Wanita Kesayangan Sang Presdir

Wanita Kesayangan Sang Presdir
Musuh Yang Menjadi Teman


__ADS_3

Di gang menuju rumah Briana, terlihat beberapa tetangga tengah sibuk bergosip sambil sesekali melihat ke arah jalan. Mereka semua tengah menunggu kepulangan Briana guna menanyakan kabar tentang Lu. Jujur, sejak hantu air itu pergi orang-orang di lingkungan ini jadi tidak bersemangat. Semua orang merasa sangat kehilangan bakal mantu yang sangat rekomended sekali itu. Sudah tampan, baik hati, anak orang kaya pula. Meskipun mereka sedikit kaget saat Briana memberitahukan kalau Lu tengah mengidap penyakit amnesia, tapi mereka kompak untuk tidak mempermasalahkan. Amnesia saja Lu terlihat begitu menarik, apalagi kalau normal. Kalian pasti bisa membayangkan sendiri bukan akan sesempurna apa hantu air itu?


“Ya ya ya, lihat itu. Briana sudah pulang. Ayo cepat bersiap!” ucap salah satu tetangga memberi kode.


“Hati-hati. Briana sepertinya sedang dalam situasi hati yang kurang baik. Kondisikan perkataan kalian atau kalian akan merasakan bogem mentah darinya. Tahu?”


“Iya kami tahu. Sudah, fokus pada pertanyaan masing-masing saja.”


Para suami yang melihat ulah istri-istri mereka hanya bisa menghela nafas sambil sesekali mengelus dada. Alasannya sih ingin menanyakan Lu demi putri mereka, tapi reaksi yang terlihat lebih menjelaskan kalau merekalah yang sebenarnya sangat ingin tahu kabar laki-laki meresahkan itu. Namun karena tak mau mencari masalah, para suami memilih untuk diam membiarkan kelakuan para wanita gatal itu. Biar sajalah. Selagi masih di batas wajar mereka akan maklum. Daripada tidak mendapat jatah dan sarapan, bisa berabe nanti. Benar tidak?


“Ekhmmmm-ekhmmmm. Baru pulang kau, Briana. Malam sekali,” tanya salah satu tetangga agak takut.


Briana menoleh. Di tatapnya datar wajah tetangga yang baru saja bertanya. Walaupun Julia telah memberikan hadiah yang sangat luar biasa mahal, hal itu masih belum bisa mengobati kerinduannya pada Lu. Briana merasa sangat kesepian saat teringat kalau saat sampai di rumah nanti dia hanya akan bertemankan sepi. Pahamlah, wanita mana yang tidak merasa kesepian ketika orang yang telah menghabiskan waktu siang dan malam selama enam puluh hari tiba-tiba pergi jauh. Lu memang tidak mati, tapi ada jarak yang membentang di antara mereka. Hal inilah yang membuat Briana menjadi sangat lesu dalam menjalani hari-harinya sejak Lu dibawa kembali ke keluarganya. Haiih.


“Kau kenapa, Briana. Tidak ketempelan setan ‘kan?”


“Bibi, tolong jangan menggangguku dulu. Aku sedang tidak mood bertengkar dengan kalian,” jawab Briana lesu. Dia berjongkok kemudian menutup wajah menggunakan kedua tangannya. Dengan kondisi mulut tertutup, Briana berteriak mengucapkan kata yang tidak jelas. “Wu, awuwewiwuwawawu!!!”


(Ada yang bisa nebak nggak kira-kira apa yang dijeritkan oleh Briana?) 😝


Para tetangga kompak membuka mulut mereka saat mendengar kata-kata aneh yang keluar dari mulut Briana. Khawatir gadis galak ini menjadi gila, salah satu dari mereka memutuskan untuk mendekat. Dia lalu mengirim kode kepada tetangga yang lain apakah dia harus mengelus punggung Briana atau tidak. Jujur, dia takut gadis ini akan memberontak kemudian membantingnya ke tanah. Kan tidak lucu kalau dia sampai patah pinggang. Benar tidak?

__ADS_1


“Kalau mau pegang ya pegang saja, Bibi. Tidak perlu takut. Aku sedang tidak punya tenaga untuk melakukan smackdown padamu!” ucap Briana tanggap kalau bibi tetangga merasa ragu saat ingin menyentuhnya. Tengingat pesan Lu kalau bukanlah hal buruk berbagi rasa dengan orang lain, Briana berniat membangun hubungan baik dengan para tetangganya ini. Lagipula sekarang dia memang sedang sangat membutuhkan hiburan dan teman bicara. Jadi tidak ada salahnya bukan kalau dia sedikit membuka diri?


“Haihhhh, melihat sikapmu yang tiba-tiba baik entah mengapa membuatku jadi merasa curiga padamu, Briana. Kau tidak sedang pura-pura ‘kan?” tanya bibi tetangga masih kurang percaya.


“Bibi, tidak bisakah matamu yang besar itu melihat ketidakberdayaanku? Aku sedang terluka dan kesepian. Bisakah jangan memancing keributan?” sahut Briana seraya menatap sedih pada bibi tetangga yang baru saja meragukan kebaikannya. Wajar sih, selama inikan hubungan mereka bagaikan anjing dan kucing. Jadi bukan salah mereka merasa aneh akan perubahan sikap Briana yang begitu tiba-tiba.


