Wanita Kesayangan Sang Presdir

Wanita Kesayangan Sang Presdir
Banteng Galak


__ADS_3

"Hei Nona Briana, kau baik-baik saja bukan?" tanya seorang wanita seraya menampilkan mimik wajah penuh rasa penasaran. Dia terus menatap lekat pada seorang gadis yang tengah berdiri mematung di depan mesin pencapit boneka.


"Apa di matamu aku terlihat sakit?" sahut Briana malah balik bertanya. Dia kemudian menarik nafas sedalam mungkin sebelum menoleh dan menatap datar ke arah seseorang yang baru saja melayangkan pertanyaan. "Anggota tubuhku masih utuh dan aku juga masih bernafas. Bukankah seharusnya itu sudah cukup menjadi jawaban atas rasa penasaranmu, Nyonya?"


"Haih, kau ini ya. Kalau untuk masalah itu aku juga tahu. Akan tetapi yang aku maksudkan bukan tentang anggota tubuhmu dan juga bukan tentang nafasmu. Bagaimana sih!"


"Lalu apa maksudmu?"


"Ruhmu,"


"Ruh?"


Briana membeo. Jujur, kali ini otaknya langsung berhenti beroperasi karena dia bingung mengapa wanita ini tiba-tiba menyinggung tentang ruh. Aneh sekali. Apa jangan-jangan wanita ini sedang berhalusinasi tentang dunia alam baka? Makanya dia menyinggung tentang ruh. Hmmmmm.


"Nyonya, bisakah kau bicara dengan kata-kata yang mudah dimengerti oleh manusia? Omonganmu barusan membuatku bingung dan berpikir keras. Sungguh," tanya Briana.


"Ya ampun, masih belum paham juga kau ternyata. Aku bertanya seperti itu karena mengkhawatirkan keadaanmu. Ragamu memang ada di sini, tapi pikiranmu melayang entah kemana. Kau sadar tidak kalau kau itu sudah berdiri di sana hampir satu jam lamanya? Pemilik toko yang memberitahuku!" jawab si wanita menjelaskan tentang maksud di balik pertanyaannya.


"A-APA?? SATU JAM?"


Suara teriakan Briana sukses membuat beberapa orang terkejut kemudian menatapnya heran. Tanpa merasa bersalah sama sekali, Briana langsung berlari pergi dari sana. Bagaimana bisa dia melakukan tindakan konyol dengan berdiri selama satu jam di depan mesin pencapit boneka hanya karena dia teringat kenangan lucu bersama Lu saat bermain di sini. Ini gila, benar-benar sangat gila.


“Astaga, Briana. Kau itu kenapa sih. Apa sebegitu rindunya pada Lu sampai-sampai kau tidak sadar telah melakukan tindakan yang memalukan? Sadar, Bri. Lu sudah kembali ke keluarganya, kau tidak boleh memikirkannya lagi,” ucap Briana setelah sampai di depan rumahnya. Sedetik setelah itu Briana berjongkok, meras aneh dengan dirinya sendiri. “Sadar Briana. Kau tidak mempunyai hak apapun untuk memikirkan Lu. Bukankah sebelumnya kau baik-baik saja saat hidup sendirian? Ayo lakukan itu dan yakinkan dirimu kalau kau bisa tanpa harus memikirkan Lu. Oke?”


Setelah berkata demikian Briana menguatkan kakinya untuk berdiri. Namun, dia langsung lesu saat kembali terbayang dengan sikap manisnya Lu ketika membuka dan memakaikan sepatu untuknya. Jantung Briana serasa tertusuk duri tajam ketika bayangan manis itu tak henti melintas di dalam pikirannya.


“Sial. Apa jangan-jangan Lu sengaja menciptakan kenangan manis di rumah ini dengan maksud ingin membalasku saat keluarganya datang menjemput? Brengsek sekali dia. Tahu begitu aku tidak akan membiarkannya membuka sepatu dan memakaikannya di kakiku. Hufttt!” kesal Briana sambil mengusap matanya yang terasa memanas. Dia lalu menatap telapak tangannya yang terasa lembab. “Ini air mata atau keringat ya? Kenapa telapak tanganku bisa basah begini. Aneh.”

