Wanita Kesayangan Sang Presdir

Wanita Kesayangan Sang Presdir
Briana Yang Berbeda


__ADS_3

Di tengah malam Gavriel terbangun. Dia kemudian tersenyum saat mendapati wanita cantik yang tengah terlelap di dalam pelukannya. Briana, kekasihnya. Setelah mereka kehabisan tenaga karena perang bantal, Gavriel dan Briana tertidur begitu saja di sofa. Walaupun tubuh terasa pegal-pegal, tapi Gavriel lega karena kebersamaan mereka tadi bisa membuat suasana hati Briana menjadi jauh lebih tenang.


"Kau tahu, Briana. Setiap waktu yang ku jalani bersamamu selalu terasa indah meski kadang-kadang itu membuatku merasa lelah. Semoga setelah ini kau bisa segera mendapatkan keadilan yang tak pernah kau rasakanbya," bisik Gavriel. Dia lalu mengecup pinggiran alisnya.


Dengan hati-hati Gavriel mencoba untuk bangun lalu memindahkan kepala Briana di atas bantal. Setelah itu Gavriel turun dari sofa, berkacak pinggang sambil menatap kondisi rumah yang sangat berantakan.


Sebaiknya aku bereskan ini dulu sebelum pulang. Briana pasti lelah jika masih harus beberes rumah sebelum berangkat ke cafe.


Karena sudah terbiasa, dengan sangat cekatan Gavriel mulai membersihkan ruangan yang sudah seperti kapal pecah. Sesekali bibirnya nampak menyunggingkan senyum saat teringat dengan permainan mereka tadi. Saat Briana sedang dalam suasana hati yang baik, wanita itu pasti akan menunjukkan sisi lembutnya. Dan hal inilah yang paling di sukai oleh Gavriel. Briana yang mudah tersipu dan juga gugup, itu merupakan favoritnya. Sungguh.


"Jika hasilnya sudah keluar kira-kira Briana masih akan tinggal di sini tidak ya? Atau jangan-jangan dia malah akan langsung pindah ke rumahnya Tuan Hendar? Ah, tidak seru. Kami mana mungkin bisa beromantisan lagi kalau Briana tinggal di sana. Anak buah mafia itu pasti akan menjaganya dengan ketat. Hmmm," gumam Gavriel sambil terus menata barang.


Tak lama kemudian pekerjaan akhirnya selesai. Segera Gavriel masuk ke kamar mandi untuk membersihkan badan sebelum pulang. Kebetulan baju miliknya dulu masih tersimpan rapi di dalam lemari Briana. Jadi Gavriel bisa bertukar baju dengan yang bersih.


Briana yang terjaga dari tidurnya terlihat kebingungan saat tak menemukan keberadaan Lu di sisinya. Dia kemudian bangun, mengerjap-ngerjapkan mata sebelum akhirnya memanggil Lu.


"Lu, kau di mana?"


"Di sini!" Kepala Gavriel menyembul dari balik pintu kamar mandi. Dia tersenyum melihat kekasihnya terbangun. "Apa suara airnya terlalu keras hingga membuatmu terbangun?"


"Bukan airnya yang membuatku bangun, tapi kau," sahut Briana. "Aku tidak menemukan keberadaanmu di sisiku. Aku pikir kau di culik hantu tadi."


"Memangnya hantu mana yang berani menculikku, hem?"


"Hantu gatallah!"


Gavriel terkekeh. Karena dia belum membilas badan, iseng-iseng Gavriel mengajak Briana untuk mandi bersama. Ya siapa tahu wanita ini berkenan. Hehe.


"Sayang, sekarang aku sedang mandi. Mau ikut sekalian tidak? Kan tadi kau berkeringat!"


"Jangan macam-macam kau, Lu. Mau kepalamu kubuat benjol?" sahut Briana dengan wajah sedikit memerah. Pikirannya jadi travelling kemana-mana mendengar ajakan Lu yang sangat menantang itu. Ah, menantang? Yang benar saja. Kenapa sekarang dia jadi ikut-ikutan mesum seperti Lu dan Julia. Astaga.


