
Julia menyeringai lebar saat melepas kepulangan Lu dan Briana. Setelah insiden hilangnya firt kiss Briana, mendadak kedua anak manusia itu saling salah tingkah saat berpapasan. Dan tentu saja ini merupakan hiburan yang sangat menyenangkan sekali di hati Julia. Bagaimana tidak. Sahabatnya yang selama ini seperti tidak memiliki ketertarikan pada lawan jenis tiba-tiba saja bersikap seperti putri malu di hadapan Lu. Sudah pasti Julia tidak akan melewatkan kesempatan besar ini lewat begitu saja. Bak seorang iblis yang menemukan mangsa empuk, Julia terus membisikkan kata-kata erotis agar Lu semakin bersemangat mengejar cinta sahabatnya itu. Sebagai wanita normal, Julia jelas tahu kalau kebaikan Lu pada Briana di dasari oleh rasa yang tak biasa. Dan ya, Julia yakin seratus persen kalau pria idiot itu telah jatuh cinta pada wanita galak yang telah menolongnya.
“Hehehe, tidak sia-sia aku selalu mengkonsumsi jus wortel setiap pagi. Mataku jadi jeli dan bisa melihat langsung sesuatu yang selama ini belum pernah kulihat di diri Briana. Hah, akhirnya kau laku juga ya, Bri. Ya walaupun pria yang menyukaimu lupa ingatan, tapi setidaknya Lu tidak mempermasalahkan sikapmu yang brutal seperti preman. Sebagai sahabatmu aku merasa lega sekali. Sungguh,” ucap Julia penuh syukur. Setelah itu dia segera mengunci jendela dan pintu café sebelum akhirnya dia masuk ke dalam rumah untuk beritirahat.
Sementara itu di jalan pulang, Lu dan Briana sama-sama saling diam. Keduanya terlalu canggung gara-gara insiden di café tadi. Sambil memegangi tali tasnya sesekali Briana melirik ke belakang. Ya, dia dan Lu tidak berjalan bersebelahan, melainkan Briana di depan dan Lu di belakang. Selalu seperti ini.
Ck, kenapa sih pria idiot ini tak pernah mau berjalan di sebelahku. Seperti penguntit saja. Heran.
“Bukannya minta maaf karena sudah mencuri first kissku dia malah bersikap acuh begini. Menyebalkan sekali,” gerutu Briana sambil menendangi kerikil kecil yang dilewatinya. Sebagai seorang wanita, Briana jelas menginginkan penjelasan dari pria yang telah mencuri ciuman pertamanya. Tapi nihil, Lu malah terkesan acuh dan mendiamkannya. Menjengkelkan sekali bukan?
Samar-samar Lu seperti mendengar suara Briana yang sedang menggerutu. Penasaran, Lu melangkah lebih dekat ke tubuh Briana. Setelah itu Lu memberanikan diri untuk menarik lengan Briana agar menghadapnya. Lu … dia ingin meminta maaf atas ketidaksengajaan yang terjadi siang tadi.
“M-mau apa kau? Kenapa menahan tanganku?” tanya Briana dengan suara terbata-bata. Jujur, jantungnya sudah mau copot sekarang. Dia tidak menyangka kalau Lu akan seagresif ini.
“Aku seperti mendengar suara gerutuanmu barusan. Apa kau marah?” jawab Lu seraya melayangkan pertanyaan balik. Tanpa menunggu Briana menjawab, Lu kembali melanjutkan perkataannya. “Briana, aku minta maaf atas apa yang terjadi di café tadi. Aku benar-benar tidak sengaja melakukannya. Sungguh.”
Blussshhhh
Wajah Briana langsung memerah saat Lu membahas kejadian memalukan itu. Dia tak menyangka kalau pria idiot ini akan membahasnya sekarang. Padahal Briana barusaja mengeluhkan sikapnya Lu yang seperti mengacuhkannya setelah mereka tidak sengaja berciuman. Tak tahu harus menjawab apa, Briana dengan cepat menepis tangan Lu kemudian lanjut berjalan. Dan dia seperti terkena asma dadakan saat Lu tiba-tiba berpindah ke sebelahnya.
__ADS_1
“Bri, kenapa tidak di jawab. Kau pasti sangat marah padaku. Iya ‘kan?” tanya Lu mendesak agar Briana memberikan respon atas kekhawatiran yang dia rasakan.
“S-siapa yang marah? Aku … aku biasa saja kok,” jawab Briana tanpa berani menoleh ke samping. Dia lalu menelan ludah saat menyadari kalau Lu tengah menatapnya. Tak mau ketahuan kalau dirinya salah tingkah, Briana segera memikirkan cara agar Lu tidak menatapnya lagi. Briana grogi. “Kalau jalan itu lihat ke depan, Lu. Kepalamu bisa benjol jika sampai menabrak tiang.”