__ADS_1


Mungkin terlalu munafik untuk seorang Briana mengakui kalau saat ini dirinya tengah bersedih hati karena di tinggal oleh pria yang telah menemaninya selama dua bulan. Jelas-jelas dia tak kuat menahan tangis karena teringat semua kebersamaanya dengan Lu di rumah ini, tapi dia malah memplesetkannya dengan berpura-pura tidak sadar kalau dia sedang menangis. Lawak sekali bukan? Untung saja Julia tidak ada di sini. Kalau ada, olok-olokan Julia pasti akan membuat ubun-ubun Briana mengeluarkan asap. Biasalah, sahabatnya yang minim akan rasa kemanusiaan itu pasti akan langsung memborbardir Briana dengan ejekan yang sangat menyentuh jiwa.


“Hiksss, sekarang kenapa lagi dengan mataku. Apa mungkin bendungan airmatanya jebol? Menjijikkan sekali,” gumam Briana yang mulai terisak lirih. Sungguh, rasa rindu ini begitu menyiksa. Membuat Brian seakan sulit bernafas.


“BRIANA!!”


Hampir saja Briana terjungkal ke depan karena terkejut mendengar seseorang berteriak memanggilnya dengan begitu kencang. Tak mau ketahuan kalau dirinya sedang menangis, cepat-cepat Briana menyeka wajah menggunakan lengan bajunya kemudian menyedot ingus agar kembali masuk ke dalam hidung. Setelah itu Briana buru-buru berdiri kemudian berbalik menghadap belakang.


Julia? Mau apa dia malam-malam ke sini? Dia tidak mungkin tidur sambil berjalan bukan?


“Ah akhirnya sampai juga aku di rumahmu. Hufttt,” ucap Julia sembari tersenyum lebar. Dia lalu mengangkat kantong plastik yang di bawanya. “Malam ini ayo kita minum sampai puas. Sebagai sahabat sejati, aku tidak akan membiarkanmu bersedih hati seorang diri. Sekarang cepat buka pintunya dan biarkan aku masuk ke dalam. Cepat!”


“Ya Julia, kau bilang apa barusan? Bersedih hati? Heyyy!!!” kesal Briana sambil berkacak pinggang. “Hati-hati kau ya kalau bicara. Sembarangan menyebut orang sedang bersedih hati. Kau pikir aku ini anak remaja yang sedang putus cinta apa bagaimana, hah?!”


Julia langsung memicingkan mata begitu Briana mengomelinya. Tak heran akan kemunafikannya, Julia melayangkan satu sindiran yang mana membuat Briana langsung diam dengan mulut terkatup rapat.


“Mulutmu boleh saja tidak mengakuinya, Briana. Akan tetapi ingusmu dan juga bekas air mata di wajahmu cukup menjadi bukti kalau kau sedang meratapi kesedihan karena teringat kebersamaanmu dengan Lu di rumah ini. Iya ‘kan?”


“Kenapa diam, hem? Tidak bisa menemukan alasan untuk mengelak dari perkataanku ya?” ledek Julia sambil menaik-turunkan kedua alisnya.


“Bisa diam tidak?” sahut Briana. Dia lalu mendengus kasar sambil menepis tangan Julia yang terus saja menoel dagunya. “Kalau masih tak mau diam, jangan salahkan aku kalau malam ini aku akan mengikatmu di batang pohon lalu meletakkan sarang serangga agar besok pagi tubuhmu bentol-bentol semua. Mau kau?”


Tanpa banyak berkata lagi Julia langsung diam di tempat begitu mendengar ancaman mengerikan yang dilontarkan oleh sahabatnya. Setelah itu Julia mengikuti Briana yang kini tengah melepas sepatu sebelum membuka pintu rumah.