“Heh, makhluk langka sepertimu bisa merasa tidak berdaya?”


Kaget, semua orang perlahan-lahan mulai mendekat. Mereka kemudian berjongkok melingkar tanpa melepaskan pandangan dari wajah Briana yang terlihat begitu kasihan. Kali ini mereka benar-benar percaya kalau Briana tidak sedang berbohong. Terbukti dari ekpresi memelas di wajahnya. Kasihan.


“Ada apa, Briana? Apa kau dipecat dari café temanmu?”


“Sampai matipun Julia tidak akan berani memecatku, Bibi. Aku begini karena hal lain,” jawab Briana mencoba untuk lebih terbuka lagi.


“Lu,”


“Lu?”


Briana mengangguk. “Aku sangat merindukannya. Hatiku seperti kosong setelah dia dibawa kembali ke keluarganya. Dan setiap kali pulang ke rumah, rasanya aku seperti sedang memasuki area pemakaman yang sangat luar biasa sepi. Aku sedih sekali Paman, Bibi. Aku rindu Lu,”


Setelah berkata seperti itu tiba-tiba saja mata Briana memanas dan hidungnya mulai memproduksi olahan ingus berwarna bening yang langsung siap meluncur. Akan tetapi sekuat mungkin Briana bertahan agar ingus itu tidak meleleh keluar karena dia belum siap menangis di hadapan orang-orang yang dulunya adalah musuh bebuyutannya sendiri. Walaupun butuh, tapi Briana masih setia untuk menjaga gengsi. Tunggu setelah nanti dia benar-benar sudah tidak mampu membendung perasaannya lagi, baru dia akan mengeluarkan jurus terakhirnya. Yaitu menangis. Hiksss.

__ADS_1


“Bendungan air matamu sepertinya sudah jebol, Bri. Keluarkan saja, jangan di tahan-tahan. Nanti biji matamu meletus,” celetuk salah satu tim suami yang menyadari kalau Briana sedang menahan diri agar tidak menangis.


“Paman, bisakah Paman mengeluarkan celetukan yang tidak menyakiti hati? Perasaanku sedang terluka. Berbaik hatilah sedikit. Hm?” sahut Briana antara ingin menangis dan mengamuk. Bisa-bisanya paman tetangga ini mengeluarkan celetukan yang cukup melukai gengsinya. Tidak tahu situasi sekali sih. Heran.


Plaaakkkkk


“Yakkk! Kenapa kau memukul kepalaku. Sakit tahu!” pekik paman tetangga sambil mengelus kepalanya yang baru saja di geplak dengan kuat.


“Masih untung aku hanya memukulmu. Kau pasti sudah mati kalau aku sampai mengeluarkan suluruh penghuni di dalam kepalamu yang sempit itu. Sudah tahu Briana sedang sedih karena merindukan Lu, kau malah mengeluarkan celetukan yang membuatnya jadi bertambah semakin sedih. Dasar tidak peka. Memang benar ya kalau laki-laki itu tidak pernah bisa memahami perasaan wanita. Huh!” omel bibi tetangga dengan sengitnya. Setelah itu dia berbalik menghadap Briana kemudian memeluknya. Dielusnya rambut gadis galak ini penuh sayang sambil memberikan beberapa nasehat. “Tidak apa-apa kalau kau mau menangis, Briana. Itu normal di alami para wanita yang sedang jatuh cinta. Meskipun berat mengakui hal ini, tapi kami bisa mengerti kalau kau begitu tersiksa karena menyukai Lu. Jangankan dirimu, kami saja sampai saat ini masih tergila-gila padanya. Jadi kalau kau merasa sedih atau sedang merindukan hantu air itu jangan ragu untuk bercerita pada kami. Oke?”


“Apa kalian masih menginginkan Lu menjadi menantu untuk putri kalian yang masih belum laku?” tanya Briana sarkas. Seketika jiwa cemburunya menguar kuat.


“Haih, mulutmu ini benar-benar ya. Putri kami bukan tidak laku, tapi kami hanya sedang mencarikan jodoh yang tepat saja untuk mereka. Dan tentu saja kami masih sangat mengharapkan Lu. Apalagi sekarang statusnya adalah anak orang kaya, semakin besar keinginan kami untuk bisa menjadikannya menantu,” jawab si bibi tetangga dengan antusias.


“Berarti kalian siap bersaing denganku untuk mendapatkan Lu?”


“Tentu saja kami sangat siap, Briana. Bagaimana sih!”


“Bolehkah aku mengumpat?”


Briana langsung mengerungkan kedua alisnya saat semua orang menganggukkan kepala. “Sialan kalian semua. Walaupun aku sedang sangat membutuhkan perhatian, tapi aku tidak akan membiarkan satupun dari kalian bisa merebut Lu dari tanganku. Mengerti?”

__ADS_1


Jika biasanya sekelompok lebah betina tua itu akan langsung balas memaki Briana, kali ini mereka hanya diam saja. Bagaimana mereka tidak diam kalau saat memaki tadi mata Briana tampak berkaca-kaca. Kasihan sekali. Sepertinya Briana benar-benar merindukan hantu air itu. Ya sudahlah. Meski sebenarnya status mereka adalah musuh bebuyutan, kali ini mereka rela menjadi teman. Hitung-hitung sebagai amal ibadah karena tidak menyerang anak yatim piatu yang sedang bersedih. Benar tidak?


***


__ADS_2