Wanita Kesayangan Sang Presdir

Wanita Kesayangan Sang Presdir
Kantor Polisi


__ADS_3

📢📢📢 MINTA DUKUNGANNYA YA BESTIE UNTUK NOVEL INI YANG SEDANG MENGIKUTI LOMBA #100%KEKASIH IDEAL 💜


***


Dengan sabar Julia membantu Briana berdiri dan memapahnya untuk duduk. Kasihan, dia benar-benar sangat kasihan sekali padanya. Sesusah-susahnya Briana, selama ini Julia tak pernah melihatnya sampai sefrustasi ini. Sepertinya kedatangan Lu di hidup Briana benar-benar menjadi sebuah beban yang sangat besar untuknya. Memperihatinkan.


“Julia, apa di sini ada racun tikus?” tanya Briana lirih. Dia enggan menatap Lu meski sekarang Lu tengah berdiri di hadapannya.


“Ada,” jawab Julia.


“Tolong bawakan kemari racun tikusnya. Aku mau bunuh diri saja. Aku tidak kuat menghadapi masalah ini lagi. Aku lelah!”


Kedua mata Lu dan Julia sama-sama membelalak lebar begitu mendengar kalau Briana ingin bunuh diri dengan cara meminum racun tikus. Tak mau dewi penyelamatnya mati, dengan segera Lu duduk di samping Briana kemudian menarik wajahnya agar menghadapnya. “Briana, Tuhan benci orang-orang yang berputus asa dan mengakhiri hidup mereka dengan cara yang tidak seharusnya. Nanti kau bisa masuk neraka!”


“Lu benar, Briana. Lebih baik kau tunggu ajalmu tiba saja daripada bunuh diri. Aku tidak mau dihantui arwahmu yang gentayangan!” imbuh Julia ikut menasehati Briana agar jangan bunuh diri.


Rasanya Briana ingin sekali menangis mendengar nasehat tak masuk akal yang keluar dari mulutnya Lu dan juga Julia. Bisa-bisanya ya mereka bicara seperti itu di saat Briana sudah hampir depresi seperti ini. Kelewatan.


Julia yang melihat tampang menyedihkan sahabatnya pun merasa tak tega. Dia kemudian menatap Lu yang terlihat begitu khawatir. Tak ingin Briana nekad bunuh diri, Julia segera memikirkan bagaimana cara untuk menyingkirkan Lu. Ya, pria idiot ini harus secepat mungkin di kembalikan ke keluarganya agar Briana bisa hidup tenang seperti biasanya. Ya, Julia harus melakukan hal ini.


Kira-kira kemana ya aku harus mengirim Lu pergi? Ah ya, kantor polisi. Benar. Lebih baik aku minta Briana untuk membawa Lu ke kantor polisi saja. Nanti di sana dia tinggal melaporkan Lu sebagai orang hilang. Aku yakin keluarganya Lu pasti melaporkan hal yang sama juga pada polisi. Ya, begini baru benar. Akhirnya.


“Apa sih?” kesal Briana saat Julia mendekatkan wajahnya ke telinga. Geli.


“Ck, diamlah. Aku ingin memberitahu sesuatu hal yang bisa membuat Lu pergi dari hidupmu. Mau dengar tidak?” sahut Julia dengan suara pelan. Dia tak mau Lu mendengarnya.


“Mau.”

__ADS_1


“Ya sudah diam dulu.”


Briana mengangguk. Dia mendengarkan dengan seksama rencana apa yang ingin di sampaikan Julia kepadanya. Dan begitu Julia selesai berbisik, secepat kilat Briana menarik tangan Lu keluar dari café dan membawanya pergi ke kantor polisi. Wajah Briana yang tadinya terlihat kesal dan marah kini berganti dengan binar kebahagiaan saat keduanya masuk ke dalam taksi. Dan hal ini tentu saja membuat Lu merasa sangat penasaran.


“Briana, kau sudah tidak sedih lagi?” tanya Lu.


“Diamlah,” sahut Briana. Dia lalu memajukan tubuhnya ke depan untuk memberitahu sopir kemana mereka akan pergi. “Ke kantor polisi terdekat ya, Pak.”


“Baik, Nona.”


Briana menampilkan senyum lebar ke arah Lu saat pria idiot ini terlihat kebingungan setelah tahu kalau mereka akan pergi ke kantor polisi. Tanpa berniat menjelaskan, Briana dengan santainya menyender ke kursi mobil sembari bersedekap tangan membayangkan kalau sebentar lagi parasit di sebelahnya akan segera lenyap. Haha.


Mulai hari ini hidupmu akan kembali tenang seperti dulu, Briana. Bersabarlah.


Tak lama kemudian sampailah Lu dan Briana di depan kantor polisi. Setelah membayar taxi, Briana segera mengajak Lu masuk ke dalam. Dia benar-benar sudah tidak sabar ingin segera meninggalkan Lu di tempat ini. Sungguh.


