
"Siapa namamu?"
"Namaku Bria ....
"Lu, bangun Lu. Bangun!" ucap Briana panik sambil terus menepuk pipinya Lu yang sedang mengigau. Matanya berkaca-kaca, takut menyaksikan Lu yang kesulitan bernafas sambil menggumam tidak jelas. "Lu, bangun. Kau kenapa? Bangun, Lu!"
Di alam bawah sadar Lu, saat ini dia sedang bermimpi berbicara dengan anak laki-laki yang tak pernah selesai menyebutkan namanya. Karena saat ini tidak ada dokter yang mengawasi, Lu mengalami kesulitan besar karena tak bisa keluar dari mimpi tersebut. Nafasnya sesak dan kepalanya serasa di hantam benda keras dengan sangat kuat. Sangat sakit.
"Bangun, Lu. Kau kenapa. LUUUU!"
Suara teriakan Briana tanpa sengaja berhasil menyadarkan Lu dari mimpi buruk. Segera dia bangun kemudian duduk dengan nafas terengah-engah. Briana yang kaget melihat Lu tiba-tiba bangun hampir saja jatuh terjengkang ke lantai jika saja tangan pria ini tak sigap menarik tubuhnya.
"Maaf," bisik Lu. "Maaf,"
"Hiksss, Lu. Kau kenapa sih? Kenapa kau terlihat seperti orang yang sedang sekarat? Apa kau berniat menjadikan aku sebagai tersangka kasus pembunuhan?" tanya Briana sambil terisak ketakutan. Dia takut bukan hanya karena melihat keadaan Lu, tapi juga takut karena hampir terjatuh. Bisa benjol kepalanya tadi kalau terlambat di selamatkan.
Tak langsung menjawab, Lu menarik Briana ke dalam pelukan. Di kecupnya puncak kepala wanita ini sebelum dia menarik nafas dalam-dalam. "Kau tahu, Briana. Sejak aku memulai pengobatan, aku selalu saja melihat seorang anak laki-laki yang tak pernah selesai menyebutkan namanya. Dalam mimpi itu kami terlihat dekat, bahkan tidur pun kami saling memeluk. Kemudian ada satu kejadian di mana dia meminta agar aku menemaninya pergi ke toilet. Namun ... di bagian ini aku selalu gagal setiap kali ingin mengingat sesuatu. Semacam ada kabut tebal yang menghalangiku untuk mencari tahu apakah anak itu selamat atau tidak. Aku sangat frustasi setiap kali memikirkan hal ini, Briana. Dan entah kenapa wajahmu selalu muncul sesaat sebelum aku tersadar. Aneh 'kan?"
"Aku muncul dalam mimpimu?" Briana heran. Dia lalu menyedot ingusnya agar tidak mengalir keluar. "Memangnya dulu kita pernah kenal?"
"Entahlah, aku juga tidak tahu."
"Mimpimu aneh juga ya,"
Lu tersenyum samar. Briana saja merasa aneh, apalagi dia yang melihat langsung isi dari mimpi tersebut. Tak mau rasa sakit itu datang lagi, Lu mengalihkan pembicaraan dengan bertanya tentang kabar para tetangga. Dia merindukan mereka.
"Bri, bagaimana kabar Paman dan Bibi tetangga? Apa mereka baik-baik saja?"
__ADS_1
"Kalau dari pengakuan mereka sih tidak baik-baik saja setelah kau pergi. Akan tetapi menurut ketajaman mataku, semua orang terlihat biasa saja dalam menjalani keseharian mereka. Namun ada beberapa kali kesempatan di mana kami saling berbagi kerinduan tentangmu. Aku bahkan tidak ragu untuk bercerita dengan mereka. Intinya, sebaiknya kau jangan mengkhawatirkan mereka karena itu tidaklah penting. Sebab yang harus menjadi fokusmu sekarang adalah kesembuhanmu. Tahu?" jawab Briana sedikit merasa tak rela saat Lu tiba-tiba menanyakan kabar para tetangga. Jelas Briana tidak terimalah, la wong para tetangga itu masih kekeh ingin menjadikan Lu sebagai menantu mereka. Mereka berjanji untuk bersaing secara sehat.
"Ada kau bersamaku, seharusnya aku bisa sembuh dengan cepat. Karena yang lebih aku butuhkan itu hadirmu, bukan para dokter."
"Jangan mulai ya,"
"Aku bicara jujur, Briana. Sama sekali tidak sedang bercanda," ucap Lu meyakinkan. "Kau tahu tidak. Sejak aku dibawa kemari, aku merasa seperti ada yang hilang dari hidupku. Untungnya aku membawa barang milikmu. Jika tidak, aku pasti sudah mati kering karena menahan rindu."
Bohonglah jika lubang hidung Briana tidak kembang kempis mendengar perkataan Lu. Hatinya bahkan sampai berbunga-bunga karenanya. Sebagai wanita normal yang membutuhkan belaian, jelas perkataan Lu telah menjungkirbalikkan hatinya. Kata-katanya yang lembut, seolah memberi dorongan untuk Briana mengakui perasaan. Ah, tapi tidak sekarang. Tunggu Lu saja yang memulai. Gengsi.
