Wanita Kesayangan Sang Presdir

Wanita Kesayangan Sang Presdir
Menjadi Petani, Why Not?


__ADS_3

Erzan mengumpat pelan saat dia menemukan kendala di dalam berkas pekerjaan yang sedang di periksanya. Kesal, dengan marah Erzan menutup berkas tersebut kemudian mengendurkan dasinya. Sungguh, sumpah mati Erzan sudah tidak kuat lagi berada di situasi seperti ini. Dia merasa seperti sedang dicekik oleh tangan para penyihir berkuku panjang dan berwarna hitam. Sangat menyesakkan.


“Ya Tuhan, kapan Kak Gavriel akan kembali normal seperti dulu. Aku benar-benar sudah tidak mampu lagi menggantikannya di perusahaan ini. Aku ingin kebebasanku, Tuhan. Tolonglah!” ratap Erzan seraya menengadahkan wajahnya ke atas. Dia menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan kuat. “Kak Gavriel, lekaslah sembuh dari penyakit amnesiamu itu. Kau harus sesegera mungkin kembali ke perusahaan karena Anderson Group sangat membutuhkan orang hebat sepertimu. Jika kau terlalu lama terjebak dalam penyakit itu, aku tidak bisa menjamin kalau perusahaan ini akan tetap utuh seperti sekarang. Rasanya aku seperti akan mati, Kak. Cepatlah sembuh. Aku mohon!”


Anderson Group mengalami peningkatan yang sangat signifikan semenjak perusahaan di pimpin oleh Gavriel. Berkat otak geniusnya, perusahaan berhasil meraih banyak sekali penghargaan hingga menduduki posisi nomor dua paling berpengaruh di negara ini. Dengan posisi yang begitu tinggi, sudah pasti beban yang di tanggung oleh pemimpin perusahaan sangatlah besar. Erzan memang tidak sepenuhnya buta akan bisnis. Akan tetapi selama ini Erzan lebih banyak menghabiskan waktunya untuk mendalami ilmu pertanian. Jadi wajar saja kalau sekarang dia terus mengeluh karena kepayahan menyelesaikan pekerjaan yang seperti tidak ada habisnya. Meskipun ada Wildan yang selalu siap membantunya 24 jam, hal itu tak membuat Erzan kuat untuk bertahan. Dia menyerah, benar-benar menyerah sampai di titik tulang sum-sumnya.


“Ngomong-ngomong apa kabar dengan Julia dan Briana ya? Kenapa mereka tidak ada yang menghubungiku untuk sekedar bertanya kabarnya Kak Gavriel? Briana tidak mungkin berkhianat ‘kan?” gumam Erzan yang baru teringat kalau si wanita ninja warior beserta sahabatnya tak pernah sekalipun menghubunginya. Padahal Erzan sudah meninggalkan nomor ponselnya pada mereka, tapi kenapa mendadak hening begini. Aneh. “Kalau Briana sampai berpaling pada laki-laki lain Kak Gavriel pasti akan patah hati sekali nanti. Apa kuhubungi mereka saja ya untuk memastikan apakah mereka masih hidup atau tidak?”


Saat Erzan tengah sibuk memikirkan Julia dan Briana, seseorang datang mengetuk pintu ruangan. Segera Erzan merapihkan kembali dasinya kemudian mempersilahkan orang tersebut untuk masuk.


“Masuk!”


Ceklek

__ADS_1


“Oh Ayah, aku pikir siapa tadi. Masuklah!” ucap Erzan agak kaget karena ternyata yang datang adalah ayahnya. Dia kemudian berpindah menuju sofa sembari menunggu ayahnya datang mendekat. “Tumben sekali sore-sore begini Ayah datang ke perusahaan. Ada apa? Kak Gavriel baik-baik saja ‘kan?”


Dary menghela nafas panjang mendengar pertanyaan Erzan. Setelah itu Dary mendudukkan bokongnya di sofa.


“Kakakmu sedikit mengalami kendala saat dokter mencoba terapi hipnotis kepadanya. Alam bawah sadarnya membawa kakakmu pada kejadian penculikan itu. Dan hal tersebut membuat kakakmu kembali pingsan,” ucap Dary dengan mimik wajah yang terlihat sedih. Dia lalu menatap Erzan dengan pandangan bingung. “Erzan, sejak kakakmu diculik bukankah polisi tidak pernah menyinggung tentang adanya korban lain yang selamat dari tragedi itu? Tapi tadi Wildan bilang pada Ayah kalau kakakmu tiba-tiba bersikekeh kalau ada seorang anak laki-laki yang sempat dimintanya untuk kabur dari bangunan kosong tempat kakakmu dan anak-anak lain di sekap. Menurutmu ini hanya halusinasi kakakmu saja atau memang mungkin ada anak lain yang berhasil kabur dari sana? Jujur, Ayah bingung sekali memikirkan hal ini. Sungguh!"


Erzan membelalakkan matanya karena kaget mendengar penuturan sang ayah. Setahu Erzan, jika seseorang sedang dalam kondisi terhipnotis biasanya alam bawah sadar orang tersebut akan berkelana pada satu kejadian yang paling membekas di pikirannya. Jadi besar kemungkinan perkataan kakaknya adalah benar kalau memang ada seorang anak yang berhasil selamat dari tragedi mengerikan itu.


