
📢📢📢 BESTIE, JANGAN LUPA DUKUNGANNYA YA SUPAYA JOVAN DAN NANIA BISA MENANG DI LOMBA DI YOU ARE A WRITER SEASON 8. OKE 💜💜💜
***
“Bri, tolong maafkan aku. Aku janji lain kali aku tidak akan menggosipkan tentangmu lagi dengan Lu. Tolong maafkan aku ya? Lenganku sudah hampir patah. Maafkanlah,” rengek Julia sambil memperlihatkan tampang sememelas mungkin.
Setelah Lu memberitahu Briana kalau Julia telah membocorkan tentang statusnya yang masih perawan, Briana langsung memberinya sebuah hukuman. Sambil mengacungkan pisau pemotong daging, Briana meminta agar Julia berjongkok di lantai sambil mengangkat kedua tangannya ke atas. Dan hukuman ini sudah berjalan hampir empat jam lamanya. Bisa kalian bayangkan sendiri bukan betapa pegalnya kaki dan tangan Julia?
“Enak saja meminta maaf setelah membocorkan privasiku pada Lu. Kau pikir aku tidak malu apa?” sahut Briana sambil menyusun piring. Dia melirik sinis ke arah Julia tanpa ada niatan untuk melepaskannya. “Rasakan itu. Aku bahkan berencana menghukummu sampai besok pagi. Dengan begitu kau baru akan jera dan tidak akan menggosipkan hal yang tidak-tidak tentangku. Paham kau?”
“Ck, kau benar-benar sahabat yang sangat jahat, Briana. Tega sekali kau menghukumku sampai seperti ini hanya karena aku memberitahu Lu kalau kau masih perawan. Lagipula yang aku katakan memang benarkan kalau kau itu belum pernah tidur dengan pria manapun?”
Briana langsung memejamkan kedua matanya sambil menghela nafas panjang saat Julia lagi-lagi menyinggung tentang hal tersebut. Kesal mendengarnya, Briana langsung menyambar talenan kemudian menghampiri Julia. Tanpa merasa ragu sedikitpun Briana memukul bokong Julia menggunakan talenan tersebut. Dia lalu memelototkan kedua matanya saat Julia ingin protes.
“Coba saja kalau kau masih berani merengek dan membahas masalah perawan lagi. Tidak hanya bokongmu saja yang akan kupukul, tapi aku akan langsung mengorek isi kepalamu lalu memberikan otakmu pada anjing di jalanan. Mau?” ancam Briana tak tanggung-tanggung.
“Yakkk, Briana. Kau itu sebenarnya sahabatku atau psikopat sih? Gila saja kau ingin mengorek isi kepalaku. Dari film mana kau mencontoh adegan seperti itu hah?” omel Julia sambil menelan ludah.
“Jangan mengalihkan pembicaraan. Lebih baik sekarang kau diam karena aku masih harus beres-beres sebelum pulang. Ingat ya, jangan merengek lagi atau hidupmu akan berakhir di malam ini. Paham?”
Setelah mengancam Julia, Briana kembali melanjutkan pekerjaannya. Sedetik kemudian Briana teringat kalau sejak tadi Lu masih belum juga menampakkan batang hidungnya. Untuk membuat keadaan café agar lebih estetik, Julia dan Briana membuat taman sederhana di bagian depan café. Dan tadi Briana meminta Lu agar membereskan meja-meja yang ada di sana, tapi sampai sekarang dia masih belum melihat ataupun mendengar suaranya Lu. Khawatir Lu diculik orang, Briana akhirnya memutuskan untuk memeriksa ke bagian depan. Dan ketika Briana sampai di depan pintu, dia dibuat kesal melihat pemandangan yang ada di luar. Lu, si pria idiot itu dengan santainya mengobrol bersama dua orang wanita yang pernah menawari Lu sebuah ponsel. Sontak saja pemandangan ini membuat emosi Briana tembus ke ubun-ubun. Segera saja dia keluar untuk menghampiri ketiga orang tersebut.
“Ekhmm-ekhmmm!”
Lu menoleh. Dia lalu menelan ludah melihat Briana yang tengah menatapnya dengan begitu galak. Tak mau ada salah paham, Lu pun segera berpindah ke sebelah Briana kemudian menjelaskan apa yang sedang terjadi di sana.
__ADS_1
“Briana, ini tidak seperti yang kau lihat. Aku dan kedua wanita ini tidak sedang melakukan apa-apa. Sungguh!”
“Kalaupun kalian melakukan apa-apa, memangnya apa urusanku?” sahut Briana cetu. Padahal jantungnya sudah kembang kempis menahan kesal.
“T-tapi ….
“Permisi Nona-Nona, apakah ada yang bisa kubantu?” tanya Briana pada dua orang wanita yang sedang berdiri di hadapannya.
“Nona, maaf sebelumnya. Kami kembali lagi ke café ini karena temanku begitu ingin memiliki nomor ponselnya Lu. Dan karena Lu bilang dia tidak punya ponsel, temanku berinisiatif untuk membelikannya. Tapi Lu terus menolak. Jadi bisakah kau membantu membujuk Lu agar mau menerimanya?”
