Wanita Kesayangan Sang Presdir

Wanita Kesayangan Sang Presdir
Galau


__ADS_3

Jika di mobil Erzan sedang menikmati kebahagiaan karena akan segera terbebas dari pekerjaan kantor yang tidak ada habisnya, di café ada Julia yang sedang meratapi nasibnya akibat menghadapi kegalauan Briana. Sejak Lu dibawa pergi, sejak saat itu pula Julia selalu menjadi sasaran kemarahan gadis galak satu ini. Julia bahkan sampai lupa kalau dia adalah pemilik café saking sibuknya menggantikan pekerjaan di sini. Aneh sekali bukan? Dunia seakan langsung terbalik begitu Lu dibawa pergi oleh Erzan dan Wildan. Dan mau tidak mau Julia yang harus merasakan getahnya.


“Haih, kalau saja aku tidak memikirkan harta warisan milik Lu, aku pasti tidak akan membiarkan mereka membawanya pergi dari sini. Gara-gara mereka, sekarang aku sampai seperti kipas angin yang berputar ke sana kemari. Sebentar lagi kakiku pasti akan membesar seperti batang kelapa. Hufttt!” keluh Julia sambil meletakkan nampan berisi piring kotor ke tempat cucian piring. Setelah itu dia menoleh ke belakang, berdecak kesal melihat Briana yang sedang duduk melamun sambil bertopang dagu. “Aku yang di tinggal Wildan saja sama sekali tidak merasa galau, tapi kenapa Briana terlihat seperti orang yang sedang sekarat? Heran.”


Sambil terus menggerutu, Julia memutuskan untuk menghampiri Briana saja. Dia kemudian duduk di sebelahnya, membiarkan beberapa tamu mengomel karena Julia tak kunjung memberikan menu makanan pada mereka. “Bri, kalau kau sedih di tinggal pergi oleh Lu, setidaknya kau jangan sampai mati di sinilah. Aku tidak mau bangkrut ya gara-gara tidak ada tamu yang mau datang kemari karena takut pada arwahmu yang penasaran.”


Mendengar perkataan Julia yang penuh dengan nada sindiran, sontak membuat Briana menoleh lalu memicingkan mata. Dengan tatapan tajamnya, Briana balas menyindir Julia. “Kau tidak perlu khawatir. Kalau aku memang ingin membuat usahamu bangkrut, aku tinggal mengangkut orang-orang yang mati penasaran lalu aku pindahkan makamnya ke depan café ini. Setelah itu aku akan gantung diri di depan pintu café agar aku menjadi ketua dari para hantu yang penasaran. Bagaimana? Ideku spesial sekali bukan?”


Hehe, kalian pasti penasaran bukan seperti apa reaksi Julia mendengar omongan Briana yang gila itu? Andai bisa dilihat, kalian pasti akan menyaksikan ruh Julia yang keluar perlahan lewat ubun-ubunnya. Dia kelewat syok mendengar niatan Briana yang ingin memindahkan makam orang yang mati penasaran ke depan cafe miliknya. Kalau saja bukan orang normal yang bicara, Julia pasti tidak akan sekaget ini. Akan tetapi Briana? Astaga.


“Kenapa diam hah? Kaget?” olok Briana seraya menyeringai tipis. Dia puas sekali melihat ekpresi kaget di wajah Julia. “Itu akibatnya kalau kau berani mencari masalah dengan singa yang sedang tidur. Syok ‘kan?”


“Yakkk Briana, aku sungguh baru tahu ada manusia gila sejenis dirimu. Kau sudah sinting apa bagaimana hah ingin memindahkan makam orang-orang ke depan cafeku? Kau tidak sedang mempermainkan aku bukan?” sahut Julia balas bertanya. Dia lalu mengusap wajah saat mendengar suara teriakan pelanggan yang menyebut kalau café miliknya layak untuk di tutup paksa gara-gara pelayanannya yang sangat buruk.


Merasa terganggu dengan suara teriakan pengunjung café, Briana langsung bangun dari duduknya kemudian berjalan menghampiri pengunjung tersebut. Seraya menampilkan senyum mautnya, Briana pun bertanya masalah apa yang terjadi.


“Permiis, Tuan. Kalau boleh tahu kenapa kau menyumpahi café ini agar bangkrut ya? Apa kau tidak takut kalau makanan yang sudah terlanjur masuk ke dalam mulutmu akan berubah menjadi racun?” tanya Briana dengan sopan.

__ADS_1


“Nona Briana, aku bukan baru sekali ini menjadi pengunjung di café milik Nona Julia. Akan tetapi baru kali ini aku mendapat perlakuan yang sangat buruk dari kalian. Menu yang aku pesan adalah makanan pedas, aku butuh minumanku untuk menghilangkan rasa pedasnya. Tapi apa yang kalian lakukan hah? Apa kalian berdua berniat membunuhku secara perlahan? Iya?” jawab si tamu sambil berkacak pinggang saat memarahi Briana.


“Apa kau harus sampai bicara sekasar itu, hah?”


“Tentu saja harus. Kalian jangan lupa ya kalau pembeli adalah raja. Jadi kalau kalian merasa sudah tidak sanggup melayani raja ini, lebih baik kalian tutup cafenya saja. Tahu kau?!”


“Hahaha, apa kau bilang? Raja?” ucap Briana sambil tertawa kencang. Setelah itu Briana melakukan sesuatu yang membuat nyawa semua orang seperti berpindah ke alam lain.


