
📢📢📢 BESTIE, JANGAN LUPA DUKUNGANNYA YA SUPAYA JOVAN DAN NANIA BISA MENANG DI LOMBA DI YOU ARE A WRITER SEASON 8. OKE 💜💜💜
***
Briana sama sekali tidak berani menatap Lu setelah dia kelepasan bicara karena di goda oleh Julia. Sejak hal memalukan itu terjadi Briana selalu berusaha menghindari Lu. Dia bahkan memilih untuk berbalik membelakangi Lu saat datang membawakan catatan pesanan pengunjung yang datang ke café.
“Bri, ini ada pesanan lagi,” ucap Lu seraya menyodorkan catatan pesanan kepada Briana yang tengah membereskan bekas masakan. Dan setelahnya Lu tak langsung pergi dari sana. Dia berdiri diam sambil memperhatikan Briana yang sama sekali tidak mau menatapnya. “Bri, kau kenapa. Apa aku melakukan kesalahan yang tak kusadari? Bicaralah, jangan mendiamkan aku seperti ini. Oke?”
“Siapa yang mendiamkanmu. Memang kau tidak lihat ya kalau aku sedang sibuk? Kau sendiri yang mengantarkan catatan pesanan para tamu kepadaku. Bagaimana sih?” sahut Briana tanpa berani menoleh ke belakang. Jantungnya hampir terbang keluar saat tahu kalau Lu masih belum pergi dari sana.
Ya ampun, kenapa Lu masih ada di sini sih. Malu sekali kalau aku harus bertatap muka dengannya. Pergilah, Lu. Jangan membuatku mati karena malu. Please ….
Saat Briana sedang membatin, dia di kagetkan oleh sepasang tangan yang tiba-tiba melingkar di perutnya. Tubuh Briana langsung kaku dan nafasnya sedikit tertahan. Lu, kenapa pria idiot ini malah memeluknya di saat Briana sedang mati-matian menahan rasa malu? Astaga, kenapa Lu jadi agresif begini sih. Apa jangan-jangan karena pengaruh obat amnesianya sudah habis, makanya Lu jadi bertingkah aneh begini?
“L-Lu, a-apa yang sedang kau lakukan? L-lepaskan aku. Nanti Julia melihat kita,” tanya Briana dengan suara terbata.
“Jangan mendiamkan aku lagi, Bri. Aku minta maaf kalau aku tak sengaja melakukan sesuatu yang membuatmu marah. Jangan diam lagi ya?” ucap Lu mencoba membujuk Briana agar tidak merajuk lagi. Rasanya sungguh sangat menyedihkan didiamkan oleh orang yang kita suka. Sungguh.
“Memangnya orang diam harus karena marah ya? Kaukan tahu sendiri kalau dari tadi aku sibuk membuat pesanan para tamu. Mengertilah,” sahut Briana masih enggan mengaku kalau dia itu sebenarnya bukan sedang marah, tapi malu. Bayangkan saja. Dia mengiyakan perkataan sialan Julia yang menyebut kalau jatuh cinta itu sejuta rasanya. Entah Lu menyadari maksud perkataan Julia atau tidak. Yang jelas Briana merasa sangat malu sampai ke tulang-belulangnya. Dia seperti maling yang ketahuan sedang mencuri pakaian dalam.
Lu memejamkan matanya sambil mengeratkan pelukan di perut Briana. Dia benar-benar tidak peduli perbuatannya dilihat oleh orang lain. Lu bukan mesum ya, dia hanya merasa nyaman saja memeluk Briana seperti ini. Hatinya menghangat dan perasaannya menjadi jauh lebih baik setelah beberapa jam Briana terus mendiamkannya tanpa sebab.
__ADS_1
“Lu, lepas. Kalau Julia sampai melihat kita yang sedang seperti ini bagaimana? Memangnya kau tidak malu apa?” ucap Briana sambil berusaha melepaskan kedua tangan Lu yang melingkar erat di perutnya. Entah apa yang akan dilakukan oleh sahabatnya yang kurang waras itu jika sampai melihatnya sedang dipeluk Lu dari belakang. Julia pasti akan menggodanya habis-habisan.
“Jangan khawatir, Bri. Aku sudah melihat kalian sejak tadi. Hehe,” ….
Toenngggggg
Di detik itu Briana ingin sekali masuk ke dalam perut bumi saat mendengar suara Julia. Sambil menggeretakkan gigi, Brianapun menoleh. Dan dia langsung terperangah kaget ketika mendapati hal tak wajar yang dilakukan oleh sahabatnya. Kurang ajar. Ternyata sejak tadi Julia mengintipnya lewat celah kecil yang dulu sering mereka gunakan sebagai alat penghubung ketika mereka sedang tidak akur. Bodoh sekali sih. Kenapa Briana sampai lupa dengan celah penuh sejarah itu? Jadi ketahuankan dia sekarang?
“Hehehe, sedang apa kalian di sana hah? Sedang melakukan test drive atau apa?” ledek Julia dengan tengilnya.