“Jadi kau tidak marah meskipun kehilangan ciuman pertamamu?”
Paaaakkkkkk
“Yakkkk! Bicara apa kau hah! Si-siapa yang bilang kalau itu adalah ciuman pertamaku. Sok tahu sekali kau!” teriak Briana setelah menggeplak lengan Lu. Nafasnya naik turun dengan cepat saking syoknya mendengar perkataan Lu yang ternyata mengetahui kalau tadi itu adalah ciuman pertamanya. Sialan sekali pria ini.
Lu tersenyum kecil sambil mengusap-usap lengannya yang barusaja menjadi korban kebrutalan tangan Briana. Kini dia bisa mempercayai perkataan Julia yang menyebut kalau selama ini Briana belum pernah berciuman dengan pria manapun. Dan tentu saja fakta ini membuat hatinya Lu menjadi berbunga-bunga. Dia senang sekali karena bisa menjadi yang pertama untuk wanita yang di sukainya ini.
“Bri, aku senang sekali karena menjadi pria pertama yang menciummu. Meskipun itu terjadi karena ketidaksengajaan, tapi ciuman itu begitu membekas di hatiku. Aku sadar mungkin ini akan membuatmu merasa muak padaku, atau malah kau akan menganggapnya sebagai bentuk pelecehan. Tapi Briana, percayalah. Aku memang tidak bisa mengingat tentang kehidupanku yang sebelumnya, tapi aku bisa merasakan kalau kau juga adalah wanita pertama yang pernah aku cium. Kita … sama-sama adalah yang pertama!” ucap Lu dengan penuh perasaan.
Jangan di tanya bagaimana ekpresi Briana sekarang. Wajahnya kini terlihat seperti orang bodoh yang barusaja melihat hantu menari. Ya kaget, ya heran, ya malu. Semua rasa itu tercampuraduk menjadi satu di dalam hati Briana begitu dia mendengar kalau dirinya adalah yang pertama bagi Lu. Entah itu benar atau tidak, yang jelas saat ini dada Briana begitu bertalu-talu. Sekuat mungkin Briana menahan bibirnya yang ingin tersenyum. Dia tak ingin Lu tahu kalau sebenarnya dia sangat bahagia mendengar pengakuan tersebut.
Astaga. Sejak kapan pria idiot ini pandai membual? Sadar Briana. Kalau kau sampai terbawa perasaan, lama-lama kau pasti bisa jatuh cinta pada Lu. Sadar bodoh!
Apalah daya Briana ketika reaksi tubuhnya tak bisa bekerjasama denga apa yang dia pikirkan. Jika suara hati Briana meminta agar dirinya tak terbawa perasaan akan kata-kata manisnya Lu, tapi pada kenyataannya tubuh Briana tak bisa menolak ketika Lu menggandeng tangan dan mengajaknya pulang. Sambil tersenyum malu-malu, Briana menyenggol pinggangnya Lu saat pria ini tak henti menatapnya.
__ADS_1
“Jangan menatapku terus, Lu. Aku tidak akan meninggalkanmu sendirian di sini,” ucap Briana sambil meng*lum senyum.
“Aku suka melihat senyummu, Bri. Kau manis,” sahut Lu jujur. Dia kemudian tertawa saat Briana kembali menyenggol pinggangnya dengan siku tangan.
“Manis kepalamu. Kau pikir bibirku bandar madu apa!”
“Hehe,”
Dan pada akhirnya Lu dan Briana saling berbalas candaan tanpa melepas gandengan tangan mereka. Keduanya seakan lupa dengan satu kejadian manis yang membuat mereka sama-sama merasa canggung. Hingga tak lama kemudian mereka akhirnya sampai di rumah. Lu dengan penuh perhatian berjongkok di depan Briana kemudian membantu melepaskan sepatunya. Dan Lu tampak menyunggingkan senyum ketika mendapati Briana yang salah tingkah mendapat perlakuan seperti itu darinya.
“Terima kasih,” ucap Briana tanpa berani menatap Lu.
“Wajahmu merona. Apa kau malu?” ledek Lu.
Bibir Briana langsung mengerucut saat Lu bertanya dengan begitu gamblangnya. Dia kemudian mengomel sambil berjalan masuk ke dalam rumah. “Sudah pasti aku merasa malulah mendapat perlakuan yang begitu manis dari seorang pria. Sudah tahu masih saja bertanya. Matamu tidak buta ‘kan?”
Bahkan mengomelpun Briana terlihat begitu manis. Semoga saja ini adalah awal yang baik untuk perasaanku. Tapi ngomong-ngomong kenapa aku merasa familiar sekali dengan makian yang Briana katakan barusan ya? Dimana aku pernah mendengarnya?
***
__ADS_1