau akan bertemu langsung dengan wanita itu!"


"Sungguh?"

__ADS_1


Mata Jenny berbinar terang. Kenapa dia tidak ingat ya kalau suaminya ini mempunyai koneksi yang sangat luas? Tahu begini tadi dia langsung saja meminta Hendar untuk mencari tahu keberadaan wanita itu. Dasar bodoh.


"Briana memerintahkan aku untuk menjambak rambut wanita itu sampai botak. Cukup setimpal dengan apa yang dia lakukan terhadap Gavriel!" ucap Jenny dengan penuh semangat.


Glukkkk


Hendar menelan ludah.


"Kau yakin akan menjambak rambutnya sampai botak?" tanya Hendar memastikan.


"Iyalah. Briana mengizinkan kok. Kenapa memangnya?" sahut Jenny sewot.


"Kalau begitu kau mintakan foto wanita itu pada Briana. Aku akan menghubungi teman-temanku dulu untuk meminta bantuan mereka!"


Jenny mengangguk. Segera dia menghubungi Briana guna memintanya mengirim foto wanita berdada mercon itu. Di detik ini Jenny benar-benar melupakan ketakutannya akan Hendar yang bisa saja mengetahui siapa Briana sebenarnya. Jenny terlalu kesal karena gagal memberi pelajaran pada wanita yang lancang ingin menjadi pelakor dalam hubungan putri kesayangannya.


"Briana, tolong kau kirimkan foto wanita itu ke ponselku ya. Rencananya malam ini juga aku akan memberinya pelajaran. Kau fokus merawat kekasihmu saja, yang lain biar aku yang urus. Oke?" sahut Jenny dengan nada suara yang sangat lembut.


"Oke. Jangan lupa minta seseorang merekam aksimu saat membotaki rambut wanita itu. Sebagai gantinya besok aku akan mentraktirmu makan-makan. Sudah ya, Julia membuat ulah!"


Klik. Panggilan terputus. Tak lama setelah itu sebuah pesan masuk ke ponselnya Jenny. Segera Jenny menunjukkan foto itu kepada Hendar.


"Lihat, menjijikkan sekali bukan? Bisa-bisanya wanita ini mempunyai dada sebesar gunung Himalaya. Menurutmu ini asli atau berisi silikon?" tanya Jenny penasaran.


"Maaf sayang, aku buta. Jadi aku tidak bisa melihat apakah itu gunung Himalaya yang terbuat dari silikon atau asli pemberian Tuhan!" jawab Hendar langsung tanggap akan pertanyaan menjebak tersebut. Bisa panjang urusannya nanti jika dia sampai salah menjawab. Jadi berpura-pura buta adalah alternatif terbaik untuk melindungi nyawa. Biasalah para wanita. Hem.

__ADS_1


Jenny terkekeh. Dia merasa terhibur mendengar cara Hendar menjawab. Walau puluhan tahun diabaikan tanpa mendapat nafkah batin, tidak di sangka Hendar masih begitu setia kepadanya. Mungkin jika hal ini terjadi pada laki-laki lain, Jenny berani bertaruh kalau laki-laki itu pasti sudah sibuk celab-celub di sana sini.


"Hendar, kalau kau berhasil menemukan keberadaan wanita itu dan membawaku pergi ke sana, nanti malam aku akan memberimu jatah yang sudah dua puluh tahun terakhir tidak kau dapatkan. Itupun jika kau mau. Kalau tidak ....


Belum juga Jenny menyelesaikan perkataannya, Hendar sudah dulu menyela. Melihat hal itupun Jenny jadi malu sendiri. Untung dia bicara dengan suara lirih. Kalau kuat, bisa di jamin reaksi pria ini akan jauh lebih heboh lagi. Dasar laki-laki.


"Perintahkan semua orang untuk mencari keberadaan wanita pemilik gunung Himalaya itu dan harus menemukannya malam ini juga. Jika gagal, maka bersiaplah masuk ke lubang kubur. Mengerti!" perintah Hendar pada anak buahnya yang sedang mengemudikan mobil. Dia menyela perkataan Jenny dengan penuh semangat. Jelas semangatlah. Meski sekarang dirinya sudah tua, tapi stamina dan keinginan untuk bercinta masih berkobar kuat di dalam diri Hendar. Makanya tadi dia langsung memotong perkataan Jenny begitu istrinya ini menjanjikan akan memberinya jatah. Hehe.


"Mengerti, Tuan Hendar!"


Sambil terus mengemudi, si penjaga menghubungi salah satu temannya lalu menyampaikan pesan dari bosnya. Hendar yang melihat hal itupun segera menoleh ke samping. Dia menyeringai melihat wajah Jenny yang sedikit bersemu merah.


Bahkan di usia kami yang sudah tidak muda lagi Jenny masih terlihat begitu cantik. Dua puluh tahun lebih sudah terlewat tanpa sekalipun aku menyentuhnya. Kira-kira milik Jenny menjadi sempit tidak ya? Ah, jadi tidak sabar ingin segera pulang ke rumah. Hehehe.


"Aku tahu apa yang sedang kau pikirkan sekarang, Hendar. Jangan mesum," bisik Jenny sambil mencubit pinggang suaminya. Cara tersenyum pria ini terlalu kentara untuk tidak mengetahui niat jahat apa yang tersembunyi di dalam hati. Hmmmm.


"Mesum pada istri sendiri bukannya tidak dosa ya?" celetuk Hendar sembari meng*lum senyum. Seperti inilah Jenny yang dia kenal. Lembut, sedikit malu-malu kucing, juga berani menantang.


"Memang tidak dosa, tapi itu sedikit memalukan. Kita inikan sudah tua, jadi berpikirlah yang sewajarnya saja. Tahu?"


"Selama wanitanya adalah dirimu, maka aku tidak akan bisa berpikir sewajarnya saja, sayang. Aku terlalu mencintaimu, juga sangat memuja semua benda kenyal yang menempel di tubuhmu. Sungguh!"


Omongan vulgar Hendar sukses membuat Jenny memalingkan muka ke arah lain. Benar-benar ya suaminya ini. Apa Hendar lupa kalau di mobil tidak hanya ada mereka berdua saja. Kelewatan.


Apa ini yang dinamakan tua-tua keladi, makin tua makin jadi? Astaga.

__ADS_1


***


__ADS_2