“Kau jangan bicara sembarangan ya, Julia. Yang sedang terjadi tidak seperti yang kau lihat. Paham?” omel Briana sambil menahan malu. Dia kemudian menoleh ke belakang, kesal karena Lu masih belum juga melepaskan pelukannya. “Cepat lepaskan pelukanmu sebelum aku memotong kedua tanganmu dengan gergaji. Cepat!”
“Kau malu?” tanya Lu sambil meng*lum senyum. Bukannya melepaskan pelukan, Lu malah dengan sengaja memajukan wajahnya agar bisa menatap Briana lebih dekat. “Wajahmu memerah. Apa kau benar-benar sedang malu karena Julia menangkap basah kita yang sedang berpelukan?”
“L-Lu, kau jangan macam-macam ya. Cepat singkirkan kedua tanganmu karena aku harus segera membuat pesanan tamu. Cepat, nanti mereka marah!” jawab Briana salah tingkah sendiri saat ditatap dalam jarak yang begitu dekat oleh Lu. Saking dekatnya, Briana bahkan bisa merasakan hembusan nafas Lu di depan wajahnya. Dan itu membuat bulu kuduknya meremang. Sungguh.
“Lu ….
“Jawab, Briana. Iya atau tidak.”
Briana menelan ludah. Dia kemudian beralih menatap celah kecil dimana mata Julia masih mengintip di sana. Jujur, ingin sekali rasanya Briana mencungkil kedua mata sialan yang sudah berani memojokannya hingga di desak seperti ini oleh Lu. Dan kekesalan Briana kian bertambah saat Julia dengan kejamnya menambahkan api untuk mengompor-ngompori Lu agar jangan melepaskan pelukannya. Sungguh sahabat yang sangat sialan sekali bukan?
“Lu, kalau Briana masih tidak mau menjawab, aku sarankan sebaiknya kau seret saja dia ke hotel yang berada tak jauh dari café kita. Lalu kau hukumlah dia dengan hukuman yang sangat manis. Aku jamin setelah itu Briana pasti akan langsung menjawabnya. Cobalah jika tidak percaya!” ucap Julia kembali menjadi iblis yang membisikkan kata-kata erotisnya. Dia tak mempedulikan kemarahan Briana yang sedang membelalakkan matanya dengan sangat lebar. “Jangan khawatir, Lu. Aku rela menutup café demi kebahagiaan rumah tangga kalian. Cepat pergi dan seret wanita itu ke hotel. Jangan lupa bawa pengamanan ya? Hehehe!”
__ADS_1
“JULIAAAAAAAA!”
Seketika pelukan Lu terlepas saat Briana berteriak dengan sangat kuat. Sadar kalau Briana kembali kerasukan, Lu segera mundur menjauh. Tapi bukan berarti Lu pergi dari sana ya. Dia hanya berpindah beberapa langkah ke belakang dengan tujuan mengamankan nyawanya untuk sementara waktu.
“Benar-benar ya kalian. Sejak kapan kalian bersekongkol untuk mengerjaiku hah? Jawab Lu!” hardik Briana sambil berkacak pinggang. Dia sungguh tak habis pikir kenapa Julia bisa begitu frontal menyebut tentang alat pengaman di depan Lu. Memalukan sekali.
Sialan kau, Julia. Apa kau berniat memberitahu Lu kalau aku ini belum pernah berhubungan dengan pria manapun? Dasar sahabat iblis. Bisa-bisanya ya kau menjerumuskan sahabatmu sendiri seperti ini. Awas kau nanti. Huh.
“Aku dan Julia tidak pernah melakukan persekongkolan apapun, Briana. Sungguh,” ucap Lu mengoreksi tuduhan yang Briana lontarkan. Dia saja kaget saat Julia memintanya agar membawa alat pengaman.
“Kalau kalian tidak bersekongkol lalu kenapa cara bicara kalian bisa begitu akrab? Kau dan Julia pasti sering membicarakan sesuatu yang tidak-tidakkan saat aku sedang membuat makanan? Iyakan?”
“Hanya sedikit, Bri. Tidak banyak.”
“Sedikit?” beo Briana. Dia lalu menyipitkan mata, curiga akan kata sedikit yang di maksud oleh Lu. “Apa yang sudah dia katakan padamu, Lu. Cepat beritahu aku!”
Lu menelan ludah. Telapak tangannya sampai berkeringat saat Briana memintanya untuk bicara. Namun karena tak ingin Briana kembali mendiamkannya seperti tadi, dengan sangat terpaksa Lu menceritakan apa yang pernah Julia katakan kepadanya.
“Waktu itu Julia memberitahuku kalau aku adalah pria yang telah mencuri ciuman pertamamu. Dan juga … itu ….
“Itu apa?” sentak Briana kian curiga.
“Dan juga Julia menyebut kalau kau masih perawan. Hanya itu yang dia katakan kepadaku. Sungguh, aku tidak bohong,” sahut Lu jujur sembari mengangkat kedua jarinya ke atas.
__ADS_1
Mungkin kalau membunuh orang itu tidak berdosa, saat ini Julia pasti sudah mati dengan cara yang sangat mengenaskan di tangan Briana. Bisa-bisanya ya makhluk itu memberitahu Lu kalau Briana masih perawan. Cari mati. Ini sudah tidak bisa dibiarkan lagi. Briana harus segera memberi pelajaran pada Briana. Harus.
***