Wanita Kesayangan Sang Presdir

Wanita Kesayangan Sang Presdir
Pria Idaman


__ADS_3


(Gavriel Anderson)


***


Lu diam merenung saat dia tersadar setelah siang tadi sempat merasa kesakitan dikala seorang wanita yang mengaku sebagai ibunya menyebutkan satu nama di hadapannya. Helena Anderson. Lu bingung mengapa dia sama sekali tidak mengingat siapa wanita tersebut. Jika memang benar dia adalah ibunya, bukankah seharusnya masih tersisa setidaknya sedikit ingatan tentang wanita itu? Tapi kenapa ini tidak ada sama sekali? Erzan dan Wildan tidak sedang mempermainkannya, bukan?


“Bri, aku tidak nyaman berada di rumah ini. Aku ingin kembali padamu,” gumam Lu mengeluh pelan. Dia lalu menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya perlahan. Setelah itu Lu duduk dan menyandarkan tubuhnya ke kepala ranjang. “Briana, apa yang sedang kau lakukan sekarang? Apa kau menyisakan satu detik waktumu untuk memikirkan aku? Aku merindukanmu,” ....


Tanpa sadar sudut bibir Lu terangkat ke atas saat dia terkenang dengan pembicaraannya bersama Briana kemarin malam. Wanita yang biasanya selalu menunjukkan cakar dan taringnya malam itu terlihat rapuh dan begitu jauh berbeda. Tanpa di sengaja kedatangan Wildan dan Erzan telah membuat Lu melihat sisi lain Briana sebagai sosok wanita yang takut akan rasa kehilangan. Walau tidak mengucapkannya secara gamblang, tapi Lu bisa merasakan kalau Briana sebenarnya ingin sekali meminta agar Lu jangan pergi. Hal itu Lu rasakan karena selama pembicaraan mereka berlangsung, Briana terus saja memegang bajunya dengan erat. Bukankah hal ini sudah cukup menjadi bukti kalau Briana sangat berat untuk melepasnya pergi? Senang, itu sudah pasti. Apalagi Lu memang menyimpan perasaan spesial terhadapnya. Dan mengingat kebersamaan mereka membuat Lu jadi semakin merindukan wanita galak itu. Hmmm.


“Sabar, Lu. Kau pasti kuat menahan gelora rindu ini. Tidak apa-apa berpisah sementara karena pada masanya nanti kau akan terus bersama dengan Briana sampai akhir hayat. Bertahanlah,” ucap Lu menyemangati dirinya sendiri ketika hatinya dilanda perasaan rindu yang begitu membuncah. Padahal dia dan Briana baru satu hari terpisah, tapi rasanya sudah seperti bertahun-tahun tidak bertemu. Jatuh cinta itu sangat tidak masuk akal sekali bukan? Namun Lu sangat menyukai setiap proses yang dilaluinya.


Saat Lu sedang sibuk menenangkan hatinya yang merindu, seseorang datang mengetuk pintu kamar. Lu lalu mengerutkan keningnya, dia bingung melihat kemunculan seorang pria yang datang sambil tersenyum kepadanya. Aneh, wajah pria itu terlihat cukup mirip dengannya dan juga Erzan. Mungkinkah ….


“Gavriel, bagaimana kabarmu, Nak?” tanya Dary hati-hati.

__ADS_1


“Tuan, saat ini aku sedang tidak bisa mengingat jati diriku. Jadi maaf kalau aku tidak bisa mengenalimu,” jawab Lu langsung memberitahu pria tersebut tentang keadaannya. Entah mengapa dia merasa segan terhadap pria ini. Seolah ada desakan perasaan yang meminta agar menjaga sikap di hadapannya.


“Tidak apa-apa, Gav. Ayah bisa mengerti dan Ayah juga tidak akan memaksamu untuk mengingat siapa Ayah,” sahut Dary legowo. Setelah itu Dary duduk di sisi ranjang lalu membenarkan letak selimut ke tubuhnya Gavriel. “Bagaimana keadaaanmu sekarang, Gav. Apa kepalamu masih terasa sakit seperti tadi siang?”


“Tuan, bisakah kau memanggilku Lu saja? Aku merasa kurang nyaman dengan nama Gavriel.”


Dary dengan cepat menganggukkan kepala. Sambil menghela nafas lega Dary kembali mengulangi perkataannya, tapi kali ini dia mengganti nama Gavriel dengan nama Lu. “Jadi Lu, bagaimana keadaanmu sekarang? Apa kepalamu masih terasa sakit seperti tadi siang?”


“Tidak, Tuan. Aku sudah baik-baik saja sekarang. Hanya agak pusing sedikit,”


“Iya,”


Setelah berkata seperti itu Lu terdiam. Entah mendapat dorongan darimana, tiba-tiba saja Lu berbicara tentang perasaannya kepada pria yang mengaku sebagai ayahnya. “Malam itu aku merasa sangat lapar setelah sekian hari berkeliling kesana kemari tanpa arah. Dan di saat yang bersamaan aku tidak sengaja bertemu dengan Briana, wanita baik hati yang telah merawatku selama dua bulan ini. Walaupun aku tidak bisa mengingat masalaluku, tapi nuraniku sebagai pria tak bisa menolak ketika kebaikan Briana menumbuhkan perasaan lain di hatiku. Aku jatuh cinta padanya dan aku ingin memilikinya dengan status yang jelas. Bagaimana menurut … Ayah?”