Srriingggg
Briana langsung melayangkan tatapan tajam pada Lu setelah salah satu dari gadis ini menyebut namanya. Sialan. Sejak kapan pria idiot ini pandai membual pada gadis-gadis? Brengsek sekali dia.
“Briana, aku sudah bilang padamu kan kalau selama aku ada di dekatmu, maka aku tidak membutuhkan ponsel atau apapun itu. Tolong kau jangan membujukku agar mau menerima pemberiannya!” ucap Lu sesaat sebelum dia masuk ke dalam café. Lu agak kesal melihat respon Briana yang malah memelototinya alih-alih mengomeli para gadis itu.
“Tidak ada Lu-Lu-an, Nona. Kau lihat sendirikan kalau Lu tidak mau menerima ponsel dari temanmu? Aku paham kalau temanmu menyukai Lu, tapi bukan berarti temanmu bisa memaksakan kehendaknya. Itu membuat Lu merasa tidak nyaman. Lihat sekarang. Dia marah ‘kan?” omel Briana sambil menahan senyum.
Kenapa Lu terlihat manis sekali ya saat merajuk seperti itu?
Kedua gadis itu hanya bisa pasrah saja setelah Briana mengomeli mereka. Sadar kalau kedatangan mereka di tolak oleh Lu, keduanya pun segera pamit pergi dari sana. Dan dengan sangat senang hati Briana menganggukkan kepala. Setelahnya Briana bergegas masuk ke dalam café untuk menemui Lu, pria idiot yang telah membuat perasaannya menjadi sangat aneh.
“Kalau kau menghampiriku hanya untuk membujukku agar menerima pemberian mereka, lebih baik kau menjauh saja. Aku sedang sibuk!” ucap Lu saat menyadari kedatangan Briana. Dia lalu mengelap meja dengan kecepatan tinggi sebelum berganti mengelap meja yang lainnya.
“Kau sedang pms ya Lu?” tanya Briana iseng. “Dasar tukang merajuk. Siapa juga yang ingin membujukmu. Percaya diri sekali kau!”
Briana kaget setengah mati saat Lu tiba-tiba berbalik menghadapnya kemudian memegang bahunya dengan cukup kuat. Di detik ini Briana merasa kalau jantungnya sedang beranak-pinak dan berdisko bersama. Rasanya nano-nano. Ya gugup, ya kaget, ya senang, ya malu, ya aaaaaaaaaa. Pokoknya tidak karu-karuan. Sungguh.
__ADS_1
“Kau menolak pemberian merekakan, Bri?” tanya Lu dengan jarak wajah yang sangat dekat dengan wajah Briana.
“I-iya,” jawab Briana gugup. Dia lalu menelan ludah saat Lu tersenyum tepat di hadapannya. “Manis sekali,” ….
“Kau bilang apa, Bri? Aku tidak dengar.”
“Ha?”
Brengsek. Lidahmu kenapa, Briana? Untung saja Lu tidak dengar saat aku memujinya manis. Kalau dengar, sampai matipun rasa malunya tidak akan bisa hilang. Dasar ceroboh.
“Bri, kau bilang apa barusan?” desak Lu penasaran.
“Itu hanya suara kentut yang terjepit,” sahut Briana asal.
“Kentut yang terjepit?”
“Iya,”
“Bohong, Lu. Briana pasti baru saja kelepasan bicara. Aku sudah sangat hafal dengan kebiasaannya yang suka bicara asal setelah salah bicara. Percaya padaku, Briana pasti sedang memujimu tadi,” timpal Julia yang entah kapan sudah duduk bertopang dagu sambil memperhatikan interaksi Lu dengan Briana. Sebagai mata-mata rumah tangga, Julia jelas tidak akan melewatkan hal menarik yang terjadi di antara kedua orang ini. Benar tidak?
“Yakkk, kapan aku mengatakan kalau kau sudah bebas dari hukumanmu ha?” kesal Briana jengkel melihat kemunculan Julia. Lagi-lagi Julia membocorkan tentang kebiasaannya. Sungguh sahabat yang kurang ajar sekali.
“Ck, sudahlah, Bri. Dengan sahabat sendiripun tega sekali kau hitung-hitungan. Lagipula aku masih harus membuat laporan kepada para pembaca untuk memantau perkembangan hubunganmu dengan Lu. Jadi biarkanlah aku bebas dari hukuman itu. Asal kau tahu saja ya. Tulang lenganku sudah hampir copot karena kau terus memintaku mengangkat tangan ke atas. Jadi anggaplah ini sebagai waktu istirahatku. Oke?”
Dan di detik selanjutnya terdengar suara jerit kesakitan saat Briana dengan brutalnya menarik telinga Julia dan memintanya kembali melanjutkan hukuman. Sedangkan Lu, dia hanya berdiri diam sambil terus memperhatikan Briana yang seperti salah tingkah setelah Julia kembali membocorkan tentang kebiasaannya.
“Jadi Briana diam-diam suka memujiku ya? Pantas saja dia sering mengeluarkan kata-kata aneh. Ternyata itu karena dia gugup. Hehe, lucu sekali,” gumam Lu seraya meng*lum senyum.
__ADS_1
***