Wanita Kesayangan Sang Presdir

Wanita Kesayangan Sang Presdir
Sikap Yang Aneh


__ADS_3

"Tuan Gavriel, saat ini Nyonya Jenny sedang berada di cafe milik Julia. Nona Briana juga ada di sana. Haruskah kita pergi menyusul mereka?" tanya Wildan yang baru saja mendapat laporan dari anak buahnya. Dia bergegas pulang ke kediaman keluarga Anderson guna menemui atasannya untuk menyampaikan kabar ini.


Gavriel yang kala itu sedang memeriksa pekerjaan di dalam kamar segera meminta Wildan agar mengecilkan suaranya. Sejak pagi tadi entah kenapa Gavriel dibuat curiga dengan sikap sang ibu. Wanita itu seperti sedang memata-matainya. Entah karena alasan apa, yang jelas mereka harus berhati-hati agar tidak ketahuan.


"Ada apa, Tuan? Apakah orang di rumah ini ada yang menyadari tentang kondisi anda yang sudah pulih?" tanya Wildan setelah mengunci pintu kamar. Dia lalu menghampiri atasannya yang tengah mengusap wajah.


"Tidak ada, tapi akan segera ketahuan kalau kita tidak berhati-hati," jawab Gavriel. "Hari ini Ibu terus bersikap aneh. Bahkan tadi aku mendapatinya sedang mengintip ke dalam kamar ini lewat jendela. Aneh, kan?"


"Hah? Nyonya Helena sampai berbuat seperti itu?" Wildan menoleh ke arah jendela. "Kamar ini berada di lantai dua. Bagaimana cara Nyonya Helena melakukan hal itu?"


"Ibu memanjat tangga bersama para pelayan. Itulah kenapa aku memintamu untuk memelankan suara."


"Ya ampun, ada-ada saja. Apa mungkin Nyonya Helena sudah tertular kelakuan Julia dan Nona Briana yang suka bersikap nyeleneh?" Wildan bertanya-tanya.


Sudut bibir Gavriel berkedut. Dia merasa lucu mendengar perkataan Wildan. Kemungkinan besar ibunya memang sudah tertular virus nyeleneh yang dibawa oleh kedua wanita itu. Mau bagaimana lagi. Harus Gavriel akui kalau sikap Julia dan Briana terlalu sulit untuk tidak di ikuti. Terlebih lagi dengan keadaan ibunya yang tidak punya anak perempuan. Sudah pasti ibunya akan dengan mudah terhasut oleh keduanya.


"Oya, Wil. Tadi kau bilang Nyonya Jenny sedang berada di cafe milik Julia. Sejak kapan?" tanya Gavriel penasaran.


"Dari laporan yang saya terima Nyonya Jenny sudah ada di sana sejak cafe baru di buka, Tuan. Ada kemungkinan mereka bertiga berangkat bersama-sama karena semalam Julia menginap di rumah Nona Briana," jawab Wildan menyampaikan semua laporan dari anak buahnya.

__ADS_1


"Julia menginap di rumah Briana?" Gavriel meng*lum senyum.


Berarti semalam Julia menjadi obat nyamuk bakar saat aku dan Briana sedang bermesraan. Ah, ya ampun. Kenapa aku ingin tertawa terbahak-bahak ya. Wanita itu pasti jengkel sekali karena harus menjadi korban. Hahaaa.


Wildan menatap aneh ke arah atasannya yang sedang menahan senyum. Janggal sekali. Perasaan tidak ada kalimat lucu yang Wildan ucapkan barusan. Tapi kenapa atasannya bisa terlihat begitu senang? Ada apakah gerangan?


"Tuan Gavriel, anda baik-baik saja?"


"Ha?? Oh, aku baik-baik saja kok." Gavriel tergagap menjawab pertanyaan Wildan. Dia lalu tersadar kalau sikapnyalah yang membuat pria ini sampai bertanya demikian. Tak mau membiarkan Wildan mati penasaran, Gavriel memutuskan untuk memberitahu apa yang terjadi. "Ekhmm begini, Wil. Semalam aku dan Briana bermesraan lewat panggilan video. Aku pikir dia sedang sendirian, jadi kami sedikit membicarakan hal-hal yang berbau erotis. Dan barusan kau bilang Julia menginap di rumah Briana, makanya aku berusaha untuk menahan tawa karena tak tahan membayangkan seperti apa ekpresi Julia saat mendengar percakapan kami semalam. Begitu!"


"Oh begitu. Saya pikir anda kenapa tadi. Rupanya karena hal ini ya," sahut Wildan seraya menggelengkan kepala. Ada-ada saja atasannya ini. Hmmm.


Gavriel berdehem pelan untuk menormalkan diri agar berhenti memikirkan hal lucu tentang Julia. Dia lalu fokus membahas tentang Nyonya Jenny, wanita yang dia yakini sebagai ibu kandung Briana, kekasihnya.