“YAAAAAAAAAAKKKKKKKKKKKKKKKK!!!”


“Yak kau coba bicara sekali lagi. Aku ingin lihat apakah setelah itu mulutmu masih bisa di gunakan untuk bicara atau tidak. Dasar sialan. Berani sekali kau ya menyebut dirimu sebagai raja di hadapanku? Kalaupun benar pembeli adalah raja, maka aku dan Julia adalah dewanya karena kami yang menyediakan makanan. Mau apa kau hah!” amuk Briana dengan emosi yang meluap-luap. Kesal sekali dia melihat keangkuhan di diri pengunjung café ini. Membuat darah orang mendidih saja.


“No-Nona Briana, kenapa suaramu kencang sekali? Anakku sampai tersedak mendengar suaramu barusan,” ucap seorang tamu yang sedang sibuk memberikan minum untuk anaknya.


Terdengar helaan nafas pelan dari mulut Briana saat dia mendengar ada pengunjung café yang mengeluh. Julia yang melihat hal itupun segera mendatangi si tamu bersama anaknya kemudian menjelaskan kalau kejiwaan Briana sedang tidak baik-baik saja. Tak lupa juga Julia meminta maaf karena kelakuan sahabatnya sudah membuat anak tamu itu terkejut. Karena tak mau citra cafenya memburuk, Julia berinisiatif untuk membiarkan tamu tersebut untuk tidak membayar makanan yang di pesannya. Dan begitu Julia menyatakan kalau makanan itu gratis, tamu tersebut langsung memperlihatkan senyum yang sangat lebar. Seketika Julia merasa menyesal.


Brengsek. Ternyata semua orang itu sama saja. Sama-sama buta akan uang dan barang gratis. Eh, kenapa aku membatin begitu ya? Bukankah ini artinya aku sama saja dengan mereka? Kan aku sedang menantikan warisan dari Lu. Ya ampun, aku jadi malu sendiri.

__ADS_1


Sementara itu Briana, dia terus saja memelototi pengunjung café yang masih diam membeku di tempatnya berdiri. Kesal karena tak ada tanggapan, Briana akhirnya pergi dari sana. Dia kemudian duduk di kursi kasir lalu menjadikan kedua tangannya sebagai bantalan kepala.


“Lu, kenapa rasanya ada yang aneh ya saat kau tidak ada di sini. Aku merasa seperti kehilangan musuh bebuyutan yang selama ini selalu membuat urat leherku menegang kaku. Kira-kira sekarang kau sedang apa ya sekarang? Apa mungkin kau sedang membuat urat leher Wildan dan Erzan menegang kaku seperti yang sering kau laku kan padaku? Hmmm, semoga saja,” gumam Briana lirih.


“Astaga, bisa-bisanya ya jin betina itu kembali menggalau setelah meneriaki tamu café sampai hampir mati di tempat? Haihhh, benar-benar mengerikan efek patah hati. Semoga saja aku tidak akan pernah mengalami hal begini karena jatuh cinta pada Wildan. Jikapun benar sampai terjadi padaku, aku bersumpah akan langsung naik ke ranjangnya Wildan kemudian memfitnahnya telah melakukan wik-wik denganku. Dengan begitu selamanya Wildan tidak akan pernah meninggalkan aku,” ujar Julia seraya menggelengkan kepala melihat kelakuan Briana. Dia kemudian pergi menghampirinya.


Briana melengos. “Jangan menggangguku kalau kau tidak mau sepatuku melayang masuk ke dalam mulutmu. Tahu kau?”


“Bri, kuberitahu kau satu pesan penting dalam dunia percintaan ya. Dengarkan baik-baik petuah dari sahabatmu ini!” sahut Julia dengan sombongnya. Dia kemudian berdehem sebelum lanjut berbicara. “Di dunia ini wajar hukumnya untuk seseorang merasakan jatuh cinta. Namun dalam setiap keputusan yang kita ambil, kita wajib untuk mengetahui kalau ada sebab dan juga akibat yang bisa terjadi. Dan yang sedang kau alami sekarang adalah akibat dari jatuh cinta itu sendiri. Kau mau tahu tidak bagaimana cara untuk menyudahi kegalauanmu ini?”


“Apa itu?” tanya Briana agak penasaran. Namun dia merasa sedikit was-was, agak menyiapkan mental karena sahabatnya ini cukup berbeda pemikirannya.


“Kau takut kehilangan Lu bukan? Jika iya, aku sarankan sebaiknya sekarang kau pergi menyusulnya saja lalu katakan kalau kau sedang berbadan dua. Dengan begitu kalian pasti akan langsung dinikahkan oleh keluarganya Lu yang kaya raya itu. Ideku keren sekali bukan?”


Para pengunjung café langsung lari berhamburan keluar setelah meninggalkan uang di atas meja masing-masing begitu melihat Briana dan Julia bergulat. Memang agak-agak pemilik dan juga pekerja di café ini. Mereka sama sekali tidak mempedulikan kesehatan mental para pengunjung yang syok melihat kelakuan mereka. Namun karena rata-rata dari mereka sudah cukup mengenal kegilaan Julia dan Briana, jadi mereka langsung bersikap biasa saja begitu keluar dari dalam café. Ingin heran tapi itu adalah Julia dan Briana. Jadi ya sudah, anggap tidak pernah terjadi apa-apa. 😂


***

__ADS_1


__ADS_2