
Di rumah sakit, terlihat Hendar duduk terdiam sambil memandangi Jenny yang masih belum sadar dari pingsan. Pikirannya kosong, tidak tahu harus merasa sedih atau bahagia. Fakta tentang anaknya yang ternyata adalah seorang perempuan membuat Hendar sangat syok sekali. Termasuk juga dengan kekejaman orangtuanya yang tega menekan Jenny hingga nekad menipunya. Di sini Hendar bukan sedang menyalahkan Jenny, bukan. Dia sangat amat paham dan bisa mengerti akan rasa takut yang dulu dirasakan oleh istrinya itu. Hanya saja Hendar masih terlalu kaget, hingga membuatnya jadi seperti ini.
Tok tok tok
Tak bergeming, Hendar tidak mempedulikan saat seseorang mengetuk pintu ruangan. Dia masa bodo ketika suara ketukan itu kembali terdengar.
"Ini bukan ruang jenazah, kan?" celetuk Julia saat pintu kamar yang diketuk oleh Lu tak kunjung dibuka.
"Akan menjadi ruang jenazah kalau kau yang menjadi mayatnya, Julia," sahut Briana tanpa menoleh. "Aku sarankan kau sebaiknya diam saja sebelum aku berubah pikiran lalu mengirimmu pergi ke meja operasi. Dokter magang pasti akan senang sekali jika mendapat pasien segar sepertimu!"
Julia cengo. Sedangkan Gavriel, dia tampak menahan tawa. Setelah itu Gavriel memutuskan untuk langsung masuk saja ke dalam. Dia yakin sekali kalau Tuan Hendar pasti sedang melamun setelah mengetahui rahasia yang di sembunyikan oleh Nyonya Jenny.
Ceklek
"Tuan Hendar, kami datang," ucap Gavriel.
Hening. Mafia itu sama sekali tak bergeming dari duduknya. Untuk pertama kalinya Julia dan Briana melihat langsung seperti apa rupa dari suami Nyonya Jenny. Walau tak lagi muda, tapi laki-laki ini terlihat begitu tampan. Dan hal ini membuat sesuatu yang aneh muncul di pikiran Julia.
"Kondisikan pikiran mesummu, Julia. Aku tahu kau sedang membayangkan yang tidak-tidak tentang suaminya Nyonya Jenny!" ucap Briana langsung menegur Julia. Dia sudah sangat hafal dengan kelakuan wanita satu ini.
"Ck, baru juga aku mau membatin. Kenapa kau cepat sekali tahu apa yang sedang ku pikirkan, Bri!" sungut Julia seraya mencebikkan bibir.
"Karena aku sahabatmu, bodoh!"
Briana menoleh. “Sekarang bukan waktunya untuk bercanda. Seriuslah sedikit. Tahu?”
Julia mengangguk. Dia lalu mengikuti Lu dan Briana yang sedang berjalan menuju ke arah Nyonya Jenny. Meskipun sikapnya sedikit tengil, diam-diam Julia terus memperhatikan pria tampan yang masih tak mempedulikan kehadiran mereka. Sedikit banyak wajah pria ini mirip dengan wajah Briana, apalagi tampang galaknya. Keyakinan Julia jadi makin bertambah besar kalau sahabatnya adalah benar anak dari pasangan suami istri ini.
“Tuan Hendar?” panggil Gavriel. “Aku datang bersama Julia dan Briana. Lihatlah.”
Deg
Bagai tersetrum aliran listrik, tiba-tiba saja tubuh Hendar menegang kuat saat mendengar nama yang di sebutkan oleh Gavriel. Briana, Brianandita … putrinya di sini? Benarkah? Saking Hendar terkejut akan hal itu, nafasnya sampai menjadi sesak. Dia ingin menoleh, menatap wajah anak gadisnya. Akan tetapi seperti ada sesuatu yang menahan kepalanya. Hendar hanya kaku di tempat.
“Lu, Tuan Hendar kenapa diam saja? Apa jangan-jangan dia kena stroke?” Briana heran.
“Bukan stroke, sayang. Tuan Hendar seperti itu karena dia kaget,” jawab Gavriel. Gara-gara di ejek oleh Julia, sekarang Gavriel memanggil Briana dengan sebutan sayang. Kekasihnya ini menolak di panggil dengan sebutan dari klan hewan.
__ADS_1
“Kaget?” Briana membeo. “Kaget kenapa? Perasaan kita bertiga datang secara baik-baik. Aneh.”
Saat Briana sedang bertanya-tanya, wanita yang tadinya masih belum sadarkan diri tiba-tiba melenguh. Sontak hal itu membuat semua orang bereaksi. Terkecuali Julia. Guru mesum itu malah sibuk memperhatikan tiga wajah secara bergilir. Mulai dari Briana, Tuan Hendar, juga Nyonya Jenny. Dirinya sedang memastikan sesuatu.
