Wanita Kesayangan Sang Presdir

Wanita Kesayangan Sang Presdir
Melabrak


__ADS_3

Briana, Julia, dan juga Nyonya Jenny saat ini sedang rapat akbar bertiga. Setelah Wildan menyebutkan kalau dirinya tidak tahu di mana wanita berdada mercon itu tinggal, ketiga wanita ini memutuskan untuk mencarinya sendiri. Mereka sepakat tidak mau menganggap foto editan itu sebagai sesuatu yang bisa dengan mudah dimaafkan. Jadi mereka akan menyatukan kekuatan untuk mencari tahu di mana wanita itu berada. Heh.


"Kira-kira wanita itu keluar dari klan mana ya? Mungkin tidak kalau sebenarnya dia itu adalah wanita panggilan?" ucap Jenny sambil menatap bergantian ke arah Julia dan Briana. Dadanya seperti terbakar api ketika mengetahui kekasih putrinya di dekati pelakor. Karena dulu Jenny pernah gagal melindungi Briana kecil, sekarang dia bertekad untuk selalu pasang badan setiap kali ada yang ingin mengusik hidup putrinya. Jenny sudah tidak peduli lagi akan di anggap gila karena pada dasarnya dia memang pernah menjadi orang gila dua puluh tahun lalu. Jadi dia tidak akan memusingkan anggapan orang lain lagi. Masa bodo. Omongan orang tidak bisa membuat hidupnya dan juga hidup putrinya menjadi baik-baik saja.


Julia cengo mendengar ucapan Nyonya Jenny yang menyebut kalau wanita berdada mercon itu sebagai klan dari wanita panggilan. Jujur, kosakata ini terasa aneh, tapi cukup menggelitik.


"Bisa saja anggapanmu itu benar, Nyonya. Lihat saja gaya berpakaian wanita ini. Seharusnya dia malu berpose telanjang bersama seorang pria, bukan malah memamerkannya pada orang lain!" sahut Briana sambil memperlihatkan foto pasangan yang menyeret nama kekasihnya. Jengkel sekali dia. Lu-nya masih suci, Briana bahkan belum mencicipinya. Masa iya wanita itu sudah mengetesnya lebih dulu. Tidak terimalah Briana. Enak saja.


"Apa kita grebek saja semua tempat-tempat prostitusi sampai kita bisa mendapatkan wanita itu? Mau tidak kalian?"


"A-APA? MENGGREBEK TEMPAT PROSTITUSI?"


Syok. Kali ini jantung Briana dan Julia benar-benar pindah posisi. Segila-gilanya mereka, mereka juga tidak akan mungkin terpikir ke arah sana. Sebutannya saja sudah tempat prostitusi, otomatis tempat seperti itu di jaga dengan sangat ketat oleh para penjaga. Bisa mati babak belur mereka bertiga jika tetap nekad datang ke sana. Bagaimana sih.


"Kalian takut?"


"Nyonya Jenny, pernah tidak kau mendengar ada orang yang mau menjatuhkan diri ke dalam kobaran api? Kalau pernah, bisa tolong sebutkan siapa orang itu?" tanya Julia dengan ekpresi wajah yang begitu datar. Dia tidak tahu harus menunjukkan ekpresi seperti apa dalam merespon kegilaan wanita ini. Sungguh.


"Tidak pernahlah. Sudah gila apa orang ini," jawab Jenny tak paham akan maksud Julia.


"Kalau begitu ayo kita pergi menggerebek tempat prostitusi. Setelah itu baru kau akan mendengar ada tiga wanita gila yang dengan suka rela menceburkan diri ke dalam kobaran api neraka!"


Jeda sejenak. Julia lalu menarik nafas dalam-dalam sebelum menghembuskannya dengan kuat. Dia sedang berusaha menyerap kesabaran yang tertinggal di diri Briana. Walaupun hanya suprit.


"Nyonya, aku tahu kau pernah depresi gara-gara memikirkan putramu yang hilang. Tapi tidak begini juga caranya!" ucap Briana frustasi sendiri. "Kau harusnya berpikir dulu sebelum mengajak kami melakukan sesuatu. Di sana, di tempat yang di sebut prostitusi itu, kita bertiga bisa mati konyol jika nekad membuat ulah. Memangnya Nyonya tidak tahu ya kalau tempat seperti itu selalu di jaga ketat oleh banyak pria-pria berbadan besar?"

__ADS_1


"Suamiku punya banyak anak buah, jadi kalian tidak perlu takut. Sebutan saja berapa truk yang kalian mau, aku akan menyediakannya secara GRATIS. Yang penting kita bisa segera menemukan keberadaan wanita itu kemudian meminta pertanggung jawaban darinya!" sahut Jenny dengan santainya.


Rahang Julia dan Briana hampir saja jatuh ke tanah setelah mendengar perkataan Nyonya Jenny. Mereka tidak menyangka kalau suami dari wanita ini ternyata memiliki anak buah yang begitu banyak.


Jangan-jangan suaminya Nyonya Jenny adalah seorang mafia, makanya dia bisa mempunyai anak buah sebanyak itu. Tapi jika di pikir-pikir ada untungnya juga sih berteman dengan istri mafia. Kalau terjadi apa-apa tinggal meminta bantuan dari geng mereka saja. Hehehe.


