
Malam sudah cukup larut, tapi di sebuah kamar masih terlihat ada orang yang belum terlelap. Orang ini terus berdiri di depan jendela kamar yang terbuka, tak mengindahkan sapuan angin mengenai wajah dan tubuhnya. Cuaca sedang dingin, sebenarnya. Tapi hal tersebut tak membuat orang ini bergeming dari lamunan. Sepertinya ada sesuatu hal penting tengah mengganggu pikiran hingga membuatnya bersikap demikian.
“Briana, itu jelas adalah kau. Pantas aku kesulitan mengingat nama itu. Ternyata saat kita di sekap, kau memperkenalkan diri dengan nama Kellen. Ya, Kellen. Seorang wanita yang sepertinya dipaksa mengaku sebagai pria. Tapi kenapa?”
Setelah siang tadi Lu pingsan sebelum sempat melakukan terapi, sebuah mimpi aneh tiba-tiba muncul di kepalanya. Alam bawah sadar Lu membawanya melihat langsung kejadian demi kejadian yang selama ini membuat hidupnya menderita. Di dalam mimpi itu, Lu melihat dengan sangat jelas bagaimana seorang pria dengan begitu brutal menyiksa dan menghabisi puluhan anak-anak dengan cara yang begitu keji. Lalu di sana ada dua orang anak laki-laki yang terus berpelukan sambil menjerit histeris setiap kali pria itu bertindak. Gavriel dan Kellen. Sepasang bocah berusia sepuluh dan lima tahun, duduk meringkuk dengan wajah pucat pasi ketika diminta menyaksikan adegan di mana seorang anak dijerat lehernya menggunakan tali simpul kemudian di gantung hingga mati. Coba bayangkan. Jika kalian yang berada di posisi Gavriel dan Kellen, kira-kira apa yang akan kalian lakukan? Di jamin kalian pasti jatuh pingsan. Namun di bawah gertakan pria itu, Gavriel dan Kellen mampu mempertahankan kesadaran mereka hingga penyiksaan itu selesai dilakukan. Dalam keadaan takut, mereka berbaring di lantai sambil terus memeluk. Dari sanalah Lu akhirnya ingat mengapa pelukan Briana seperti tidak asing. Ternyata oh ternyata. Mereka berdua sama-sama pernah menjadi korban penculikan keji dua puluh tahun silam.
Aku ingat semuanya sekarang. Namaku Gavriel Anderson. Aku mengidap penyakit langka dimana aku akan selalu hilang ingatan setiap kali melihat benda yang mengingatkan pada kejadian itu. Tapi sekarang, sekarang ingatanku sudah pulih dan aku telah menemukan obatnya. Briana, dia orangnya.
“Sayang, bisikan yang waktu itu aku dengar ternyata adalah cara Tuhan mempertemukan kita. Kalau saja malam itu aku tetap berada di rumah sakit, kita berdua pasti tidak akan pernah bertemu. Penculikan yang terjadi dua puluh tahun silam telah mempertemukan kita sebagai Gavriel dan Kellen, tapi penyakit amnesia ini telah mempertemukan kita kembali sebagai Lu dan Briana. Tidakkah menurutmu kisah kita sangatlah manis? Tuhan kembali mempertemukan kita untuk menyelesaikan urusan yang belum sepenuhnya usai. Aku ingat waktu itu aku pernah berjanji kalau aku akan menikahimu jika kita sama-sama berhasil bertahan hidup. Dan sekarang Tuhan benar-benar ingin aku menepati janji itu. Astaga, ini luar biasa!” gumam Gavriel yang akhirnya berhasil sembuh dari penyakit amnesia. Setelah itu Gavriel mengusap wajahnya sambil terkekeh, tak mengira kalau kisah hidupnya akan menjadi seindah ini. “Janji yang kuucapkan tanpa sadar telah membawaku bertemu dengan pasangan hidupku. Tunggu aku, Briana. Setelah aku menemukan alasan mengapa dulu kau menggunakan nama Kellen, aku akan langsung datang untuk mempersuntingmu. Janji yang telah kita buat akan segera kuwujudkan. Bersabarlah!”
