Wanita Kesayangan Sang Presdir

Wanita Kesayangan Sang Presdir
Kartu As


__ADS_3

Sementara itu di café, Briana yang baru saja selesai membereskan meja pengunjung bergegas mengambil ponselnya yang tersimpan di dalam tas. Tadi saat dia sedang mengantarkan pesanan pelanggan, Briana tak sengaja mendengar suara dering ponsel. Akan tetapi karena café sedang ramai dia tidak lagi mempedulikan dering tersebut. Baru sekarang dia mempunyai waktu untuk memeriksa siapa yang telah menelpon.


“Hah? Wildan menghubungiku sebanyak empat kali?” pekik Briana syok. “Apa jangan-jangan Lu yang melakukan panggilan ini? Gawat, apa yang harus aku lakukan sekarang?”


Julia memperhatikan gerak-gerik Briana yang terlihat mencurigakan begitu membuka ponselnya. Khawatir ada pesan ancaman dari depkolektor, dengan cepat Julia datang menghampiri. Dan dia langsung merebut ponsel dari tangan Briana kemudian memeriksa apa yang sedang dilihatnya.


“Uwaaahhhh, ternyata Wildan yang menelpon. Cepat telpon balik nomor ini, Briana. Aku ingin melihat vitaminku agar tenagaku bisa kembali terisi. Yesss!” teriak Julia heboh sendiri setelah tahu kalau sikap aneh Briana bukan di sebabkan oleh pesan dari depkolektor, melainkan karena Wildan menelpon. Dan itu sebanyak empat kali. Bayangkan, empat kali bestie. Ini keren sekali, bukan?


“Yakk Julia, kau pikir aku akan menuruti keinginanmu dengan menelpon balik ke nomornya Wildan?” tanya Briana seraya memicingkan mata. Dia jengah sekali melihat sikap Julia yang langsung menggatal dengan cara memperbaiki lipstiknya yang sedikit luntur. “Tidak akan. Jangan harap aku akan membiarkanmu mempermalukan aku seperti tadi sore. Kesalahan itu tidak akan terulang dua kali. Tahu kau!”


“Ck, kau ini bagaimana sih, Bri. Aku berdandan seperti ini hanya untuk pembukaan saja. Selebihnya hanya kau dan Lu yang akan menghabiskan waktu untuk mengobrol. Begini saja kok repot. Huh!” kesal Julia saat Briana menolak untuk balik menghubungi Wildan.


Briana menarik nafas. Benar juga. Lu kan tidak punya ponsel, otomatis hanya lewat Wildan dan Erzan saja mereka baru bisa bicara. Takut ada serbuan dari pengunjung, dengan cepat Briana merapihkan penampilannya sebelum kembali menghubungi Lu. Akan tetapi belum juga Briana selesai bersiap ponselnya sudah berdering lebih dulu. Dan itu membuat Briana terhenyak kaget karena ternyata Wildan melakukan panggilan video.

__ADS_1


“B-bagaimana ini, Julia. Dia melakukan panggilan video ke ponselku. Apa yang harus aku lakukan?” teriak Briana panik sendiri.


“Dasar bodoh. Ternyata memang benar ya apa kata orang kalau cinta itu bisa membuat seseorang berubah menjadi seekor keledai dungu. Tinggal di angkat saja apa susahnya sih. Heran!”


Secepat kilat Julia kembali menyambar ponsel dari tangan Briana kemudian menjawab panggilan dengan penuh percaya diri. Harapan Julia sih orang yang pertama dilihatnya adalah Wildan. Namun Julia terpaksa harus menelan kenyataan pahit karena yang muncul dilayar ponsel ternyata adalah wajah tampannya Lu. Sialan sekali bukan?


“Haihhh, aku kira Wildan yang akan muncul. Ternyata malah si hantu air tampan ini!” keluh Julia lirih. Dia lalu mengarahkan kamera ponsel tepat ke depan lubang hidung Briana. “Nah, priamu menelpon. Bicaralah. Keluarkan semua keluh kesahmu selama satu minggu ini!”


Tubuh Briana menjadi panas dingin begitu dia bertatapan langsung dengan Lu. Seminggu tak melihat pria idiot ini membuat Briana sedikit agak pangling akan keadaannya. Wajah Lu terlihat lelah dan ada lingkaran hitam di bawah matanya. Sepertinya Lu tidak beristirahat dengan baik di sana.