“Selamat siang kembali, Tuan polisi. Begini, maksud kedatangan saya kemari adalah untuk melaporkan orang hilang,” jawab Briana tak kalah ramah. “Sekitar sepuluh hari yang lalu apa ada yang membuat laporan kalau mereka kehilangan anggota keluarga? Jika ada, apa mungkin pria ini adalah orangnya?”


Polisi mengamati dengan seksama ke arah Lu setelah mendengar perkataan Briana. Setelah itu polisi tersebut pergi menghampiri temannya yang lain untuk memeriksa apakah ada laporan tentang orang hilang atau tidak. Briana yang melihat hal itupun menjadi harap-harap cemas sendiri. Dia kemudian menoleh saat merasakan kalau Lu seperti tengah memperhatikannya.


“Bri, apa kau akan membuangku?” tanya Lu lesu.


“Aiyooo, kapan aku bilang ingin membuangmu, Lu?” jawab Briana. “Dengar ya. Aku membawamu kemari adalah untuk mencaritahu tentang keluargamu. Kasihan mereka kalau kau tidak segera kembali ke rumah. Jadi jangan salah paham padaku ya?”


“Tapi aku lebih suka tinggal di rumahmu, Briana. Aku tidak mau pergi kemana-mana,” rengek Lu tak rela jika harus kembali ke keluarganya. Dia enggan.


“Ck, jangan membantah. Kalau kau tidak kembali ke keluargamu yang ada aku akan mati muda. Baru beberapa hari kau tinggal di rumahku saja kau sudah membuat rambutku keluar uban. Sudah, lebih baik aku kembalikan saja kau ke keluargamu. Kau jugakan perlu berobat supaya ingatanmu cepat kembali. Benar tidak?” omel Briana jengkel mendengar rengekan Lu yang menolak pergi dari rumahnya. Yang benar saja.

__ADS_1


Saat Briana sibuk mengomeli Lu, polisi yang tadi kembali datang sambil membawa sebuah berkas di tangannya. Lu yang melihat hal itupun hanya bisa terdiam pasrah. Dia lalu menundukkan kepala sambil memainkan ujung bajunya seperti anak kecil.


“Bagaimana, Tuan polisi? Apakah ada laporan yang menyebutkan kalau mereka kehilangan anggota keluarga dengan ciri-ciri seperti pria yang datang bersama saya?” tanya Briana dengan sangat antusias.


Ini saatnya kau bebas dari pria idiot ini, Briana. Hahahha.


“Maaf, Nona. Dari informasi di bulan ini kami sama sekali tidak menerima laporan tentang orang hilang. Sepertinya pria yang datang bersama anda tidak memiliki keluarga, atau beliau hanya sedang tersesat saja. Lebih baik anda tanyakan langsung pada orangnya saja,” jawab polisi.


Wajah Briana pias begitu mendengar kalau tidak ada keluarga yang mencari keberadaan Lu. Sedangkan Lu sendiri, dia langsung mengangkat wajahnya kemudian tersenyum lebar karena tidak jadi terpisah dari Briana. Sambil mengguncang lengan Briana, Lu pun mengajaknya untuk kembali lagi ke café. Dia benar-benar merasa sangat bersyukur karena tidak ada orang yang mencari keberadaannya.


“Bri, ayo kita kembali ke café.”


“Nona, anda baik-baik saja?” tanya polisi cemas. “Atau jika anda merasa tidak tenang, anda bisa membuat laporan tentang pria yang datang bersama anda.”


“Tuan polisi, saya adalah sepupunya Briana. Jadi saya rasa kami tidak perlu membuat laporan tentang orang hilang. Kami permisi,” sahut Lu dengan cepat.


“Tapi ….


“Tuan polisi, coba anda pastikan sekali lagi apakah benar tidak ada orang hilang dengan ciri seperti pria ini atau tidak. Saya mohon,” sela Briana tak percaya kalau Lu masih akan hidup bersamanya.


“Nona, kalaupun ada kami tidak mungkin tidak memberitahu anda. Pria ini benar-benar tidak ada dalam informasi orang hilang. Sungguh!”


Briana menoleh menatap Lu. Haruskah dia membawanya kembali? Ya Tuhan, cobaan macam ini. Lu begitu tampan dan berkarisma, bagaimana bisa tidak ada keluarga yang mencarinya? Apa iya Lu ini berasal dari planet lain yang tidak sengaja terdampar di tempat ini? Hikssss, sial sekali nasibnya.


Lu yang melihat Briana melamun dengan cepat berpamitan pada polisi dan membawanya keluar dari sana. Tuhan begitu baik dengan tidak membiarkan mereka berpisah. Sambil terus menyunggingkan senyum, Lu membawa Briana ke pinggir jalan kemudian menunggu taxi lewat.


Tuhan … bisakah kau kirimkan bom atom sekarang juga? Aku tidak percaya aku masih akan menampung pria idiot ini. Aku tidak sanggup, Tuhan. Tolong aku.

__ADS_1


***


__ADS_2