"Galak sekali. Akukan hanya menawarkan saja," sahut Gavriel sebelum akhirnya kembali masuk ke dalam kamar mandi sambil terkekeh senang. Puas rasanya setiap kali bisa mengerjai kekasihnya yang galak itu.

__ADS_1


Sambil menarik nafas panjang, Briana beranjak dari sofa. Dia lalu mengambil handuk, ingin mandi juga karena tubuhnya terasa gerah. Karena Lu masih belum keluar dari kamar mandi, Briana memutuskan untuk keluar sebentar. Dia ingin menghirup udara malam, juga menikmati hembusan angin sepoi-sepoi yang tentunya sangat menyegarkan.


Ceklek


"Huumm, segarnya," ucap Briana begitu angin malam mengenai wajahnya.


Mungkin karena sudah tengah malam, suasana di lingkungan ini terasa sangat sepi. Para tetangga yang suka bergosip sepertinya sudah tidur semua. Membuat Briana jadi merasa leluasa untuk melakukan apa yang dia mau.


Tapi ketika Briana sedang menikmati angin malam, dia tak sengaja melihat ada dua orang pria aneh yang sedang memperhatikannya dari kejauhan. Briana lalu menyipitkan mata, curiga.


"Jangan bilang mereka mau membuat kerusuhan di lingkungan ini. Tidak bisa di biarkan. Aku harus segera turun tangan!" ujar Briana seraya menyeringai lebar. Ingin macam-macam di lingkungan tempat tinggalnya? Hah, langkahi dulu mayatnya.


Khawatir kedua pria asing itu membawa senjata, Briana memutuskan untuk mengambil beberapa alat perang dari dalam rumah. Dia mengambil pengki dan juga gagang payung sebagai senjata untuk melindungi diri. Setelah itu Briana pun bergegas pergi menghampiri mereka tanpa merasa takut sedikitpun.


"Hei, apa yang sedang kalian lakukan di sini? Mau berbuat jahat ya!" seru Briana.


Kedua pria itu terlihat gugup. Keduanya saling melempar lirikan, bingung harus bagaimana cara menghadapinya. Jika melawan itu sama artinya dengan bunuh diri. Akan tetapi jika tidak melawan, bisa di pastikan kalau mereka akan babak belur di hajar oleh wanita yang adalah putri dari bos mereka.


"Bagaimana ini. Tuan Hendar melarang kita memberitahu Nona Briana kalau dialah yang meminta kita datang dan mengawasi tempat tinggalnya. Tapi kalau kita tidak menjelaskan, Nona Briana pasti akan mengamuk. Lihat saja tampangnya. Sangat gahar seperti bapaknya!" bisik salah satu penjaga.


"Kau yakin mau kabur? Coba lihat apa yang dibawa oleh Nona Briana. Gagang sapu itu bisa terbang dan mengejar kita, bodoh. Bagaimana sih!"


Sebelah alis Briana terangkat ke atas melihat kedua pria di hadapannya malah asik berbisik-bisik. Dia jadi semakin yakin kalau kedua pria ini memang memiliki niat yang jahat. Tak mau mengulur waktu, segera Briana mengalungkan gagang payung ke leher salah satunya. Dia lalu menariknya agar mendekat.


"Sebaiknya kau bicara jujur padaku sebelum aku meratakan wajahmu dengan pengki sampah ini. Mau?" ancam Briana.


"N-Nona Briana, in-ini tidak seperti yang kau pikirkan. Kami ... kami sama sekali tidak mempunyai maksud jahat. Sungguh!" sahut si penjaga sambil menelan ludah. Astaga, ternyata darah mafia seorang Hendar Origan mengalir deras di tubuh wanita ini.


