
📢📢📢 BESTIE, JANGAN LUPA DUKUNGANNYA YA SUPAYA JOVAN DAN NANIA BISA MENANG DI LOMBA DI YOU ARE A WRITER SEASON 8. OKE 💜💜💜
***
“Ibu jangan cemas. Kak Gavriel pingsan karena dia tak sengaja melihat tali simpul di tas salah satu pengunjung café yang datang ke tempatnya bekerja. Sebentar lagi dia pasti akan segera sadar. Jangan khawatir ya?” hibur Erzan menenangkan sang ibu yang tengah menangis di dalam telepon. Dia kini tengah berada di luar ruangan tempat sang kakak dirawat.
“Hiksss, bagaimana Ibu tidak khawatir, Erzan. Sekalinya ditemukan kakakmu malah dalam kondisi seperti ini. Sebagai orangtua wajar sajakan kalau Ibu merasa cemas?” sahut Helen sambil terisak sesenggukan. “Sekarang lebih baik kau kirimkan alamat rumah sakitnya pada Ibu. Biar Ayah dan Ibu yang menyusul kalian saja ke sana. Ibu sudah tidak kuat jika harus menunggu lagi. Ibu ingin segera melihat kakakmu.”
Erzan hanya bisa menghela nafas panjang mendengar permintaan sang ibu. Dia sebenarnya tidak masalah jika Ayah dan Ibunya datang kemari. Akan tetapi Erzan merasa tidak tega pada Briana. Walaupun kata-kata dari gadis ninja warior itu cukup nyelekit di hati, tapi Erzan tahu kalau Briana berkata seperti itu karena tidak mau berpisah dari kakaknya. Biar bagaimanapun Briana telah tinggal dan merawat sang kakak selama dua bulan lamanya, wajar jika di antara mereka timbul satu kedekatan yang cukup kuat. Erzan takut saat kedua orangtuanya datang mereka akan langsung membawa kakaknya kembali tanpa memikirkan perasaan Briana. Itulah kenapa sejak tadi Erzan enggan memberitahukan alamat rumah sakit ini pada sang ibu. Ayahnya mungkin bisa mengerti alasan kenapa Erzan melakukan ini, tapi Ibunya tidak. Namun hal tersebut sangat wajar dirasakan oleh seorang Ibu yang sudah dua bulan terpisah dari anaknya. Erzan tak bisa menyalahkan.
“Bu, begini saja. Sekarang hari sudah sore, aku khawatir Ayah dan Ibu kelelahan di jalan jika tetap memaksa ingin datang kemari. Nanti begitu Kak Gavriel sadar, aku janji akan langsung membawanya pulang ke rumah. Oke?”
“Tapi Erzan, Ibu ….
“Iya aku tahu Ibu sangat merindukan dan juga mengkhawatirkan keadaan Kak Gavriel. Aku sangat paham akan hal itu. Tapi tolong Ibu mengertilah sedikit. Sekalipun Ayah dan Ibu datang kemari, belum tentu juga Kak Gavriel akan langsung mengingat siapa kalian. Dan aku khawatir kedatangan kalian malah akan memperburuk keadaannya. Ibu bisa mengerti ‘kan?” ucap Erzan memotong perkataan ibunya.
Erzan tampak memijit pinggiran pelipisnya sambil mendengarkan ayahnya yang tengah berusaha membujuk sang ibu agar tidak menyusul kemari. Dan setelah beberapa menit mendengarkan perdebatan dari dalam telepon, Erzan akhirnya bisa bernafas lega karena ibunya memutuskan untuk tidak jadi datang. Demi kesehatan sang kakak, begitu ucapnya. Setelah itu Erzan pamit untuk memutuskan panggilan. Dia perlu menemani kakaknya yang kini hanya di temani oleh Briana saja. Sedang Wildan dan Julia, kedua orang itu pergi membeli makanan di kantin rumah sakit. Mereka kelaparan.
__ADS_1
“Kenapa wanita rumit sekali sih. Tidak Briana tidak Ibu, mereka sama-sama keras kepalanya. Haihhh, aku rasa aku bisa mati berdiri jika aku sampai memiliki istri seperti Briana. Mereka pasti akan selalu menyiksaku setiap hari. Astaga,” keluh Erzan seraya menggelengkan kepala.
Sambil memasukkan ponsel ke saku jasnya, Erzan melangkah masuk ke dalam ruangan. Dia terpaku diam menyaksikan Briana yang tertidur sambil menggenggam tangan kakaknya.
Kenapa aku seperti melihat adegan romantis yang sering kulihat di drama televisi ya? Apa jangan-jangan Briana menyukai Kak Gavriel?
Lu yang samar-samar mendengar suara langkah kaki mendekat ke arah ranjang segera membuka mata. Dia sebenarnya sudah sadar dari lima menit yang lalu. Tapi karena tak ingin mengganggu tidurnya Briana Lu memutuskan untuk kembali tidur saja. Dan jujur, perasaan Lu saat ini sangat amat membuncah. Dewi-nya tidur sambil menggenggam tangannya, seolah takut dia akan pergi jauh. Gadis galak ini sangat menggemaskan sekali bukan?
