Wanita Kesayangan Sang Presdir

Wanita Kesayangan Sang Presdir
Lu Yang Baik Hati


__ADS_3

📢📢📢 MINTA DUKUNGANNYA YA BESTIE UNTUK NOVEL INI YANG SEDANG MENGIKUTI LOMBA #100%KEKASIH IDEAL 💜


***


Seperti biasa, pukul lima pagi Lu akan bangun lebih dulu sebelum Briana. Namun kali ini dia tidak langsung pergi ke kamar mandi, tapi dia malah duduk di sisi ranjang sambil memperhatikan Briana yang masih terlelap. Setelah kemarin Briana gagal membuang Lu di kantor polisi, wanita ini terus saja uring-uringan. Lu yang merasa kasihanpun memutuskan untuk ikut membantu pekerjaan di café. Awalnya Briana mengamuk dan mengancam akan menggantung Lu di depan pintu masuk café, tapi setelah Lu meyakinkan kalau dia hanya ingin membantu meringankan bebannya, Briana akhirnya mengizinkan.


“Kasihan sekali Briana. Dia pasti sangat stress karena menampung orang lupa ingatan sepertiku. Hmm,” gumam Lu lirih.


Dengan cepat Lu tiarap di lantai saat Briana tiba-tiba mengigau. Tak mau ketahuan, Lu bergegas masuk ke dalam kamar mandi dengan cara merayap seperti tentara yang sedang melakukan perang gerilya. Setelah itu dia menutup pintu kamar mandi sepelan mungkin sebelum akhirnya mulai membersikan tubuhnya.


“Dasar pria idiot. Kenapa kau terus saja mengganggu hidupku sih. Aku ini miskin, kenapa kau tidak mencari wanita kaya saja yang bisa mencukupi semua kebutuhanmu. Dasar brengsek!” umpat Briana antara sadar dan tidak sadar.


Lu yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi langsung diam terpaku mendengar umpatan yang baru saja dilontarkan oleh Briana. Dan sedetik kemudian, Lu sudah bersiap untuk membersihkan seisi rumah. Tadi saat mandi Lu sudah membuat keputusan kalau dia tidak akan terus berdiam diri dengan membiarkan Briana yang menanggung beban seorang diri. Dia sudah bertekad.


Berusaha sehati-hati mungkin, Lu mulai memunguti pakaian kotor miliknya dan juga milik Briana kemudian merendamnya ke dalam bak cuci baju. Oya, kalian jangan salah menduga. Briana memiliki tempat khusus untuk menyimpan seperangkat pembungkus aset tubuhnya. Jadi kalian tidak perlu khawatir karena Lu tidak akan mencucinya.


Setelah merendam pakaian, Lu kembali melanjutkan tugasnya untuk mengelap debu-debu di lemari, kaca, meja, dan barang-barang yang ada di sana. Lu bekerja sambil mendengarkan igauan Briana yang tak henti mengumpatnya. Tersinggung? Tentu saja tidak. Lu baik-baik saja meski Briana mengigau akan merebusnya di dalam air yang mendidih. Dewi penyelamatnya adalah orang baik, Lu yakin Briana berkata seperti itu hanya karena terlalu kesal saja padanya.

__ADS_1


“Sudah setengah enam. Lebih baik aku segera mencuci baju saja sebelum Briana bangun lalu pergi bekerja. Bisa gawat kalau aku sampai meminta bantuan ke tetangga seperti kemarin. Aku tidak mau Briana menjadi marah kemudian membawaku ke kantor polisi lagi,” ujar Lu gelisah.


Segera Lu masuk ke dalam kamar mandi dan mulai mencuci pakaian kotor yang sebelumnya sudah dia rendam. Dan di saat Lu mencuci baju Briana, dia melakukannya dengan sangat hati-hati. Entah insting darimana, Lu tiba-tiba saja bisa membedakan kalau semua pakaian milik Briana berbahan tidak bagus. Dia kemudian terpikir untuk membelikan pakaian yang jauh lebih layak jika nanti Lu bisa menghasilkan uang sendiri.


“Hoaaammm,” ….


Briana menguap sambil berguling-guling di atas ranjang saat dia mendengar suara bising dari dalam kamar mandi. Dengan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya, dia berjalan sempoyongan untuk melihat apa yang sedang dilakukan pria idiot itu di sana.


“Yak Lu, bahkan anak anaconda saja masih bergelung di sarangnya. Kenapa kau malah sibuk mencuci baju di pagi-pagi buta begini? Kau tahu, suara cucian ini menggangu tidurku!” tegur Briana sambil menyender ke pintu kamar mandi.


