Wanita Kesayangan Sang Presdir

Wanita Kesayangan Sang Presdir
Orang Ketiga


__ADS_3

Gavriel terlihat sangat enggan ketika ingin melepaskan tangan Briana. Seusai semua orang sarapan bersama, Briana dan Julia pamit pulang. Mereka harus segera pergi ke cafe karena ada hal penting yang ingin mereka urus hari ini.


"Lu, mau sampai kapan kau memegangi tanganku terus?" tanya Briana sambil menatap tangannya yang terus di genggam oleh Lu. Sebenarnya Briana merasa senang sekali, tapi pura-pura marah supaya Julia tidak menggodanya. Kalian pasti pahamlah apa isi di dalam kepala sahabatnya itu. Hmmm.


"Biar aku dan Wildan saja ya yang mengantarkan kalian pulang. Aku khawatir kau kenapa-napa di jalan," sahut Gavriel menghiba.


"Iya Briana, Lu benar. Kita di antar oleh mereka saja ya?" timpal Julia semringah begitu Gavriel menyebut ingin mengantarkan dia dan Briana bersama Wildan juga.


Kesempatan emas. Hahaha.


Melihat senyum mengerikan di bibir Julia, Briana langsung tanggap akan ide sesat yang sedang di pikirkan olehnya. Dia kemudian teringat dengan perkataan ibunya Lu kalau Wildan itu sebenarnya sudah menikah. Sambil tersenyum iseng, Briana akhirnya mengiyakan tawaran Lu yang ingin mengantarkannya ke cafe.


"Kalau begitu baiklah. Aku tidak keberatan di antar oleh kalian," ucap Briana sambil tersenyum penuh makna tersirat. Dia lalu mengedipkan sebelah mata pada Lu, memberi kode rahasia.


Namun karena Gavriel belum tahu kalau Briana sudah mengetahui status Wildan, dia hanya terdiam bingung melihat kode tersebut. Setelah itu Gavriel melepaskan pegangan tangannya saat Briana hendak berpamitan pada ayah dan juga ibunya.


"Paman Dary, Bibi Helena. Aku dan Julia pamit pulang dulu ya. Terima kasih karena kalian sudah memberi kami makanan yang sangat enak sekali," ucap Briana berpamitan dengan sopan.


"Ck, kau ini bicara apa, Briana. Makanan yang kita nikmati hari ini kan kau yang memasak. Harusnya kami yang berterima kasih padamu. Iyakan, sayang?" sahut Dary.


"Pamanmu benar, Briana. Kamilah yang harus berterima kasih padamu. Ya sudah kalau begitu kalian semua hati-hati ya. Jika ada waktu senggang jangan lupa untuk datang dan menginap di sini. Nanti kita bergosip lagi. Oke?" ucap Helena setengah tak rela membiarkan Briana dan Julia pergi dari rumahnya. Ingin rasanya dia merantai kaki kedua wanita ini supaya tidak bisa pergi kemana-mana.


"Baik, Bibi. Kalau begitu kami permisi ya,"


Setelah Briana selesai berpamitan, kini giliran Julia yang melakukannya. Dia dengan cepat memeluk dan cipika cipiki dengan ayah dan ibunya Gavriel kemudian cepat-cepat masuk ke dalam mobil. Karena tahu kalau Wildan yang akan menyetir, dengan sengaja Julia memilih duduk di kursi depan. Pokoknya hari ini misinya harus berhasil. Pria itu harus menjadi miliknya. Harus.


"Lihatlah betapa gatalnya wanita itu," ujar Briana saat Lu ingin membukakan pintu mobil untuknya. "Dia belum tahu saja kalau setelah ini akan ada badai yang menghampiri. Hmmm."

__ADS_1


"Badai?" Gavriel membeo. "Badai apa, sayang?"


"Badai topanlah. Apalagi memangnya,"


Gavriel menghela nafas. Setelah menutup pintu, dia bergegas masuk ke dalam mobil lewat pintu samping. Dan ketika Gavriel baru saja duduk, dia dibuat heran akan sikap Julia yang tengah bertopang dagu sambil menatap Wildan dari jarak yang sangat dekat.


Haihh, mulai lagi wanita ini. Julia kenapa terang-terangan sekali sih menampakkan perasaannya. Wildan pasti sangat tertekan sekarang. Kasihan.


"Julia, bisakah kau duduk dengan benar?" ucap Wildan merasa tak nyaman. Ingin sekali dia mendepak kepala wanita srigala ini agar menjauh darinya.


"Inikan sudah benar, Wil. Duduk menyamping sambil menatap pria tampan yang sedang mengemudikan mobil. Sangat manis," sahut Julia seperti orang tak waras. "Asal kau tahu saja ya, Wil. Aku ini ....


Plaaakkkk


"Duduk yang benar sebelum aku melubangi bokongmu. Sekarang!" ancam Briana jengah melihat kelakuan Julia. Dia lalu mengibaskan tangan yang baru dia gunakan untuk menggeplak kening sahabatnya.


Antara malu dan juga jengkel, Julia akhirnya duduk dengan benar. Dia mengenakan seatbelt sambil sesekali melirik ke arah Wildan yang seperti sedang menahan tawa. Sialan. Briana benar-benar tidak memandang tempat. Tega sekali dia membuat Julia malu di hadapan Wildan. Kalau pria ini sampai merasa ilfeel bagaimana? Kan repot.


