Wanita Kesayangan Sang Presdir

Wanita Kesayangan Sang Presdir
Empat Sehat Lima Sempurna


__ADS_3

Pagi harinya, Briana dan Lu bangun bersamaan. Lu kemudian meminta Briana untuk menggunakan kamar mandi lebih dulu, sementara dia sendiri memilih untuk menunggu sambil melakukan olahraga kecil. Andai saja sudah menikah, Lu pasti akan mengajak Briana untuk mandi bersama. Sayang sekali hubungan mereka belum sampai sedalam itu. Jadi ya sudah, berolahraga adalah cara terbaik untuk meredakan amukan singa yang tiba-tiba menegang tanpa sebab. Lakian pasti tahulah itu apa. Hehehe.


"Lu, aku keluar sebentar ya," ucap Briana sambil merapihkan pakaian. Dia kemudian berjalan mendekat ke arah Lu yang sedang melakukan push-up. "Julia pasti belum bangun. Jadi aku mau pergi membangunkannya dulu. Oke?"


Hanya anggukkan yang Briana terima dari Lu saat dia meminta izin untuk membangunkan Julia. Heran, Briana pun iseng menempelkan wajahnya ke lantai. Otaknya mendadak memancarkan sinyal aneh dengan mengarahkan agar dia mengintip senjata milik Lu. Dan benar saja. Briana langsung di suguhkan oleh satu pemandangan aneh di mana ada benda yang mengacung tegak dari balik celana Lu. Tubuhnya membeku seketika. Tak menyangka kalau pria idiot ini ternyata sedang ....


"Sudah puas melihatnya?" Lu meledek sambil tertawa girang. Dia memang sengaja membiarkan Briana melihat keadaan singanya. Siapa suruh sok penasaran, jadi kaget kan sekarang.


"B-brengsek. Kau mesum, Lu!"


Setelah mengumpat Briana langsung bangun kemudian berlari menuju pintu. Dan sebelum keluar, dia menyempatkan diri untuk berbalik kemudian mengacungkan jari tengah ke arah pria idiot yang sedang tertawa kesenangan.


"Pffttt, hahhaahahhaha!!"


Tawa Lu akhirnya pecah sepecah-pecahnya. Gelora birahi yang tadi membakar tubuh seketika lenyap setelah melihat gaya menggemaskan Briana dalam mengumpatnya. Astaga, wanita itu. Bisa-bisanya mengacungkan jari tengah karena merasa termesumi akibat rasa penasarannya sendiri. Lu jadi lemas. Membuatnya tak kuat lagi melakukan push-up.


"Briana-Briana. Kau kenapa menggemaskan sekali sih. Kalau begini ceritanya bagaimana mungkin aku tidak merindukanmu saat kita jauh nanti. Hemmm," gumam Lu sambil berbaring tengkurap di lantai. Tak mau membuang waktu dengan percuma, Lu bergegas masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Pokoknya selama Briana masih ada di rumah ini, dia berniat untuk terus menempel seperti ulat bulu. Masa bodo dengan tanggapan orang, Lu tak peduli. Briana paling penting.


Sementara itu Briana yang sedang berjalan menuju kamar Julia, nampak bersungut-sungut sambil sesekali menoleh ke belakang. Dia malu sekali atas apa yang dilihatnya, jadi merasa khawatir kalau Lu akan mengejar kemudian mengoloknya.


“Dasar pria mesum. Apa maksud Lu membiarkan burungnya menegang? Tidak sopan,” gumam Briana dengan suara pelan. Wajahnya kemudian memerah, merasa malu dan juga gugup di saat bersamaan. Sialan.


“Burung siapa yang menegang, Briana?”


Tubuh Briana kaku. Langkahnya langsung terhenti saat seseorang memegang pundaknya dari arah belakang. Matilah, ada orang yang mendengar gumamannya. Belum juga hilang rasa malu akibat tak sengaja melihat burungnya Lu, sekarang malah bertambah malu lagi karena pertanyaan seseorang ini. Briana bagai berjalan di atas duri. Maju kena, mundur juga kena. Haihhh.


“Hehehe, jangan bilang kau dan Lu baru saja bermain burung-burungan ya, Bri?” ledek Julia sambil menaik-turunkan kedua alisnya. Dia lalu memutar tubuh Briana agar menghadapnya. “Jadi bagaimana? Apa rasanya enak?”