Julia tidak tahu kalau dia bukan hanya akan berteman dengan istri mafia, tapi juga akan menjadi sahabat dari anak mafia. Hmmm, tinggal menunggu waktunya tiba saja kapan rahasia ini akan terbongkar.


"Julia, Briana, bagaimana? Apa kita jadi melabrak wanita itu di tempat prostitusi?" tanya Jenny memastikan.


"Ekhmmm, kalau aku sih mau-mau saja. Kan nanti kita akan membawa banyak penjaga. Jadi aman," sahut Julia dengan lagak soknya. Dia lalu beralih menatap Briana. "Kau sendiri bagaimana, Bri? Aku dan Nyonya Jenny siap berperang demi membela keadilan untukmu. Kau mau tidak melabrak wanita itu?"


"Ya jelas maulah. Memangnya wanita mana yang akan diam saja melihat kekasihnya di fitnah. Bukan Briana namanya kalau tidak bisa mematahkan gigi wanita itu!" seru Briana dengan semangat yang berapi-api.


"Sekalian saja letuskan mercon kebesaran di dada wanita itu, Bri!" Julia kembali mengompori.


"Ogeehhh!" sahut Julia sambil mengacungkan kedua jempol tangannya.


"Lalu aku, apa yang harus aku lakukan di sana?" tanya Jenny yang belum menerima perintah. Ya kali dia cuma menonton saja. Tidak serulah.


Ingat kalau Nyonya Jenny belum menerima bagian, Briana nampak bertopang dagu sambil mengerutkan kening. Dia menimang-nimang pekerjaan apa yang cocok untuk wanita ini.


Nyonya Jenny sedang sakit, dia bisa mati kalau terlalu kelelahan. Apa aku minta dia untuk merekam saja ya? Iya benar ini saja. Lagipula Nyonya Jenny kan sudah membantu menyewakan para penjaga, ya kali aku masih mau memeras tenaganya juga. Kan kasihan.


"Nyonya, begini saja. Karena kau sudah berbaik hati meminjamkan para penjaga untuk mengawal kita, aku tugaskan kau untuk merekam semua yang terjadi di sana nanti. Aku perlu membuat laporan pada kekasihku kalau aku tidak akan tinggal diam melihatnya di fitnah. Oke?"

__ADS_1


"Jadi aku hanya akan menjadi kameramen saja ya?" Agak kecewa Jenny. Padahal dia ingin sekali mendapat bagian untuk menjambak rambut wanita gatal itu. Jenny tidak suka milik putrinya di usik.


"Hanya itu pekerjaan yang tersisa," jawab Briana. Dia lalu menghela nafas saat mendapati raut murung di wajah wanita ini. Tahu kalau Nyonya Jenny kurang puas dengan pembagian tugas yang dia beri, Briana memutuskan untuk bertanya tugas apa yang di inginkan olehnya. "Ekhmmm, atau begini saja, Nyonya. Kau punya keinginan lain tidak soal wanita itu?"


Dengan cepat Jenny mengangguk.


"Apa?"


"Menjambak rambutnya sampai botak!"


"Di terima!" seru Julia dengan lantang. Dia lalu menunjuk Nyonya Jenny sambil mengedipkan sebelah matanya. "Kau yang terbaik, Nyonya Jenny. Aku suka kebrutalan!"


"Aku juga mulai menyukainya setelah mengenal kalian. Pokoknya malam ini kita bantai habis wanita itu. Oke?" sahut Jenny mengikuti gerakan yang di buat oleh Julia.


Sementara Briana, dia nampak santai-santai saja mendengar rencana jahat yang ingin dilakukan oleh Nyonya Jenny dan Julia. Inilah akibatnya jika lancang mengusik ketenangan kekasihnya. Sudah tahu Lu sedang sakit, berani-beraninya wanita itu melakukan fitnah keji. Kalau Lu sampai hilang ingatan lagi bagaimana? Briana bisa jadi perawan tua nanti. Haihhh.


"Karena sekarang semuanya sudah deal, aku mau pamit pulang sebentar. Aku perlu mengabari suamiku dulu kalau kita ingin meminjam anak buahnya sebentar. Emmm, kira-kira berapa truk yang harus di bawa?" tanya Jenny terlalu antusias.


"Tidak pakai truk juga kali, Nyonya Jenny. Cukup sekitar dua puluh penjaga saja. Benar tidak, Bri?" sahut Julia.


"Tambah. Bawa lima puluh orang. Semakin banyak penjaga yang ikut, maka akan semakin keren juga performa kita. Jangan lupa kalau di tempat seperti itu banyak bandit. Kita bisa mati di sana jika sampai kalah dalam hal keamanan!" ucap Briana menolak hanya mengajak sedikit penjaga.


"Baiklah. Kalau begitu aku pergi dulu. Kalian jangan kemana-mana ya?"


Julia dan Briana kompak mengangguk. Mereka melambaikan tangan saat Nyonya Jenny pergi meninggalkan cafe.

__ADS_1


Seram ya bestie 😝😝😝😝


***


__ADS_2