Wanita Kesayangan Sang Presdir

Wanita Kesayangan Sang Presdir
Lu, Si Pria Tampan


__ADS_3

📢📢📢 MINTA DUKUNGANNYA YA BESTIE UNTUK NOVEL INI YANG SEDANG MENGIKUTI LOMBA #100%KEKASIH IDEAL 💜


***


Eughhhhh


Terdengar lenguhan pelan dari mulutnya Lu saat dia terbangun dari tidurnya. Sambil menutup mulutnya yang tengah menguap, Lu beranjak bangun kemudian melihat jam weker yang berada di atas meja. Dia lalu menggeliat.


“Um, jam lima,” gumam Lu lirih. Dia kemudian menoleh ke samping, memperhatikan Briana yang masih tertidur lelap dengan selimut menutupi sekujur tubuh, kecuali wajahnya. “Lucu sekali. Dia terlihat sangat menggemaskan saat sedang diam begini. Apa jangan-jangan Briana memiliki dua kpribadian ya? Makanya dia terkadang terlihat beringas seperti induk anaconda saat sedang marah. Tapi … dia benar-benar terlihat sangat menggemaskan saat sedang tidur seperti ini. Xixixi.”


Sambil terkikik pelan setelah mengolok kelucuan Braian, dengan hati-hati Lu berjalan menuju kamar mandi. Sembari menggosok gigi, Lu mencoba mengingat-ingat tentang siapa dirinya. Dia heran mengapa selalu bangun di jam lima pagi dan selalu terdorong untuk melakukan olahraga setiap bangun tidur. Namun, sekeras apapun Lu berpikir dia sama sekali tidak bisa mengingat apapun tentang kehidupannya. Boro-boro ingat, yang ada kepalanya malah terasa sangat sakit seperti dihimpit oleh dua batu besar. Lu tidak tahan.


“Hmmm, ternyata aku benar-benar amnesia. Kasihan sekali nasibmu, Lu,” gumam Lu mengasihani nasibnya sendiri.


Setelah selesai menunaikan segala urusan di dalam kamar mandi, Lu bergegas membuka pintu rumah. Dia lalu merentangkan kedua tangannya sambil menghirup udara pagi yang begitu sejuk. Sambil menunggu Briana bangun, Lu memutuskan untuk berlari-lari kecil di sekitar sana. Dia tidak berani jauh-jauh, takut tidak bisa pulang. Namun, Lu tidak tahu kalau aktifitasnya menarik perhatian para ibu-ibu yang sedang sibuk dengan rutinitas masing-masing. Dia yang kala itu berolahraga dengan menggunakan celana panjang dan kaos pendek membuat mata para ibu-ibu seperti tersihir ketika kaos yang dipakainya tersingkap ke atas. Hanya dalam sekejab para ibu-ibu itu sudah sibuk mengintip Lu yang sedang fokus dengan gerakan pemanasan.


“Uwaahhh, rejeki dari si hantu air. Lihat, astaga. Bagaimana bisa dia memiliki roti sobek yang begitu segar? Ya ampun mataku sampai tidak bisa berkedip,” bisik seorang ibu yang terfokus menatap perut kotak milik Lu. Luar biasa. Sungguh rejeki yang tidak bisa ditolak bukan?


“Iya benar. Kalau saja bisa, ingin sekali aku menempelkan biji mataku di perutnya Lu agar aku bisa menatap roti sobeknya setiap saat,” timpal ibu-ibu lainnya.


“Aaaa, aku juga mau. Ya Tuhan, bagaimana bisa kau menciptakan pria setampan Lu? Aku tidak mau tahu. Pokoknya Lu harus menjadi menantuku. Titik!”


Sementara itu para suami yang tidak menemukan keberadaan istri masing-masingpun mulai mencari. Dan mereka sangat kesal ketika mendapati kalau istri mereka tengah memperhatikan Lu yang sedang berolahraga. Cemburu, para suami itu pun segera datang mendekat. Mereka mana mungkin rela membiarkan para istri mengangumi pesonanya Lu yang memang sangat luar biasa tampan.


“Hei, bukannya membuat sarapan kenapa kalian malah asik menggatal di sini? Cepat pulang!”


“Huh, buat sendiri saja sarapannya. Kalian kan punya tangan, kenapa harus mengganggu kami yang sedang sibuk mencuci mata? Pulang sana. Jangan mengganggu.”

__ADS_1


“Woaaahhh, kalian ini benar-benar ya.”


Pada akhirnya pertengkaranpun terjadi. Lu yang kaget melihat ada perkelahian berusaha untuk melerai. Namun, dia malah mendapat omelan yang sangat panjang dan di tuduh telah dengan sengaja menggoda semua wanita yang ada di sana.


“Lu, kau ini benar-benar ya. Kalau mau pamer tubuhmu yang keren itu bukan di sini tempatnya. Sana pergi ke tempat gym, di sana ada banyak sekali wanita yang suka dengan modelan pria sepertimu. Jangan malah mengotori mata para istri kami di sini. Tahu tidak?” omel salah seorang pria yang sudah agak tua. Wajahnya terlihat sangat kesal.


“Aku tidak sedang pamer, Paman,” sahut Lu dengan polosnya.


“Lalu apa yang sedang kau lakukan kalau bukan pamer? Berjualan roti? Iya?”