__ADS_1


“Julia, apa kau melihat Erzan?” tanya Briana dengan ekpresi yang wajah yang begitu datar. Sungguh sial sekali pagi ini. Kenapa juga harus Julia yang mendengar perkataannya. Urusannya pasti akan menjadi panjang.


“Kenapa kau malah menanyakan anak ingusan itu padaku. Tanyakan saja pada calon mertuamu. Erzan kan anaknya,” jawab Julia heran saat Briana malah menanyakan hal lain alih-alih menjawab pertanyaannya.


Briana menghela nafas. Mencoba menahan diri agar tidak mencekokkan racun ke dalam mulut sahabatnya yang kelewat mesum ini. Sekarang Briana jadi mengerti darimana Lu belajar hal-hal dewasa seperti itu. Wanita ini pasti yang menjadi gurunya. Astaga.


“Ayo cepat jawab pertanyaanku, Bri. Enak tidak setelah main burung-burungan dengan Lu? Secara, kau itukan masih perawan ting-ting. Aku pernah dengar kalau rasanya akan sedikit sakit saat pertama kali melakukan. Benar tidak?” desak Julia tak sabar mendengar cerita dewasa dari sahabatnya. Dadanya sampai bergetar kuat. Xixixi.


Plaaakkkkk


Bukannya mendengar jawaban, Julia harus rela menerima kenyataan pahit saat Briana memukul lengannya dengan sangat kuat. Dia kemudian meringis menahan rasa panas saat telinganya menjadi sasaran amukan sahabatnya yang beringas ini.


“Kau ini benar-benar ya, Julia. Berani sekali kau membahas tentang keperawananku di sini. Kalau sampai orang lain mendengar perkataanmu bagaimana. Mau di taruh kemana wajahku nanti!” omel Briana dongkol. Dia lalu melepaskan telinga Julia saat gadis ini tak berhenti merengek. “Awas saja ya kalau kau masih berani membahas tentang hal ini. Percaya tidak. Aku akan langsung memotong lidahmu kemudian merebusnya sampai hancur. Mau kau?”


“Isshhh, apalah kau ini, Briana. Apa-apa main kekerasan, main ancam. Kau pikir kau malaikat maut apa. Hah?” sungut Julia sambil mengelus telinganya yang memerah.


“Huhhh. Dasar mau menang sendiri kau. Sebal!"


Briana dan Julia saling menatap dengan ekpresi kesal. Hingga tak berapa lama kemudian Briana tiba-tiba pergi melarikan diri saat melihat kehadiran seseorang. Merasa heran, Julia pun berbalik. Dia lalu menaikkan satu alisnya ke atas mendapati Lu yang tengah berdiri di belakangnya sambil mengeringkan rambut dengan handuk.


Aaaaa, jadi Briana pergi karena merasa malu melihat Lu yang baru selesai keramas ya. Hehehe, asiknya. Aku jadi punya bahan untuk bergosip dengan Bibi Helena. Yess.


Sadar akan arti tatapan Julia, Lu memutuskan untuk mendekat.


“Aku tahu apa yang sedang kau pikirkan sekarang, Julia!” sindir Lu. “Kau pasti sedang memikirkan kalau aku dan Briana telah melakukan adegan dewasa, kan?”


“Tentu saja iya. Pertama, tadi aku mendengar langsung saat Briana menggumam tentang burung yang menegang. Kedua, dia langsung kabur melarikan diri begitu melihatmu datang dengan kondisi sehabis keramas. Lalu yang ketiga ….

__ADS_1


Julia dengan sengaja menggantung perkataannya. Ekor matanya kemudian melirik ke arah bawah tubuh Lu untuk memastikan sesuatu. Dan ya, dia menemukannya.


“Dan yang ketiga aku melihat ada tanda-tanda kelelahan di daerah rawan gempa. Mengaku saja. Semalam kau dan Briana pasti sudah melakukan gencatan sentaja, kan?” lanjut Julia sambil tersenyum mesum. Dia lalu terkikik sendiri membayangkan pose-pose aneh yang dilakukan oleh pasangan kekasih ini. Pasti sangat lucu.