"Bagaimana aku tidak marah kalau harus melihat seseorang mengganggu pria yang sudah beristri!" sahut Brian dengan sengaja mengungkap jati diri Wildan di hadapan Julia. Dia ingin melihat wanita gatal ini menangis karena patah hati.


Julia langsung mengerungkan kedua alisnya mendengar omongan Briana. Merasa ada yang salah, dia segera menoleh ke belakang. Tapi baru juga dia menolah, pemandangan menyebalkan membuat perutnya bergejolak hebat. Saat ini, di depan mata Julia, Briana dengan manjanya menyender di dadanya Lu. Andai saja bisa, Julia juga ingin melakukan hal yang sama kepada Wildan, tapi tidak mungkin dia lakukan sekarang. Itulah kenapa Julia merasa kesal.


"Apa lihat-lihat? Iri ya?" seloroh Briana sambil menyunggingkan senyum penuh ejek. Hahaha.


"Iri? Hah?"


Julia melengos tak lagi menatap pemandangan bucin yang ada di kursi belakang. Sambil mengibaskan rambut panjangnya, dia mencecar Wildan tentang statusnya yang di sebut telah menikah. Jika hanya Erzan yang mengatakan, Julia pasti tidak akan merasa aneh. Akan tetapi barusan sahabat juga menyinggung tentang hal ini. Karenanya dia perlu memastikannya langsung pada orang yang bersangkutan.

__ADS_1


"Wildan, apa benar kau sudah menikah?"


"Iya benar aku sudah menikah," jawab Wildan jujur. Dia menarik nafas panjang, lega karena akhirnya wanita srigala ini akan segera berhenti mengejarnya.


"Kau yakin tidak sedang berbohong?"


"Tentu saja aku sangat yakin. Dan dari perkiraan dokter dua minggu lagi istriku akan melahirkan anak pertama kami."


Hening. Wildan kemudian menoleh. Dan bulu kuduknya langsung berdiri semua melihat senyum aneh yang muncul di bibir Julia.


"Kau kenapa tersenyum seperti itu, Julia?" tanya Wildan kembali fokus menyetir mobil.


"Hei Wildan, ku beritahu satu hal padamu ya. Aku sama sekali tidak peduli kau sudah menikah atau belum. Karena hatiku sudah terlanjur ku berikan untukmu, aku rela menjadi orang ketiga dalam hubungan kalian. Dan biasanya jika para istri baru melahirkan, para suami akan mencari kehangatan dari wanita lain. Jika kau berniat mencari wanita yang seperti itu, maka datanglah saja padaku. Aku siap untuk menampungmu!" ucap Julia dengan gamblangnya menyatakan kesediaan diri untuk menjadi seorang pelakor.


"JULIAAAAA!"


Ciiiittttt


Karena terkejut mendengar suara teriakan yang sangat luar biasa kuat, Wildan tak sengaja menginjak rem mobil hingga menimbulkan bunyi berdecit di aspal. Julia yang tidak tahu kalau Wildan akan mengerem mendadak pun tak sengaja terdorong ke depan. Keningnya lalu membentur dasbor mobil hingga membuat matanya jadi berkunang-kunang. Belum juga hilang kunang-kunang yang beterbangan, Briana dengan brutal menjambak rambut Julia hingga kepalanya terdongak ke belakang. Nasib.


"Kau, yakkk! Dasar wanita dari goa hantu. Astaga, Julia. Bagaimana bisa kau terpikir ingin menjadi orang ketiga di dalam hubungan Wildan dan istrinya? Kau sudah gila apa bagaimana hah!" amuk Briana tak habis pikir dengan kenekatan sahabatnya. Briana kira Julia akan langsung mundur begitu mendengar pengakuan Wildan. Tapi siapa yang akan mengira kalau wanita tidak tahu malu ini malah menawarkan diri untuk menjadi orang ketiga. Sebagai sahabatnya jelas Briana merasa malu sekali. Apalagi di sebelahnya ada Lu. Ya ampun.


"Briana, cepat lepaskan jambakanmu dari rambutku. Kulit kepalaku seperti akan terkelupas, bodoh!" omel Julia sambil meringis kesakitan.


"Biar. Biar saja kulit kepalamu terkelupas sekalian. Dasar tidak tahu malu kau!"


Melihat Julia yang terus meringik kesakitan membuat Gavriel merasa kasihan. Berbekal pasrah diri, dia dengan sangat hati-hati membujuk Briana agar melepaskan jambakan di kepala Julia. Setelah itu Gavriel langsung mendekapnya erat-erat, merelakan punggungnya menjadi tempat pelampiasan emosi saat kekasihnya mengamuk karena masih kesal pada Julia.

__ADS_1


Astaga, kalau begini ceritanya sih percuma saja Julia tahu kalau aku sudah menikah. Hmmm, sepertinya aku perlu berunding dengan Tuan Gavriel agar menjodohkan Julia dengan Tuan Erzan saja. Mereka itukan sama-sama tidak punya pasangan. Haihhh.


***


__ADS_2