Ceklek


“Terserah kau mau melakukan apa. Aku mau mandi dulu,” ucap Briana lesu sambil melemparkan tasnya ke atas ranjang. Di hadapan Julia, Briana dengan santainya melucuti pakaian hingga tersisa stelan pakaian dalam saja. Sudah hal biasa, jadi Briana tidak merasa canggung sedikitpun. Lagipula Julia juga pernah melakukan sesuatu yang lebih parah daripada ini. Ettssss, jangan di bayangkan ya? Efek sampingnya bisa membuat penghuni kebun binatang bangun semua. 😎

__ADS_1


Julia tampak mengomel tidak jelas saat wajahnya terkena lemparan kaos kaki milik Briana. Mencoba untuk maklum kalau kejiwaan sahabatnya sedang tidak baik-baik saja, Julia segera menata minuman dan juga cemilan yang tadi dia bawa ke atas meja. Setelah itu pandangan Julia terpaku pada satu kemeja hitam yang tergantung di samping lemari. Dia lalu menggumam.


“Hmmm, kalau jejaknya Lu saja sudah memenuhi setiap sudut rumah ini, aku yakin Briana pasti akan semakin menggalau. Setiap waktu yang dia lewati pasti akan terasa sepi karena musuh bebuyutannya sudah tidak ada di sini lagi. Kasihan. Untung aku dan Wildan tidak begitu. Kalau iya, aku rasa aku juga akan menggalau seperti wanita galak itu!”


“Bicara apa kau!”


“Astaga!” pekik Julia kaget. Dia lalu menatap jengkel ke arah Briana yang sedang berdiri di depan pintu kamar mandi. “Bri, kau sudah gila apa bagaimana. Bilangnya ingin mandi, tapi kenapa kau malah berpose p*rno dengan hanya memakai pakaian dalam seperti itu? Maaf ya, aku ini wanita normal. Jadi aku sama sekali tidak akan tergoda dengan tubuhmu. Tahu kau?”


Briana menghele nafas pelan. “Julia, kau pernah bertemu dengan nenek gayung belum?”


“Belum,” jawab Julia dengan jujur.


“Kalau begitu mendekatlah padaku. Aku akan mengirimmu pergi ke suatu tempat yang mana bisa membuatmu bertemu dengan si nenek gayung. Kemarilah!”


Kenapa perasaanku jadi tidak enak ya? Nenek gayung itukan setan, lalu bagaimana cara Briana mempertemukan kami? Briana tidak mungkin ingin membunuhku kan? Ya ampun, dia psychopath sekali ternyata.


“Hehe, Briana. Terima kasih banyak atas tawaran baikmu. Tapi maaf, aku menolak untuk bertemu dengan nenek gayung. Aku masih ingin hidup, Briana,” rengek Julia.


“Oh, ternyata kau sadar ya kalau nenek gayung itu adalah setan?” sinis Briana.


“Tentu saja aku sangat sadar,”


“Kalau memang sadar lalu kenapa kau bisa berpikiran kalau aku sedang menggodamu hah? Kau ini ya. Meski dunia ini kiamat sekalipun, aku tidak akan pernah sudi berpacaran dengan wanita sepertimu. Jadi tolong berhentilah berpikir kalau aku adalah orang yang tidak normal. Atau aku akan benar-benar mengirimmu pergi ke tempat nenek gayung berada. Paham?!”


“Pa ….


Braaaakkkkk

__ADS_1


“Astaga jantungku!” ujar Julia berjengit kaget saat Briana menutup pintu kamar mandi dengan sangat kuat. Dia kemudian mengelus dada. “Ternyata orang yang sedang patah hati itu sangatlah mengerikan. Briana sekarang jadi terlihat seperti banteng bertanduk yang barusaja melahirkan seekor anak banteng. Sangat garang dan menyeramkan. Lebih baik aku tidak mencari masalah dulu dengannya atau aku akan menjadi perkedel di tangan sahabatku sendiri. Hiiii!”


***


__ADS_2