"Sudah kesekian kali aku melakukan terapi, tapi tidak satupun yang berhasil membuatku sembuh. Aku sudah berada di titik putus asa, Briana. Mungkin Tuhan memang telah menakdirkan aku untuk menjadi pria yang seperti ini," ucap Lu mengeluarkan keluh kesahnya. "Jika benar selamanya aku tidak akan pernah bisa sembuh, apa kau masih bersedia untuk menerimaku?"
"Menerima apa maksudnya, Lu?" tanya Briana sambil menelan ludah. Sedikit lagi.
"Menerima hubungan kita yang seperti ini," jawab Lu sambil menahan tawa. Mendadak dia jadi berkeinginan untuk menjahili wanita ini. Jadilah dia menunda untuk mengungkapkan perasaan.
"Hei, kenapa mengumpat?"
"Tidak kenapa-napa. Masalah?" sewot Briana setengah kecewa.
Lu lagi-lagi tersenyum samar. Dia melepaskan dekapan kemudian menarik dagu Briana agar menatapnya. Cantik, cantik sekali. Bahkan tanpa mengenakan riasan apapun wanita ini sudah begitu mempesona. Dan ketika Lu sedang menikmati kecantikan wajah Briana, segelintir ingatan muncul di kepala sehingga membuatnya meringis menahan nyeri.
"Ya ampun, Lu. Kau sakit lagi. Aku telepon Wildan saja ya?" ucap Briana cemas. Dan kecemasannya kian bertambah saja ketika melihat wajah Lu yang mulai memucat. "Kau butuh dokter, Lu. Wajahmu sudah pucat seperti zombie. Ini tidak boleh dibiarkan!"
Tak mau Lu mati sia-sia, dengan kuat Briana mendorong tubuhnya kemudian hendak turun dari kasur. Tapi baru juga kakinya terayun hendak menginjak lantai, dia di kagetkan oleh sepasang lengan kekar yang melingkar di perut. Seketika tubuh Briana menegang.
"Briana, apakah dulu kau pernah menjadi korban penculikan?" tanya Lu seraya menyender ke punggung Briana. Anak laki-laki itu ... baru saja menyelesaikan namanya. Dan namanya adalah Briana. Ya, Briana. Sama seperti nama wanita yang sedang di peluknya.
__ADS_1
"Kenapa kau lagi-lagi bertanya tentang hal ini, Lu?" sahut Briana balik bertanya. Diusapnya pelan lengan Lu sembari menunggu penjelasan.
"Aku hanya ingin tahu saja, Briana. Siapa tahu anak laki-laki yang muncul di dalam mimpiku benar adalah dirimu. Kemungkinan seperti itu bisa saja terjadi, bukan?" jawab Lu.
"Perlukah aku menelanjangi tubuhku agar kau bisa membedakan mana anak laki-laki dan mana anak perempuan?" sarkas Briana tak tanggung-tanggung. "Harus berapa kali aku jelaskan padamu kalau aku ini adalah wanita tulen. Aku punya pay*dara yang sekal dan aku juga punya semacam mesin bulat berlubang dengan tekstur yang tak kalah kenyal seperti daging sapi. Apa kedua bukti ini masih belum bisa meyakinkanmu juga kalau aku bukanlah anak laki-laki yang kau lihat di dalam mimpi itu, hem?"
"Boleh aku mencobanya?"
Lu berkelakar. Berkat kelakarannya itu sekarang dia harus rela menerima gigitan kuat di jari-jari tangan. Briana berubah menjadi vampir, tapi bukan vampir peminum darah. Melainkan vampir yang bisa memporak-porandakan hatinya. Hehehe.
"Sedang kesakitan saja kau masih sempat untuk berpikiran kurang ajar. Aku jadi penasaran dengan kepribadianmu saat normal dulu, Lu. Apa mungkin kau adalah sosok pria yang sangat mesum?" tuduh Briana setelah puas menggigit jari tangan Lu. Kesal sekali dia saat pria ingin berkata ingin mencoba aset-asetnya. Resmikan dulu, baru boleh icip-icip. Begitu baru benar. Karena konsep 21++ seperti ini hanya berlaku untuk Julia, tidak dengan Briana.
"Karena itulah temani aku menjalani pengobatan sampai sembuh agar kau tahu seperti apa kepribadianku dulu. Oke?" sahut Lu santai.
"Cihh, malas sekali aku melakukannya. Seperti tidak punya kerjaan saja!"
"Kalau begitu aku akan mencari seseorang yang bersedia untuk menemaniku sampai sembuh!" ancam Lu dengan sengaja.
"Coba saja kalau kau berani. Kemudian bersiaplah kalian berdua akan aku jadikan isian dari sop buntut yang di jual di cafe. Lalu aku akan menjadikan tulang rusuk kalian sebagai hiasan dinding di sana. Mau?" sahut Briana balas mengancam.
"Psikopat sekali!"
"Oh, itu belum seberapa. Aku masih banyak menyimpan ide-ide psikopat yang baru akan aku lakukan jika kau berani menggatal pada sembarang wanita. Cobalah jika tidak percaya!"
Tentu saja aku sangat percaya, Briana. Hmmm, ternyata menyenangkan sekali ya memiliki wanita yang over posesif sepertimu. Aku jadi tidak sabar ingin segera sembuh kemudian melamarmu dalam kondisi normal dan tidak sakit-sakitan.
***
__ADS_1