Wanita Kesayangan Sang Presdir

Wanita Kesayangan Sang Presdir
Kekhawatiran Seorang Ayah


__ADS_3

Hendar terbengang seperti orang bodoh begitu mendengar laporan dari bawahannya. Syok, teramat sangat syok. Bawahannya melapor kalau putrinya marah setelah mengetahui kalau dia meminta penjaga mengingatkan Gavriel agar menjaga jarak dari Briana. Sungguh, dia resah sekali sekarang.


"K-kenapa kau mengatakannya pada putriku kalau aku yang memintamu mengingatkan mereka?" tanya Hendar frustasi. "Harusnya kau cukup bilang supaya mereka menjaga jarak karena belum menikah. Kenapa malah menyebutkan namaku? Kau ingin melihatku mati dibunuh oleh putriku sendiri apa bagaimana?"


"Maafkan saya, Tuan Hendar. S-saya merasa tertekan. Saya takut Nona Briana akan mencekik saya jika tidak bicara jujur!" jawab si penjaga tak kalah frustasi seperti bosnya.


Tuan Hendar, kau tidak tahu saja seperti apa mencekamnya keadaan di dalam mobil tadi. Aku sungguh sangat jera berada di sekitar Nona Briana. Semoga saja di lain hari kau tidak memintaku lagi untuk berurusan dengannya.


"Meski begitu kau tidak seharusnya menyebut namaku, bodoh!"


Murka, Hendar berniat menghajar anak buahnya. Akan tetapi baru juga tangannya mengayun ke atas, kemunculan Jenny membuat tindakan Hendar terhenti. Mentalnya down seketika melihat cara wanita ini menatapnya. Hampir sama dengan cara Briana melayangkan tatapan sinisnya.


"Ini rumah, Hendar. Bukan arena gulat yang bisa bebas kau pakai untuk adu kekuatan. Tahu!" tegur Jenny seraya memasang ekpresi kesal. Meski umur sudah tua, tapi suaminya masih saja suka bermain kekerasan. Hmmm.


"Maaf, sayang. A-aku hanya kesal saja pada si bodoh ini," sahut Hendar sambil mendorong kening anak buahnya menggunakan jari telunjuk. Dia lalu mengusirnya pergi dari sana.


"Bodoh-bodoh begitu dia sudah cukup berjasa padamu. Jangan mudah menyakiti orang, nanti kau kena karmanya. Mau?"


"Tidak mau."


"Ya sudah jangan suka main hakim sendiri. Semua masalah pasti ada jalan keluarnya. Pikirkan itu!"

__ADS_1


Hendar terdiam. Entahlah, sekarang keberaniannya seperti lenyap semua jika sudah berhadapan dengan kedua wanita yang sangat di cintainya. Mungkin jika di hadapan Jenny dia masih mampu berkilah. Akan tetapi jika berhadapan dengan Briana, jiwa jantannya berubah menjadi seperti kerupuk yang terendam air. Lemah, loyo, tak berkutik, juga lemas. Aneh, kan? Sangat malah.


"Memangnya apa yang sudah dilakukan oleh penjaga itu sampai kau bisa sebegitu marah padanya, hm?" tanya Jenny mencoba melunak. Kasihan juga dia melihat suaminya yang seperti terpojok.


"Dia memberitahu Briana kalau aku memintanya untuk mengingatkan mereka," jawab Hendar lesu.


"Mengingatkan tentang apa?"


"Aku khawatir Briana dan Gavriel lepas kendali saat sedang berdua. Sebagai ayahnya aku jelas tidak terima kalau putriku di sentuh sebelum waktunya. Apalagi kalau sampai hamil. Brianandita Origan adalah wanita baik-baik dan juga terhormat. Haram bagi siapapun mengambil kehormatannya sebelum mendapat stempel suami dari kantor sipil!"


Hening. Jenny terdiam seribu bahasa mendengar alasan Hendar yang ingin menghajar anak buahnya sendiri. Jujur, dia terharu. Walaupun hasil tes DNA masih belum keluar, tapi suaminya sudah memperhatikan Briana sampai sejauh ini. Sebagai wanita yang telah melahirkan Briana jelas Jenny merasa sangat amat tersentuh meskipun tahu kalau Gavriel tidak akan mungkin melakukan hal serendah itu pada putrinya. Gavriel pria sejati yang akan menjaga kehormatan wanitanya sampai mereka resmi menikah. Jenny sangat yakin pada hal ini.


"Sayang, tolong jangan salah paham padaku. Aku seperti ini karena peduli pada Briana, aku takut dia kecewa dan sakit hati jika seandainya Gavriel sampai berpaling hati. Kami sama-sama pria, jelas aku tahu banyak tentang hal-hal semacam ini. Aku harap kau bisa mengerti keresahanku!" ujar Hendar sambil berjalan mendekati Jenny. Dia takut sekali wanita ini marah. "Pahami niatanku ya? Aku hanya ingin yang terbaik untuk putri kita. Sungguh!"


