Wanita Kesayangan Sang Presdir

Wanita Kesayangan Sang Presdir
Keluarga Kaya


__ADS_3

📢📢📢 BESTIE, JANGAN LUPA DUKUNGANNYA YA SUPAYA JOVAN DAN NANIA BISA MENANG DI LOMBA DI YOU ARE A WRITER SEASON 8. OKE 💜💜💜



***


Khawatir akan keadaan Lu, Julia akhirnya memutuskan untuk menutup cafenya saja. Dia tak tega membiarkan Briana sendirian menjaga Lu di rumah sakit. Tadi saat Lu pingsan sebenarnya Julia ingin ikut pergi menemani Briana, tapi dilarang. Alasannya konyol. Briana tak mau Julia jatuh miskin karena membuang waktu dengan percuma. Padahal saat bicara seperti itu Briana sendiri sedang menangis, tapi tetap saja keras kepala. Jadi ya sudah di sinilah Julia sekarang, menjaga café seorang diri dengan perasaan cemas dan juga tak tenang.


“Hmmmm, aku jamin sekarang mata Briana pasti sudah sebesar kelapa hijau karena kelelahan menangis. Lagipula siapa suruh dia sok kuat. Menderita sendirikan dia akhirnya,” gumam Julia sembari memasukkan semua uang ke dalam dompetnya.


Setelah itu sekali lagi Julia memastikan kalau semua api di dapur sudah padam. Dia bisa di panggang hidup-hidup oleh Briana jika cafenya sampai terbakar. Terkadang Julia sampai heran dengan dirinya sendiri. Café inikan miliknya, tapi entah kenapa malah Briana yang selalu khawatir terjadi sesuatu di sini. Jika ditanya apa alasannya, jawabannya membuat Julia sesak nafas.


“Aku tidak mau kehilangan pekerjaan. Dan juga jika cafemu sampai bangkrut, bebanku pasti akan bertambah karena kau pasti akan selalu datang meminta makan padaku. Jadi kau harus memastikan cafe ini baik-baik saja atau kau akan berhadapan denganku. Mengerti?”


Kurang lebih seperti itulah jawaban Briana setiap kali Julia bertanya penyebab mengapa dia begitu mengkhawatirkan cafenya. Sungguh jawaban yang sangat membagongkan sekali bukan? Tapi itulah Briana, gadis galak dengan segala keunikan yang membuat banyak orang menghela nafas panjang. Terutama Julia.


“Oke, semuanya sudah aman. Sekarang waktunya pergi ke rumah sakit. Du du du du,” ucap Julia sambil bersenandung riang.


Namun, sepertinya kali ini Julia harus kembali menahan keinginan hati untuk menyusul Lu dan Briana di rumah sakit. Saat dia hendak mengunci pintu café, seseorang tiba-tiba menyapanya. Segera Julia berbalik menghadap ke belakang untuk melihat siapa yang barusaja bicara.


“Permisi, Nona. Bolehkah saya bertanya?” tanya Wildan dengan sopan. Dia kemudian tersenyum saat wanita yang berdiri di hadapannya menatapnya lekat.


“Siapa kalian?” sahut Julia malah balik bertanya. Dia lalu memperhatikan penampilan dua pria tampan di hadapannya. Jika yang tadi bertanya pada Julia memiliki kesan sopan dan image pria baik-baik, lain halnya dengan kesan yang Julia lihat pada pria yang satunya lagi. Caranya tersenyum terlihat seperti psikopat gila, juga dengan bentuk wajahnya yang terlihat sedikit tidak asing. Julia lalu membatin.

__ADS_1


Kenapa pria ini mirip dengan Lu ya? Apa jangan-jangan mereka kembar? Ah mustahil. Lu begitu bodoh, tidak mungkin dia memiliki saudara setampan pria ini. Tapi … Lu juga memiliki spek ketampanan seperti titisan Dewa Yunani. Apa mungkin mereka ini benar-benar kembar?


“Nona, halo. Nona?” panggil Wildan sambil mengibas-ngibaskan tangan ke depan wajah wanita yang kini tengah melamun. “Halo, Nona. Kau baik-baik saja?”


“Nona, dimana kakakku?” tanya Erzan tak sabar. Giginya sudah hampir kering karena terus tersenyum sejak tadi.


“Kakak?” beo Julia bingung. Setelah itu Julia menghela nafas. “Tuan-Tuan, aku tahu kalian itu tampan. Dan aku yakin mata kalian itu tidak buta. Iya ‘kan?”


“Maksudnya apa, Nona?” sahut Erzan bingung.


“Lihat. Ini café, bukan tempat penampungan. Jadi aku mana tahu dimana kakakmu. Dasar aneh!” omel Julia tak habis pikir.


Pagi tadi dia sudah di buat bingung oleh dua orang pria yang menanyakan tentang Gavriel, sekarang datang lagi dua orang pria yang juga menanyakan tentang seseorang. Julia sungguh heran sekali kenapa hari ini ada banyak sekali orang hilang. Apa mungkin para polisi hanya tidur di pos mereka sampai-sampai tidak tahu ada banyak orang kehilangan anggota keluarganya. Haih.


“Ehmmm, Nona. Maaf sebelumnya. Perkenalkan saya Wildan, dan ini Tuan Erzan. Pagi tadi ada dua anak buah saya yang datang mengawasi tempat di sekitar sini. Dan menurut laporan anak buah saya orang yang sedang kami cari bekerja di cafe anda,” ucap Wildan dengan sopan memperkenalkan diri. Sehati-hati mungkin Wildan bicara agar tidak menyinggung wanita ini. Dia masih ingat pesan dari anak buahnya yang mengatakan kalau wanita di café ini lumayan berbahaya. Jadi tidak ada salahnya untuk berhati-hati bukan?. “Apa benar dua bulan lalu ada pria hilang ingatan yang menyasar kemari? Pria itu bernama Tuan Gavriel, atasan saya dan juga kakaknya Tuan Erzan.”