“Sayang sekali apa yang kau pikirkan tak pernah terjadi. Kau salah besar, Julia. Aku dan Briana sama sekali tidak melakukan sesuatu seperti yang kau sebutkan barusan. Hubungan kami sangat sehat, jadi kami hanya akan melakukan kontak fisik sesuai dengan aturan empat sehat lima sempurna!” sahut Lu dengan pandainya memelesetkan pemikiran Julia. Ya ampun, empat sehat lima sempurna. Kata macam apa ini? Seperti ahli gizi saja dia.


“Eh, dimana kau menemukan kosakata seperti itu, Lu? Memangnya ada ya aturan empat sehat lima sempurna dalam suatu hubungan?” tanya Julia bingung bin heran. Dia menatap seksama ke arah Lu, menuntut agar pria idiot ini segera memberi penjelasan.


Sebelum menjawab, Lu melirik ke arah lemari yang berada tak jauh darinya. Lucu. Seharusnya jika ingin menguping orang itu tidak menempel terlalu dekat dengan lemari. Bayangan tubuhnya kan jadi kelihatan. Dan pelaku dari pengintipan itu tidak lain dan tidak bukan adalah Briana dengan ibunya. Siapa lagi memangnya kalau bukan mereka.


“Pertama, wajib bersentuhan dalam keadaan sama-sama bersih. Kedua, wajib menyatakan kata cinta agar hubungan tetap terjaga keharmonisannya. Ketiga, harus saling menghargai dengan cara bersikap jujur dan terbuka. Ke empat, tidak boleh melewati batasan sebagai pasangan yang belum menikah. Dan yang terakhir, kontak fisik hanya boleh dilakukan sebatas peluk dan cium saja. Selebihnya tunggu setelah aku dan Briana resmi menikah. Sudah paham?” ucap Lu dengan detail mengarang asal jawaban.


Mulut Julia ternganga lebar. Tidak menyangka kalau ada aturan semacam ini di dalam hubungan. Sungguh rumit. Membuat kepalanya menjadi pusing. Julia kemudian membatin, berdoa agar Wildan tidak menerapkan aturan seperti yang Lu lakukan pada Briana. Dia bisa mati kering jika harus melakukan empat sehat lima sempurna dalam hubungan mereka nanti.


“Jadi Julia, jangan pernah lagi berpikir kalau aku dan Briana akan membuat adonan sebelum kami resmi menikah ya? Karena apapun kondisinya, aku tidak akan pernah mau melakukan. Briana wanita baik-baik, jadi aku akan menjaga kehormatannya dengan baik pula sampai waktunya tiba untuk kami berbagi kehangatan. Mengerti?” ucap Lu kembali menegaskan kalau dia akan terus menjaga kehormatan wanitanya sampai akhir.


“Ummmm Lu, kau kenapa romantis sekali sih. Kira-kira Tuhan masih menyediakan stok pria sepertimu tidak ya?” ucap Julia penuh kagum. Tapi sedetik kemudian kekagumannya itu hilang begitu teringat dengan aturan aneh yang tadi Lu ucapkan. “Ah, batalkan saja. Aku tidak mau mempunyai kekasih sepertimu. Wildan seribu kali lebih baik darimu. Ya, seperti itu.”


Setelah berkata seperti itu Julia memutuskan pergi dari hadapan Lu. Dan ketika dia lewat di samping lemari, tiba-tiba saja bulu kuduknya berdiri. Terlihat di sana ada dua makhluk yang tengah berjongkok di lantai sambil menempelkan kepala mereka ke kaca lemari. Aneh sekali, bukan? Dan kelakukan kedua makhluk ini membuat Lu tertawa terbahak-bahak.


“Bibi Helena, Briana. Apa ini cara kalian untuk mempermalukan diri sendiri?” sindir Julia sambil menyeringai jahat.


Di tanya seperrti itu oleh Julia membuat Briana dan Bibi Helena beringsut kikuk. Tanpa merasa berdosa sama sekali keduanya langsung pergi begitu saja tanpa menghiraukan suara tawa Lu yang terdengar sangat nyaring. Terlanjur tertangkap basah, jadi sekalian saja mandi di kubangan.


Sial. Kenapa sih Julia harus lewat dan melihat keberadaanku dengan Bibi Helena. Jadi ketahuan kan sekarang. Mana suara tawanya Lu keras sekali. Ya Tuhan, dasar sahabat laknat. Huh!


***

__ADS_1


__ADS_2