
Hendar yang baru saja datang tak sengaja melupakan makan malam yang sudah susah payah dia buatkan untuk Jenny. Segera dia kembali masuk ke dalam mobil untuk mengambil kotak makanan kemudian bejalan santai menuju tempat di mana istrinya berada.
Entah ada angin apa. Tiba-tiba saja istrinya itu berkata ingin membuka kedai minuman di tempat ini. Meski awalnya merasa khawatir, Hendar dengan sangat terpaksa akhirnya mengizinkan karena Jenny tak henti merengek sambil terus mengucapkan janji manis. Mencoba berpikir positif, Hendar meminta anak buahnya untuk segera membukakan kedai bintang lima lengkap dengan koki pilihan dan juga dua orang pelayan. Berkat kekayaan yang Hendar miliki, tidak butuh waktu lama kedai yang di inginkan oleh istrinya telah siap di gunakan. Dan di sinilah dia sekarang. Berniat menyusul istri kesayangan, sekaligus ingin ikut membantu di kedai yang baru mereka buka.
"Tuan Hendar, selamat malam," sapa dua orang penjaga sambil membungkukkan tubuh.
"Bagaimana? Apa kedai istriku ramai?" tanya Hendar.
"Sejak kedai di buka, baru ada dua orang pelanggan yang singgah untuk membeli. Dan sekarang Nyonya sedang asik berbincang dengan mereka," jawab penjaga melaporkan.
"Hanya dua?" Kening Hendar mengerut. "Kedai milik istriku selevel dengan restoran bintang lima. Bagaimana bisa hanya ada dua orang yang membeli? Ini tidak benar. Apa kalian telah melakukan sesuatu yang membuat orang-orang merasa takut?"
"Tidak seperti itu, Tuan Hendar. Kami dan para penjaga yang lain sama sekali tak melakukan apapun selain hanya mengawasi Nyonya dari kejauhan saja. Dan mengenai kenapa tidak ada orang yang datang membeli, kami rasa orang-orang itu takut tak mampu membayar. Di lokasi ini ada banyak sekali penjual makanan, tapi rata-rata dari mereka menjual dengan harga yang sesuai dengan kantong orang dari kelas menengah ke bawah. Sementara kedai milik Nyonya Jenny sendiri adalah yang paling mencolok dan juga paling mewah. Kami rasa ini yang menyebabkan orang-orang takut untuk mendekat, Tuan!"
Hendar menghela nafas. Yang di katakan penjaga ini ada benarnya juga. Karena takut istrinya merasa tak nyaman, Hendar langsung membeli tanah tempat kedai itu berdiri. Dia juga memerintahkan seseorang untuk menjadikan kedai itu terlihat terang dan juga mewah, tentunya dengan di isi barang-barang yang cukup mahal. Tapi sayang, Hendar lupa kalau tempat ini bukan berada di kawasan yang biasanya sering di kunjungi oleh orang-orang kaya. Wajar kalau kedai istrinya sepi pengunjung. Kasihan.
Tak mau membuat istrinya sedih, Hendar segera menghubungi bawahannya kemudian memintanya membuat brosur promo yang bisa menarik minat pembeli. Anggaplah dia sedang menyenangkan hati Jenny. Jadi apapun akan Hendar lakukan selagi itu bisa membuat wanita itu tersenyum bahagia.
"Buatkan brosur minuman paling menarik yang kau bisa. Dan jangan lupa cantumkan harga yang sangat ramah lingkungan. Buat semurah mungkin agar orang-orang tidak takut lagi untuk datang membeli!" perintah Hendar. "Aku tidak mau tahu. Besok pagi kedai istriku harus sudah ramai. Jika tidak, maka kau berhentilah saja dari pekerjaanmu. Aku tidak suka pada seseorang yang tidak becus menjalankan perintahku. Mengerti?"
"Baik, Tuan Hendar. Saya akan segera membuatkan brosur yang anda mau kemudian langsung menyebarkannya pada orang-orang. Dan saya berjanji besok pagi Nyonya Jenny akan sibuk melayani para pelanggan!"
__ADS_1
"Baiklah."
Hendar mematikan panggilan. Dari jarak yang sedikit jauh, dia memperhatikan bagaimana Jenny yang terlihat begitu senang saat berbincang dengan dua orang pelanggan pertamanya. Dan tanpa terasa mata Hendar berkaca-kaca. Setelah dua puluh tahun lebih dia melihat istrinya yang hanya diam tak mau bicara, akhirnya hari ini dia bisa melihat senyum itu lagi. Eh, bukan hari ini saja. Pokoknya sejak Jenny tiba-tiba kabur ke tempat ini, sikap wanita itu jadi berubah seratus delapan puluh derajat. Jenny jadi sering tersenyum, raut wajahnya tak lagi menampakkan kekosongan dan kesedihan, bahkan pagi tadi wanita itu sampai berani merengek padanya. Sudah pasti perubahan ini membuat Hendar merasa sangat amat bersyukur sekali. Dia bersumpah akan melakukan segala macam cara untuk mempertahankan kebahagiaan wanita itu. Karena sejak hilangnya Kellen, Hendar sadar kalau uang tidak bisa memberikan kebahagiaan. Adalah fakta kalau uang bisa menyelesaikan segalanya. Akan tetapi untuk kebahagiaan, uang bukanlah apa-apa.