“Ughhhh, kepalaku,” ucap Jenny sembari memegangi kepalanya yang terasa pusing. Dia kemudian menoleh saat seseorang memegang tangannya. “B-Briana, kau di sini, sayang?”
Kening Briana mengerut. Ada apa ini? Kenapa cara Nyonya Jenny memanggil dan menatapnya terlihat berbeda sekali? Apa yang terjadi?
“Lu bilang kau pingsan dan dilarikan ke rumah sakit, Nyonya. Jadi aku dan Julia bergegas datang kemari untuk melihat keadaanmu,” sahiut Briana mencoba untuk mengesampingkan rasa penasarannya.
“Oh, tadi … tadi aku itu, apa namanya, Gavriel bilang ….
“Brianandita?” Hendar secara tak sadar memanggil nama panjang putrinya. Dia salah tingkah sendiri saat semua orang menatap ke arahnya. “M-maaf, aku hanya asal sebut saja. Jangan salah paham!”
“Salah paham?”
Julia bersedekap tangan. “Tuan Hendar, setelah ku perhatikan wajahmu itu sedikit banyak mirip dengan wajah Briana. Apa kalian satu aliran darah?”
“A-apa? M-maksudnya bagaimana?”
“Maksudku itu apakah mungkin antara kau dengan Briana terikat hubungan darah. Semacam hubungan Ayah dan anak mungkin,” jawab Julia memperjelas ucapannya. Mau bagaimana lagi, dia sudah tidak tahan ingin segera mengetahui apakah benar sahabatnya adalah anak mafia atau bukan. Jadi ya sudah, dia bongkar saja sekarang.
“Julia, kau ini bicara apa sih. Jangan melanturlah!” tegur Briana resah. Perasaannya jadi kurang nyaman.
“Melantur bagaimana. Kalau kau tidak percaya, tanyakan saja pada Lu. Kalian bertiga itu wajahnya saling mirip, cocok di sebut sebagai anak dan orangtua. Iyakan, Lu?”
Bukannya menjawab, Gavriel malah menatap Nyyonya Jenny. Dia memberi kode agar wanita ini segera membongkar kebenarannya di hadapan Briana sebelum kekasihnya ini merasa kesal. Gavriel jelas paham kalau Briana mempunyai titik emosi yang lumayan jelek, sama persis seperti ayah kandungnya. Makanya dia tak mau Nyonya Jenny terus mengulur waktu. Dia ingin agar masalah ini bisa secepatnya terselesaikan.
“Briana, bisakah kau duduk di sini?” tanya Jenny sembari menepuk kasur di sebelahnya. Dia tanggap akan kode yang di maksud oleh Gavriel.
Tanpa banyak bertanya Briana langsung menuruti keinginan Nyonya Jenny. Feelingnya mengatakan kalau perkataan Julia bukan lanturan biasa. Pasti ada sesuatu yang terjadi di sini. Dan itu ada hubungannya dengan ikatan darah di hidup suami istri ini.
“Maaf jika kata-kataku nanti membuatmu merasa kurang nyaman, tapi ini aku katakan sesuai dengan fakta yang sebenarnya,” ucap Jenny. Dadanya berdebar kuat sekali. Agar bisa lanjut berbicara, Jenny memberanikan diri meraih tangan Briana lalu menggenggamnya dengan erat. “Briana, yang di katakan oleh Julia adalah benar kalau di antara kau dan suamiku ada hubungan yang terikat. Kau … kau adalah putri suamiku, yang adalah putriku juga. Kau anak kami yang hilang sejak dua puluh tahun yang lalu, Briana. Sungguh!”
Kedua rahang Julia terbuka lebar hingga hampir menyentuh lantai begitu mendengar ucapan Nyonya Jenny. Dia sama sekali tak menyangka tebakannya ternyata benar kalau Briana adalah anak Nyonya Jenny yang hilang.
"Anak kalian?"
__ADS_1
Briana terkekeh. Amarahnya melonjak, tak percaya kalau Nyonya Jenny akan kembali membahas masalah ini. Mencoba untuk tetap sabar karena wanita ini baru saja sadar dari pingsan, Briana kembali menegaskan kalau kedua orangtua kandungnya sudah meninggal dunia. Dia tak mau posisi mereka di gantikan oleh orang lain.
"Nyonya Jenny, bukankah waktu itu aku sudah pernah memberitahumu kalau aku adalah seorang anak yatim piatu? Ayah dan Ibuku sudah meninggal sejak aku masih kecil, jadi tolong jangan bicara yang tidak-tidak di hadapanku karena aku tidak akan pernah membiarkan siapapun bisa menggantikan posisi mereka. Paham?"