"Ha? Kau bahkan tahu namaku. Cepat jawab siapa kalian sebenarnya!" teriak Briana murka.


"K-kami, kami ....


Sementara itu Gavriel yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi terlihat kebingungan saat tak mendapati Briana di dalam kamar. Matanya lalu membelalak lebar begitu melihat pintu rumah yang dibiarkan terbuka. Segera dia berlari keluar untuk melihat apa yang terjadi.

__ADS_1


Eh, bukannya itu anak buahnya Tuan Hendar ya? Apa yang sedang mereka lakukan di sini. Dan kenapa juga Briana seperti sedang mengintimidasi mereka. Ah, sebaiknya aku datangi mereka saja. Aku takut Briana kesurupan setan di tengah malam.


Gavriel segera berlari keluar guna menyusul Briana. Sesampainya di sana Gavriel langsung membujuk kekasihnya agar melepaskan si penjaga.


"Sayang, sudah. Mereka bukan orang jahat. Aku mengenalinya!"


"Kau kenal dengan mereka?" Briana memicing tajam. Dia menurunkan gagang payung dari leher pria asing itu lalu menatap Lu dengan penuh kecurigaan. "Apa maksudnya ini, Lu? Jangan bilang kau yang mengundang mereka untuk datang kemari. Benar?"


"Tidak, sayang. Aku sama sekali tak mengundang mereka untuk datang. Mereka itu adalah anak buahnya Tuan Hendar, dan aku pernah bertemu mereka beberapa kali. Begitu!" jawab Gavriel menjelaskan agar kekasihnya ini tidak sampai salah paham.


"Anak buahnya Tuan Hendar?"


Briana segera berbalik menatap kedua pria tersebut. Kedua alisnya saling bertaut, tidak percaya kalau suaminya Nyonya Jenny yang telah mengirim mereka ke tempat ini.


"Benar kalian anak buahnya Tuan Hendar?"


"B-benar, Nona Briana."


"Lalu kenapa kalian diam saja saat aku bertanya? Mau mempermainkan aku apa bagaimana hah?" amuk Briana.


"Nona, tolong jangan salah paham. Tuan Hendar meminta kami untuk mengawasimu dari kejauhan dan melarang kami agar tidak memberitahumu. Makanya tadi kami bingung harus menjawab apa. Tolong jangan salah paham pada kami, Nona. Kami sama sekali tidak ada maksud jahat!"


"Cihh, benar-benar ya pria tua itu."


Briana berkacak pinggang. Dia tidak suka kebebasannya di awasi seperti ini.


"Sekarang kalian berdua cepatlah pergi dari sini. Dan tolong beritahu Tuan kalian kalau besok aku akan datang menemuinya di rumah. Aku ingin protes. Tahu!" ucap Briana memutuskan untuk menemui Tuan Hendar. Dia tersinggung dengan kedatangan kedua penjaga ini dan berniat meminta penjelasan darinya. "Dan satu lagi. Tolong tinggalkan alamat Tuan Hendar. Aku tidak tahu!"


"Besok pagi aku akan menemanimu pergi ke sana, sayang. Aku tahu dimana rumahnya," sahut Gavriel sambil tersenyum kecil. Akhirnya Briana akan menjejakkan kaki di tempat yang merupakan tempat tinggal aslinya.


"Oke."


Setelah berkata seperti itu Briana kembali masuk ke rumah. Gavriel yang di tinggal begitu saja hanya bisa menghela nafas panjang. Dia lalu meminta penjaga untuk pulang ke rumah mereka karena malam ini Gavriel akan menginap. Dia tidak jadi pulang.

__ADS_1


Kedua penjaga itu pasti takut sekali melihat Briana datang melabrak mereka sambil membawa pengki dan gagang payung. Astaga, kenapa lucu sekali sih. Di mana-mana yang namanya mafia itu membawa pistol, tapi kenapa Briana berbeda. Hahahaha.


***


__ADS_2