Jenny, Kellen. Andai saja aku tidak egois dan lebih mementingkan kekayaan, saat ini kita bertiga pasti sedang tertawa bersama. Tolong maafkan pria yang serakah ini ya. Walaupun sudah sangat terlambat untuk memulai kembali, tapi aku bersumpah akan membahagiakan apa yang masih tersisa. Kellen mungkin sudah tidak ada, tapi aku masih punya Jenny. Dia harus bahagia sampai kami sama-sama pergi menyusul Kellen. Itu pasti.
Setelah membatin seperti itu Hendar memutuskan untuk menghampiri Jenny. Namun sebelum sempat dia sampai di sana, kedua pelanggan wanita sudah lebih dulu berpamitan pergi. Entah hanya perasaannya saja atau bagaimana, Hendar menangkap adanya kejanggalan dari cara menatap Jenny pada salah satu dari wanita tersebut. Bahkan saat keduanya pergi pun Jenny terus saja melayangkan tatapan aneh yang Hendar anggap sebagai tatapan penuh kerinduan. Ya, kerinduan.
"Jenny tidak mungkin berpaling pada wanita hanya karena terlalu kecewa padaku, kan?" gumam Hendar panik.
Sambil mer*mas pegangan kotak makanan yang di bawanya, Hendar berjalan cepat menghampiri Jenny yang masih betah menatap kepergian kedua wanita itu. Dan begitu sampai, Hendar langsung memeluknya dengan erat. Dia tak sanggup jika dugaannya sampai benar-benar terjadi di mana Jenny-nya telah jatuh cinta pada seorang wanita gara-gara luka lama yang telah mengurung perasaannya selama dua puluh tahun lebih. Hendar tak siap menerima hal tersebut.
"Sayang, siapa kedua wanita itu? Dan kenapa juga kau harus terlihat begitu memuja mereka. Apa kalian saling kenal?" cacar Hendar penuh nada cemburu. "Kau tidak mungkin memendam rasa pada salah satunya, kan?"
"Aku cemburu melihat caramu menatap salah satu dari wanita itu, sayang," jawab Hendar jujur. Wajahnya masam sekali. Hampir mengalahkan asamnya air jeruk nipis.
"Ya ampun, Hendar!" Jenny tertawa kencang. "Kau ini kenapa sih bisa berpikir seperti itu. Mereka bernama Julia dan Briana. Briana sendiri adalah orang yang malam itu menolongku. Tidak mungkinlah aku jatuh cinta padanya, sedang aku sendiri masih memiliki seorang suami. Jadi berhenti berpikir macam-macam tentang kami ya. Karena aku hanya akan mencintaimu seorang. Juga dengan ... Kellen. Cintaku pada kalian selamanya tidak akan pernah tergantikan. Sungguh!"
Maafkan aku, Hendar. Aku masih belum memiliki keberanian untuk memberitahumu kalau Briana adalah putri kita. Aku takut yang di katakan oleh Ayah dan Ibu benar-benar akan kau lakukan dengan menjual putri kita pada orang lain. Jadi biarkanlah seperti ini saja. Aku cukup bahagia bisa berdekatan dengan putri kita lewat cara seperti ini. Aku bahagia sekali.
"Owh, jadi dia ya wanita yang tiba-tiba membuat sikapmu berubah drastis?" tanya Hendar seraya menghela nafas lega. Hilang sudah ketakutannya yang mengira kalau Jenny telah berpaling ke lain hati. Fyuuhhh.
__ADS_1
"Iya benar, dia orangnya. Cantikkan?" jawab Jenny.
"Di mataku hanya kau seorang yang paling cantik. Selebihnya mereka hanya terlihat seperti nenek sihir dengan wajah peyot dan keriput di mana-mana!"
"Dasar,"
Hendar dan Jenny sama-sama tertawa karenanya. Ingat dengan apa yang Hendar bawa dari rumah, segera dia mengajak Jenny untuk makan malam bersama. Sekalian ingin memberitahu kalau mulai besok pagi di pastikan kedai akan menjadi sangat ramai.
"Jangan terlalu lelah. Kalau besok kau sudah merasa tidak kuat, tutup saja kedai ini kemudian beristirahatlah. Oke?" ucap Hendar sambil menyuapkan makanan ke dalam mulut Jenny. Dia terpaku saat wanita cantik ini menggerak-gerakkan tubuh seperti anak kecil saat mengunyah makanan.
"Emmmm, makanan ini enak sekali. Siapa yang buat?" tanya Jenny dengan suara yang sedikit kurang jelas. Mulutnya terlalu penuh.
"A-aku." Hendar tergagap saat menjawab.
"Sungguh?"
"Iya."
"Waaahhh, suamiku benar-benar sangat luar biasa. Dia yang paling bisa membuatku merasa bahagia!" puji Jenny sambil mengelus mesra pipi suaminya. "Hendar, terima kasih banyak ya sudah mau mencintai aku yang tidak sempurna ini. Aku bahagia sekali memiliki suami sepertimu. Sungguh!"
Hendar tak bisa berkata-kata. Dia memilih untuk kembali menyuapkan makanan ke dalam mulut Jenny. Walaupun usia mereka sudah tidak muda lagi, tapi getaran cinta itu masih terasa sangat kuat. Terbukti karena sekarang jantung Hendar berdetak lebih kencang dari biasanya setelah mendengar pujian dari istri tersayang. Anggaplah dia sedang puber kedua. Haha.
__ADS_1
***