“Lokasi tempat penyekapan itu berada di pinggiran kota. Harusnya anak itu tidak bisa pergi jauh dari sana jika memang benar Kak Gavriel memintanya untuk kabur. Dan kalaupun perkataan Kak Gavriel benar adanya, bukankah seharusnya para polisi menemukan keberadaan anak kecil tersebut saat melakukan pemeriksaan di lokasi kejadian. Benar tidak, Ayah?” tanya Erzan menimang kemungkinan. Dia lalu mengusap dagu bawahnya sambil terus memikirkan kebenaran yang bisa saja terjadi. “Seingatku di dalam keterangan yang polisi buat semua anak-anak telah meninggal semua selain Kak Gavriel. Apa mungkin saat anak itu mencoba kabur dia tertangkap oleh orang gila itu kemudian langsung di bunuh olehnya? Tapi jika seperti itu jalan ceritanya kenapa Kak Gavriel menyebutkan saat anak itu dihabisi oleh si pembunuh?"


“Kalau memang Wildan memiliki keyakinan seperti itu ya sudah tidak apa-apa. Untung atau tidak untung menurutku sama saja. Selagi bisa membantu Kak Gavriel sembuh maka aku akan mendukung apapun yang ingin dilakukan oleh Wildan!”


Dary berdecih. “Bilang saja kalau kau ingin segera pergi melarikan diri dari perusahaan ini, Er. Sebegitu teganya kau membebankan semua pekerjaan pada kakakmu. Dasar adik yang jahat!”

__ADS_1


“Hei Ayah. Kenapa Ayah malah mengataiku adik yang jahat?” pekik Erzan kaget. Dia menatap ayahnya dengan tatapan tak percaya. “Aku adalah adik terbaik yang ada di muka bumi ini, Ayah. Tolong jangan bicara sembaranganlah. Hatiku terluka!”


“Terluka apanya. Jelas-jelas fakta itu tertulis nyata di keningmu. Memangnya Ayah tidak tahu apa kalau kau begitu ingin pergi dari perusahaan ini? Makanya kau bersedia untuk mendukung semua hal yang bisa membantu proses penyembuhan kakakmu. Iya ‘kan?”


Erzan meringis lebar saat perkataan sang ayah menusuk tepat di jantungnya. Mau bagaimana lagi, memang seperti itu kenyataannya. Erzan bukanlah tipe orang yang suka berdiam di belakang meja saat menyelesaikan pekerjaan karena dia lebih suka turun langsung ke lapangan. Jadi wajar saja kalau dia merasa tidak betah menggantikan posisi kakaknya yang merupakan bos besar dari perusahaan yang bergerak di banyak bidang. Huh.


“Saat orang-orang di luar sana berlomba-lomba menduduki jabatan sepertimu kau malah tidak menyukainya. Kadang Ayah sampai berpikir apakah benar kau adalah anggota keluarga Anderson atau bukan. Bisa-bisanya kau tidak tertarik pada putaran meja bisnis yang sekalinya hoki bisa memberimu uang yang sangat banyak!” ucap Dary sambil menggelengkan kepala melihat bagaimana Erzan yang sama sekali tidak menyangkal perkataannya. Putranya ini benar-benar ya.


“Ayah, Ayah mana bisa menyamakan semua orang seperti Kak Gavriel yang begitu piawai dalam mengelola bisnis. Dan aku bukannya tidak tertarik dengan hal-hal semacam ini, aku hanya lebih suka terjun langsung memantau perkembangan pekerjaanku daripada harus duduk seharian penuh sambil memelototi berkas pekerjaan. Walaupun profesi yang kugeluti sedikit kotor, tapi jika di kembangkan dengan baik pada akhirnya juga akan memberiku kekayaan yang cukup besar. Hanya caranya saja yang sedikit berbeda dari cara Kak Gavriel mengumpulkan uang!” sahut Erzan membela diri. “Asal Ayah tahu saja ya. Menjadi petani itu adalah pekerjaan yang sangat menyenangkan. Bahkan nantinya aku bisa bekerjasama dengan Kak Gavriel untuk mengelola bisnis di perkebunanku sehingga aku bisa menciptakan lapangan pekerjaan untuk mereka-mereka yang tidak memiliki kesempatan bekerja di perusahaan besar. Siapa tahu juga Tuhan menggariskan nasib baik untukku dengan membangun kerajaan bisnisku sendiri melalui pertanian dan perkebunan. Asal ada niat dan tekun berusaha, meraih kesuksesan yang besar bukan hal yang mustahil, bukan?”


Senyum penuh kebanggan tampak menghiasi bibir Dary saat dia mendengar pembelaan Erzan. Kali ini tidak diragukan lagi kalau Erzan memang adalah keturunan keluarga Anderson. Jiwa bisnisnya berkobar kuat meski melalui cara yang sedikit berbeda dari Gavriel.


“Ayah harap perkataanmu barusan bukan hanya sekedar omong kosong belaka, Er. Buktikan kalau kau itu mampu merajai dunia bisnis dengan profesimu sebagai petani. Dan saat waktu itu tiba, Ayah dan Ibu pasti akan menjadi orangtua paling beruntung di dunia ini. Semangat!” ucap Dary memberikan dukungan semangat pada putra keduanya.

__ADS_1


Erzan mengangguk dengan cepat. Dalam hatinya Erzan membatin kalau dia tidak akan membuat keluarganya kecewa. Suatu saat nanti Erzan pasti bisa membangun usahanya sendiri melalui hobi yang sudah sejak lama dia geluti. Menjadi seorang petani, WHY NOT???


***


__ADS_2