Pikiran Dary sempat bleng sejenak saat Gavriel bersedia memanggilnya dengan sebutan Ayah. Tak mau membuatnya merasa tidak nyaman, Dary segera berdehem beberapa kali untuk menormalkan rasa senangnya sebelum memberikan jawaban.


“Ga … maksud Ayah Lu, adalah hal yang sangat wajar jika seorang pria jatuh cinta pada seorang wanita. Jadi menurut Ayah perasaan yang kau rasakan terhadap Briana sama sekali tidak salah. Kau berhak untuk jatuh cinta pada siapapun, termasuk juga pada orang yang telah menolongmu,” ucap Dary menyampaikan pendapatnya sebijak mungkin.

__ADS_1


“Briana gadis yang sangat baik sekali, Ayah. Dia pekerja keras dan juga orang yang sangat bertanggung jawab terhadap apa yang di kerjakannya. Ini aku katakan bukan karena aku menyukainya, tapi karena memang seperti itulah kepribadiannya. Kemarin saat Erzan dan Wildan datang dan memberitahu Briana tentang siapa aku, aku sama sekali tidak melihat keegoisan ataupun keserakahan di matanya. Mungkin jika itu orang lain, aku yakin orang itu pasti akan melakukan berbagai macam cara agar kalian mau memberikan uang ganti rugi dalam jumlah besar pada mereka. Tapi Briana tidak melakukan hal rendah seperti itu, Ayah. Satu hal yang aku tahu kalau Briana sebenarnya tidak rela aku pergi, tapi dia tidak menahanku karena dia sadar ada keluarga yang jauh lebih berhak atas kehadiranku. Dia merelakanku pergi tanpa mengharap apapun dari kalian. Briana gadis yang baik, bukan?” ucap Lu menceritakan betapa tulusnya sikap Briana yang masih tidak mau mengambil keuntungan apapun setelah Erzan mengatakan kalau dirinya adalah seorang bos besar.


“Apa kau begitu mencintainya?”


“Sangat, Ayah. Dan aku sudah berjanji pada Briana kalau aku pasti akan kembali lagi untuk menemuinya. Saat waktu itu tiba, aku akan menyatakan perasaanku.”


“Good boy. Ini baru anak Ayah,” puji Dary sambil menepuk pelan bahu Gavriel. “Lu, Ayah dan Ibu tidak akan menghalangi apapun keputusanmu. Kalau memang benar kau mencintai Briana, maka perlakukanlah dia dengan baik. Kau lahir dari keluarga terpandang, jadi Ayah benar-benar sangat berharap kalau kau bisa menjaga nama keluarga kita dengan baik. Tidak masalah berbeda kasta. Asalkan saling mencintai, Ayah rasa Ibumu tidak akan keberatan untuk menerima Briana sebagai menantu di rumah ini. Sungguh!”


Lu tersenyum. Dia merasa tersentuh akan sikap ayahnya yang bersedia menerima Briana tanpa memandang latar belakangnya yang hanya seorang pekerja café.


“Tapi Lu, Ayah ingin menanyakan sesuatu kepadamu. Selama dua bulan ini hubunganmu dengan Briana sudah sampai sejauh mana? Apa mungkin kalian ….


“Tidak, Ayah. Aku dan Briana tak pernah melewati batasan apapun meski kami tinggal di bawah satu atap yang sama. Briana wanita baik-baik, jadi aku tidak akan pernah menyentuhnya sebelum kami resmi untuk melakukannya. Lagipula Briana juga belum tahu kalau aku menyukainya,” ucap Lu dengan cepat menyela perkataan ayahnya. Dia tentu tahu kemana arah pertanyaan itu. Jadi secepat mungkin Lu memberikan penjelasan kalau dia sama sekali belum menyentuh Briana. Hanya sebatas ciuman dan pelukan saja, tidak lebih. “Ayah, aku tidak tahu pemikiran ini berasal darimana. Tapi hatiku selalu mengatakan kalau pria sejati tidak akan merusak wanitanya. Pria sejati akan menjaga kehormatan wanita itu sampai waktunya tiba untuk mereka saling memiliki. Dan aku benar-benar melakukannya pada Briana. Aku mencintainya, dan aku ingin menjaga kehormatannya sampai akhir!”


Andai Briana mendengar langsung betapa tulusnya Lu dalam mencintainya, dia pasti akan langsung bercucuran air mata. Di zaman modern seperti sekarang, sudah sangat jarang sekali di temukan ada seorang pria yang rela menahan n*fsu demi menjaga wanita yang di cintainya. Namun, Lu adalah pengecualian. Dia sungguh-sungguh akan perasaannya dan juga bertanggungjawab akan harga diri wanitanya. Sungguh pria idaman sekali bukan?


***

__ADS_1


__ADS_2