Setelah berkata seperti itu Gavriel mengambil ponsel di atas meja. Karena ponsel ini adalah milik Wildan, dia segera mencari nomor kontak dengan namanya sendiri. Gavriel kemudian kembali berdiri di depan jendela sembari menunggu Wildan menjawab panggilan.
“Halo Tuan, selamat malam. Apakah ada yang perlu saya bantu?”
Suara serak khas orang bangun tidur langsung menyapa indra pendengaran Gavriel. Dia kemudian tersenyum, puas karena kewaspadaan Wildan terus terjaga meski sekarang adalah waktu untuk beristirahat.
“Wildan, semua ingatanku sudah kembali. Bahkan sekarang aku bisa mengingat dengan jelas satu persatu kejadian penculikan waktu itu. Tujuanku menghubungimu hanya untuk memberitahukan kalau Briana adalah benar anaknya Tuan Hendar dan Nyonya Jenny. Dia bukan yatim piatu!” ucap Gavriel dengan tenang. “Namun, kau harus membantuku memecahkan satu masalah lagi. Ini tentang mengapa mereka mengaku hanya memiliki putra, bukan putri. Aku yakin pasti ada rahasia besar yang di sembunyikan oleh mereka. Kau harus membantuku!”
Hening. Tidak ada suara apapun dari dalam telepon setelah Gavriel mengatakan kalau dia telah sembuh sepenuhnya. Gavriel kemudian mengerutkan kening saat Wildan sama sekali tak merespon perintahnya. Penasaran, diapun segera melihat layar ponsel. Panggilan jelas masih terhubung, tapi kenapa sama sekali tak terdengar suara Wildan? Signal erorkah? Atau Wildan yang terlalu kaget? Gavriel jadi bingung.
“Wil, apa kau masih ada di sana?” tanya Gavriel memastikan.
__ADS_1
“Hahhhhhhhh, Tuan maaf, saya terlalu kaget mendengar perkataan anda. Otak saya sampai bleng,” ucap Wildan sambil membuang nafas dengan kuat. “Tuan Gavriel, yang anda katakan barusan bukan suatu kebohongan, kan? Anda … ingatan anda benar-benar sudah pulih sepenuhnya? Anda sudah tidak sakit lagi? Iyakah? Ya ampun, saya senang sekali mendengar kabar baik ini, Tuan. Sungguh!”
“Ya, kau benar. Gara-gara aku pingsan sekarang aku jadi bisa mengingat semuanya,” sahut Gavriel sambil tersenyum kecil. Dia maklum akan respon lelet Wildan yang ternyata diam karena terlalu kaget. Sadar kalau hari sudah malam, diapun memutuskan untuk berbicara singkat saja. “Kalau bisa besok pagi kau datanglah sedikit lebih awal. Ada banyak sekali tugas yang harus kita selesaikan selain urusan kantor. Dan untuk masalah kesembuhanku, aku minta kau jangan memberitahu Erzan dulu. Biarkan dia sedikit lama menderita karena beban perusahaan sebelum nanti dia kembali menjadi petani. Dia harus merasakan betapa susahnya menyandang nama sebagai bagian dari keluarga Anderson. Selama inikan dia sudah cukup happy-happy, jadi aku rasa sedikit memberinya pelajaran tidaklah melanggar peraturan!”
Dari dalam telepon Wildan langsung mengiyakan keinginan atasannya tanpa banyak membantah. Helaan nafas panjang terus saja terdengar, seolah ingin memberitahu udara kalau dia merasa lega karena atasannya sudah kembali sehat.
“Karena hari sudah malam kau sebaiknya kembalilah tidur. Aku minta maaf karena sudah mengganggu istirahatmu. Selamat malam!” pamit Gavriel sesaat sebelum dia mematikan panggilan.
Karena belum mengantuk, Gavriel memutuskan untuk keluar kamar. Tak lupa dia mengantongi pita rambut milik Briana guna meredam perasaan rindu yang selalu membuncah. Sambil tersenyum samar, Gavriel berjalan menuruni anak tangga. Dan ketika dia hendak berbelok menuju dapur, perhatiannya tertahan oleh keberadaan seseorang yang tengah terlelap dengan posisi kepala terjuntai di pinggiran sofa. Erzan, adiknya ketiduran.