"Tapi Bri, kami memang benar adalah orangtua kandungmu. Karena sesuatu hal, saat kecil aku memberimu nama Kellen Origan. Kau ingat tidak pertemuanmu bersama Gavriel? Saat itu kalian sama-sama menjadi korban penculikan yang terjadi dua puluh tahun silam. Waktu itu usiamu baru lima tahun. Dan ketika polisi berhasil menemukan keberadaan si penjahat, hanya kau satu-satunya korban yang tidak di temukan keberadaannya. Kau hilang tanpa bekas, Briana. Tolong percayalah!" sahut Jenny panik melihat penolakan di diri putrinya.
"Korban penculikan?" Briana membeo sambil mengerutkan kening. Dia lalu menoleh ke samping, menatap seksama ke arah Lu. "Jadi ini alasan kenapa kau terus menanyakan apakah dulu aku pernah menjadi korban penculikan atau tidak?"
Tahu kalau kekasihnya sedang emosi, Gavriel segera memeluknya dengan erat. Tangannya bergerak mengelus rambutnya, mencoba meredam kemarahan Briana yang menolak menerima fakta kalau Tuan Hendar dan Nyonya Jenny adalah orangtua kandungnya.
"Sayang, aku tahu kau kaget mendengar hal ini. Akan tetapi ketahuilah, aku sama sekali tidak ada niat untuk membuatmu merasa kecewa. Sejak aku di bawa pulang oleh Wildan dan Erzan, sejak saat itu nama Kellen selalu muncul di pikiranku. Aku penasaran, lalu mulai menyelidiki masalah ini. Dan di saat yang bersamaan Nyonya Jenny dan Tuan Hendar muncul, yang mana membuat aku merasa yakin kalau kau mempunyai hubungan dengan mereka. Karenanya aku mulai mengatur kesempatan untuk memastikan apakah benar kau adalah anak mereka atau bukan. Dan tadi akhirnya semua rasa penasaranku terjawab. Mereka adalah benar orangtua kandungmu!" ucap Gavriel dengan sabar menjelaskan agar tidak ada kesalah-pahaman yang terjadi.
Apa aku harus mempercayai ucapan mereka? Tapi bukankah dulu Kakek bilang padaku kalau Ayah dan Ibu itu sudah lama meninggal? Atau jangan-jangan saat penculikan itu terjadi aku berhasil kabur kemudian di selamatkan dan dirawat oleh Kakek? Ya ampun, kenapa hidupku tiba-tiba jadi begini. Seperti alur di sebuah novel saja.
"Beri aku waktu untuk memikirkan hal ini. Pengakuan kalian membuatku syok!" ucap Briana setelah berpikir beberapa saat. Dia bukan remaja labil yang akan pergi melarikan diri begitu bertemu dengan orang yang mengaku sebagai keluarga kandungnya. Briana sudah dewasa.
"Halah, kelamaan. Lakukan tes DNA saja untuk membuktikan apakah benar kau anak mereka atau bukan. Kekasihmu kaya raya, dan orang yang mengaku sebagai orangtua kandungmu juga bukan orang miskin. Kenapa repot sekali sih!" timpal Julia tak membiarkan sahabatnya membuang waktu. Dia lalu menepuk bahu Tuan Hendar yang sejak tadi hanya diam seperti patung. "Tuan Hendar, kau itukan kaya. Kau cari saja dokter yang bisa menyelesaikan masalah ini dengan cepat. Jangan pelitlah!"
"Tes DNA?"
Hendar mengerjapkan mata. Dia lalu melihat ke arah Jenny, meminta persetujuan darinya. "Apa kita perlu melakukan hal ini, sayang?"
"Lakukan saja jika memang itu bisa membuat Briana yakin kalau kita adalah orangtua kandungnya," jawab Jenny semringah. Akhirnya wanita mata duitan itu ada gunanya juga. Celetukannya berhasil memberikan jalan keluar dari pengakuan yang hampir menjadi masalah besar.
"B-baiklah, kalau begitu a-aku akan menghubungi seseorang dulu. Kalian tolong jaga istriku sebentar ya?" ucap Hendar kemudian buru-buru keluar. Dia gugup.
Ya ampun, tatapan Briana kenapa galak sekali. Akukan tidak melakukan apa-apa padanya. Hmmm.
"Ekhmmm, Nyonya Jenny. Tapi ideku itu tidak gratis ya. Aku butuh ....
"Besok aku akan meminta anak buah suamiku agar memindahkan kedai minuman ke cafemu. Gratis!"
"Be-benarkah?"
Mata Julia langsung bersinar terang sekali. Dia lagi-lagi mendapatkan jackpot besar dari wanita kaya raya ini. Sedangkan Briana, dia hanya menatap sinis pada sahabatnya yang baru saja mengambil keuntungan dari masalah yang sedang terjadi. Julia memang tidak ada lawan jika sudah berurusan dengan uang. Tapi mau bagaimana lagi, Briana teramat sayang padanya. Jadi ya sudah, diam dan membiarkan adalah jalan terbaik untuk menjaga kesehatan nyawanya. 😂
***
__ADS_1