Julia menelan ludah. Fiks, Lu orang kaya. Hahha, Julia jadi girang sendiri jadinya. Ternyata dugaannya memang benar kalau Lu merupakan orang yang berasal dari keluarga kaya raya. Tidak sia-sia Briana menampungnya selama ini. Plot twistnya sangat amat tidak terduga sekali bukan?


“Dua bulan lalu memang ada pria idiot yang bekerja disini, tapi bukan aku yang di temuinya. Melainkan sahabatku, Briana. Karena pria itu tidak bisa mengingat apa-apa kami akhirnya memanggilnya dengan sebutan Lu. Lu, si lupa ingatan. Tapi sekarang Lu dan Briana sedang tidak ada disini. Mereka pergi ke rumah sakit dua jam yang lalu karena Lu mendadak pingsan,” ucap Julia menceritakan tentang Lu sambil tersenyum lebar sekali. Harus menampilkan image gadis baik-baik agar nantinya Julia bisa ikut kecipratan hartanya Lu. Cita-citanya mulia sekali bukan? Hohoho, tentu saja.


“Apa? Di rumah sakit?” pekik Erzan kaget. Dia kemudian mencengkeram kuat bahu wanita si pemilik café. “Nona, kakakku baik-baik saja ‘kan? Kenapa dia bisa pingsan? Apa ada orang yang menyakitinya? Tolong beritahu aku sekarang, Nona.”


“Eh, eh itu … Lu,” ….

__ADS_1


Julia sesak nafas. Bukan karena takut, tapi dia syok saat pria bernama Erzan ini tiba-tiba mencengkeram bahunya. Sungguh sialan sekali. Di saat genting begini entah kenapa pikiran 21++ Julia lenyap tak berbekas. Sebagai gadis yang masih suci luar dalam, tentu saja perlakuan Erzan sangatlah mengejutkan bagi Julia. Selama inikan dia tidak pernah berhubungan sampai sedekat ini dengan pria manapun. Julia hanya hebat dalam mengompori Lu saja. Kalau tentang pengalaman, nihil. Nol besar nilainya.


“Nona, ayo cepat bicara. Kenapa kakakku bisa berada di rumah sakit!” desak Erzan tak sabaran.


“Tuan Erzan, kau terlalu kuat memegang bahu Nona ini. Kau menyakitinya!” tegur Wildan seraya menghela nafas.


“Oh, maaf. Aku tidak sengaja,” sahut Erzan kemudian buru-buru melepaskan tangannya. Dia lalu mundur ke belakang.


Julia berdehem. Dia lalu mengusap pelan bahunya yang barusaja terbebas dari sentuhan tangan Erzan. Sialan, kenapa jantungnya malah melompat kesana kemari saat Erzan menatapnya.


Apa aku terkena syndrome langka ya? Aneh sekali.


Wildan dan Erzan berusaha sabar menunggu si pemilik café yang malah tersenyum-senyum tidak jelas di hadapan mereka. Bingung, itu sudah pasti. Tapi tidak ada yang bisa mereka lakukan selain sabar menunggunya bicara. Demi pria yang sedang lupa ingatan, begitu pikir mereka.


“Sebelum bicara aku akan memperkenalkan nama dulu agar kita canggung. Namaku Julia, temannya Lu. Tadi saat Lu sedang melayani pengunjung café, datang dua orang wanita gatal yang memang sedang gencar mendekatinya. Awalnya tidak terjadi apa-apa, tapi saat Briana sedang mengomeli kedua wanita itu tiba-tiba saja Lu berteriak kesakitan sambil memegangi kepalanya. Dia lalu berkata tidak jelas sambil menunjuk tas yang di pakai oleh salah satu wanita gatal itu. Tak lama kemudian Lu pingsan saat kami ingin membawanya ke rumah sakit. Begitu,” ucap Julia menceritakan kronologi kejadian dengan sangat detail.


Erzan langsung menoleh menatap Wildan setelah mendengar cerita Julia. Dan mereka langsung tahu penyebab kenapa Gavriel bisa tiba-tiba pingsan. Pasti karena tali simpul. Gavriel pingsan karena rasa traumanya kembali tergugah saat mendapati ada tali simpul di tas orang lain. Ya, pasti ini penyebabnya. Khawatir dengan keadaannya, Erzan pun meminta Julia agar memberitahukan di rumah sakit mana kakaknya dirawat.


“Nona Julia, bisakah kau memberitahu kami dimana alamat rumah sakitnya?”


“Tentu saja bisa. Dan kebetulan aku juga akan pergi kesana. Bagaimana kalau kita berangkat bersama-sama saja? Mau tidak?” jawab Julia seraya tersenyum semringah.


“Baiklah. Kalau begitu ayo berangkat,” sahut Erzan kemudian mempersilakan Julia agar berjalan lebih dulu. Tak lupa juga dia menunjukkan dimana mobilnya berada.

__ADS_1


Hehe, Briana. Lihatlah betapa beruntungnya aku sekarang. Kau yang susah payah merawat Lu, tapi malah aku yang lebih dulu duduk di dalam mobil mewahnya Erzan. Hahay, kau pasti akan merasa sangat iri jika mengetahui hal ini. Hum, aku jadi tidak sabar ingin segera mengompor-ngomporimu. Xixixi.


***


__ADS_2