"Aku mengerti akan hal ini, sayang. Tapi tetap saja aku tak bisa menahan diri karena terlalu mengkhawatirkannya. Di zaman sekarang sudah sangat jarang ada pria yang mau menjaga pasangannya sampai mereka resmi menikah. Rata-rata mereka semua adalah b*jingan yang hanya suka enaknya saja. Aku khawatir Gavriel adalah pria yang seperti itu. Makanya aku meminta pengawal menegur jika sikap mereka mulai tidak beres. Tapi apa daya. Briana marah dan mengancam ingin membuat perhitungan denganku. Aku harus bagaimana?"


"Biarkan saja Briana ingin melakukan apa padamu. Karena menurutku ini adalah salah satu jalan untuk mendekatkan hubungan kalian. Aku saja harus rela menebalkan muka demi Briana mau menganggapku sebagai ibunya. Jadi amukan dari anak kita harusnya tidak membuatmu merasa panik dan takut. Kau jangan lupa kalau selama ini Briana menjalani kerasnya kehidupan tanpa ada orangtua yang mendampingi. Bisa sajakan kebrutalan yang dia tunjukkan sekarang merupakan caranya bertahan hidup?"


Hendar terpaku. Perkataan Jenny sukses membuat dadanya berdenyut nyeri. Dia lupa kalau selama ini putrinya menjalani hidup yang kurang menyenangkan. Dan besar kemungkinan sikap yang Briana tunjukkan merupakan benteng agar dirinya tidak mudah jatuh dan tertindas. Hmm, Hendar jadi merasa bersalah sekarang.


"Sudah ya jangan terlalu memikirkan hal ini lagi. Percaya padaku kalau Gavriel adalah laki-laki terbaik yang bisa kita jadikan sebagai kandidat menantu. Aku sudah mendengar sendiri dari mulut Briana kalau Gavriel sama sekali tak pernah menyentuhnya meskipun saat itu mereka sempat tinggal bersama. Gavriel adalah pria sejati yang tahu bagaimana cara menjaga kehormatan wanitanya. Jadi berhenti mengkhawatirkan masalah itu dan mari kita fokus memikirkan bagaimana caranya supaya Briana bisa segera kembali ke rumah ini. Aku sudah tidak sabar ingin segera berbagi cerita dan menghabiskan waktu bersamanya!" ucap Jenny sambil tersenyum semringah. Membayangkan waktu-waktu menyenangkan dengan putrinya membuat suasana hati Jenny menjadi sangat luar biasa baik.

__ADS_1


"Sayang sekali hasil tesnya masih belum keluar. Para dokter itu lambat sekali kerjanya. Membuat waktu kita jadi terbuang percuma gara-gara menunggu mereka!" keluh Hendar mulai kesal karena dokter masih belum menghubungi. Tangannya jadi gatal.


Haruskah aku merusuh di rumah sakit supaya mereka bisa segera mengeluarkan hasilnya? Tapi kalau Jenny dan Briana marah bagaimana?


"Hen, kau itukan punya semacam koneksi yang cukup kuat di kota ini. Kenapa tidak kau gunakan saja koneksi tersebut untuk mengancam para dokter itu? Dengan beginikan kita tidak perlu menunda-nunda waktu untuk melihat hasilnya. Benar tidak?" ucap Jenny yang tiba-tiba terpikir untuk membujuk Hendar agar memprovokasi para dokter yang bertanggung jawab pada hasil tes DNA suami dan putrinya. Jenny sudah tidak sabar menunggu lagi.


"Sayang, kau yakin memintaku melakukan hal ini?" kaget Hendar. Matanya sampai membelalak lebar karenanya.


"Tentu saja aku sangat yakin. Kenapa memangnya?"


"A-aku heran saja. Bukankah selama ini kau sangat membenci hal-hal yang berbau kekerasan ya?"


"Untuk Briana aku akan menghalalkan segala macam cara. Lagipula kau kan tidak menghabisi dokter-dokter itu. Kau hanya kuminta sedikit memprovokasi mereka supaya lebih cepat dalam bekerja. Begitu. Tidak ada yang salah, kan?"


Sebuah smirk muncul di bibir Hendar begitu dia mendapat izin dari istrinya tercinta. Tangannya terulur mengelus pipi wanita cantik ini.


"Baiklah sayang, aku akan menuruti apa yang kau perintahkan. Semua ini kita lakukan karena terlalu sayang pada Briana. Benar?"


"Benar sekali. Kalau bisa secepatnya ya?" sahut Jenny girang setengah mati.


"Sesuai perintahmu, Yang Mulia Ratu."

__ADS_1


Jenny dan Hendar tertawa lepas setelah mereka sepakat untuk mengerjai dokter. Agak gila memang, tapi ya sudahlah. Yang terpenting hasil tes DNA-nya cepat keluar. Haha.


***


__ADS_2