“Semenderita itu kau menghadapi tekanan di perusahaan?” cibir Gavriel sambil menahan tawa. Dia melangkah perlahan kemudian berjongkok tepat di sebelah kepala adiknya. “Tapi melihatmu seperti ini aku jadi tidak rela melepaskan begitu saja. Maaf, Erzan. Sepertinya kau masih harus bertahan dengan tidak menjadi gila dan mati muda. Aku memang sudah sembuh dan ingatanku kembali dengan sangat sempurna. Namun, aku tidak akan membagi kabar bahagia ini kepada orang selain Wildan. Mengapa seperti itu? Karena aku ingin kau juga merasakan betapa berat beban yang selama ini ku tanggung. Kau begitu bahagia bukan saat sedang menjadi seorang petani? Maka kini tiba giliranku untuk merasakan kebahagiaan itu juga. Aku akan berkelana mencari keadilan untuk kekasihku. Dan kau? Kau akan kubiarkan sedikit membusuk di perusahaan. Hmmmm,”
“Ini aku, Lu. Jangan membuat gaduh,” ucap Gavriel sambil menahan tawa menyaksikan ekpresi kaget di wajah Erzan. Jelek sekali. Kalau ada Julia dan Briana, adiknya ini pasti akan di ejek habis-habisan oleh kedua wanita usil itu.
Dongkol, Erzan segera menepis tangan sang kakak yang masih membekap mulutnya kemudian dia duduk. Sambil mengusap wajahnya yang masih terselimuti rasa kantuk, Erzan memarahi pria yang kini sudah duduk di sebelahnya.
“Lain kali bisa tidak jangan mengagetiku seperti tadi, Kak. Kalau aku sampai terkena serangan jantung bagaimana? Iseng sekali!” tegur Erzan bersungut-sungut. Untung saja tadi jantungnya tidak terlempar keluar. Bisa jadi mayat dia. Huhh.
“Siapa suruh kau tertidur seperti itu. Aku pikir kau sudah mati tadi,” sahut Gavriel asal. Setelah itu Gavriel menepuk pundak Erzan seraya melayangkan pandangan iba. “Yang sabar ya. Kau pasti sangat tersiksa menggantikan posisi kakakmu di perusahaan. Aku turut prihatin.”
“Prihatin-prihatin, enak sekali kalau bicara. Sembuh Kak, sembuh. Ini sudah berbulan-bulan terlewat, masa masih belum ada perubahan di dirimu si, Kak. Ayolah, yang semangat berobatnya. Pikirkanlah aku yang sudah hampir mati kering karena mengurusi pekerjaanmu. Tolonglah!” Erzan menghiba. Hari ini jadwal sangat luar biasa padat sekali. Meeting dengan klien di perusahaan, kemudian pergi meninjau lokasi proyek, lalu kembali lagi ke perusahaan untuk memeriksa berkas. Siapalah yang tidak sekarat jika berada di posisinya Erzan sekarang. Dengan basicnya yang hanya seorang petani, sudah pasti tekanan pekerjaan berat ini membuat kepala Erzan serasa mau pecah. Kalau saja bunuh diri itu tidak dosa, Erzan pasti sudah menenggak cat tembok dari dua bulan yang lalu. Sungguh.
__ADS_1
Terdengar helaan nafas panjang dari mulutnya Gavriel saat dia mendengar keluhan Erzan. Wajar, dia yang seorang pembisnis saja ada kalanya merasa ingin menyerah saat pekerjaan datang beruntun. Jadi sudah tak mengherankan kalau adiknya sampai sefrustasi ini saat menggantikan posisinya di Under Group. Meski begitu, Gavriel tetap belum mau melepaskan adiknya kembali ke hobi semula. Dia masih ingin mengorbankan Erzan sampai semua permasalahan yang menimpa Briana berhasil terselesaikan. Hehe.