“Siapa kau?”
Hampir saja jantung Erzan pindah ke pantat saat kakaknya tiba-tiba bicara. Dan dia langsung membungkam mulutnya saat sang kakak membuat isyarat agar dia tidak berisik.
Erzan menurunkan tangannya kemudian menjawab iya tanpa suara. Dia lalu berjalan mengendap-endap ke sisi ranjang, menjauh sebisa mungkin agar tidak menjadi korban keganasan Briana. Erzan takut dia akan bernasib sama seperti anak buahnya Wildan. Kan tidak lucu.
“Siapa kau?” Lu bertanya dengan suara yang sangat pelan. Dia lalu mengusap rambut Briana yang menggeliat karena merasa terganggu.
“Aku Erzan,” jawab Erzan tak kalah pelan. Dia buru-buru membantu kakaknya yang ingin bangun. “Kapan kau sadar, Kak?”
“Kak?”
__ADS_1
Lu membeo. Sebelum kembali berbicara, Lu dengan sangat hati-hati mengangkat kepala Briana lalu menelusupkan tangan ke belakang lehernya. Tidur dalam posisi setengah duduk begini Lu yakin sangatlah membuat Briana merasa tak nyaman. Jadi tanpa mengindahkan tangannya yang terpasang infus, Lu lebih memilih untuk menjadikan tangannya sebagai bantalan kepala Briana. Dia ingin memastikan agar Briana nyaman dalam tidurnya.
“Erzan, sepertinya ini kali pertama kita bertemu,” ucap Lu seraya menatap Erzan yang tengah memperhatikan Briana. Tiba-tiba saja dia merasa kesal. “Erzan, siapapun kau tolong kondisikan matamu. Kau tidak seharusnya menatap seorang gadis dengan tatapan seperti itu. Kurang ajar namanya!”
“O-oh. Maaf, aku tidak bermaksud buruk, Kak. Sungguh,” sahut Erzan keki saat sang kakak menegurnya. Dia lalu berdehem pelan sambil menggaruk telinga. Erzan menangkap sinyal kecemburuan yang menguar kuat dari mata sang kakak. Terbukti karena Erzan terus mendapat tatapan yang sangat tajam darinya. Tak mau keadaan semakin canggung, Erzan memutuskan untuk bertanya apakah kakaknya itu bisa mengenalinya atau belum. “Kak, kau ingat aku tidak? Aku Erzan, adikmu. Dan namamu itu bukan Lu, tapi Gavriel. Gavriel Anderson. Ingat tidak?”
Lu langsung mengernyitkan kening saat Erzan mengaku sebagai adiknya, sedang dia sendiri bernama Gavriel. Dan seperti biasa, kepala Lu akan terasa sakit dan dadanya menjadi sesak setiap kali dia mencoba mengingat sesuatu. Namun karena tak mau membangunkan Briana, Lu dengan cepat mer*mas sprei sambil menggeretakkan gigi menahan sakit. Di keningnya juga mulai bermunculan butiran-butiran keringat dingin yang mana membuat wajahnya menjadi pucat. Lu kesakitan.
“Kak, jangan dipaksakan untuk mengingat siapa aku. Tenanglah,” ucap Erzan panik melihat reaksi kakaknya saat Erzan menyebutkan tentang nama mereka. Dan di saat bersamaan barulah Erzan menyadari kalau infus yang terpasang di tangan kakaknya terlepas. Segera dia berlari memutari ranjang kemudian tanpa pikir panjang mendorong kepala Brian agar tidak lagi berbaring di atas tangan kakaknya. “Ya ampun, tanganmu berdarah, Kak. Bagaimana ini? Tunggu sebentar ya. Aku akan memanggil dokter dulu!"
Briana yang kaget karena kepalanya tiba-tiba di dorong hanya bisa terdiam bingung melihat Erzan berlari keluar. Setelah itu Briana mengucek matanya yang masih setengah gabur. Merasa tak nyaman, Briana segera mengelap pipinya yang terasa lembab. Dia takut saat tidur tadi air liurnya menetes keluar.
“D-da-darah?? D-darah apa ini? Apa iya aku berganti kulit saat sedang tidur? Ya Tuhan!” pekik Briana syok melihat telapak tangannya di penuhi darah setelah mengelap pipi. Syok, Briana pun menoleh menatap Lu. Dan dia di buat semakin syok mendapati Lu yang ternyata sudah sadar. “Lu, kapan kau bangun? Kau … kau tidak mungkin berubah menjadi vampir setelah pingsan ‘kan? Pipiku, pipiku kenapa berdarah, Lu? Apa yang terjadi?”
Tak kuat menjawab, Lu hanya mengangkat tangannya yang terluka. Dia sedang kesakitan, jadi tak bisa menjelaskan apa-apa saat Briana berlari menyusul Erzan keluar.
Kenapa kepalaku sakit sekali saat Erzan bilang kalau dia adikku? Dan Gavriel … namaku Gavriel? Benarkah?
***
__ADS_1