“Aku baik-baik saja setelah mendengar suaramu, Bri. Kau sendiri bagaimana? Apa pekerjaan café membuatmu merasa lelah?” jawab Lu balik memberi pertanyaan. Sorot matanya tak bisa membohongi kalau dia bahagia sekali karena bisa kembali melihat wajah cantik dari wanita yang di sukainya.


Briana menggeleng, tapi sedetik kemudian dia mengangguk. Julia yang melihatnya pun merasa ingin sekali menempeleng kepalanya. Tapi karena dia tak mau mengganggu waktu sakral dari pasangan beda dimensi ini, Julia menahan sekuat mungkin agar mulutnya tidak mengeluarkan celetukan yang mana bisa membuat sahabatnya terkena serangan jantung.

__ADS_1


“Pekerjaan di café masih sama seperti yang biasa kita kerjakan dulu, Lu. Hanya saja bedanya sekarang kau tida ada di sini untuk membantuku. Itu saja,” jawab Briana malu-malu. Dia lalu memberanikan diri untuk mengutarakan tentang kerinduannya. “Lu, em aku itu … maksudnya seminggu ini aku sangat merindukanmu. Aku merasa hari-hariku menjadi sangat kosong setelah kau dibawa pulang oleh Wildan dan Erzan. Di sana kau merasakan hal yang sama denganku tidak? Me-merindukanku meski hanya sedetik mumgkin?”


“Tidak hanya sedetik, Briana. Tapi aku selalu merindukanmu sepanjang waktu. Tidak ada satu detikpun yang kulewati tanpa memikirkanmu. Jujur, keadaan ini sangatlah menyiksa, Briana. Sepanjang malam aku banyak mengabiskan waktu untuk berbicara dengan pita rambut milikmu yang kucuri diam-diam saat akan meninggalkan rumah kita. Ini buktinya,” sahut Lu kemudian mengambil sesuatu dari balik bantal. Setelah itu Lu menunjukkan sebuah pita rambut berwarna biru langit ke depan kamera ponsel. “Kau lihat inikan, Briana? Pita rambut ini menjadi saksi betapa aku sangat merindukanmu,”


Bayangkan. Wanita mana yang hatinya tidak akan meleleh mendengar kata-kata manis yang di ucapkan oleh Lu barusan. Dan hal yang sama juga dirasakan oleh Briana saat ini. Saking melelehnya, kaki Briana sampai tidak berhenti saling gesek untuk menyalurkan perasaan membuncah di hatinya. Dan seperti biasa, intel pribadi di sebelah Briana dengan penuh setia mencibirkan bibir sambil merekam kelakuan Briana dengan ponselnya.


Saat Briana sedang kasmaran pada Lu, tiba-tiba saja café di geruduk oleh rombongan pengunjung. Briana yang melihatnya pun tidak bisa mengabaikan tamu-tamu itu begitu saja. Dia lalu memberitahu Lu agar jangan mematikan panggilan video itu dan membiarkannya menyaksikan kesibukan yang sedang terjadi di sana.


“Lu, kau tidak keberatan bukan kalau kita mengobrol sambil aku menyiapkan pesanan para tamu?” tanya Briana sambil mulai meracik bumbu untuk memasak pesanan. Dia kemudian tersenyum saat Lu menganggukkan kepalanya. “Kau tahu tidak, Lu. Sejak kau pergi aku banyak menghabiskan waktuku dengan Julia. Dia mendadak jadi baik dan peduli sekali padaku. Aneh ‘kan?”


Kalau saja café tidak sedang tidak ramai, Julia bersumpah akan langsung membongkar betapa mengerikannya Briana saat sedang menggalau. Dan yang bisa dilakukannya sekarang hanyalah menggerutu pelan membiarkan Briana dan Lu menggibahkan tentangnya. Sungguh sahabat yang jahat sekali bukan? Sekalinya bertemu dengan pria yang di sukainya, seketika Julia menjadi tumbal. Untung sayang. Kalau tidak, Julia pasti sudah menjambak rambut Briana sampai botak.


“Hehe, kau bersenang-senanglah dulu sekarang, Briana. Tapi nanti kau akan menangis bombai saat aku mengirimkan rekaman itu pada Lu. Hahaha, bersiaplah menahan malu sahabatku sayang,” gumam Julia sambil tersenyum jahat. Dia punya kartu as yang akan dia gunakan untuk membalas gunjingan Briana. Julia cerdas sekali, bukan? 😝

__ADS_1


***


__ADS_2