“Aku sedang berolahraga. Karena aku tidak terlalu hafal dengan jalanan di sini jadi aku memutuskan untuk berolahraga di sekitar rumahnya Briana. Aku sungguh tidak ada niat untuk pamer ataupun berjualan roti. Aku hanya sedang olahraga saja. Sungguh.”


Hening. Semua orang terdiam setelah Lu berkata seperti itu. Namun untuk mencegah agar hal seperti ini tidak terjadi lagi, para suami memutuskan untuk mendatangi Briana. Lu yang melihat hal itupun hanya menurut saja ketika di ajak pulang ke rumah. Dia tidak melakukan kesalahan apapun, jadi tidak ada alasan untuknya merasa takut. Benar tidak?


“Briana, Bri. Bangun kau. Saudaramu membuat masalah, cepat tanggung jawab!” teriak salah seorang pria dengan lantangnya.


“Kau diam saja. Dan itu, tarik kaosmu ke bawah. Jangan pamer!”


“Baik, Paman."


“Briana, bangun kau. Bangun!”


Di dalam kamar, Briana yang merasa terganggu dengan suara teriakan dari luar rumahpun mulai membuka mata. Pertama-tama Briana mengerjapkan mata sambil menatap langit-langit kamar. Setelah itu dia berguling ke samping, berniat membangunkan Lu agar menemui orang-orang di luar rumah.


“Lu, kau … eh, pergi kemana dia?"


“Briana, cepat bangun. Saudaramu membuat kami para anak dan suami menjadi terlantar. Cepat bangun dan selesaikan masalah ini.”

__ADS_1


Andai saja terlihat, saat ini di kepala Briana sudah muncul dua tanduk runcing begitu dia mendengar suara teriakan tersebut. Pantas saja pria idiot itu sudah tidak ada di dalam kamar, ternyata Lu membuat keributan di luar rumah. Sialan.


“Haisssshhhhh, dasar sialan kau Lu. Bisa tidak sih kau membiarkan aku tenang sebentar?” geram Briana sambil berjalan cepat menuju kamar mandi. Dia mencuci muka dan menggosok giginya sebelum menemui orang-orang diluar. Tanpa mempedulikan rambutnya yang masih sangat berantakan, Briana bergegas keluar untuk melihat apa yang telah dilakukan oleh Lu. Dan begitu Briana membuka pintu, dia dibuat heran melihat semua orang saling bergandengan tangan sambil menatap garang ke arah Lu. “Ada apa ini?”


“Briana, Lu membuat kami para pria menjadi terlantar. Tolong jangan biarkan dia berkeliaran di pagi-pagi begini. Nyawa kami taruhannya!”


“Ini apa maksudnya? A-apa yang sudah dilakukan oleh Lu sampai nyawa kalian yang menjadi taruhannya?” tanya Briana syok mendengar keluhan salah satu tetangganya.


“Aku tidak melakukan apapun pada mereka, Briana. Tadi setelah aku bangun tidur, aku memutuskan untuk berolahraga di sekitar rumah. Lalu mereka semua datang menuduhku pamer dan sedang berjualan roti. Aku sungguh tidak melakukan apa-apa pada mereka,” ucap Lu mencoba menjelaskan situasi yang sedang terjadi.


Briana diam mencerna perkataan Lu. Aneh. Kenapa orang-orang ini menuduh Lu sedang pamer dan berjualan roti? Karena penasaran, Briana pun memperhatikan Lu dengan seksama. Pria idiot ini terlihat sangat tampan meski masih menggunakan pakaian yang semalam dipakainya untuk tidur. Dan roti? Di mana rotinya? Jelas-jelas Lu tidak membawa apapun, tapi kenapa mereka menuduhnya sedang berjualan roti? Ini sebenarnya ada apa sih. Membingungkan sekali.


“Lu, coba kau angkat kaosmu ke atas. Aku perlu memastikan sesuatu,” perintah Briana.


“JANGAANN!”


Lu dan Briana sama-sama berjengit kaget saat para pria itu kompak berteriak jangan. Agak ambigu sih. Untuk memastikan apakah tebakannya benar atau tidak, Briana mendekati Lu kemudian berniat menarik kaosnya ke atas.


“Briana, le-lebih baik kau kurung Lu saja di dalam rumah. Dia … dia meresahkan. Gara-gara dia berolahraga, para wanita ini jadi tidak mau membuatkan sarapan untuk kami para suami.Tolong jangan biarkan dia membuat kekacauan kalau masih ingin tetap tinggal di lingkungan ini. Jangan mengacau!”


“Iya benar. Lu meresahkan, jangan biarkan dia keluar dari rumah sendirian!”


“Kalau kejadian ini kembali terulang, lebih baik kalian pergi saja dari sini. Jangan membuat keluarga kami kelaparan.”


Briana cengo begitu mengetahui penyebab keributan ini. Posisinya yang sedang ingin membuka kaosnya Lu tanpa sengaja membuat tangan Briana menyentuh sesuatu di sana. Dan … akhirnya Briana pun tersadar mengapa Lu dituduh berjualan roti.


Sial. Argghhhhhh Lu, bahkan perut atletismu juga ikut-ikutan mengganggu hiduku. Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan padamu, Lu. Lama-lama aku bisa gila karenamu. Brengsek.

__ADS_1


***


__ADS_2