Kantuk yang membayangi wajah Briana langsung hilang seketika saat Lu membahas tentang undian yang dilakukan para tetangganya. Kesal, itu sudah pasti. Briana kemudian meraup busa yang ada di lantai kamar mandi kemudian melemparkannya ke wajah Lu. Alih-alih merasa bersalah, Briana dengan jahatnya malah tertawa setan sambil berkacak pinggang melihat Lu yang keperihan karena busa itu mengenai matanya.


“Rasakan. Itu akibatnya kalau kau berani menggatal di hadapan sekumpulan lebah betina itu Hahaha!” ejek Briana.


“Perih,”


“Masa bodo. Sekarang cepat kau selesaikan cucian ini karena aku mau mandi. Menjelang weekend biasanya café akan sangat ramai di saat jam makan siang. Kita tidak boleh berangkat kesiangan. Tahu kau?”

__ADS_1


Lu mengangguk dengan patuh. Buru-buru dia membasuh wajahnya dengan air dingin saat Briana pergi dari sana. Meski terkesan di tindas, Lu sama sekali tidak marah. Justru dia merasa senang karena Briana bersedia bercanda dengannya.


Walaupun sedikit kejam, tapi aku suka melihat Briana yang seperti ini. Dia manis.


Kurang lebih pukul setengah delapan Lu dan Briana keluar dari rumah. Dan di saat mereka melewati rumah para tetangga, Briana dengan ketat menjaga Lu agar tidak digoda oleh para ibu-ibu yang sedang berkumpul di sana. Briana enggan mendengar keluhan dari suami wanita-wanita itu yang beranggapan kalau Lu telah membuat hidup mereka terlantar. Agak konyol memang. Entah Lu yang terlalu tampan atau para tetangga itu yang terlalu gatal, yang jelas Briana tidak mau lagi dipusingkan oleh masalah-masalah seperti kemarin. Otaknya serasa mendidih karena keberadaan Lu selalu berhasil menguras energinya.


Dan setelah beberapa menit menempuh perjalanan, Lu dan Briana akhirnya sampai dengan selamat di café milik Julia. Lu yang sudah bertekad akan membantu meringankan beban Briana pun segera membantu menurunkan kursi dari atas meja kemudian mengelapnya satu-persatu.


“Bri, kali ini apalagi yang kau lakukan pada Lu. Lihat, dia mendadak jadi rajin sekali. Apa jangan-jangan otaknya kembali tergeser ya setelah kemarin kau membawanya ke kantor polisi?” tanya Julia sambil memperhatikan Lu yang sibuk dengan pekerjaannya.


“Ck, memangnya apa yang bisa aku lakukan pada pria idiot seperti Lu, Julia. Di kantor polisi bahkan tidak ada keluarga yang melaporkan berita tentang kehilangannya. Andai saja penindasan bisa membuat Lu pergi dari hidupku, aku pasti akan melakukan penindasan terkejam yang membuatnya merasa tidak tahan lalu memilih untuk pergi. Tapi sayangnya semua itu tidak berfungsi pada Lu. Dan kau bisa lihat sendiri bagaimana Lu bertambah semakin rajin saja setelah kau menyarankan agar aku membawanya ke kantor polisi. Menyebalkan sekali bukan?” jawab Briana setengah menyindir Julia.


“Yeee, aku mana tahu kalau Lu ternyata tidak termasuk dalam daftar orang hilang,” sahut Julia enggan di salahkan. “Tapi Bri, terlepas siapa Lu sebenarnya, aku cukup salut melihat tekadnya yang seperti ingin membantu meringankan bebanmu. Coba kau ingat-ingat di awal dia datang. Walaupun kau sudah hampir mati karena kelelahan, dia sama sekali tida tergerak untuk membantumu. Tapi sekarang tanpa ada yang meminta Lu sudah lebih dulu melakukan pekerjaan yang biasanya kau lakukan. Tidakkah kau berpikir kalau Lu itu sebenarnya adalah seorang pria yang baik hati?”


Pandangan Briana langsung beralih ke arah Lu setelah dia mendengar ucapan Julia. Benar juga. Sejak kemarin Lu terus saja membantu meringankan pekerjaannya di café. Bahkan pekerjaan di rumahpun Lu semua yang mengerjakannya. Dan secara tak sengaja, sikap Lu yang seperti ini membuat kekesalan di diri Briana perlahan mulai menghilang. Berganti dengan rasa bersimpati karena ternyata Lu mampu untuk bersikap peka terhadap kesulitan yang Briana rasa.


***

__ADS_1


__ADS_2