"Saya rasa tidak, Tuan. Atau kalau anda merasa khawatir, kita temui Tuan Hendar saja dulu. Lalu kita meminta izin padanya untuk mendekati Nyonya Jenny. Dari yang saya tahu wanita itu tidak sehat secara mental, jadi kita tidak boleh bertindak sembarangan. Belum lagi dengan latar belakang Tuan Hendar yang adalah seorang mafia. Kita semua bisa berada dalam bahaya kalau sampai menyinggungnya," jawab Wildan mengingatkan atasannya agar tidak bertindak gegabah.


"Kau benar. Hmmm, aku jadi tidak sabar untuk segera membongkar semua teka-teki ini. Dan aku juga ingin segera mengetahui penyebab kenapa Nyonya Jenny menamai putrinya dengan nama Kellen. Padahal sebelum Briana pergi melarikan diri aku jelas mendengar dia menyebut nama Briana. Apa mungkin titik masalahnya terletak pada Tuan Hendar?"


Hening. Ruangan kamar menjadi sunyi saat Gavriel kembali menerka-nerka alasan kenapa Briana bisa mempunyai dua nama. Saat Gavriel dan Wildan sedang terhanyut dengan pemikiran masing-masing, mereka di kejutkan oleh suara gaduh yang berasal dari arah jendela. Segera keduanya pergi ke sana untuk melihat apa yang terjadi.

__ADS_1


"Biarkan saja. Ibu bisa malu nanti," bisik Gavriel sambil menahan tangan Wildan yang ingin membuka jendela. Sebisa mungkin dia bertahan untuk tidak tertawa melihat posisi ibunya yang terkapar tertimpa tangga.


"Tapi kasihan Nyonya Helena, Tuan. Kalau patah pinggang bagaimana?" sahut Wildan khawatir. Dia menatap iba pada wanita yang sedang bersusah payah untuk bangun. Entah apa yang sedang dilakukan wanita itu di luar jendela kamar atasannya. Haihh.


"Itu akibatnya jika suka menguping pembicaraan orang lain. Bukankah tadi aku sudah bilang padamu kalau sejak pagi Ibu terus bersikap aneh? Dan yang sedang kau lihat sekarang adalah salah satu dari keanehan itu. Sudah mengertikan sekarang?"


Gavriel menempelkan tangan di kening sambil tersenyum kecil. Ada-ada saja tingkah ibunya. Sudah tahu kamar ini berada di lantai dua, masih saja berani memanjat tangga. Untung pelayan menyiapkan busa tebal. Kalau tidak, bisa di pastikan ibunya akan mengalami patah tulang. Hahaha.


"Lalu apa yang akan anda lakukan sekarang, Tuan? Pergi menyusul ke cafe atau pergi menemui Tuan Hendar?" tanya Wildan mencoba untuk abai akan apa yang sedang terjadi di luar jendela kamar. Walau sebenarnya Wildan sangat ingin tertawa, dia tak berani melakukannya karena khawatir akan menyinggung perasaan atasannya.


"Aku akan menemui Tuan Hendar terlebih dahulu. Seperti yang kau bilang tadi kalau kita tidak boleh sampai menyinggung mafia itu. Jadi apapun hasilnya nanti yang terpenting kita sudah meminta izin," jawab Gavriel. "Dan satu lagi, Wil. Tolong bantu aku mencari tahu tentang sesuatu."


"Apa itu, Tuan?"


"Seseorang sedang berusaha merongrong dana perusahaan. Orang ini sangat licik. Aku khawatir Erzan akan di celakai olehnya."


"Baiklah. Anda tinggal beritahu saja siapa orangnya. Saya akan segera menyelidikinya!"


Setelah itu Gavriel menyimpan file yang tadi sedang dia periksa di laptop. Dia kemudian pergi ke kamar mandi untuk membersihkan badan sejenak. Sedangkan Wildan, tanpa menunggu di perintah dia segera menyiapkan pakaian untuk sang atasan. Di pilihnya satu kemeja berwarna maroon dan juga celana panjang berwarna hitam. Wildan lalu meletakkan baju tersebut di atas kasur, menunggu dengan sabar atasannya keluar dari dalam kamar mandi.

__ADS_1


"Kalau di pikir-pikir seru juga ya jika memang benar Nona Briana adalah anak seorang mafia. Tuan Dary dan Nyonya Helena pasti syok sekali jika mengetahui hal ini," gumam Wildan merasa tergelitik akan pemikirannya. "Tapi ngomong-ngomong siapa yang telah menyelematkan Nona Briana dua puluh tahun lalu ya. Lokasi tempat itu di kelilingi sungai dan jurang terjal. Tidak mungkin Nona Briana menggunakan ilmu teleportasi. Hmmm, jadi penasaran."


***


__ADS_2