“Maafkan aku, Erzan. Aku sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi sampai sekarang aku masih belum bisa mendapatkan kembali ingatanku. Kadang-kadang aku jadi berpikir apa mungkin aku ini bukanlah bagian dari keluarga ini. Karena jika di pikir secara logika, mustahil aku tidak bisa mengingat apapun tentang masa laluku di saat aku sendiri rutin melakukan pengobatan. Menurutmu mungkin tidak kalau kalian telah salah menganggapku sebagai Gavriel?” ucap Gavriel sambil menahan tawa. Beruntung lampu rumah sudah dimatikan, jadi wajahnya hanya tersorot lampu remang-remang saja. Kalau lampu ruangan menyala dengan terang, Erzan pasti bisa melihat wajahnya yang memerah karena menahan tawa.
“Kami mana mungkin salah mengenali anggota keluarga kami sendiri, Kak. Astaga, ada-ada saja sih yang kau pikirkan. Memangnya kau tidak melihat foto keluarga kita yang tergantung indah di ruang tamu? Kau adalah Gavriel Anderson, kakaknya Erzan Anderson, putra sulung dari pasangan Helena dan Dary Anderson. Kau bukan orang lain, Kak Gavriel. Catat itu baik-baik ya!” sahut Erzan kaget mendengar pemikiran sang kakak. Dia kemudian diam merenung, merasa bersalah karena perkatannya tadi bisa saja yang menjadi penyebab kakaknya berpikir seperti itu. Tak mau terjadi hal yang tidak di inginkan, Erzan segera meminta sang kakak agar tidak berpikir macam-macam. “Kak, aku minta maaf karena sudah mengeluh terus padamu. Tapi mulai sekarang tolong fokus saja pada pengobatan. Aku janji aku tidak akan pernah lagi mendesak ataupun mengeluhkan tentang perusahaan saat sedang bersamamu. Kau saudaraku, bukan orang lain. Jadi jangan berpikir kami salah mengenali orang. Oke?”
Kedua sudut bibir Gavriel berkedut kencang saat Erzan terlihat panik. Sungguh lucu. Ternyata berpura-pura itu menyenangkan juga ya? Kita jadi bisa mengerjai orang sesuka hati tanpa takut ketahuan. Tak mau kebohongannya di sadari oleh Erzan, Gavriel memutuskan untuk pergi saja dari sana. Sekuat mungkin dia menahan diri agar tidak tertawa saat ingin berpamitan pada adiknya.
“Erzan, hari sudah larut. Kau sebaiknya segera masuk saja ke kamar. Aku mau ke dapur dulu sebentar,” ucap Gavriel sambil menahan nafas. Dia sampai menggeretakkan gigi supaya tidak tertawa.
“Mau apa kau ke dapur, Kak?” tanya Erzan curiga. “Kau tidak berniat mengambil pisau untuk bunuh diri, kan?”
“Tidak. Aku masih waras dan kalau bisa aku ingin berumur panjang supaya bisa bersama terus bersama Briana,” jawab Gavriel. “Aku haus. Ingin mengambil air minum dan membawanya ke dalam kamar.”
“Oh, begitu. Ya sudahlah. Aku mau ke kamar dulu, mau istirahat. Tubuhku sudah over kelelahan,” ucap Erzan kemudian bangkit dari duduknya. Sebelum pergi ke kamar, dia menatap lekat-lekat kakaknya yang sedang duduk sambil menundukkan kepala.
Aneh. Kenapa aku merasa kalau bahu Kak Gavriel bergetar seperti orang yang sedang menahan tawa ya? Ah, tidak mungkin. Pasti pandangan mataku yang tidak jelas karena lampu ruangan yang remang-remang. Sudahlah, lebih baik aku segera masuk ke kemar saja. Aku rindu bantal gulingku.
Tawa Gavriel akhirnya lepas juga begitu Erzan pergi dari hadapannya. Dan dia berusaha meredam suaranya dengan cara membenamkan wajah ke sofa. Sungguh, kebodohan adiknya benar-benar sangat menghibur. Padahal tadi Gavriel sempat merasa tegang saat Erzan memperhatikannya lekat sebelum pergi ke kamar. Ada-ada saja sih. Di sini adiknya yang bodoh atau dia yang terlalu jahil. Tapi apapun itu, Gavriel merasa terhibur sekali. Dia kemudian pergi ke dapur untuk mengambil air minum sebelum akhirnya kembali masuk ke dalam kamar dengan sudut bibir yang tak berhenti berkedut
***
__ADS_1